
Sementara di rumah sakit, Kyai Abdullah dan nyai Robi'ah beserta kedua orang tua ning Zahra.. pagi ini turut menemani gus Umar, menjaga ning Zahra di ruang perawatan nya.
Baik kedua orang tua gus Umar maupun ning Zahra berkumpul, sebab meski sudah beberapa hari di rawat di rumah sakit.. namun kondisi ning Zahra, tak ada perkembangan yang berarti. Dan mereka tengah membahas kemungkinan, untuk membawa ning Zahra pindah ke rumah sakit yang lebih lengkap dan canggih peralatan medis nya.
"Bagaimana gus? Di sana, ada Zahwa yang bisa menemani kalian?" Tanya Kyai Hasanuddin atau gus Din, begitu kyai Abdullah biasa memanggil besan nya itu seraya menatap gus Umar.
Gus Umar tak menjawab, dan hanya memandangi wajah tirus milik sang istri yang kini membuka mata nya dan bisa merespon percakapan dengan baik.
"Kalau itu memang yang terbaik untuk nak Zahra, kami setuju saja gus Din," balas kyai Abdullah, yang mewakili sang putra.
"Ndak usah abi,, Zahra mau di sini saja," lirih ning Zahra, seraya menatap abi nya dengan sendu.
Kyai Hasanuddin hanya bisa menarik nafas dalam, dan menghembuskan nya dengan berat. Sementara nyai Rahma yang duduk di sisi ranjang putri nya, terus mengusap lengan ning Zahra dengan lembut.
"Di sini juga bagus kok bi, kemarin ning Zahra ditangani oleh dokter terbaik," timpal gus Umar, memberanikan diri untuk mengeluarkan pendapat nya.
Ning Zahra mengangguk, "iya bi, Zahra di sini saja. Jadi kalau abi sama umi atau abah dan umi mau besuk kan jarak nya dekat," ning Zahra menatap umi nya, seakan memberikan isyarat bahwa diri nya ingin selalu bisa dekat dengan wanita cantik yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkan nya itu.
"Benar bi, di rawat di sini saja tak mengapa. Toh di sana Zahwa nya juga sibuk kuliah, tak bisa setiap waktu menemani kakak nya. Kasihan kan menantu kita kalau repot sendirian di sana," Nyai Rahma pun menyetujui keinginan putri nya, yang ingin tetap di rawat di rumah sakit yang dekat dengan kedua orang tua nya.
"Ya, terserah kalian saja kalau begitu." Tutur kyai Hasanuddin mengalah, seraya mendekat ke arah pembaringan putri nya.
Gus Umar kemudian bergeser, memberi ruang kepada ayah mertua nya itu untuk mendekati ning Zahra.
Nyai Robi'ah menatap sang putra, seraya menepuk ruang kosong di sebelah nya.. agar gus Umar duduk di sana.
__ADS_1
Gus Umar pun tersenyum, kemudian mendekati sang umi dan mendudukkan diri tepat di samping nyai Robi'ah.
Nyai Robi'ah menepuk lembut punggung sang putra, "sampean sarapan dulu saja gus, tadi belum sempat sarapan kan?" Titah nyai Robi'ah pada sang putra.
"Nanti saja mi, nunggu dik Laila." Balas gus Umar, seraya menyandarkan punggung nya di sandaran sofa.
"Iya, kenapa ning Laila lama sekali ya?" Lirih nyai Robi'ah, "biasa nya, pagi-pagi dia sudah datang untuk membawa kan sarapan tho gus?" Tanya nyai Robi'ah, menoleh ke arah sang putra yang kini tengah memejamkan mata. Dari kantung mata sang putra, nyai Robi'ah dapat melihat, bahwa gus Umar sangat kelelahan dan juga kurang tidur.
"Tadi chat Umar, kata nya nunggu masakan mbak Ning dan dik Aida mateng mi." Balas gus Umar, masih dengan mata yang terpejam. Sedetik kemudian senyuman tipis, terbit di sudut bibir gus Umar.. mengingat chat dari Laila tadi, bahwa Aida pagi ini sengaja memasak rendang untuk mereka berdua.
Nyai Robi'ah yang masih memperhatikan putra nya, mengernyitkan kening... menerka-nerka apa yang dipikirkan oleh sang putra.
"Assalamu'alaikum,," ucap salam Laila, yang baru saja datang.
"Wa'alaikumsalam,,," balas semua yang berada di sana bersamaan.
Laila kemudian menyalami kedua orang tua nya, dan juga kedua mertua sang kakak. "Abi, umi, sudah lama?" Tanya Laila dengan santun, kepada abi dan umi nya ning Zahra.
"Belum lama kok ning," jawan nyai Rahma seraya tersenyum lembut, dan mengusap puncak kepala Laila. "Ning Laila baru dari kontrakan?" Nyai Rahma balas bertanya.
"Dari rumah temen umi, semalam Laila nginep di sana," balas Laila jujur, seraya melirik kakak ipar nya karena khawatir ning Zahra akan tersinggung.
Nyai Rahma mengangguk-angguk.
"Oh ya, abi sama umi sampun dahar belum? Laila bawa makanan, sebentar biar,,,"
__ADS_1
"Ndak perlu ning, abi sama umi sudah sarapan tadi," cegah nyai Rahma, yang menghentikan ucapan Laila.
"Oh, nggih," balas Laila, "kalau begitu, Laila mau sarapan dulu umi," lanjut Laila.
"Iya ning, silahkan," balas nyai Rahma, mengangguk ramah.
Laila kemudian berjalan ke arah sang kakak, mengambil paper bag dari tangan sang kakak dan kemudian membawa nya menuju balkon. Gus Umar mengikuti langkah sang adik dalam diam.
Setiba nya di balkon, Laila segera mengeluarkan semua isi nya dan menata makanan yang di bawa dari ruko Aida di meja kecil yang terdapat di balkon tersebut.
Gus Umar segera duduk di salah satu kursi dari dua kursi rotan yang berada di kanan dan kiri meja, sedangkan Laila masih sibuk mengambilkan nasi dan lauk untuk sang kakak.
"Dik, kabar nya dik Aida gimana?" Tanya gus Umar, sambil menanti sang adik mengambilkan makanan untuk nya.
"Alhamdulillah,,, Aida sehat kak, kandungan nya juga. Dan kemungkinan dalam minggu ini, Aida melahirkan," balas Laila dengan mata berbinar, seraya menyodorkan sepiring nasi putih yang masih mengepul dan harum nya memenuhi rongga hidung itu,, lengkap dengan lauk rendang dan sambal serta kerupuk udang, ke hadapan sang kakak.
"Oh ya?" Balas gus Umar antusias, seraya menatap sang adik yang kembali sibuk mengambil makanan untuk diri nya sendiri. Makanan kesukaan yang ada di hadapan gus Umar saat ini, bahkan kalah menarik dengan topik berita yang baru saja disampaikan oleh sang adik.
"Tepat nya tanggal berapa? Rencana mau melahirkan dimana? Rumah sakit bersalin atau bidan?" Cecar gus Umar penuh rasa keingintahuan, hingga membuat Laila menghentikan kegiatan nya dan menoleh ke arah sang kakak dengan mengernyitkan kening.
Menyadari pertanyaan nya yang bisa menimbulkan sang adik salah persepsi, gus Umar pun buru-buru menambahkan. "Kalau hpl sudah diketahui dan sudah direncanakan mau melahirkan dimana kan, dik Aida jadi lebih tenang dik. Secara, di ruko dik Aida hanya tinggal bersama mbak Ning dan Tio." Gus Umar menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Hmm,, kakak sama Aida ternyata diam-diam masih saling perhatian ya?" Gumam Laila, namun masih dapat di dengar oleh gus Umar.
"Apa maksud mu dik?" Gus Umar pura-pura tak tahu kemana arah pembicaraan sang adik, "dik Aida itu kan, sama seperti kamu dik.. yang harus kakak dan abah jaga, sesuai amanah kedua orang tua nya," terang gus Umar mengklarifikasi, karena memang seperti itulah porsi Aida saat ini di hati putra pertama kyai Abdullah itu.
__ADS_1
Laila mengangguk-angguk.
bersambung,,,