Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 31 : Tapi, Pelan-pelan Saja Ya?


__ADS_3

Sementara itu di kamar utama kediaman Ryan di ibukota, laki-laki matang itu menuntun istri kecil nya menuju ranjang yang terbuat dari besi berukir yang berukuran besar.


Ryan mendudukkan Aida di tepi ranjang dan kemudian berlutut di hadapan istri kecil nya, "dik, bolehkah aku melakukan nya sekarang?" Pinta Ryan dengan menatap netra indah Aida, dengan tatapan penuh damba.


Duda yang telah satu tahun menyendiri karena ditinggal pergi mantan istri yang tak bisa menerima kekurangan nya itu, sudah menahan hasrat nya sejak malam pernikahan mereka. Dan Ryan, tak ingin menunda nya lagi.. pun meski demikian, sebagai lelaki dewasa dia tak ingin di cap sebagai pemaksa.


Mendengar permintaan sang suami, Aida tertegun.. meski gadis cantik itu sudah memperkirakan bahwa hal ini pasti akan terjadi, tapi tetap saja Aida terkejut dan merasa khawatir.


Aida mengalihkan pandangan nya, tak sanggup menatap netra Ryan yang terus menghujam menusuk ke dalam jantung nya.


Ryan meraih dagu Aida, dan mengarahkan wajah Aida pada diri nya. "Tatap mata mas dik, mas tahu kamu menerima lamaran mas karena demi menyelamatkan ibu mu. Tapi tidakkah kamu ingin belajar untuk bisa menerima mas?" Tanya Ryan, dengan tatapan yang berubah menjadi sendu.


"Entahlah dik, semenjak hari itu.. mas mulai menyukaimu. Memang benar, awal nya mas menikahi mu karena mas butuh istri yang mau mendampingi mas dan menerima kekurangan mas.. kamu sudah mendengar sendiri dari ibu mas kan, kalau mas di vonis dokter tak bisa memiliki keturunan? Dan mantan istri mas kabur meninggalkan mas karena vonis itu?" Netra Ryan terlihat mulai berkaca-kaca.


"Mas ingin memulai hidup baru bersama mu dik, tapi jika kamu belum siap.. tak mengapa, mas akan bersabar menanti," ucap Ryan lirih, dan kemudian segera berlalu dari hadapan Aida. Ryan bergegas menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Aida terdiam di tempat nya, mendengar kata-kata suami nya tadi.. ada rasa simpati menyelinap di hati nya, "aku sudah menjadi istri mas Ryan sekarang, kalau aku menolak nya maka aku sangat berdosa.. apalagi dia meminta nya dengan baik-baik tadi dan tidak memaksa ku," lirih Aida bergumam, yang hanya bisa di dengar oleh diri nya sendiri.


"Siap enggak siap, aku harus siap. Ijab qabul telah terucap, dan itu arti nya Allah juga meridhoi hubungan kami ini. Baiklah,, aku akan belajar untuk bisa menjadi istri mas Ryan yang seutuh nya," Aida segera berdiri, dan kemudian menuju koper nya yang masih tergeletak di atas sofa di sudut ruangan.


Aida mulai menata pakaian nya dan memasukkan ke dalam almari yang masih kosong, di samping pakaian milik suami nya. Setelah semua pakaian nya berpindah kedalam almari, Aida meletakkan koper nya di sudut ruangan dan tepat di saat yang sama Ryan keluar dari kamar mandi.


Ryan segera berjalan menuju tempat tidur tanpa melihat kearah Aida, dan hal itu membuat Aida semakin merasa bersalah.


Buru-buru Aida masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan diri nya. Aida menatap diri nya dari pantulan cermin besar di hadapan nya, dan kembali bertanya pada diri nya sendiri. "Benarkah aku sudah siap?" Gumam Aida.

__ADS_1


Aida mencoba meyakinkan diri dan memantapkan hati nya. "Ya, aku harus yakin dengan keputusan ku sejak awal. Lagi pula ibu juga menasehati, agar aku tidak perlu lagi menengok ke belakang," Aida membuang nafas nya kasar, seolah ingin membuang semua beban yang masih mengganjal di hati nya.


"Oke Aida, kamu pasti bisa," Aida menyemangati diri nya sendiri, Aida segera menggosok gigi dengan cepat, mencuci wajah nya dan kemudian keluar dari kamar mandi.


Dengan perlahan gadis cantik itu menghampiri ranjang dimana sang suami telah merebahkan diri nya di sana, Aida kemudian duduk tepat di sisi Ryan. "Mas,,," panggil Aida dengan suara nya yang lembut.


Ryan yang sudah memejamkan mata tak menyahut, entah sudah benar-benar tertidur ataukah hanya pura-pura karena tak ingin kembali berhasrat tatkala melihat istri nya.


"Mas, ada yang ingin Aida bicarakan," kembali Aida memanggil suami nya, karena Aida yakin sang suami masih terjaga.


Tapi tetap saja, Ryan masih terdiam dengan mata yang juga masih terpejam.


"Aida sudah bersedia menikah dengan mas Ryan dan itu arti nya, Aida juga mau belajar untuk menjadi istri mas yang seutuh nya. Tapi..." Aida menghentikan ucapan nya, ingin melihat reaksi sang suami.


Dan benar saja, mendengar perkataan istri kecil nya barusan.. Ryan langsung membuka mata nya, dan kemudian segera duduk di samping sang istri. "Tapi,, apa dik? Katakanlah?" Tanya Ryan nampak tidak sabar.


Ryan mengernyit, "maksud kamu apa dik?" Tanya Ryan yang belum mengerti arah pembicaraan istri kecil nya itu.


"Aida mau mas Ryan menjadi imam sholat untuk Aida... maaf mas, bukan nya Aida lancang. Tapi bukan kah dalam pernikahan, kita harus saling mengingat kan terhadap pasangan karena demi untuk kebaikan bersama?" Tatapan Aida masih tertuju pada suami nya.


Ryan mendesah kasar, "kamu bisa sholat sendiri kan dik?" Ryan menatap istri nya, "mas tidak berani menjadi imam karena mas gak hafal dengan gerakan dan bacaan nya," lanjut Ryan jujur.


"Kalau begitu, mas Ryan harus belajar," pinta Aida.


Ryan mengangguk, "ya, kalau ada waktu mas akan belajar," balas Ryan dengan tidak bersemangat.

__ADS_1


Hening sejenak menyapa ruang kamar yang luas itu,


"Apa ini artinya,, malam ini kita akan melakukan nya dik?" Tanya Ryan dengan penuh harap.


"Mas Ryan enggak keberatan kan, kalau Aida beribadah sesuka Aida?" Tanya Aida dengan memohon, dan sejenak mengabaikan permintaan suami nya.


"Ya, lakukan lah sesuka mu dik. "Balas Ryan akhir nya. "Bagaimana dik,,,?" Ryan menggenggam tangan Aida dan menatap netra istri nya dengan intens.


"Alhamdulillah,, setidak nya mas Ryan tidak melarang ku untuk beribadah," Aida merasa lega, "dan tentang niat mas Ryan untuk belajar sholat, bisa di bicarakan lain waktu sambil menunggu saat yang tepat," bisik Aida dalam hati.


"Dik,,," kembali Ryan memanggil istri nya dan meraih dagu lancip Aida, karena istri kecil nya itu malah melamun.


"Eh,, iya mas, lakukan lah mas." Balas Aida dengan tersenyum malu-malu, "tapi pelan-pelan saja ya, Aida takut," lanjut Aida dengan penuh kekhawatiran.


Ryan tersenyum lega, "jangan takut dik, mas akan melakukan nya dengan lembut," lirih Ryan seraya semakin menempel pada istri nya, memeluk erat pinggang Aida dan mulai mencium bibir istri nya itu dengan sangat lembut.


Dan malam ini, dengan penuh kerelaan.. Aida menyerahkan diri seutuh nya kepada Ryan, laki-laki matang yang sudah menduda selama satu tahun. Yang menikahi nya di hadapan sang ibu, tatkala ibu nya masih terbaring lemah di rumah sakit.


"Untuk mu ibu, Aida rela menjadi istri mas Ryan yang seutuh nya... semoga Allah meridhoi," lirih Aida, dibawah kungkungan tubuh kekar suami nya.


bersambung,,,


🌷🌷🌷🌷🌷


Kabur nyusul bang MPIN ke Paris ah,,, āœˆļøāœˆļø

__ADS_1


Takut di bully massal sama mommy2 yang enggak rela Aida sama Ryan 😁😁


__ADS_2