Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 91 : Baby Boy Baik-baik Saja Kan?


__ADS_3

Kondisi Aida semakin membaik, ibu muda itupun sudah diperbolehkan menemui putra nya di ruang NICU meski masih harus menggunakan kursi roda.


Namun hal itu berbanding terbalik dengan kondisi putra mungil nya, yang semakin hari semakin memburuk.


Segala upaya pengobatan yang terbaik telah Ryan usahakan, demi kesembuhan sang putra.. tapi hingga tiga hari ini, baby boy itu masih tak bergerak di dalam tabung inkubator yang dipenuhi alat-alat medis sebagai penunjang kehidupan nya.


Hanya sesekali saja bayi mungil Aida merespon, tatkala sang ibu ataupun ayah nya datang berkunjung. Dan itupun dengan gerakan yang sangat lemah, tak seperti bayi-bayi lain yang juga berada di ruangan yang sama dengan baby boy.


Aida memang tak pernah menangis jika berada bersama putra nya, Aida hanya akan bercerita hal-hal yang baik pada putra nya.. bahwa kedua orang tua nya, sangat menyayangi nya. Dan selebihnya nya, Aida akan melantunkan ayat-ayat ayat suci Al-Quran sebagai pengantar tidur bagi sang putra.


Namun, begitu keluar dari ruangan yang aura nya sangat dingin itu.. Aida pasti akan langsung menangis. Dan Laila, ataupun nyai Robi'ah yang setia menemani dengan penuh rasa kasih menghibur Aida agar tidak larut dalam kesedihan.


Begitu pun dengan Ryan, yang setiap hari senantiasa berada di rumah sakit. Ayah baby boy itu juga tak kuasa menahan air mata, setiap kali melihat sang putra. Bayi mungil yang masih merah, dengan tubuh yang dipenuhi alat medis.. ingin rasa nya, Ryan menggantikan posisi sang putra. Tak mengapa jika dia yang sakit, yang penting putra nya bahagia bersama ibu nya.


Aida pun tak keberatan, jika Ryan setiap hari mengunjungi nya. Mereka kini tak lagi melibatkan perasaan, karena yang mereka pikirkan saat ini adalah kesembuhan sang putra.


Dan mereka berdua sepakat, menyingkirkan ego untuk bahu-membahu berjuang bersama demi baby boy yang masih terbaring lemah di dalam tabung inkubator.


"Dik, makan dulu.. baru tidur, tadi mas mampir ke resto dan membeli makanan kesukaan kamu," ucap Ryan, seraya meletakkan dua boks nasi di atas meja. Ryan tahu persis, jadwal Aida harus beristirahat agar cepat pulih sesuai anjuran dokter yang menangani Aida.


"Di makan ning, mumpung masih hangat," Ryan menoleh kearah Laila yang sedang duduk di tepi ranjang pasien.


"Ya mas, makasih," balas Laila yang juga mewakili Aida, karena Aida masih termenung di atas kursi roda setelah kembali mengunjungi sang putra.


Laila segera beranjak menuju meja, mengambil satu kotak nasi dan membuka nya.. kemudian memberikan nya pada Aida, "ayo di makan, kamu harus kuat, harus cepat sehat," Laila meletakkan kotak nasi tersebut di atas pangkuan Aida.


Laila kemudian mengambil satu kotak lagi, untuk diri nya.. dan Laila memilih duduk di kursi yang berada tepat di samping meja. "Mas Ryan kok enggak sekalian?" Tanya Laila, sambil membuka kotak milik nya.


Ryan yang masih berdiri tak jauh dari Aida menggeleng, "tadi, saya sudah makan di rumah ning," balas Ryan, sambil melihat ke arah Aida yang masih belum menyentuh makanan nya.


Laila yang bisa menangkap kekhawatiran Ryan segera mendekati Aida, "mau aku suapin?" Tawar Laila, "atau mau di suapin sama yang lain?" Goda Laila, sengaja agar sahabat nya itu segera mau makan.

__ADS_1


Dan benar ada nya, Aida langsung menyendok nasi dan lauk nya tanpa kata-kata.. dan menyuapkan kedalam mulut nya dengan suapan besar.


"Pelan-pelan Da, enggak ada yang bakal minta? Aku juga dah dibelikan tuh, sama mas Ryan,,," ledek Laila, sambil berlalu kembali ke tempat duduk nya semula.


Laila pun kemudian makan dengan sangat lahap, sesekali melirik kearah Aida yang juga tengah makan dengan lahap.


Setelah memastikan bahwa Aida memakan nasi yang di bawa nya, Ryan pun pamit hendak mengunjungi putra nya. "Dik, mas mau ke ruangan baby boy dulu ya," Ryan menatap Aida, yang sedang khusyuk makan.


Aida menatap nya sekilas, dan kemudian mengangguk. "Makasih makanan nya," lirih Aida.


Meski diucapkan dengan lirih, namun Ryan masih bisa mendengar nya.. dan laki-laki dewasa itu tersenyum lebar, "ya dik, sama-sama," balas Ryan, sambil berlalu meninggalkan ruang perawatan Aida untuk menuju ke ruang NICU dimana sang putra di rawat di sana.


Sesaat setelah Ryan keluar, terdengar suara salam yang diucapkan oleh dua orang.. laki-laki dan perempuan, "assalamu'alaikum,,,"


Laila dan Aida menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan, dan dari balik pintu terlihat gus Umar sedang mendorong kursi roda ning Zahra masuk kedalam ruangan Aida.


"Maaf, seperti nya kedatangan kami mengganggu?" Ucap ning Zahra, yang merasa tak enak hati karena ternyata yang dikunjungi sedang makan siang.


Tentu saja Aida mengijinkan, karena tak ada alasan bagi Aida untuk menolak setiap orang yang akan mengunjungi nya di rumah sakit.. kecuali, jika orang itu memiliki niat tak baik atau bisa membuat Aida menjadi tertekan seperti bu Retno, mantan ibu mertua nya.


Oleh karena itu, hingga di hari ketiga ini.. Aida tak ingin dikunjungi oleh bu Retno, demikian pula dengan Ryan yang tak mengijinkan sang ibu berkunjung ke rumah sakit untuk menemui Aida.


"Silahkan duduk kak Umar," ucap Aida dengan ramah, ketika gus Umar telah memposisikan kursi roda ning Zahra berdekatan dengan kursi roda milik nya.


"Iya dik, makasih," balas gus Umar, yang kemudian duduk di kursi plastik di samping adik nya.


Dari kemarin, ning Zahra sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa yang sebelumnya sudah dia tempati. Dan sejak kemarin pula, ning Zahra menagih janji gus Umar untuk membawa nya menemui Aida.


Tapi baru siang ini lah, gus Umar membawa istri nya untuk menemui Aida.. tentu nya setelah mendapat kan ijin dari Aida sendiri, melalui Laila.


Wajah ning Zahra kini nampak berseri, kondisi nya pun berangsur membaik.

__ADS_1


"Dik, mbak turut prihatin atas apa yang terjadi pada putra mu," lirih ning Zahra berempati, seraya menggenggam tangan Aida.


"Makasih mbak, mohon do'a nya ya mbak.. semoga anak Aida segera diberikan kesembuhan," pinta Aida sungguh-sungguh.


"Aamiin,,"


Dan mereka berdua pun mengobrol banyak hal, mulai dari metode menghafal Al-Qur'an hingga murojaah untuk memperlancar hafalan.


Ning Zahra sama sekali tak menyinggung soal keinginan nya untuk merawat bayi Aida, barangkali karena situasi dan kondisi nya yang saat ini tak memungkinkan. Dan gus Umar serta Laila pun merasa lega, mendengar obrolan antara ning Zahra dan Aida tersebut.


"Assalamu'alaikum,,," ucap salam beberapa orang yang baru masuk kedalam ruang perawatan Aida.


"Wa'alaikumsalam,,," jawab semua nya bersamaan.


Bu Dibyo dan mbak Ning segera menyalami ning Zahra, Laila dan terakhir memeluk Aida. Ini kali kedua mbak Ning berkunjung, setelah sebelumnya mbak Ning berkunjung sendiri tepat nya sehari setelah Aida di operasi.


Sedangkan bu Dibyo, setiap hari selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung meski hanya sebentar. Karena Laila lah yang menemani Aida, menginap di rumah sakit.


Kyai Abdullah beserta sang istri pun, setiap hari selalu berkunjung.. karena selain menemani Aida, juga untuk memantau keadaan menantu nya.


"Silahkan duduk bu," Laila segera berdiri, dan memberikan tempat duduk nya untuk bu Dibyo. Dan Laila memilih duduk di tepi ranjang bersama mbak Ning, mereka pun kemudian terlibat obrolan yang seru.. sekedar untuk menghibur Aida, dan sejenak melupakan segala ujian yang menimpa Aida.


Di saat mereka tengah asyik mengobrol, Ryan datang tanpa mengucap salam dan terlihat terburu-buru.


"Dik, maaf..." Ryan nampak kebingungan dengan apa yang akan disampaikan, tatkala mendapati banyak orang di ruangan Aida.


"Ada apa mas?" Tanya Aida, dengan mengernyit kan dahi. Aida tiba-tiba merasa tak enak hati, jantung nya berdebar-debar dan sang putra seperti memanggil-manggil diri nya.


"Ada apa dengan baby boy mas? Baby boy baik-baik saja kan? Baby boy tidak kenapa-napa kan?" Cecar Aida yang merasa sangat khawatir, sesuatu telah terjadi pada sang putra. -


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2