Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 105 : Apakah Ini Nyata?


__ADS_3

Setelah berganti pakaian, gus Umar kini telah bersiap untuk mengantarkan Aida balik ke ruko nya di kota. Gus Umar segera menuju ke kediaman kedua orang tua nya, yang letaknya bersebelahan. Nampak kyai Abdullah beserta sang istri, juga telah bersiap di ruang keluarga.


"Sarapan dulu gus," titah nyai Robi'ah, yang melihat kehadiran sang putra. "Abah sama umi sudah tadi, habis nya nunggu sampean sama ning Laila lama," lanjut nya.


"Tuh, ning Laila sama nak Aida juga lagi pada sarapan," nyai Robi'ah menunjuk meja makan, dimana terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


"Nggih umi," tanpa banyak berpikir, gus Umar dengan senang hati menerima tawaran sang umi... apalagi sang kekasih hati juga tengah berada di sana.


Gus Umar segera mengayunkan langkah nya dengan cepat, menuju meja makan. Dan benar saja, di sana Laila dan Aida sedang menikmati sarapan dengan saling bercanda ria.


Dan begitu melihat kehadiran gus Umar, Aida langsung terdiam.


"Sarapan kak," ucap Laila, yang langsung berdiri untuk mengambil kan piring buat sang kakak.


Gus Umar hanya mengangguk, dan mencuri pandang sekilas pada Aida yang sedang fokus dengan makanan nya. Pemuda tampan itu kemudian duduk di samping tempat duduk adik nya, yang berhadapan langsung dengan Aida.


Mengetahui gus Umar duduk tepat di hadapan nya, Aida menjadi salah tingkah.. jantung nya kini berdebar kencang.


Setelah mendapatkan piring dari sang adik, gus Umar segera mengambil nasi dan lauk di atas meja makan sambil terus menatap Aida yang sedang menelan makanan nya dengan susah payah. Gus Umar tersenyum tipis mendapati pipi Aida yang merah merona, dan terlihat sangat gugup itu.


"Cantik,," gumam gus Umar dalam hati.


"Ini minum nya kak, air putih hangat," Laila menyimpan gelas besar berisi air putih hangat di hadapan sang kakak, karena begitu lah kebiasaan kakak nya yang lebih senang minum air putih hangat setelah makan.


"Makasih," balas gus Umar datar, seraya mulai menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut nya.


Hening, sejenak menyapa ruang makan tersebut.


"Makan yang banyak dik, biar cepat sehat," dan suara maskulin gus Umar yang memecah keheningan, mengagetkan Aida hingga membuat sahabat Laila itu tersedak makanan yang sedang berusaha di telan nya.


"Uhuk,, uhuk,,"


Reflek, gus Umar menyodorkan gelas minuman yang telah disiapkan Laila tadi kepada Aida. "Minum dulu dik," titah gus Umar, sambil berdiri.

__ADS_1


Mau tak mau, Aida pun mengambil gelas yang telah di sodorkan gus Umar tersebut dan kemudian meminum nya hingga separuh. "Makasih," ucap nya lirih, seraya mengembalikan gelas tersebut kepada gus Umar dengan tangan gemetaran.


Gus Umar kemudian kembali duduk, dan melanjutkan makan nya seolah tak terjadi apa-apa. Aida pun kembali melanjutkan sarapan nya, yang sudah hampir habis itu.


Sedangkan Laila sedari tadi cuek dan seakan tak mendengar dan melihat apa yang ada di sekitar nya, gadis itu tetap asyik dengan sarapan nya.


Aida menyelesaikan sarapan nya dengan cepat, dan kemudian segera beranjak untuk mengambil kan minum buat gus Umar. Dia ingat tadi, bekas minum nya.. malah dia kembalikan lagi pada gus Umar, dan itu membuat Aida merasa malu.


"Maaf kak, ini air minum nya Aida ganti," ucap Aida sambil menyimpan gelas minum yang baru di hadapan gus Umar, dan kemudian hendak mengambil gelas bekas minum nya yang tadi.


Namun di saat yang bersamaan, gus Umar juga hendak mengambil gelas tersebut.. hingga tangan keduanya bersentuhan.


"Deg,,," darah mereka berdesir dan sentuhan kulit yang meski hanya sekilas itu, mereka berdua rasakan bagai sengatan listrik dengan kekuatan ribuan volt,,, yang mampu membuat jantung kedua nya untuk sejenak berhenti berdetak.


"Maaf,,," ucap kedua nya bersamaan.


"Aku minum ini saja enggak apa-apa dik," ucap gus Umar, mengurai kegugupan.


"Tapi itu, bekas,,," belum selesai Aida dengan ucapan nya, gus Umar sudah keburu meminum bekas minuman nya tadi.


"Tak mengapa dik, toh kita bukan orang lain bukan?" Balas gus Umar, dengan santai. "Kamu mau menghabiskan nya dik?" Gus Umar mencoba untuk mencair kan suasana, dengan menyodorkan gelas yang isi nya tinggal sedikit itu.


Dan entah kekuatan dari mana, tanpa malu Aida mengambil gelas tersebut dengan cepat dan kemudian segera meminum isi nya hingga tandas.


Gus Umar tersenyum lebar, "haus, apa haus?" Canda gus Umar.


Aida menjadi tersipu malu, begitu menyadari sikap impulsif nya barusan.


Sedangkan Laila yang diam-diam memperhatikan kedua nya, tersenyum bahagia. "Nah, gitu dong... kan jadi adem liat nya," ucap nya seraya beranjak dari meja makan, karena sarapan di piring nya telah tandas tanpa sisa.


Aida dengan di bantu Laila segera membereskan bekas piring kotor mereka bertiga, dan membawanya ke dapur. Dan gus Umar yang telah kembali duduk di tempat nya, mengingat kejadian barusan dengan perasaan yang membuncah bahagia.


@@@@@

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju ke kota untuk mengantarkan Aida itu, di dalam di dominasi oleh suara nyai Robi'ah yang memberikan wejangan pada Aida untuk tetap menjaga pola makan.. agar luka bekas sayatan di perut nya bisa cepat kering, dan Aida bisa segera beraktifitas seperti semula.


Nyai Robi'ah juga mengingatkan, agar Aida jangan lupa untuk meminum obat nya dan rutin kontrol.. "nanti kalau pas mau kontrol, telpon umi atau Laila ya nak,,, biar ada yang menemani," pesan nyai Robi'ah, sambil mengusap-usap punggung tangan Aida yang duduk di samping kanan nya.


Aida hanya mengangguk, dan sedari tadi respon yang diberikan oleh Aida pada umi nya gus Umar itu sama.. yaitu mengangguk untuk mengiyakan.


Sedangkan Laila yang duduk di samping kiri umi nya, bersandar pada bahu sang umi seraya memejamkan mata. Laila merasa ngantuk berat, sebab semalam.. setelah kyai sepuh dan semua nya beristirahat, Aida yang tak bisa memejamkan mata karena mendapatkan kejutan istimewa di malam itu, memaksa Laila untuk menemani nya begadang.


Dan alhasil, menjelang shubuh.. Laila baru bisa memejamkan mata, itupun hanya sebentar karena kumandang adzan shubuh memaksa Laila untuk bangun dan menunaikan kewajiban nya sebagai seorang muslimah.


Usai sholat shubuh dan mengaji sebentar, Laila yang hendak tidur lagi.. kembali di paksa, dan kali ini oleh sang kakak yang ingin diantarkan ke pusat pertokoan untuk membeli barang-barang seserahan untuk Aida.


Dan baru di dalam mobil ini lah, Laila akhirnya berhasil mewujudkan keinginan nya. Gadis itu tak peduli pada percakapan di sekitar nya, dia hanya ingin tidur dan tak ingin di ganggu.. hingga membuat sang umi geleng-geleng kepala.


"Tidur kok kayak orang pingsan tho ning, nyenyak banget," gumam nyai Robi'ah, yang masih bisa di dengar oleh Aida.


Dan Aida yang langsung menoleh ke arah Laila, menjadi merasa bersalah pada sahabat nya itu. "Maafin aku ya La, gara-gara semalam aku curhat banyak sama kamu.. kamu nya jadi ngantuk berat sekarang," bisik Aida dalam hati.


"Semalam, kalian berdua tidur jam berapa memang nya nak? Kok ning Laila, kayak ngantuk banget?" Selidik nyai Robi'ah, seraya menatap Aida.


"Jelang shubuh umi," lirih Aida sejujurnya.


"Jelang shubuh?! Kalian ngobrol apa saja?!"


Aida hanya tersenyum dan menggeleng.


Gus Umar yang mendengar suara sedikit tinggi dari sang umi, menatap Aida melalui rear vision mirror.. dan di saat yang sama, Aida juga menatap gus Umar.


Sesaat netra kedua nya saling terpaut, dan mereka seolah sedang bercengkrama dalam diam.


"Apa kamu enggak bisa tidur karena memikirkan tentang kita dik? Kalau begitu kita sama dik, semalam aku juga enggak bisa tidur." -gus Umar-


"Gara-gara kejutan semalam, Aida jadi tak dapat tidur kak.. Aida memikirkan tentang kita, apakah ini nyata?" -Aida-

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2