Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 47 : Menyampaikan Kabar Bahagia


__ADS_3

Semua makanan telah terhidang dan tertata rapi di meja makan, dan waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang. "Ah, sebaik nya aku sholat dulu," gumam Aida, dan kemudian bergegas menuju ke kamar utama untuk menunaikan ibadah sholat dhuhur.


Meski pun ada Mirna, asisten rumah tangga.. namun untuk urusan masak tetap Aida sendiri yang melakukan, karena Ryan lebih senang jika sang istri yang memasak untuk nya.


Usai sholat, Aida memanjatkan do'a diiringi ucapan syukur yang tak terhingga karena Allah telah mengabulkan do'a-do'a nya selama ini.


Selesai dengan do'a nya, Aida segera membereskan kembali sajadah dan mukena nya. Istri Ryan itu kemudian menaburkan sedikit bedak ke wajah nya, dan memberikan polesan warna soft pink di bibir tipis nya agar tak terlihat pucat.


Sepuluh menit kemudian, Aida keluar dari kamar dengan mengenakan gaun terbaik yang dia miliki. Istri Ryan itu terlihat sangat bersemangat, menyambut kedatangan sang suami untuk makan siang bersama.


Aida duduk dengan gelisah di ruang tamu, dan nampak tidak sabar menunggu sang suami pulang.


Detik berganti menit, dan menit pun berlalu berganti jam.. satu jam lebih Aida menanti, namun batang hidung suami nya itu tak nampak jua.


Aida masih setia duduk di ruang tamu, istri kecil Ryan itu mulai gelisah.. benak nya berkecamuk memikirkan berbagai macam kemungkinan, hingga suara salam seseorang membuyarkan lamunan nya.


"Assalamu'alikum,,," ucap seorang laki-laki seusia Ryan, dari ambang pintu yang terbuka.


Setiap menanti kepulangan sang suami, Aida memang selalu sengaja membuka pintu nya lebar-lebar.


"Wa'alaikumsalam,," balas Aida sedikit terkejut, "Oh, pak RW. Ada apa pak?" Tanya Aida yang tak ingin mempersilahkan tamu nya untuk masuk, karena saat ini sang suami sedang tak berada di rumah.


"Iya mbak Aida, saya ke sini menyampaikan amanah dari istri saya.. kalau siang ini istri saya tidak bisa mengajar, karena sedang tidak enak badan," tutur pak RW, suami nya ustadzah Zulaikhah.


Aida mengangguk, "Oh,, iya pak, tidak apa-apa. Semoga ustadzah segera sehat kembali," do'a Aida untuk ustadzah nya.


"Mohon maaf pak RW, saya tidak bisa mempersilahkan bapak untuk masuk. Karena mas Ryan sedang tidak di rumah," ucap Aida dengan jujur, dan bermaksud mengusir tamu nya dengan halus agar segera berlalu dan tidak berlama-lama.. karena hal itu, bisa menimbulkan fitnah.

__ADS_1


Pak RW mengangguk mengerti, "baik mbak Aida, saya juga buru-buru," balas suami ustadzah Zulaikhah itu penuh pengertian. "Mari mbak Aida, assalamu'alikum,," pamit pak RW, dan segera berlalu meninggalkan Aida yang masih berdiri di ambang pintu.


"Wa'alaikumsalam,," balas Aida seraya tersenyum kearah mobil sang suami yang memasuki halaman, dan berpapasan dengan motor pak RW di pintu gerbang.


Aida segera menghampiri mobil suami nya, untuk menyambut kedatangan suami yang telah di nanti nya semenjak tadi.


Ryan yang baru turun dari mobil, dan diikuti oleh bu Retno dari sisi yang lain,,, menatap tajam pada Aida, pandangan nya menelisik seperti menguliti tubuh istri kecil nya itu.


"Sejak kapan kamu berhubungan dengan laki-laki itu!" Bentak Ryan tepat di depan wajah Aida sebelum Aida sempat mencium tangan nya, hingga istri Ryan itu mengkerut karena terkejut.


"Laki-laki? Maksud mas siapa? Kalau laki-laki yang barusan, itu pak RW mas.. beliau ke sini karena menyam..."


"Bagus ya, ternyata kelakuan kamu!" Bentak Ryan lagi, memotong cepat ucapan Aida yang belum selesai. "Suami di luar kerja keras, tapi kamu di rumah malah bersenang-senang dengan laki-laki lain!"


"Ini! Pakai lipstick segala! Dan gaun ini! Kamu bahkan dandan maksimal untuk kencan dengan laki-laki itu!" Tuduh Ryan, seraya mengusap kasar bibir Aida hingga membuat istri kecil Ryan itu meringis.


"Mas, apa yang mas lihat itu,,,"


Sementara itu bu Retno masih terlihat syok, karena putra nya yang baru saja sampai di rumah langsung marah-marah pada Aida.


Ryan terus masuk ke dalam rumah, tanpa menghiraukan Aida yang mengekor langkah nya dan masih berusaha merengkuh tangan Ryan.


Bu Retno berjalan pelan di belakang kedua suami istri itu, dengan menyimpan tanya besar di benak nya.


Ryan menghempas tubuh nya di sofa ruang keluarga yang empuk, membuka kancing baju nya yang atas dengan paksa hingga bulatan hitam kecil itu terlepas dan jatuh menggelinding ke lantai dan berhenti tepat di bawah kaki Aida yang berdiri mematung tak jauh dari Ryan.


Ryan menarik nafas panjang dan menghembus nya dengan kasar.

__ADS_1


Bu Retno ikut duduk di samping putra nya, dan tatapan nya tertuju pada Aida.. menuntut penjelasan.


Aida mencoba berpikir jernih, dan tidak ikut hanyut dalam emosi yang bisa memperburuk keadaan.


Sedangkan di ruang makan, Mirna yang mendengar majikan nya baru pulang dan berteriak-teriak marah pada Aida.. kini tersenyum senang. Mirna duduk manis di meja makan, agar bisa menguping pembicaraan keluarga majikan nya itu.


"Ibu, tadi di jemput dimana sama mas Ryan?" Aida menghampiri bu Retno dan mencium punggung tangan wanita tua itu dengan takdzim.


"Stasiun," balas bu Retno dingin dan singkat.


Aida menarik nafas dalam, seraya memejamkan mata. Ingin Aida menangis saat ini juga, karena mendapatkan penghakiman dari masalah yang tak jelas ujung pangkal nya. Tapi bukan kah jika diri nya menangis, itu pun tak kan dapat menyelesaikan masalah?


Perlahan Aida memberanikan diri untuk duduk di samping sang suami, "mas, apa mas mau mendengar kan penjelasan Aida?" Lirih Aida bertanya, seraya menatap wajah sang suami yang nampak diliputi amarah yang baru kali ini Aida lihat.


Ryan melengos,


"Cepat, jelaskan pada kami," titah bu Retno dengan ketus, wanita tua itu nampak mulai terbawa emosi melihat netra putra nya yang marah dan memendam luka. Dan luka itu pernah Ryan alami tatkala istri pertama nya pergi, meninggalkan Ryan begitu saja.


"Tadi pak RW ke sini hanya sebentar, dan enggak masuk ke dalam rumah. Beliau menyampaikan amanah ustadzah Zulaikhah, bahwa siang ini ngaji nya libur sebab beliau sedang sakit," terang Aida, mengawali penjelasan nya.


"Lantas, buat apa kamu dandan?!" Ryan menatap Aida, dan tatapan Ryan masih menyimpan kemarahan yang besar.


"Aida bermaksud merayakan,,," sejenak Aida menghentikan ucapan nya, menatap Ryan dan bu Retno bergantian. Aida mencoba untuk tersenyum, "mas, Aida hamil," lirih Aida seraya meraih tangan sang suami.


"Dan Aida dandan seperti ini untuk menyambut mas Ryan, Aida juga masak spesial untuk perayaan syukuran calon buah hati kita mas,,, Aida sudah tidak sabar menunggu mas Ryan pulang sedari tadi, untuk menyampaikan kabar bahagia ini mas," lanjut Aida cepat, sebelum Ryan kembali memotong ucapan nya.


Ryan tergelak, setelah mendengar perkataan Aida yang panjang dan diucapkan dengan sangat cepat itu.. bahkan Aida mengucapkan nya, hanya dalam satu tarikan nafas saja.

__ADS_1


Melihat suami nya tertawa, Aida pun tersenyum.. kini hati Aida merasa sangat lega.


bersambung,,,


__ADS_2