Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 114 : Pengeran Impian Masa Kecil


__ADS_3

Di ruang tamu, semua keluarga gus Umar dan keluarga almarhumah ning Zahra telah berkumpul.. kecuali ning Zahwa, karena sudah kembali ke negara di mana putri bungsu kyai Hasanuddin itu menuntut ilmu.


Pwak Dibyo dan bu Dibyo juga telah duduk bersama dua keluarga besar tersebut.


Hadir juga Ryan, yang di undang langsung oleh Aida. Ryan nampak tengah memangku Tio, putra nya mbak Ning,,, yang terlihat semakin lengket dengan mantan suami Aida itu.


Ya, hubungan Ryan dan mbak Ning kini semakin dekat berkat Tio dan juga Aida.


Ryan, yang setiap minggu berkunjung ke ruko milik Aida,, selalu di sambut baik oleh Aida, sebagai saudara... karena Aida tak ingin menyimpan dendam di hati dan sudah melupakan semua masa lalu nya bersama Ryan.


Ryan yang selalu datang dengan membawa berbagai macam buah tangan, membuat Tio sangat senang. Dan hari itu, Tio yang biasa nya setelah menerima oleh-oleh dari Ryan langsung asyik melanjutkan nonton kartun kesukaan nya.. tiba-tiba saja, bermanja-manja pada Ryan.


Flash Back on...


"Om, Tio boleh minta pangku enggak?" Pinta nya dengan netra puppy eyes nya yang membuat Ryan tak tega untuk menolak.


"Boleh, sini," Ryan yang memang merindukan seorang anak, dengan senang hati langsung mengangkat tubuh kecil Tio dan memangku nya.


"Om kalau main ke sini, kenapa anak nya enggak di ajak? Pasti dia senang ya om, karena punya ayah yang baik seperti om? Enggak seperti Tio om, Tio kan enggak punya ayah?" Ucap Tio, yang membuat Ryan menatap Aida dan mbak Ning yang sibuk membuat bumbu, secara bergantian.


Ya, setiap kali menemui Ryan,,, Aida selalu minta di temani, kadang bu Dibyo dan kadang oleh mbak Ning.


"Bukan enggak punya ayah, sayang.. tapi ayah Tio sedang pergi mengaji di syurga, seperti baby Wildan dan bibi Zahra," terang mbak Ning, dengan netra berkaca-kaca. Wanita itu kembali teringat dengan mantan suami nya, yang telah lama meninggal.


Hati Ryan menjadi terharu, mendengar penjelasan mbak Ning. Reflek, Ryan mencium puncak kepala Tio dan mengelus punggung bocah itu dengan penuh kasih.


"Ayah pergi ke syurga nya lama ya buk? Sampai kapan? Tio kan mau di peluk ayah, seperti om ini?" Cecar Tio, yang belum mengerti betul penjelasan sang ibu.


Air mata mbak Ning semakin tak dapat di bendung, baru kali ini sang putra menanyakan keberadaan ayah nya. Mungkin karena usia Tio yang semakin bertambah, yang membuat anak kecil itu mulai merasa membutuhkan sosok lain selain ibu yang selama ini menemani diri nya.


Aida dan Ryan pun merasa trenyuh, dan suasana untuk sejenak menjadi hening.


"Tio senang ya, di peluk sama om? Om juga senang tuh, peluk Tio terus," ucap Aida tiba-tiba, yang membuat Ryan menatap nya.

__ADS_1


Aida mengangguk dan tersenyum, "rasakan dengan hati mas, dan biarkan hati mas yang menuntun bagaimana ke depan nya nanti," lirih Aida.


Sedangkan mbak Ning terus menunduk, untuk menyembunyikan kesedihan nya.


Ryan hanya mendesah pelan, belum mengerti arah pembicaraan Aida. Tapi tangan laki-laki itu terus mengelus punggung Tio, hingga akhirnya putra mbak Ning itu tertidur dalam dekapan Ryan.


"Biar saya pindah ke dalam Tio nya mas," setelah beberapa saat Tio terlelap, mbak Ning hendak mengambil putra nya dari dekapan Ryan.. namun Ryan menolak.


"Biar saya saja yang memindahkan mbak, di tidur kan dimana?" Tanya Ryan, seraya berdiri.


"Di kamar saja mas," mbak Ning kemudian menuntun Ryan, masuk kedalam kamar nya. Dan dengan hati-hati, Ryan memindahkan Tio ke atas tempat tidur mbak Ning.


Namun hal tak terduga terjadi, Ryan yang baru saja merebahkan tubuh Tio di atas kasur busa tipis, membuat Tio terbangun dan reflek memeluk Ryan sambil bergumam.. "ayah, jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan Tio dan ibu lama-lama ayah, Tio mau sama ayah."


Ryan terpaku di tempat nya sambil memeluk Tio, untuk membuat Tio tertidur kembali.


Sedangkan mbak Ning, yang bisa mendengar jelas gumaman putra nya hanya bisa termangu dan merasa serba salah.


Kedua nya terdiam, sejenak saling tatap.. dan kemudian saling mengalihkan pandangan.


"Tak mengapa mbak, Tio anak yang menyenangkan.. saya sayang kok sama Tio," ucap Ryan, yang membuat mbak Ning berani mendongakkan wajah nya.


Kembali kedua netra itu saling bertemu, Ryan tersenyum hangat pada mbak Ning,, sedangkan wanita satu anak itu kembali tertunduk dengan wajah merona merah.


Dan semenjak saat itu, hubungan Ryan dan Tio semakin dekat... begitu pun dengan ibu nya Tio, yang selalu mendapatkan dukungan dari Aida agar mau mulai membuka hati nya demi Tio.


Flash back off...


Sementara Aida duduk gelisah menunggu di ruang keluarga, di temani oleh Laila dan juga mbak Ning.


Suara berat dan penuh wibawa kyai Zarkasyi, yang mulai membuka acara membuat jantung A.ida semakin berdebar kencang.


Aida terus mere*mas jemari tangan nya yang terasa dingin, sedingin air yang disimpan dalam kulkas l kurun waktu yang cukup lama.

__ADS_1


Mbak Ning dengan penuh perhatian, menepuk lembut punggung Aida untuk memberikan ketenangan pada adik angkat nya itu.


Namun berbeda dengan Laila, yang justru terus meledek sahabat,, sekaligus calon kakak ipar nya tersebut.


"Grogi ya neng? Bingung yah, nanti kalau berduaan di kamar sama kak Umar bagaimana?" Goda Laila, yang membuat hati Aida semakin berdebar,, membayangkan bagaimana nanti jika hanya ada mereka berdua di dalam kamar yang tertutup rapat.


"La,, bisa diem enggak sih?!" Gerutu Aida seraya mengerucutkan bibir nya, yang kini berwarna merah merekah.


Laila terkekeh pelan, melihat sahabat baik nya itu cemberut. Gadis itu hendak menggoda Aida kembali, ketika di luar sana terdengar suara kyai Abdullah yang hendak menikah kan gus Umar untuk yang kedua kali nya sedang membacakan khutbah nikah.


Laila langsung diam, dan ikut khusyuk mendengar kan suara sang abah.


Setelah selesai dengan khutbah nya, kyai Abdullah sendiri yang menikahkan gus Umar dan Aida, karena Aida tak memiliki wali.


Kyai Abdullah mengucapkan ijab dengan suara nya yang penuh wibawa dengan menjabat erat tangan sang putra yang di dampingi dua kyai sepuh, kyai Abdullah seraya menatap sang putra dengan penuh pengharapan agar pernikahan putra nya kali ini membawa kebahagiaan untuk gus Umar khusus nya dan juga untuk keluarga besar nya.


Dan gus Umar yang membalas erat jabat tangan sang ayah, mengucap qabul dengan suara bergetar dan perasaan yang campur aduk.. "Saya terima nikah dan kawinnya Aida Putri binti Ahmad Dahlan dengan mas kawin tersebut di atas. Tunai." Gus Umar mengucapkan nya hanya dengan satu kali tarikan nafas, dan setelah nya pemuda kharismatik itu tersenyum lega.


"Sah,,," kyai Zarkasyi dan kyai Hasyim yang menjadi saksi, mengucapkan kata sah dengan penuh haru yang diikuti oleh semua yang hadir di ruang tamu tersebut.


Dan semua yang hadir ikut larut dalam keharuan melihat kedua kyai sepuh saling berangkulan dengan menitikkan air mata, gus Umar pun tak kuasa menahan air mata nya.


"Semoga Allah memberkahi kalian dan menetapkan keberkahan atas kalian serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan," do'a kyai Hasanuddin, pada gus Umar sambil memeluk mantan menantu nya tersebut.


"Terimakasih abi," lirih gus Umar, seraya mengeratkan pelukan nya.


Nyai Robi'ah dan nyai Rahma pun saling berpelukan, tak sanggup mengucap kata.


"Ning Najwa, tolong bawa nak Aida kemari," titah nyai Siti, setelah semua kembali tenang.


Ning Najwa bergegas masuk kedalam ruang keluarga, bersama Laila ning Najwa menuntun Aida untuk keluar menemui suami nya.


Aida berjalan perlahan dengan terus menundukkan pandangan nya, rasa bahagia serta haru kini bercampur menjadi satu. "Ibu, ayah, andai kalian masih ada disini.. kalian pasti sangat bahagia, karena saat ini, Aida sudah menjadi istri pangeran impian masa kecil Aida," bisik Aida dalam hati.

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2