Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 36 : Aida Belum Yakin...


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tetapi gus Umar masih belum bisa melupakan Aida dan masih merasa berat menerima kenyataan bahwa besok pagi diri nya akan menikahi gadis yang telah dijodohkan dengan nya.


Dini hari, di dalam kamar nya. Gus Umar masih saja terjaga, netra nya seakan sulit untuk diajak tidur. Padahal raga nya merasakan lelah, dan butuh beristirahat.


Sedari tadi, gus Umar hanya membolak-balik tubuh nya untuk mencari posisi ternyaman. Namun semua posisi, sama sekali tak ada yang terasa nyaman bagi nya.


Gus Umar berkali-kali menghembus nafas nya dengan kasar, "sanggupkah aku menjadi suami dan imam yang baik untuk istri ku nanti, jika nyata nya sudah ada gadis lain yang mengisi hatiku?" Gus Umar menatap langit-langit kamar nya, dan pikiran nya berkelana menerawang jauh.


Terlintas kembali cerita tentang perjalanan Aida yang merelakan diri nya menikah dengan seorang duda yang usia kedua nya terpaut cukup jauh, demi menyelamatkan sang ibu. Meski pada akhir nya, satu-satu nya orang tua yang masih tersisa di hidup Aida pun tetap pergi meninggalkan gadis belia itu seorang diri.


"Sungguh berat perjalanan hidup kamu dik, dan dalam surat yang kamu tuliskan.. kamu masih bisa mengatakan, bahwa kamu baik-baik saja? Benarkah itu dik? Benarkah kamu bahagia? Sungguh aku akan sangat merasa berdosa, jika ternyata kamu tidak bahagia di sana dik.." gus Umar bermonolog dalam diam.


"Tidak, tidak,, aku tidak bisa begini terus. Saat ini aku sudah kehilangan dik Aida, dan yang bisa ku lakukan hanya lah mendo'akan nya dari jauh. Lebih baik aku sholat dan mendo'akan dik Aida, dari pada terus meratapi perpisahan yang menyakitkan ini," bisik gus Umar dalam hati seraya bangun dari tidur nya, gus Umar kemudian duduk sebentar di tepi pembaringan.


"Lagi pula aku tidak mau membuat kakek kecewa, dan dengan sikap ku yang tidak bisa menerima perjodohan ini.. pasti akan sangat menyakiti calon istri ku nanti, aku sudah mengecewakan dik Aida dan aku tidak mau lagi mengecewakan gadis lain. Aku harus bangkit dan menatap masa depan, aku yakin aku pasti bisa," gus Umar segera beranjak, dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Tak berapa lama, putra kyai Abdullah itu sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah nya yang terlihat lebih segar.


Gus Umar segera menggelar sajadah pemberian dari Aida di sudut kamar nya, dan dengan khusyuk gus Umar mengangkat kedua tangan nya menghadap kiblat seraya mengucap takbir dengan suara nya yang terdengar bergetar.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, gus Umar telah menyelesaikan sholat sunnah hajat empat raka'at. Setelah membaca wirid, pemuda kharismatik itu kemudian mengangkat kedua tangan nya menghadap langit dan kemudian berdo'a dengan sungguh-sungguh.


Tidak banyak yang diminta oleh gus Umar dalam do'a nya, pemuda itu hanya meminta agar Aida diberikan kebahagian dalam mengarungi bahtera rumah tangga nya meski dengan laki-laki lain. Dan gus Umar meminta satu hal untuk diri nya sendiri, yaitu agar diberikan keikhlasan dan ketenangan dalam menjalani hidup nya ke depan.


Usai berdo'a gus Umar merapikan sajadah nya kembali, sekilas melirik jam di dinding kamar nya yang telah menunjukkan pukul dua dini hari. "Tinggal beberapa jam lagi aku akan mengambil alih tanggung jawab seorang gadis dari tangan ayah nya, dan mau tidak mau,, aku harus siap mengambil peran itu, peran sebagai seorang suami," lirih gus Umar, seraya mendesah pelan.


Gus Umar melangkah perlahan menuju pembaringan dan segera merebahkan tubuh nya yang penat di atas kasur busa yang empuk. Gus Umar kini merasa sedikit lebih tenang, dan tak lama kemudian deru nafas pemuda tampan itu mulai terdengar teratur... raga dan jiwa yang lelah, membawa nya terlelap ke alam mimpi.


@@@@@


Pagi hari di kediaman Ryan,,, seperti biasa, Aida akan menyiapkan sarapan untuk sang suami. Meski ada asisten rumah tangga, tapi Aida lebih suka memasak sendiri untuk suami nya. Apalagi setelah merasakan nikmat nya masakan Aida, Ryan juga lebih bernafsu makan jika yang memasak adalah istri kecil nya itu.


Aida tengah sibuk menata makanan di atas meja makan, ketika tiba-tiba Ryan memeluk nya dari belakang. Meski setiap pagi Ryan melakukan hal tersebut, tapi tetap saja Aida merasa terkejut.


"Hmm,, mas enggak ngagetin dik, mas hanya masih kangen pengin peluk kamu. Rasa nya, waktu malam terasa begitu pendek sejak ada kamu di hidup mas dik," rayu Ryan, seperti biasa nya.


Ya, Aida kini telah benar-benar bisa menerima bahwa diri nya adalah istri dari Ryan. Dan Aida berjanji pada diri nya sendiri, akan berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi suami nya itu. Apalagi selama beberapa hari ini, Ryan juga selalu menunjukkan perhatian dan kasih sayang nya kepada Aida.


Meski masih ada satu kekurangan dari suami nya itu, Ryan masih saja belum mau melaksanakan sholat. Padahal Aida sudah berusaha untuk membujuk nya dengan lembut, tapi Ryan belum juga terbuka hati nya.

__ADS_1


"Duduk lah mas, Aida akan buatkan mas teh hangat," pinta Aida, tatkala Ryan masih saja belum melepaskan tangan nya dari perut Aida.


"Baiklah, tapi kasih ucapan selamat pagi dulu dong buat mas," pinta Ryan seraya melepaskan pelukan nya dari tubuh sang istri.


"Nanti aja ya, kalau mas Ryan udah mau berangkat kerja." Tawar Aida, hendak bergegas untuk membuatkan teh hangat kesukaan suami nya.


Tapi Ryan menarik pergelangan tangan kanan Aida dan membawa Aida ke dalam dekapan nya, Ryan manangkup kedua sisi pipi Aida, "biar mas sendiri yang mengambil ucapan selamat pagi itu," dan Ryan langsung melabuh kan ciuman di bibir lembut istri nya yang bagai candi itu.


Cukup lama Ryan melu*mat bibir sang istri, laki-laki matang itu seakan tak pernah puas menikmati hangat dan manis nya bibir Aida. Hingga membuat Mirna, yang sedari tadi mengawasi gerak gerik majikan dan istri nya itu dari dapur merasa geram.


Meski setiap pagi disuguhi adegan romantis seperti itu, dan Ryan juga terang-terangan tidak menyukai nya.. namun Mirna masih saja menyimpan harapan besar untuk dapat memiliki kontraktor yang tergolong sukses, asisten rumah tangga itu sama sekali tidak merasa kapok.


Bagi Mirna, kegagalan besar jika dia tak bisa memiliki laki-laki yang cukup tajir itu,,, meski dia adalah suami orang, dan Mirna tak pernah peduli dengan status Ryan. Karena sedari dulu, asisten rumah tangga itu memang sudah terobsesi pada Ryan... teman masa SMA nya dulu.


Dan lamunan Mirna buyar, tatkala mendengar suara jeritan manja Aida. "Aw,, mas Ryan, sakit tau," protes Aida tatkala Ryan mengakhiri sesi ciuman ucapan selamat pagi nya yang dia ambil dengan paksa, dengan gigitan kecil di bibir sang istri.


Ryan terkekeh seraya mengusap bibir sang istri dengan ibu jari kanan nya, "maaf dik, habis nya mas gemes pengin cium kamu terus."


Aida mengerucutkan bibir nya, dan pura-pura terlihat kesal. "Mas Ryan suka nya maksa," protes Aida, padahal dalam hati dia tersenyum.

__ADS_1


Diperlakukan dengan manis dan penuh kasih oleh sang suami, pastilah hati Aida sebagai seorang istri merasa senang. Meski Aida belum yakin,,, sudah kah tumbuh benih cinta di hati nya untuk Ryan?


bersambung,,,


__ADS_2