Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 98 : Kalian Bisa Menjadi Teman yang Baik


__ADS_3

Di ruang pemulasaran jenazah, gus Umar bersama umi nya ning Zahra sendiri yang memandikan jenazah ning Zahra.. dengan di bantu oleh petugas dari rumah sakit tersebut. Ya, umi nya ning Zahra tadi langsung berangkat menuju rumah sakit, begitu mendapat kabar dari menantu nya dan meminta pada gus Umar untuk menunggu beliau jika ingin mensucikan jenazah putri nya.


Usai dimandikan, jenazah ning Zahra kemudian di kafani untuk kemudian di sholat kan di tempat yang telah di sediakan di rumah sakit.. meski nanti nya di pesantren, pasti akan banyak yang ikut mensholatkan, tapi abi nya ning Zahra berkeinginan ungu mensholatkan jenazah putri nya terlebih dahulu.


Kini jenazah ning Zahra telah siap untuk dibawa pulang, "abi, umi.. tolong abi dan umi yang menemani di mobil jenazah ya? Umar harus menyelesaikan administrasi nya dulu, nanti Umar segera menyusul," pinta gus Umar kepada kedua mertua nya.


"Iya gus, sampean nanti hati-hati di jalan ya.. nyetir sendiri kan?" Tanya kyai Hasanuddin, seraya menepuk bahu sang menantu.


"Nggih abi," balas gus Umar, "terimakasih," lanjut nya, dan gus Umar segera berlalu menuju bagian administrasi untuk menyelesaikan semua biaya untuk perawatan istri nya selama di rumah sakit... ketika mobil jenazah yang membawa sang istri, mulai melaju meninggalkan pelataran rumah sakit.


Sepanjang jalan menuju loket administrasi, ingatan gus Umar kembali melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu...


#Flash back on...


Gus Umar menghentikan sejenak bacaan Al-Quran nya, ketika sayup-sayup terdengar kumandang adzan maghrib dari masjid di kejauhan. Gus Umar menatap wajah istri nya yang tertidur dengan lelap, dan kemudian mengusap pipi tirus itu sebelum berlalu untuk mengambil air wudhu.


Usai berwudhu, gus Umar menunaikan sholat maghrib di kamar perawatan sang istri karena istri nya tak ada yang menemani. Kemudian gus Umar berdoa seraya mengangkat kedua tangan nya, memohon kebaikan untuk sang istri juga untuk diri nya.


Gus Umar segera beranjak setelah menyelesaikan do'a nya, untuk kembali duduk di tempat nya semula,,, yaitu di kursi, yang diletakkan tepat di samping ranjang pasien.


Gus Umar mengambil Al-Qur'an kecil yang tadi dibaca nya dan kemudian melanjutkan kembali ngaji nya, sesuai permintaan sang istri tadi. Gus Umar terus mengaji, sambil sesekali mengelus puncak kepala istri nya.


Hingga menjelang isya, gus Umar masih mengaji. Dan tepat ketika kumandang adzan isya terdengar, gus Umar menutup Al-Qur'an dan kemudian berbisik pada sang istri. "Udah isya ning, masih mau tidur?"


Gus Umar menatap dalam wajah istri nya, dan setelah cukup lama menunggu sang istri tak merespon.. gus Umar kemudian kembali berbisik, "aku sholat isya' dulu ya ning,," gus Umar lantas mencium kening istri nya, yang masih terasa dirasakan hangat.


Usai sholat isya', gus Umar berdzikir cukup lama.. dan setelah berdo'a suami ning Zahra itu masih sempat untuk membereskan sajadah dan meminum air teh milik nya yang kini sudah dingin.


Gus Umar kembali duduk di kursi, kali ini bukan untuk mengaji tetapi hanya ingin bercengkrama dengan istri nya. Dan ketika gus Umar memegang tangan sang istri, putra sulung kyai Abdullah itu terkejut begitu mendapati tangan sang istri begitu dingin.


Gus Umar kemudian memegang kening sang istri untuk memastikan, dan kening istri nya pun tak lagi sehangat tadi bahkan ketika tangan nya turun ke pipi.. pipi tirus itu pun sudah terasa dingin.


Untuk memastikan apa yang dipikirkan, gus Umar memegang nadi sang istri,, dan benar dugaan nya, sang istri ternyata telah berpulang kepada Sang Pencipta Nya. "Innalillahi wainnailaihi raaji'uun,,, kamu pasti sudah bahagia sekarang ning, kamu tak lagi merasakan kesakitan kan?"


"Allahummaghfir laha warhamha wa ‘afiha wa‘fuanha,,," lanjut nya mendo'akan sang istri.


Yang arti nya; "Ya Allah Ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, bebaskanlah dia dan maafkanlah dia."


#Flash back off...

__ADS_1


Begitu tiba di ruang administrasi, gus Umar segera membereskan semua tagihan rumah sakit. Dan setelah itu, gus Umar memacu langkah nya untuk menuju ke tempat parkir.


Gus Umar mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi, karena ingin bisa segera sampai di rumah. Dan benar ada nya, ketika mobil gus Umar memasuki gerbang komplek pesantren.. mobil jenazah yang tadi membawa jenazah ning Zahra, baru saja meninggalkan halaman kediaman sang abah.


Gus Umar pun segera turun, yang di sambut oleh para santri putra dan para pelayat yang hendak mengucapkan bela sungkawa.


Para santri putri telah berkumpul kembali di aula, untuk membacakan tahlil dan mendo'akan ning Zahra,, putri menantu sang kyai, sekaligus ustadzah di pesantren tersebut.


Banyak santri putri yang menangis karena merasa sangat kehilangan atas kepergian salah satu ustadzah terbaik mereka, ustadzah yang dikenal ramah dan lembut serta sangat bagus hafalan Al-Qur'an nya.


Umi nya ning Zahra, beserta kedua putri nya yang baru saja datang dan langsung menuju pesantren juga masih terlihat berlinang air mata... meskipun mereka telah mengikhlaskan tapi tetap saja, dada mereka terasa sesak.


"Umi, sudah umi... mbak Zahra sudah tenang sekarang, mbak Zahra sudah ndak merasakan sakit lagi." Hibur ning Zahwa, putri bungsu nyai Rahma yang terlihat paling tegar.


Nyai Rahma mengangguk, "iya ning, umi ikhlas,,, umi ridho, InshaaAllah sakit nya ning Zahra selama ini, bisa menjadi penggugur dosa-dosa nya dan ning Zahra kembali kepada Nya dalam keadaan yang putih bersih.. seperti dulu saat pertama kali ning Zahra umi lahir kan ke dunia ini, aamiin." Do'a nyai Rahma untuk putri nya, yang diaminkan oleh ning Najwa dan ning Zahwa. Juga oleh nyai Robi'ah dan Laila, yang duduk di samping putri nyai Rahma.


Sementara para pelayat laki-laki sudah mulai mensholatkan jenazah ning Zahra, karena banyak nya para pelayat.. sholat jenazah itu dilakukan hingga beberapa kelompok.


Keluarga besar kyai Hasanuddin beserta beberapa santri nya yang ikut datang melayat, juga membuat kelompok sendiri karena jumlah mereka yang sangat banyak.


Para tetangga dan sanak kerabat serta sahabat kyai Abdullah, juga berkelompok untuk mensholatkan jenazah menantu kyai kharismatik tesebut.


Semua orang turut berduka, termasuk Aida yang duduk di kursi roda di bagian paling belakang aula yang ditemani oleh mbak Ning. Rasa nya, air mata Aida belum lah kering karena sang putra belum lama di kebumikan.. kini kabar duka itu kembali menyapa nya.


Bagi Aida, ning Zahra adalah ustadzah nya.. yang telah banyak memberikan ilmu nya kepada Aida. Dari ning Zahra yang hafalan Al-Qur'an nya bagus, Aida jadi termotivasi untuk menghafalkan Al-Qur'an tiga puluh juz.


Suara Laila yang mendekati Aida, membuyarkan lamunan Aida. "Balik ke kamar aja ya, enggak perlu ikut ke makam. Angin malam tidak baik untuk mu," saran Laila.


Aida mengangguk, "emang, sudah mau diberangkatkan?" Tanya Aida.


"Sebentar lagi kayak nya, abah baru mau kasih sambutan," balas Laila.


Dan obrolan mereka terhenti tatkala terdengar dari pengeras suara, kyai Abdullah memberikan sambutan nya.


Usai kyai Abdullah memberikan sambutan, keranda ning Zahra segera di angkat, gus Umar, kakak ipar ning Zahra serta kedua santri kyai Abdullah yang mengangkat keranda tersebut menuju peristirahatan ning Zahra yang terakhir.


Setiba nya di area pemakaman, gus Umar melihat makam baru yang masih sangat basah dan bunga-bunga nya masih nampak segar. Dalam hati gus Umar menduga, "ini pasti makam anak nya dik Aida."


Dan liang kubur untuk ning Zahra, yang tepat berada samping pemakaman baby Wildan yang masih basah itu.. mengingatkan kembali gus Umar, dengan perkataan istri nya tadi sore.

__ADS_1


"Gus, habis ini Zahra mau tidur.. tolong jangan bangunkan Zahra ya?" Pinta ning Zahra.


Gus Umar menghentikan menyisir rambut istri nya, "kenapa ning?" Kening gus Umar mengernyit dalam.


"Siapa tahu, nanti Zahra mimpi bertemu baby Wildan gus. Jika nanti Zahra bertemu baby Wildan, Zahra pengin mengajak nya bermain, jadi Zahra ndak mau di ganggu,," balas ning Zahra dengan senyum nya yang lebar.


Gus Umar menyusut bulir bening di sudut mata nya, "sebentar lagi kamu pasti akan bertemu dengan baby Wildan ning, dan kamu bisa bermain-main bersama dengan baby Wildan sepuas nya," bisik gus Umar seolah pada istri nya yang tengah tersenyum ke arah nya.


"Sudah siap gus?" Tanya sang abah, membuyarkan lamunan gus Umar.


"Nggih abah,,," balas gus Umar, dan sepanjang pemakaman berlangsung.. tak henti gus Umar mengucap do'a untuk sang istri. Do'a agar Allah membuka pintu-pintu langit untuk roh jenazah ning Zahra, memuliakan tempat ning Zahra, meluaskan tempat nya dan melapangkan alam kuburnya.


Dan di atas langit sana, bulan yang bersinar terang dan langit yang bertabur bintang,, seakan turut tersenyum, menyambut roh ning Zahra.


Satu persatu pelayat pergi meninggalkan area pemakaman, termasuk kyai Hasanuddin dan keluarga nya yang diikuti oleh kyai sepuh.


Menyisakan gus Umar, yang masih didampingi sang abah beserta dua orang santri ndalem yang setia mengikuti dimanapun kyai Abdullah berada.


"Gus, malam telah larut.. ayo pulang, kamu juga pasti butuh istirahat," ajak kyai Abdullah seraya menepuk punggung sang putra.


"Nggih abah, sebentar lagi. Umar akan berdo'a dulu di makam baby Wildan," gus Umar menunjuk makam bayi mungil, tepat di samping makam sang istri.


Kyai Abdullah mengangguk, "jangan lama-lama gus, kesehatan sampean juga penting.. sampean sudah cukup lama meninggalkan yayasan, anak-anak butuh sampean." Kyai Abdullah mengingat kan sang putra akan tanggung jawab nya, "nanti makan dulu sebelum istirahat, sampean pasti belum makan malam kan?"


Gus Umar mengangguk, "nggih abah, terimakasih abah selalu memperhatikan Umar," balas gus Umar dengan netra berkaca-kaca, gus Umar merasa seperti kembali menjadi anak kecil... yang masih selalu butuh di perhatikan, bahkan hingga ke hal-hal yang terkecil sekalipun.


Kyai Abdullah tak menanggapi perkataan putra nya, hanya menepuk punggung kokoh sang putra beberapa kali dan kemudian segera berlalu yang diiringi oleh dua orang santri.


"Karena sampean putra abah gus, meski sampean telah dewasa bahkan telah sempat berumah tangga.. tapi bagi abah, sampean tetap putra abah dan abah pasti akan selalu memperhatikan dan memastikan sampean baik-baik saja," gumam kyai Abdullah dalam hati, seraya berjalan menjauh dari area pemakaman keluarga nya.


Sementara itu, gus Umar kini telah berjongkok di samping makam baby Wildan. "Assalamu'alaìkum dara qaumìn mu'mìnîn wa atakum ma tu'adun ghadan mu'ajjalun, wa ìnna ìnsya-Allahu bìkum lahìqun."


Yang artinya: "Assalamualaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Allah yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian."


"Hai sayang,, kita memang belum sempat bertemu di dunia. Tapi Insyaallah, kelak kita akan bertemu dan berkumpul di syurga Allah. Tunggu kami di sana ya nak,,," gus Umar kembali menyusut crystal bening yang jatuh membasahi pipi nya, pemuda itu tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Aida yang kehilangan putra pertama nya.


"Nak, bermain-main dan bersenang-senanglah dahulu bersama bibi Zahra yang baru saja menyusul mu. Paman yakin, kalian bisa menjadi teman yang baik,," lirih gus Umar, seraya mengusap papan nisan yang bertuliskan baby Wildan bin Ryan Hasibuan tersebut.


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2