Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 53 : Menjemput Mbak Ning


__ADS_3

Sore hari nya, setelah sebelum nya Aida menjelaskan status nya pada pak Dibyo dan bu Dibyo bahwa diri nya baru saja di talak oleh sang suami, dan saat ini tengah mengandung... Aida dengan diantarkan oleh sepasang suami istri baik hati itu, bertamu ke kediaman bu Tyas yang masih satu wilayah dengan kediaman pak Dibyo.


Dan dari pertemuan dengan bu Tyas dan suami nya selaku pemilik ruko tersebut, dicapai harga sewa yang disanggupi oleh Aida selama setahun. "Ini kalau bukan dengan keponakan bapak, ndak saya lepas lho? Beneran?!" Ucap bu Tyas penuh penekanan, "apalagi suami adik ini sudah meninggal, saya jadi enggak tega mau kasih harga tinggi," lanjut bu Tyas berempati.


Terpaksa, pak Dibyo mengakui Aida sebagai keponakan nya.. agar orang-orang sekitar tidak berpikiran buruk tentang Aida, jika suatu saat nanti perut Aida semakin membesar. Pak Dibyo pun terpaksa berbohong, dengan mengatakan bahwa suami Aida telah meninggal.. agar Aida terhindar dari fitnah dan cibiran orang-orang yang suka mengurusi kehidupan orang lain.


Setidak nya, menjadi janda karena ditinggal mati oleh suami di daerah tersebut.. lebih terhormat, dari pada menjadi janda karena sebuah perceraian yang seringkali pihak wanita nya lah yang selalu dipersalahkan. Tidak becus ngurus suami lah, tidak bisa memuaskan pasangan lah.. dan bentuk hujatan-hujatan lain yang sangat tidak mengenakkan, tanpa mencari tahu kebenaran nya terlebih dahulu.


Dan setelah menjanda dan hidup sendiri, pun seolah tak dibiarkan untuk menikmati ketenangan. Tuduhan miring masih selalu menghampiri seorang wanita yang berpredikat janda, di anggap penggoda suami orang lah, perebut laki-laki istri lain lah, wanita kegatelan lah.. dan ratusan predikat buruk lain yang dilontarkan, sungguh miris jika hidup menjanda di lingkungan tersebut.


Padahal jika boleh meminta, jika bisa memilih,, siapa sih yang mau menjadi janda? Apa pun sebab nya,, perceraian ataupun kematian? Tak ada seorang pun yang mau bukan?


Dan pak Dibyo serta bu Dibyo, siap berada di garda terdepan untuk melindungi Aida.. yaitu dengan mengakui Aida, sebagai bagian dari keluarga nya. Minimal, dengan nama baik yang pak Dibyo miliki dan sekaligus pak Dibyo sebagai salah seorang tokoh masyarakat yang disegani,, Aida akan lebih aman tinggal di ruko tersebut, dari pada Aida harus mencari tempat lain yang belum tentu lebih aman.


Pak Dibyo juga mendukung keinginan Aida untuk menjemput saudara nya, yaitu mbak Ning. Untuk menemani Aida tinggal di ruko sekaligus untuk meminimalisir fitnah yang bisa jadi akan muncul dari mulut orang-orang yang tidak suka dengan kehadiran Aida.


Karena kita tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukai kita bukan? Dan yang bisa kita lakukan hanya lah terus berbuat baik, dan tak perlu menghiraukan apa penilaian orang terhadap diri kita.

__ADS_1


Setelah membayar DP dan berjanji akan melunasi esok saat serah terima kunci ruko sekaligus penandatanganan surat perjanjian kontrak, pak Dibyo mengajak istri nya dan Aida untuk pulang.


Malam hari nya, jam sepuluh malam.. Aida dengan menyewa sebuah mobil milik tetangga pak Dibyo, menjemput mbak Ning dengan diantarkan oleh pak Dibyo dan keluarga nya.


Sengaja Aida memilih waktu malam, agar tidak bertemu dengan para tetangga yang bisa jadi mereka sudah mendengar kabar tentang perceraian nya dengan putra dari bu Retno tersebut. Dan Aida tak ingin menambah beban di hati nya dengan bertemu para tetangga, yang bisa jadi mereka sudah mendengar berita miring tentang nya.


Sampai di kediaman orang tua Aida, waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.. dan semua rumah nampak sudah tertutup rapat, termasuk rumah Aida dan rumah pak Karyo.


Setelah mobil terparkir dengan sempurna di teras warung, Aida bergegas turun yang ditemani oleh bu Dibyo. Beruntung, Bunga baru saja terlelap setelah kelelahan berceloteh sepanjang jalan tadi,, hingga Aida merasa lega karena suara Bunga yang berisik ketika mata nya terbuka, bisa saja membangunkan para tetangga.


"Siapa?" Tanya nya, seperti tak percaya.


"Aku Aida mbak," balas Aida pelan, dengan mendekatkan mulut nya pada jendela kayu yang tertutup rapat.


Mbak Ning tidak buru-buru percaya begitu saja, wanita dengan satu anak itu kemudian membuka pintu jendela nya yang berteralis itu untuk memastikan bahwa apa yang dia dengar benar ada nya. Dan mbak Ning menutup mulut nya yang hendak berteriak, begitu melihat adik yang dirindukan nya ada di balik jendela tersebut.


"Sebentar neng, mbak buka kan pintu nya," dan mbak Ning bergegas keluar dari kamar untuk membuka kan pintu.

__ADS_1


Aida langsung berhambur dan memeluk mbak Ning dengan erat, "neng, tadi bu Retno telpon sopir nya.. dan menanyakan apakah neng Aida pulang ke rumah ini? Memang nya ada apa tho neng?" Selidik mbak Ning, setelah pelukan mereka terlepas.


"Mbak, Aida datang untuk menjemput mbak Ning. Mbak Ning mau kan ikut Aida, menjaga Aida?" Suara Aida mulai tercekat di tenggorokan, dan air mata nya lolos begitu saja tak kuasa dia bendung.


Melihat mbak Ning, Aida seperti menemukan tempat untuk mencurahkan semua kepedihan yang dia simpan selama ini. Tapi Aida tak hendak bercerita sekarang, karena mereka harus segera pergi sebelum mengundang kecurigaan para tetangga dengan ada nya mobil yang terparkir di depan warung.


Bu Dibyo yang sedari tadi berdiri di samping Aida, ikut trenyuh melihat pertemuan mereka.


"Neng,, ada apa tho neng?" Tanya mbak Ning dengan logat Jawa yang kaku, karena dia bukan asli orang Jawa. Mbak Ning adalah gadis malang yang menjadi gelandangan di pinggiran ibu kota, yang kemudian di ajak pulang oleh Mas Tikno dan dinikahi tetangga Aida tersebut.


Tapi keberuntungan tak berpihak lama pada mbak Ning, di saat usia kandungan nya tujuh bulan.. mas Tikno meninggal karena kecelakaan, sedangkan keluarga mas Tikno termasuk keluarga miskin yang tak bisa menampung mbak Ning Dan calon anak nya.


Dan ibu nya Aida lah yang kemudian mengulurkan tangan, dan membawa mbak Ning masuk ke dalam keluarga nya. Bahkan mbak Ning sudah di anggap sebagai anak sendiri oleh bibi Aini, ibu nya Aida. Hingga mbak Ning dan anak nya bisa hidup dengan layak dan tak kekurangan, bahkan mbak Ning juga bisa merasa kan kasih sayang dari sebuah keluarga yang utuh yang selama ini belum pernah dia rasa kan.


"Aida cerita nanti saja ya mbak, yang penting sekarang kita packing semua keperluan mbak Ning dan si kecil."


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2