
Gus Umar terus mencoba menenangkan istri nya yang memaksa ingin bertemu dengan Aida, karena khawatir tak punya cukup waktu lagi,,, dan gus Umar menghibur dengan mengatakan, bahwa semua nya akan baik-baik saja.
"Ning, kita berdo'a sama-sama ya. Karena saat ini,,," sejenak gus Umar menghentikan ucapan nya, suami ning Zahra itu ragu akankah gus Umar mengatakan kebenaran tentang kondisi Aida saat ini pada istri nya atau tidak? Sedang kan ning Zahra terus saja memaksa, ingin bertemu dengan Aida yang saat ini juga tengah berjuang di ruang operasi.
Ning Zahra menatap sang suami, menanti kelanjutan ucapan suami nya.
"Saat ini, dik Aida belum bisa menemui kamu ning." Lanjut gus Umar.
"Kenapa? Apa dik Aida marah pada Zahra, karena kejadian kala itu?" Tanya ning Zahra, dengan wajah yang terlihat sangat sedih. Ning Zahra takut, Aida marah pada nya dan dia tak punya waktu untuk meminta maaf pada Aida.
Gus Umar menggeleng, "dik Aida, tak pernah marah sama kamu ning," balas gus Umar dengan menatap istri nya lembut.
"Lantas?" Ning Zahra mengernyitkan dahi nya, "dik Aida baik-baik saja kan gus?" Tanya ning Zahra yang tiba-tiba merasa khawatir.
Sejenak gus Umar terdiam, "saat ini, dik Aida tengah menjalani operasi cesar. Tadi dik Aida tiba-tiba pingsan, dan mengalami pendarahan," terang gus Umar dengan hati-hati.
"Lantas, bagaimana kondisi nya saat ini gus? Bayi nya bagaimana? Semua nya, baik-baik saja kan?" Tanya ning Zahra dengan khawatir.
Gus Umar menggeleng, "aku juga belum tahu ning, tadi saat aku melihat ke sana.. dik Aida masih di tangani oleh dokter di ruang operasi," balas gus Umar, seraya menciumi punggung tangan sang istri yang sedari tadi di genggam nya dengan erat. Gus Umar seolah mencari kekuatan dengan genggaman tangan nya itu, kekuatan untuk menghadapi berbagai kejadian yang ada di hadapan nya saat ini.
Wanita yang nama nya tersimpan rapat di hati, saat ini tengah bertaruh nyawa untuk melahirkan seorang anak manusia di atas meja operasi. Dan wanita yang saat ini berstatus sebagai istri gus Umar, yang tanggung jawab nya sudah diambil alih dari ayah ning Zahra di atas pundak gus Umar,,, saat ini, kondisi nya pun sedang sangat memprihatinkan.
"Bawa Zahra ke sana gus," lirih ning Zahra, membuyarkan lamunan gus Umar.
__ADS_1
Gus Umar menatap dalam netra sang istri yang nampak kekuningan, akibat kanker hati kronis yang di derita ning Zahra. "Istirahatlah ning, tenang kan diri mu. Aku janji akan membawamu menemui dik Aida, jika operasi nya telah selesai nanti. Tapi tentu, jika kondisi mu sudah stabil.. dan kamu boleh meninggalkan ruangan ini," balas gus Umar menyemangati istri nya, agar ning Zahra bisa tenang dan keadaan nya segera kembali membaik.
Ning Zahra mengangguk patuh, "baik gus, aku takkan memikirkan apa-apa. Janji, bawa aku menemui dik Aida nanti ya?" Pinta ning Zahra sungguh-sungguh.
Gus Umar mengangguk, "tidur lah ning, aku akan di sini menemani mu," bisik gus Umar, dan kemudian mencium kening istri nya dengan penuh kasih.
@@@@@
Sementara di ruang tunggu, Laila masih gelisah menanti.. tatapan nya terus tertuju ke arah lampu di atas pintu ruang operasi yang masih saja menyala sedari tadi.
"Abah,, kenapa lama sekali?" Keluh Laila, sambil menyandarkan kepala nya di bahu sang abah.
"Terus lah berdo'a ning, semoga sahabat mu di dalam sana senantiasa dalam lindungan Allah Ta'ala," bisik kyai Abdullah, pada putri bungsu nya.
Tak berapa lama, lampu di atas pintu ruang operasi padam.. dan beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka. Dan seorang dokter nampak keluar dari ruangan itu, yang langsung di dekati oleh Ryan dan ibu nya.. juga kyai Abdullah dan keluarga nya beserta bu Dibyo.
Dokter obgyn yang menangani Aida dan mengenali wajah kyai Abdullah beserta keluarga, juga bu Dibyo.. langsung melihat kearah kyai Abdullah dan keluarga. "Alhamdulillah pak, bu,,, operasi mbak Aida berjalan dengan lancar," ucap dokter tersebut.
"Alhamdulillahirobbil'aalamiin,,," ucap syukur mereka semua yang mendengar, tak terkecuali Ryan dan ibu nya.
"Tapi maaf, mbak Aida belum bisa kami pindahkan ke ruang perawatan... karena saat ini, mbak Aida belum sadarkan diri. Dan pasien juga harus di observasi lebih lanjut," terang sang dokter.
"Tapi Aida baik-baik saja kan dok? Aida bisa segera sadar dan sembuh kembali kan dok?" Tanya Laila, yang kini kembali meneteskan air mata.
__ADS_1
Dokter tersebut mengangguk, "InsyaAllah mbak, mbak Aida wanita yang kuat.. dia pasti bisa melewati masa kritis nya, dan bisa segera berkumpul kembali bersama kalian," hibur dokter tersebut, membesarkan hati Laila, juga kedua orang tua nya dan bu Dibyo tentu nya.
"Alhamdulillah,," lirih bu Dibyo dan nyai Robi'ah yang nampak sedikit lega, mendengar penjelasan dokter tersebut.
Sedangkan Ryan, terlihat merasa begitu bersalah mendengar keadaan Aida yang masih belum sadarkan diri. "Maafkan aku dik, maaf.. cepat lah sadar, anak kita pasti membutuhkan ibu nya," gumam Ryan dalam hati.
Sedangkan bu Retno, terlihat bingung dan bertanya-tanya dalam hati.. "siapa mereka? Kenapa dokter yang menangani Aida, berbicara begitu santai pada mereka? Apa hubungan mereka dengan Aida? Bukankah bu Aini tak memiliki keluarga di kota ini?"
"Bagaimana dengan keponakan saya dok? Dia laki-laki atau perempuan dok? Dia baik-baik saja kan dok? Apa kami, bisa menemui nya sekarang?" Cecar Laila kembali bersemangat, dan nampak tidak sabar ingin segera bertemu dengan keponakan nya.
Sejenak dokter obgyn itu terdiam, raut wajahnya berubah menjadi murung. "Maaf, bayi mbak Aida mengalami Asfiksia neonatorum... karena plasenta lepas dari rahim terlalu cepat. Dan untuk saat ini, bayi mbak Aida harus dirawat secara intensif di ruang NICU." Terang dokter tersebut, yang membuat Laila kembali bersedih. *)
Asfiksia neonatorum adalah kondisi yang membuat bayi kekurangan oksigen selepas lahir. Kondisi ini juga dikenal sebagai asfiksia perinatal atau asfiksia pada bayi baru lahir.
Ada beberapa faktor yang disebut bisa menjadi penyebab bayi mengalami asfiksia, antara lain: Gangguan pada Plasenta, misalnya plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktu persalinan tiba atau tekanan darah ibu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah selama masa kehamilan.
Ryan menyugar kasar rambut nya, dan laki-laki itu berjalan gontai menuju bangku ruang tunggu yang tadi di tempati nya. Sejenak laki-laki dewasa itu terdiam, dan sedetik kemudian punggung nya nampak bergetar hebat.
Ryan menangis tanpa bersuara, menyesali semua apa yang telah dilakukan nya dahulu pada Aida. "Andai saja aku tak cemburu buta dan mengusir mu dik, tentu semua ini takkan terjadi. Kamu takkan merasa kan penderitaan dan kesakitan, dan anak kita.. anak kita tak harus mengalami rasa sakit seperti ini," sesal Ryan dari lubuk hati nya yang terdalam.
bersambung,,,
*) Ruang NICU atau neonatal intensive care unit adalah ruang perawatan intensif di rumah sakit yang disediakan khusus untuk bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan. Umumnya bayi dimasukkan ke ruang NICU pada masa 24 jam pertama setelah lahir. (Sumber, Alodokter)
__ADS_1