Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 24 : Dimana Ibu?


__ADS_3

Setelah hampir tiga jam menunggu, nampak seorang dokter keluar dari ruang bedah dengan wajahnya yang tampak kusut. Aida langsung bangkit dari tempat duduk dan menghampiri dokter tersebut, "Dok, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Aida, yang nampak khawatir.


"Maaf mbak, dengan sangat menyesal kami sampaikan bahwa kami gagal menolong pasien karena kondisi pasien yang tiba-tiba memburuk. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi takdir Tuhan berkehendak lain," ucap dokter tersebut dengan pelan, tetapi terdengar seperti petir yang menggelegar di telinga Aida dan gadis cantik itupun langsung jatuh tidak sadarkan diri.


Beruntung, Ryan yang tepat berada di samping Aida dan selalu memeluk pundak sang istri itu sigap. Laki-laki dewasa suami dari Aida itu langsung menangkap tubuh ramping sang istri, hingga Aida terjatuh dalam dekapan Ryan.


Ryan langsung membawa Aida ke bangku kosong di ruang tunggu tersebut, mbak Ning yang selalu membawa minyak angin didalam tasnya pun ikut membantu menyadarkan Aida dengan mengoleskan minyak angin di kening dan di hidung putri bu Aini itu.


"Neng, bangun Neng, kenapa jadi begini?" lirih mbak Ning, dengan air mata yang tak terbendung. Wanita beranak satu itu memikirkan bagaimana perasaan Aida jika gadis yang sudah seperti adik kandungnya sendiri itu tersadar nanti, Aida pasti akan sangat kecewa karena ternyata pengorbanan yang telah Ia lakukan bsia-sia belaka.


Aida sudah merelakan masa mudanya, menikah dengan orang yang tidak Ia cintai demi kesembuhan sang ibu ... tetapi nyatanya, takdir berkehendak lain. Nyawa sang ibu, tetap tidak dapat diselamatkan.


Sementara bu Retno, sibuk mengurus administrasi dan menghubungi sang suami agar menyiapkan pemakaman untuk besannya.


Waktu terus berlalu, proses kepulangan jenazah sudah selesai di urus namun Aida tidak kunjung sadarkan diri. Akhirnya, Ryan membopong tubuh sang istri yang masih pingsan dan membawa Aida masuk kedalam mobilnya yang diikuti oleh mbak Ning.


Aida ditidurkan di kursi belakang, dengan pangkuan mbak Ning sebagai bantalnya. Sementara bu Retno duduk di depan, di samping sang putra yang memegang kemudi.


Ryan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, mengikuti laju mobil ambulance rumah sakit di depannya yang membawa jenazah sang ibu mertua.


Saat di tengah jalan, tiba-tiba Aida tersadar dan gadis itu langsung menjerit histeris...

__ADS_1


Mbak Ning dengan sigap, langsung memeluk Aida yang sudah terbangun dan membawa gadis belia itu kedalam dekapannya.


Jeritan Aida berubah menjadi suara isak tangis yang terdengar begitu menyayat hati, mbak Ning pun kembali berlinang air mata namun wanita muda itu berusaha untuk tegar dan tidak mengeluarkan suara tangisnya.


Sedangkan Ryan yang menyetir mobil, menatap sang istri dari pantulan kaca spion dengan perasaan yang ikut tersayat. Ingin rasanya, laki-laki matang suami dari Aida itu memeluk sang istri kecil, untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Aida. Tetapi yang bisa Ia lakukan saat ini hanyalah menatap sang istri, yang masih tersedu dalam pelukan mbak Ning.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, tibalah mereka di kediaman orang tua Aida. Nampak para tetangga telah berdiri di teras rumah Aida, untuk menyambut kedatangan jenazah bibi Aini.


Aida yang baru turun dari mobil suaminya, di papah oleh Ryan untuk masuk kedalam rumah. Sementara mbak Ning dan bu Retno, berjalan mengekor di belakang Aida dan Ryan.


Setelah jenazah bibi Aini disholatkan, Aida kembali di papah sang suami untuk mengantar jenazah sang ibu yang hendak dimakamkan di pemakaman umum.


Hanya beberapa menit mereka berjalan dan tanah pemakaman yang sudah di siapkan untuk jenazah bibi Aini, sudah nampak di depan mata.


Ryan dengan setia mendampingi sang istri yang masih terus terisak, hidung mancung itu terlihat memerah dan mata indah itu pun kini terlihat sedikit membengkak. Tetapi tidak mengurangi kecantikan istri kecil dari Ryan tersebut.


Tepat di saat jenazah sang ibu di masukkan ke liang lahat, kembali Aida jatuh tidak sadarkan diri.


Mbak Ning menangis melihat Aida yang tidak sadarkan diri dalam pelukan Ryan, "Mas Ryan, sebaiknya bawa Neng Aida pulang saja." lirih mbak Ning.


Ryan kemudian menggendong istri belianya, untuk pulang ke kediaman bibi Aini. Sesampainya di rumah, mbak Ning yang mengekor di belakang Ryan segera membukakan pintu kamar Aida. "Tidurkan di kamarnya neng Aida saja, Mas," ucap mbak Ning sambil menata bantal untuk Aida.

__ADS_1


Ryan segera membaringkan tubuh sang istri ke ranjang yang berukuran kecil, "Mas, itu jilbabnya Neng Aida di lepas saja. Terus kancing baju yang atas juga di lepas biar agak longgar, dadanya tolong di oles dengan minyak angin ini. Saya akan membuatkan teh hangat untuk Mas Ryan dan untuk Neng Aida," ucap mbak Ning seraya memberikan minyak angin kepada Ryan, wanita beranak satu itu kemudian bergegas keluar dari kamar Aida dan menutupkan pintunya.


Suami matang Aida itu segera menuruti perkataan mbak Ning, dengan perlahan melepas jilbab sang istri dan meletakkannya di meja. Ryan kemudian membuka kancing baju Aida bagian atas dan terlihatlah pakaian dalam berenda berwarna pink, yang menyembunyikan bukit kembar nan kenyal milik sang istri.


Ryan menelan saliva, hasrat nya sebagai lelaki normal langsung muncul begitu saja. Meski sudah hampir setahun dia berpuasa semenjak istri pertama minggat dari rumah, tetapi Ryan tetap mencoba untuk berpikir waras, "tidak, tidak. Ini bukan saat yang tepat, istri ku sedang berduka dan mungkin hingga beberapa hari ke depan aku masih harus bersabar untuk bisa menggaulinya." gumam Ryan.


Laki-laki yang sudah berpengalaman itu menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan. Ryan kemudian mengoles dada sang istri dengan minyak angin tanpa menyentuh bukit kembar yang melambai menggoda imannya, Ryan kemudian memijat lembut kening sang istri.


Tidak berapa lama, Aida nampak tersadar. "Ibu..." jerit Aida, seraya mengedarkan pandangannya. "Dimana ibu?"


"Ssttt,,, Dik, tenanglah," Ryan langsung memeluk istri kecilnya, mencoba untuk menenangkan Aida.


Aida kembali menangis di dada bidang sang suami dan Ryan membiarkan sang istri menumpahkan segala kesedihan hatinya itu. Dengan lembut, Ryan mengelus punggung sang istri untuk memberikan ketenangan pada Aida. Hingga akhirnya, tangis Aida pun berhenti.


Aida mendongak menatap suaminya, "Aida sudah enggak punya siapa-siapa lagi sekarang," lirihnya dengan suara terbata.


Ryan tertegun mendengar ucapan sang istri, sesaat suami dewasa Aida itu menatap intens netra sembab istrinya. "Kamu masih punya aku, Dik. Masih punya ayah, ibu dan kakak. Keluarga ku juga keluarga mu sekarang," ucap Ryan, seraya menatap Aida dengan hangat.


Ryan semakin mendekatkan wajahnya, hembusan nafas Aida terasa hangat menerpa pipi yang ditumbuhi bulu-bulu kasar tersebut. Wajah keduanya kini semakin dekat, bahkan hembusan nafas sang istri terasa hangat menerpa kulit. Dengan perlahan, Ryan kemudian mencium bibir istri belianya dengan sangat lembut.


Ciuman yang penuh kasih dan benar-benar tulus, tidak ada nafsu di sana karena hanya satu tujuan Ryan, yaitu ingin membuat perasaan sang istri menjadi lebih baik. Ryan yakin dengan ciuman bibir, dapat memberikan efek menenangkan dan membahagiakan bagi pasangan.

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2