Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 41 : Dessert yang Lezat


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, ning Zahra yang dulu memang nyantri di pesantren milik kyai Abdullah itu dan membantu nyai Robi'ah mengajar ngaji Al-Qur'an tak mengalami kesulitan yang berarti dalam beradaptasi di keluarga gus Umar dan di lingkungan pesantren.


Kyai Abdullah dan sang istri, beserta putri bungsu nya menyambut baik kehadiran ning Zahra dalam keluarga sebagai istri dari gus Umar.. meski tadi nya, mereka lebih cenderung menyukai jika Aida yang bisa bersanding dengan sulung dari keluarga tersebut. Meskipun kemudian takdir mempersatukan gus Umar dan ning Zahra, mereka dapat menerima nya dengan legowo dan ikhlas.


Ning Zahra juga sudah kembali membantu nyai Robi'ah mengajar ngaji Al-Qur'an seperti sedia kala, setiap bakda maghrib, sedangkan gus Umar mengajar ngaji kitab setelah bakda 'isya,,, dan hal itu membuat gus Umar dan istri nya, baru bisa berkumpul jika waktu telah menunjuk kan pukul setengah sepuluh malam.


Dan malam ini, ning Zahra yang tadi sore sudah mandi suci dari hadats besar terlihat gelisah duduk di tepi pembaringan. Ning Zahra sudah siap, jika malam ini sang suami melaksanakan kewajiban nya dan memenuhi hak nya sebagai seorang istri untuk mendapat kan nafkah batin.


Dan saat ini, ning Zahra tengah menunggu gus Umar pulang dari aula pesantren. Sedari tadi netra hitam ning Zahra, tak lepas dari jam dinding di kamar nya. Waktu seakan terasa sangat lamban, dan jarum jam seolah enggan berpindah dari tempat nya.


Lebih dari tiga puluh menit ning Zahra duduk terdiam di tepi pembaringan yang empuk itu, pikiran nya berkelana dan memikirkan apa kira-kira kode yang akan dia berikan pada gus Umar untuk memberitahukan bahwa diri nya telah siap menjadi istri yang seutuh nya,, seperti permintaan gus Umar kala itu.


Waktu hampir menunjukkan jam sepuluh malam, tapi yang di nanti tak kunjung datang. Dan ning Zahra, kembali asyik dengan isi pikiran nya sendiri.


Tepat pukul sepuluh, suara pintu yang terbuka dari luar membuyarkan lamunan ning Zahra, "assalamu'alaikum ning, maaf aku terlambat pulang,, tadi ada kang ustadz yang ngajak diskusi," ucap gus Umar seraya masuk kedalam kamar dan kemudian menutup kembali pintu kamar nya.


"Nggih, ndak apa-apa gus," balas ning Zahra seraya tersenyum, "badhe ngunjuk kopi riyen gus?" Tanya ning Zahra, sebelum gus Umar masuk kedalam kamar mandi untuk buang hajat.


"Enggak perlu ning, ini sudah malam. Aku lelah dan mau segera tidur," balas gus Umar sebelum kemudian tubuh tegap itu menghilang di balik pintu kamar mandi.


Ning Zahra mengernyit, "apa sebaik nya besok saja ya? Barusan kan gus Umar mengatakan kalau lelah dan ingin segera tidur?" Gumam ning Zahra yang tadi nya sudah meneguhkan niat, kini menjadi gamang.


Gus Umar keluar dari kamar mandi dan mendapati istri nya itu masih duduk seperti saat pertama diri nya masuk tadi, "ning, kamu belum mengantuk?" Tanya gus Umar mengernyitkan dahi, sebab tak biasa nya sang istri tidur di atas jam sepuluh malam.


Karena malam-malam sebelum nya, beberapa saat setelah gus Umar pulang dari mengajar ngaji di jam setengah sepuluh.. mereka akan ngobrol sebentar, dan kemudian ning Zahra akan langsung terlelap di sisi ranjang dengan guling sebagai pembatas diantara mereka berdua.

__ADS_1


Ning Zahra gelagapan, "iya, sudah ngantuk kok.. ini juga sudah mau tidur," balas ning Zahra malu-malu, dan kemudian segera merebahkan diri di sisi ranjang tempat biasa nya dia tidur. Tetapi kali ini ada yang berbeda, guling yang biasa nya menjadi pembatas.. sekarang berada di bawah kaki ning Zahra.


Gus Umar tersenyum samar, suami ning Zahra itu ingin bertanya pada sang istri,,, apakah hal ini merupakan kode bahwa istri nya itu sudah bersedia untuk di sentuh? "Tapi aku ngantuk dan lelah sekali, bagaimana ini?" Gumam gus Umar dalam hati.


Gus Umar memilih mengganti lampu utama dengan lampu tidur terlebih dahulu sebelum diri nya bertanya, dan setelah nya gus Umar pun segera merebahkan diri.


Jika biasa nya gus Umar akan tidur telentang, kali ini suami ning Zahra itu memiringkan tubuh nya dengan menghadap sang istri. "Ning,,," panggil gus Umar lembut.


Ning Zahra yang tidur telentang pun menoleh kearah suami nya yang tengah tersenyum, dan seketika ning Zahra menjadi gugup. "Bagaimana ini? Apa aku benar-benar sudah siap?" Tanya ning Zahra pada diri nya sendiri.


"Nggih gus," balas ning Zahra seraya tersenyum, mencoba untuk bersikap sesantai mungkin.


Gus Umar mengurungkan niat nya untuk bertanya, sejenak pemuda tampan itu menjadi ragu.. tapi buru-buru perasaan itu dia tepis kan. Memang benar, saat ini diri nya merasa sangat lelah dan juga ngantuk.. karena sejak pagi tadi, ada saja yang mengajak nya untuk berdiskusi mengenai banyak hal.


Bukan hanya tenaga nya yang lelah tapi juga pikiran nya.. namun melihat istri nya seperti memberi kode, gus Umar pun tak tega jika langsung tidur. Suami ning Zahra itu khawatir, jika istri nya nanti jadi salah paham dan merasa diabaikan.


Ning Zahra menggigit bibir bawah nya, dan kemudian mengangguk pelan. Wajah putih bersih itu nampak merona, meski di keremangan cahaya.. menunjuk kan bahwa sang pemilik tengah menahan rasa malu.


Gus Umar pun tersenyum, dan tanpa kata-kata suami ning Zahra itu mulai mendekatkan diri nya pada sang istri.


@@@@@


Di kediaman Ryan, di ibukota. Tak biasa nya, malam ini Ryan lembur hingga larut malam baru pulang. Ketika diri nya masuk kedalam rumah, Ryan mendapati Aida tengah tertidur di sofa di ruang tamu.


"Kasihan istri ku, dia sampai ketiduran di sini karena menungguku." Gumam Ryan, seraya mengangkat tubuh istri nya dan membawanya masuk kedalam kamar mereka.

__ADS_1


Aida sama sekali tak terganggu dengan hal itu, rasa kantuk yang menyerang nya begitu hebat tadi saat menunggu suami nya pulang.. membuat Aida akhir nya menyerah dan tertidur di atas sofa empuk.


Barulah ketika Ryan membaringkan nya di tempat tidur, Aida terbangun dan terkejut melihat diri nya sudah berpindah tempat. "Mas, mas Ryan sudah pulang? Maaf ya, Aida malah ketiduran," sesal Aida yang tak bisa menyambut suami nya pulang, tapi malah diri nya yang merepotkan sang suami.


Ryan menggeleng, "enggak apa-apa dik, harus nya kamu tak perlu menunggu mas. Maafkan mas ya, lembur sampai selarut ini," balas Ryan yang juga merasa menyesal, karena meninggalkan istri nya seorang diri di rumah yang cukup besar. "Aida pasti ketakutan," begitu pikir Ryan.


"Mas Ryan sudah makan malam belum? Kalau belum, biar lauk nya Aida panaskan dulu sebentar," Aida beranjak dari tempat tidur, seraya menatap suami nya.


Ryan mengangguk, "mas mau bersih-bersih sebentar, nanti mas nyusul," ucap Ryan.


Aida bergegas menuju dapur, memanaskan lauk dalam microwave dan menyiapkan piring serta air putih hangat untuk sang suami.


Tak lama kemudian, Ryan muncul dan segera duduk di kursi kebesaran nya. "Masak apa kamu tadi dik?" Tanya Ryan yang nampak bersemangat melihat masakan istri tercinta.


"Semur daging mas," balas Aida, seraya mengambilkan nasi dan lauk untuk sang suami.


"Kamu enggak makan dik?" Tanya Ryan, karena hanya melihat satu piring.


Aida menggeleng, "tadi Aida udah makan duluan, maaf ya.. habis nya mas lama gak pulang-pulang dan Aida udah lapar," balas Aida seraya tersenyum.


Ryan tersenyum, dan suami Aida itu kemudian makan dalam keheningan. Laki-laki matang itu menghabiskan makan malam nya dengan cepat, karena ingin segera menikmati dessert yang lezat yang duduk di samping nya.


bersambung,,,


🌹🌹🌹

__ADS_1


Air nya lagi mengalir dengan tenang.. apakah tenangnya akan menghanyutkan?? Nantikan yah.. šŸ˜ŠšŸ™šŸ™


__ADS_2