
Di kediaman kyai Abdullah, keluarga besar gus Umar telah berkumpul di ruang keluarga dan nampak telah bersiap untuk berangkat menuju kediaman mempelai wanita.
Laila, meski terlihat malas tapi tetap memakai kebaya muslimah yang sudah disiapkan oleh keluarga ning Zahra.. untuk ikut mendampingi sang kakak di hari pernikahan nya.
Sedang kan di dalam kamar, gus Umar nampak masih khusyuk dengan do'a-do'a yang dipanjatkan dalam sujud panjang nya. Setelah beberapa menit, gus Umar mengusap wajah nya dan kemudian segera beranjak.
Gus Umar kemudian berganti pakaian, mengenakan kemeja berwarna putih dan dipadukan dengan stelan jas berwarna silver,, senada dengan warna kebaya pengantin yang dipilih oleh keluarga ning Zahra.
Ya, segala persiapan pernikahan memang telah diserahkan sepenuh nya pada pihak keluarga mempelai wanita.
Gus Umar mematut diri sebentar di depan cermin, menarik nafas dalam dan menghembus nya perlahan. Pemuda kharismatik itu melakukan nya berulang-ulang, hingga gus Umar merasa sedikit lega.
Tok,, tok,, tok,,
Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar, dan gus Umar bergegas membuka nya.
Wajah Laila muncul dari balik pintu, "ada apa dik?" Tanya gus Umar.
"Kakak sudah di tunggu," balas Laila dengan wajah nya yang nampak cemberut.
"Dik, jangan cemberut gitu ah.. nanti cantik nya beneran ilang loh, dan enggak mau balik lagi," goda gus Umar, mencoba mencairkan suasana hati sang adik.
"Biarin,, Laila kan lagi sedih??" Rajuk Laila.
Gus Umar segera memeluk sang adik, tak hendak bertanya apa yang membuat Laila bersedih.. karena gus Umar sudah tahu pasti jawaban nya.
Setelah beberapa saat, "sudah tenang belum?" Tanya gus Umar seraya mengelus punggung rapuh sang adik, dan gus Umar baru menyadari bahwa tubuh Laila kini semakin kurus.
Gus Umar segera melerai pelukan nya, menangkup kedua sisi pipi sang adik dan menatap dalam netra adik nya itu. "Dik, apa kamu sakit?" Tanya gus Umar yang nampak sangat khawatir.
Laila menggeleng lemah.
"Tapi kamu kurusan sekarang dik? Apa kamu tidak makan dengan benar? Atau, kamu enggak bisa tidur?" Cecar gus Umar pada sang adik.
Kembali Laila menggeleng, "Laila enggak apa-apa kak, Laila cuma lagi diet.. biar kebaya yang untuk Laila bisa muat," jawab Laila asal.
__ADS_1
Dan gus Umar tahu bahwa adik nya berbohong, tapi gus Umar pura-pura percaya. Pemuda tampan itu tak ingin menciptakan suasana melo dengan mendesak sang adik agar menjawab dengan jujur, karena hal itu akan membuat diri nya kembali rapuh.
"Ya sudah,, ayo, kita gabung dengan yang lain," ajak gus Umar seraya menggandeng pergelangan tangan sang adik.
"Lha, ini yang dari tadi di tunggu-tunggu,, tambah ganteng saja kamu gus," puji budhe Kus pada keponakan nya itu, begitu melihat gus Umar dan adik nya muncul di ruang keluarga.
"Budhe ini lho, kemana saja tho? Punya keponakan ganteng kok yo baru nyadar.." balas bulek Sum seraya terkekeh.
Gus Umar tersenyum, dan kemudian menyalami semua anggota keluarga besar nya satu persatu tanpa mengeluarkan sepatah katapun, setelah menyalami semua nya.. gus Umar duduk di samping sang umi yang netra nya terlihat sembab.
Gus Umar menggenggam tangan lembut umi nya, dan menatap netra teduh itu dengan tersenyum. "Umar sudah ikhlas mi, umi do'akan saja ya.. semoga ini yang terbaik untuk Umar." Bisik gus Umar.
Nyai Robi'ah hanya bisa mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum, dan netra teduh itu kembali berembun. Tak dapat di pungkiri, wanita paruh baya itupun ikut merasakan apa yang dirasakan putra nya.
Melihat kesedihan di wajah sang istri, kyai Abdullah segera beranjak dan mendekati istri nya. "Umi, ayo berangkat," kyai Abdullah mengulurkan tangan nya.
Gus Umar segera melepaskan genggaman tangan nya, dan nyai Robi'ah kemudian menyambut tangan sang suami.
Kyai Abdullah menuntun istri nya untuk berdiri dan mengikuti langkah nya meninggalkan ruang keluarga menuju halaman, dan gus Umar beserta keluarga nya yang lain segera menyusul langkah pengasuh pondok pesantren Al Hidayah beserta istri nya tersebut untuk segera berangkat ke kediaman mempelai wanita.
Selama dalam perjalanan, gus Umar yang berada dalam satu mobil bersama adik dan kedua orang tua nya itu terus termenung. Entah apa yang dipikirkan, hingga panggilan dari sang umi pun sama sekali tak di respon nya.
Nyai Robi'ah hanya bisa menarik nafas dengan berat.
"Sudah umi, jangan risaukan putra mu. Gus Umar hanya butuh waktu untuk sendiri, jadi biarkan saja," tutur kyai Abdullah mencoba menenangkan sang istri.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, sampailah rombongan keluarga besar kyai Abdullah itu ke tempat orang tua ning Zahra.
Terlihat dengan jelas, tamu undangan dari keluarga mempelai wanita sudah banyak yang berdatangan memenuhi kursi yang tertata rapi di halaman kediaman kyai Hasanuddin yang dipasangi tenda.
Setelah mobil terparkir di tempat yang telah disediakan, kyai Abdullah segera turun yang diikuti oleh keluarga nya.
Tepat bersamaan dengan itu, kyai sepuh dan istri nya juga turun dari mobil yang terparkir di sebelah. Dan diikuti oleh keluarga yang lain, yang turun dari mobil masing-masing.
Rombongan anak cucu kyai Zarkasi itu kemudian berjalan dengan tertib, mengiringi langkah mempelai yang di dampingi kedua orang tua serta kakek dan nenek nya.
__ADS_1
Tamu kehormatan yang sudah di tunggu-tunggu kehadiran nya itu, disambut langsung oleh kyai Hasyim beserta istri. Dan eyang dari mempelai wanita itu kemudian mengajak rombongan mempelai pria untuk menuju masjid di komplek pesantren milik kyai Hasanuddin.. tempat ijab qabul akan dilaksanakan tepat pukul sepuluh pagi ini.
Dari kejauhan, nampak meja panjang sudah dipersiapkan dan kyai Hasanuddin beserta istri nya sudah berada di sana bersama seorang laki-laki dewasa yang merupakan penghulu dari KUA setempat.
Kyai Hasyim segera menuntun tamu nya untuk duduk di tempat yang telah di sediakan.
Gus Umar yang duduk di hadapan pak penghulu dan orang tua mempelai wanita, nampak selalu menundukkan kepala.
"Pripun, yai Hasan? Apa sudah bisa kita mulai?" Tanya penghulu muda tersebut dengan penuh hormat, setelah beberapa saat mereka berbincang
"Oh ya mas Hanif, di mulai saja," balas kyai Hasan.
MC yang sedari tadi telah bersiap, segera membuka acara akad nikah tersebut. Diawali dengan membaca basmallah dan dilanjutkan dengan puji-pujian kehadirat Allah SWT.
Acara dilanjutkan dengan bacaan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh salah seorang santri kyai Hasanuddin dengan suara nya yang terdengar sangat merdu dan menggetarkan hati, hingga membuat air mata gus Umar terjun bebas membasahi pipi nya.
Dan pemuda kharismatik itu buru-buru menyeka air mata nya, agar tak ada yang melihat bahwa diri nya menangis.
Usai pembacaan ayat suci Al-Qur'an, pak penghulu membaca kan khutbah nikah dan kemudian menyerahkan prosesi ijab qabul kepada kyai Hasanuddin,, dimana ayah ning Zahra sendiri lah yang akan menikahkan putri nya itu.
Ayah kandung ning Zahra itu menjabat erat tangan gus Umar dan kemudian mengucap kan ijab dengan suara nya yang tercekat, sebagai seorang ayah pastilah ada rasa berat di hati nya melepaskan anak gadis meski dinikahi oleh pemuda yang baik.
Dan gus Umar mengucap qabul dengan suara nya yang bergetar, mencoba sekuat tenaga agar air mata nya tidak kembali tumpah.
Hingga suara saksi yang mengatakan, "sah..." membuat cristal bening yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata gus Umar, tetap mengalir membasahi wajah nya yang putih bersih.
Usai ijab qabul terucap, mempelai wanita yang sedari tadi menunggu tempat sholat khusus wanita.. dituntun oleh nyai Rahma menuju tempat prosesi ijab qabul tersebut.
Ning Zahra di duduk kan di samping gus Umar, dan gadis cantik itu sedari tadi terus menundukkan kepala nya.
Setelah kedua mempelai menandatangani berkas nikah, saat nya gus Umar menyerahkan mahar nya kepada ning Zahra.
Nyai Robi'ah mengambilkan satu cincin untuk disematkan di jari manis ning Zahra, dan memberikan nya pada sang putra. "Pakaikan cincin kawin ini di jari manis istri sampean gus," titah nyai Robi'ah menatap putra nya.
Dengan tangan gemetar, gus Umar menyematkan cincin kawin tersebut.. dan kemudian mencium kening istri yang baru dinikahi nya itu. Sejenak kedua netra mereka beradu, tapi buru-buru mereka saling mengalihkan pandangan dan merasa kikuk.
__ADS_1
bersambung,,,