Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab.112 : Jamu Cabai Puyang


__ADS_3

Sepanjang hari ini, Aida tak keluar dari kamar karena Laila menyuruh nya untuk melakukan perawatan. Mulai dari luluran, maskeran sampai creambath.. meski semua nya dilakukan sendiri, tanpa mengundang terapis dan hanya di bantu oleh Laila.


Aida hanya bisa nurut dan mengikuti permintaan calon adik ipar nya itu tanpa banyak protes, karena percuma juga kalau Aida protes.. sebab Laila akan terus merengek dan memaksa nya.


Sedangkan di kediaman nya, gus Umar.. yang di bantu oleh mbak Ning dan bu Dibyo, sedang mendekorasi kamar gus Umar layak nya kamar pengantin.


"Mbak, apa ini tidak berlebihan?" Tanya gus Umar, kala mbak Ning menaburkan kelopak mawar di atas tempat tidur empuk yang sprei nya sudah di ganti dengan sprei yang baru berwarna pink... warna kesukaan Aida.


Mbak Ning menggeleng, "malam spesial dengan orang yang spesial gus, jadi semua nya harus sempurna bukan?" Tanya mbak Ning balik, seraya tersenyum.


Gus Umar hanya bisa tersenyum malu, seraya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Mbak Ning benar gus, biar berkesan untuk gus Umar dan nak Aida," timpal bu Dibyo, sambil menyimpan lilin aroma terapi di atas nakas beserta korek api di samping lilin tersebut.


Gus Umar mengangguk-angguk, membenarkan perkataan mbak Ning dan bu Dibyo. "Ya, untuk orang yang spesial.. semua nya harus sempurna," gumam nya dalam hati.


"Seperti dik Aida yang saat ini juga sedang perawatan, semua nya pasti dia lakukan untuk ku," lanjut gus Umar, dengan senyum yang mengembang di bibir. Rasa nya, pemuda kharismatik itu sudah tidak sabar menunggu malam segera tiba.


"Sudah siap semua gus?" Tanya nyai Robi'ah yang baru saja masuk kedalam kamar gus Umar, dan berhasil mengagetkan gus Umar dari lamunan nya.


"Nggih mi, tinggal sedikit lagi," balas mbak Ning, yang mewakili gus Umar. Mbak Ning terlihat sedang mengganti korden jendela, sedangkan bu Dibyo sibuk menata pot bunga di sudut kamar gus Umar.


"Bu, terimakasih banyak lho.. bu Dibyo malah ikut sibuk mempersiapkan semua nya," tutur nyai Robi'ah ketika melihat bu Dibyo sudah selesai menata pot bunga.


"Ndak apa-apa nyai, memang kami berdua yang memiliki ide ini. Dan kami senang melakukan nya, demi melihat nak Aida bahagia," balas bu Dibyo dengan tersenyum tulus.


Mbak Ning yang baru saja selesai mengganti korden pun mengangguk, membenarkan perkataan bu Dibyo.


Ya, mbak Ning dan bu Dibyo lah yang memiliki ide untuk mendekorasi kamar gus Umar. Dan dengan senang hati, gus Umar menyetujui nya. Gus Umar juga langsung mengajak mbak Ning dan bu Dibyo untuk berbelanja segala keperluan untuk mendekorasi kamar nya, menjadi kamar pengantin yang sangat indah.


"Kalau sudah selesai, kita ngeteh dulu yuk bu, mbak.. tuh sudah disiapkan sama mbak santri," ajak nyai Robi'ah sambil menunjuk ruang keluarga.


Dan benar ada nya, di atas meja sudah tersedia satu teko teh panas beserta beberapa gelas. Beserta sepiring pisang goreng hangat, sepiring bolu pandan yang harum nya menggugah selera dan dua toples kue kering.


Bu Dibyo dan mbak Ning pun mengekor langkah nyai Robi'ah, meninggalkan kamar gus Umar.

__ADS_1


"Oh ya bu, pak Dibyo dan putri ibu juga baru datang. Nanti akan nyusul ke sini sama abah," tutur nyai Robi'ah, ketika mereka bertiga sudah duduk di sofa yang empuk.


"Assalamu'alaikum,,," ucap salam kyai Abdullah dan pak Dibyo, yang langsung masuk ke ruang keluarga.


"Wa'alaikumsalam,,," balas mereka bertiga dengan kompak.


"Panjang umur pak Dibyo, baru saja saya sampaikan pada ibu.. kalau bapak sudah datang," tutur nyai Robi'ah, seraya berdiri mempersilahkan pak Dibyo untuk duduk.


Pak Dibyo tersenyum, dan kemudian segera duduk.


"Bunga mana pak?" Tanya bu Dibyo, seraya mengedarkan pandangan mencari-cari putri nya.


"Tadi langsung di ajak ning Laila untuk masuk, mau menemani Tio nonton kartun katanya," balas pak Dibyo.


Bu Dibyo mengangguk.


"Oh, Tio sudah bangun?" Tanya mbak Ning yang tidak membutuhkan jawaban, "kalau begitu, ning permisi nggih.. mau mandiin Tio, karena sudah sore," pamit mbak Ning dan segera beranjak.


"Iya mbak Ning, terimakasih ya mbak," balas nyai Robi'ah, dan mbak Ning pun segera berlalu meninggalkan para orang tua tersebut yang mulai asyik bercengkrama.


"Aku enggak menyangka dik, kita akhirnya benar-benar bisa bersatu dalam sebuah pernikahan yang suci. Apakah kamu tahu dik, saat ini hati ku sangat bahagia." Bisik gus Umar dalam hati.


Sedangkan Aida yang saat ini tengah luluran di dalam kamar mandi milik Laila, tak henti mengucap rasa syukur atas anugerah luar biasa yang dia terima,,, setelah badai kehidupan yang berurutan menerpa kehidupan nya.


"Alhamdulillah ya Robb,, atas segala anugerah yang telah Engkau berikan pada hamba. Saat ini, hamba di kelilingi oleh orang-orang yang dengan tulus menyayangi hamba. Dan Engkau juga menyatukan hamba, dengan seorang laki-laki yang sangat hamba cintai." Senyum wanita muda itu merekah, membayangkan wajah sang calon imam yang senantiasa menyejukkan jika di pandang.


"Ridhoi dan berkahilah pernikahan kami nanti ya Robb, dan bimbing kami untuk membina keluarga yang bahagia dunia hingga akhirat. Dan jika ajal memisahkan raga kami, persatuan lah kami kembali di syurga Mu kelak, aamiin."


Tok,, tok,, tok,,,


Dan ketukan suara pintu kamar mandi, membuyarkan Aida dari lamunan dan pengharapan nya.


"Da, jangan lama-lama. Nanti kamu masuk angin," seru Laila dari luar.


"Iya La, bentar lagi." Sahut Aida dengan sedikit mengeraskan suara agar Laila mendengar nya.

__ADS_1


Aida pun bergegas menyelesaikan mandi nya, dan setelah selesai dan mengenakan handuk kimono.. Aida kemudian berwudhu.


"Lama banget sih di dalam, kalau masuk angin gimana?!" Protes Laila dengan nada khawatir, ketika Aida baru saja membuka pintu kamar mandi.


"Yah kan, tadi kamu yang nyuruh aku luluran La.. kok malah protes sih?!" Aida protes balik.


"Bukan gitu maksud ku Da,, aku hanya khawatir kamu kedinginan, terus masuk angin?? Bisa batal kan, rencana ku untuk segera punya keponakan??" Balas Laila seraya tersenyum menggoda.


"Apaan sih La, nikah aja belum.. udah bahas calon keponakan terus?!" Kembali Aida protes tapi dengan tersenyum malu, dan wajah putih bersih itu kini memerah bak kepiting rebus.


"Ehmm,, yang calon pengantin, senyum nya malu-malu gitu??" Melihat sahabat nya tersenyum malu, Laila malah semakin menjadi menggoda Aida.


"Iiihh La,, jahat banget sih, godain aku terus dari tadi?" Aida cemberut.


"Udah jangan cemberut, nih buruan di minum mumpung masih hangat," Laila memberikan segelas minuman yang sudah dia siapkan sejak tadi kepada Aida.


"Apa ini La?" Tanya Aida seraya mengernyit kan keningnya, "kok warna nya kuning butek gini, dan ada aroma-aroma kunyit nya?" Aida mencium minuman tersebut.


"Udah, diminum aja. Yang jelas, itu bukan racun," balas Laila seraya tersenyum.


"Iya La, aku tahu ini bukan racun... tapi jamu," ucap Aida dengan wajah cemberut, karena Laila tak langsung menjawab pertanyaan nya. "Aku hanya ingin tahu La, ini jamu apa?" Lanjut nya dengan sedikit kesal.


"Ssttt,,, calon pengantin di larang marah-marah, nanti cepat tua loh??" Laila benar-benar semakin menjadi, meledek calon kakak ipar nya itu terus menerus.


"Itu jamu rapet wangi kakak ipar," balas Laila akhirnya, seraya mengerling.


Aida tersenyum, "apaan sih, pakai disuruh minum jamu ginian segala?" Gerutu Aida, tapi tetap meminum habis jamu tersebut.


"Kak Umar juga aku buatkan tadi, jamu cabai puyang," ucap Laila, masih dengan tersenyum.


Jamu cabe puyang diyakini mampu meningkatkan stamina tubuh, yang dapat menunjang aktivitas secara maksimal. Jamu cabe puyang ini terbuat dari campuran temulawak, lempuyang, cabai merah kering, kayu manis, jeruk purut serta serai.


Aida tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala nya, "kamu ini, ada-ada aja deh La," dalam hati Aida bersyukur, memiliki sahabat yang pengertian seperti Laila.


Aida masih terus mengembangkan senyum nya, mendengar bahwa gus Umar juga meminum jamu yang dibuat kan oleh Laila. "Kenapa bisa punya pikiran untuk membuat kan kak Umar jamu cabe puyang ya, tuh anak? Atau, umi yang nyuruh?" rasa nya, Aida jadi semakin tak sabar menanti sang surya tenggelam di ufuk barat dan di ganti kan oleh malam yang menyelimuti bumi.

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2