
Istri pak Dibyo menyambut ramah kehadiran Aida, begitu pun dengan putri pak Dibyo yang bernama Bunga. Gadis yang seusia Aida, namun masih bersifat kekanak-kanakan itu bahkan menganggap Aida sebagai kakak nya yang baru pulang dari ibu kota bersama sang ayah.
Bunga terus saja menempel pada Aida, dan gadis yang selalu ceria itu menceritakan banyak hal pada Aida. Aida pun dengan senang hati mendengar kan dan menanggapi setiap celotehan Bunga. Bunga hanya berhenti sebentar saat makan bersama, dan setelah nya suara Bunga kembali mendominasi.
"Bunga,,," panggil bu Dibyo dengan lembut, saat mereka sudah kembali duduk di ruang tamu, "Bunga siapin kamar tamu nya ya, buat mbak Aida. Biar mbak Aida nya istirahat dulu," titah bu Dibyo, seraya menatap hangat netra sang putri.
Bunga mengangguk dengan penuh semangat, "ciap ibu, Unga akan belsihkan kamal untuk mbak Eda,," balas Bunga dan kemudian segera bergegas menuju kamar tamu.
Beberapa saat kemudian, "udah beles,,," seru Bunga sambil berlari kecil menemui Aida dan kedua orang tua nya kembali.
"Nak Bunga, istirahatlah dulu. Nanti agak sorean baru kita keliling untuk mencari kontrakan," titah pak Dibyo.
"Oh nggih pak, maaf.. Aida jadi merepotkan bapak dan ibu," balas Aida merasa tak enak hati.
"Tidak merepotkan sama sekali nak," ucap bu Dibyo tulus.
"Ayo mbak Eda,, kita bobok," ajak Bunga.
"Bunga,,," bu Dibyo menggeleng, seraya tersenyum lembut pada sang putri.
Bunga cemberut,
"Bunga tidak kangen ya sama bapak? Kan sudah beberapa hari Bunga tidak ketemu bapak? Bapak bawain sesuatu lho untuk Bunga?" Rayu pak Dibyo, pada putri bungsu nya.
Bunga tersenyum, "holle,, bapak bawa oyeh-oyeh untuk Unga?" Tanya Bunga seraya menghambur pada sang ayah.
"Iya, masih bapak simpan dalam tas," balas pak Dibyo, seraya membelai lembut rambut hitam panjang nan lurus milik Bunga.
"Silahkan istirahat dulu nak Aida," bu Dibyo kemudian menuntun Aida menuju kamar tamu.
Pak Dibyo dan bu Dibyo kemudian mengajak putri nya ke ruang keluarga untuk membuka oleh-oleh yang di bawa pak Dibyo dari ibukota, oleh-oleh titipan dari putra sulung nya untuk sang ibu dan juga untuk adik nya.
__ADS_1
Bunga terlihat sangat bahagia mendapatkan hadiah dress cantik dari kakak nya itu, begitupun dengan bu Dibyo... yang nampak terharu dibelikan gamis set hijab yang warna nya senada dengan dress milik Bunga, juga koko milik pak Dibyo.
"Bagaimana kondisi Kiki pak? Apa sudah membaik?" Tanya bu Dibyo, menanyakan kondisi sang cucu yang sedang sakit.
"Alhamdulillah sudah bu, kemarin waktu bapak mau pulang.. dokter mengatakan kalau dua hari lagi Kiki sudah boleh pulang," balas pak Dibyo.
"Syukurlah,," bu Dibyo terlihat lega, mendengar sang cucu sudah kembali sehat.
Sebenarnya hari itu bu Dibyo ingin ikut ke ibukota bersama Bunga, tapi mendadak Bunga demam.. hingga akhir nya pak Dibyo berangkat membesuk sang cucu seorang diri.
"Ibu, yihat,, Unga syantik kan?" Suara Bunga membuyarkan lamunan bu Dibyo, Bunga kini tengah memakai dress baru nya sambil berputar-putar bergaya centil ala princess seperti dalam serial TV yang sering dia tonton.
Pak Dibyo dan bu Dibyo mengangguk bersama, dan mengacungkan ibu jari kearah sang putri untuk memuji nya.. Bunga pun tertawa riang.
Sedangkan di dalam kamar tamu, Aida yang baru selesai mandi kemudian membuka koper dan mengambil celengan berbentuk hati yang ada gembok nya. Aida mencari kunci celengan tersebut, yang kemarin dia masukkan dengan buru-buru ke dalam tas cangklong.
Setelah kunci nya ketemu, Aida segera membuka gembok celengan berukuran sedang tersebut. Aida mulai menghitung uang kertas lembaran merah dan biru yang selama setahun ini dia simpan di dalam celengan tersebut, uang sisa belanja bulanan yang diberikan oleh Ryan dalam jumlah yang sangat besar menurut Aida.
Bahkan untuk belanja bulanan kebutuhan dapur, seringkali Ryan juga yang membayarkan nya ketika dia menemani sang istri ke supermarket.. sekaligus untuk mencari keperluan nya, ataupun keperluan sang istri.
"Alhamdulillah,, ada tiga puluh enam juta," lirih Aida seraya mengucap syukur. "Kalau sama uang belanja bulan ini yang belum aku masukkan, seperti nya genap empat puluh.. dan masih ada beberapa lembar untuk pegangan," lanjut Aida.
Aida kemudian menyimpan uang tersebut ke dalam koper, dan menutup koper nya kembali.
Aida membaringkan tubuh lelah nya, dan mencoba memejamkan mata barang sejenak. Namun hingga beberapa saat, Aida tak kunjung dapat tidur. Masih banyak yang harus dia lakukan, dan Aida kemudian bangkit.. merapikan hijab nya, dan segera keluar dari kamar.
Aida membuka pintu kamar nya, dan di saat yang tepat bu Dibyo hendak keluar untuk berbelanja. "Nak Aida, tidak bisa istirahat?" Tanya bu. Dibyo.
"Iya bu," balas Aida seraya tersenyum.
"Kalau begitu, ikut ibu saja yuk.. ibu mau belanja di warung depan," ajak bu Dibyo.
__ADS_1
Aida mengangguk, dan dengan senang hati mengikuti langkah pelan bu Dibyo menyusuri jalan kampung yang beraspal.
"Nak Aida, mau nyari rumah kontrakan?" Tanya bu Dibyo hati-hati, memulai percakapan.
"Nggih bu, kalau ada yang di pinggir jalan raya. Aida berencana untuk membuka warung makan," balas Aida.
"Kalau mengontrak ruko, nak Aida mau?" Bu Dibyo kembali bertanya.
"Aduh, kalau mengontrak ruko pasti mahal nggih bu. Mungkin uang Aida ndak cukup," Aida tersenyum kecut.
"Ruko nya kecil kok mbak, cuma ada satu ruangan yang cukup luas untuk usaha dan dua kamar berukuran kecil," terang bu Dibyo, "di sebelah warung sembako seperti nya masih ada ruko yang dikontrakkan, nak Aida bisa melihat nya dulu nanti," lanjut bu Dibyo.
"Oh nggih bu, boleh," balas Aida dengan antusias.
Hanya sepuluh menit mereka berdua berjalan, dan warung sembako yang dituju bu Dibyo sudah terlihat di depan mata.
Warung sembako tersebut berada di deretan ruko yang posisi nya tepat di pinggir jalan raya, dan lokasi nya cukup ramai karena dekat dengan dua pabrik tekstil.
Bu Dibyo kemudian berbelanja kebutuhan nya, dan setelah membayar barang belanjaan.. bu Dibyo mencari informasi mengenai ruko yang berada tepat di sebelah warung sembako tersebut, kepada pemilik warung sembako yang sudah dikenal nya dengan baik.
"Mbak Ambar, ruko di sebelah apa belum ada yang mengontrak?" Tanya bu Dibyo memastikan, karena masih melihat kertas putih yang bertuliskan 'Dikontrakkan' masih menempel di pintu ruko tersebut.
Wanita berusia sekitar empat puluh tahun yang di panggil mbak Ambar tadi mengangguk, "belum laku bu Dibyo, dengar-dengar sih bu Tyas minta harga nya sangat tinggi? Tahu sendiri kan bu Tyas, orang nya pelit dan enggak mau kenal sama tetangga seperti kita?!" Balas mbak Ambar seraya berghibah ria, khas emak-emak kampung yang suka ngomongin orang lain sambil berbelanja di tempat kang sayur.
"Sudah gitu kalau ada yang mau mengontrak dan orang nya cantik, pasti di tolak.. takut suami nya terpikat pada yang mengontrak ruko nya?!" Lanjut mbak Ambar, meneruskan menguliti bu Tyas.
Bu Dibyo hanya tersenyum dan tidak menimpali omongan enggak penting yang mbak Ambar lontarkan.
"Apa, bu Dibyo mau mengontrak ruko nya? Atau punya kenalan yang mau mengontrak? Lumayan lho bu komisi nya?" Lanjut mbak Ambar kepo.
bersambung,,,
__ADS_1