
Di teras kediaman bibi Aini, gus Umar masih menunggu penjelasan dari pak Karyo dengan tidak sabar. "Kejadian besar apa pak Karyo, tolong katakan pak?" Pinta gus Umar, seraya menegakkan tubuh nya.. bersiap mendengar kan penjelasan dari tetangga nya Aida tersebut.
"Mbak Aini sudah meninggal seminggu yang lalu,,," ucap pak Karyo lirih, namun bagi gus Umar dan Laila.. terdengar seperti petir yang menggelegar di siang yang terik.
"Apa pak?!" Jerit Laila yang tak percaya, sedangkan gus Umar terlihat lemas dan menyandarkan tubuh nya pada sandaran bangku kayu yang saat ini dia duduki.
"Inna lillaahi wainna ilaihi raaji'uun, kami semua adalah milik Mu ya Robb dan pasti akan kembali kepada Mu,,, kapan saja Engkau menginginkannya," lirih gus Umar mencoba mengikhlaskan, meski dengan menahan sesak di dada nya.
Laila seketika menangis, "tidak, itu tidak benar kan pak? Bagaimana bisa? Memang nya bibi Aini sakit apa pak?" Cecar Laila, seraya menatap pak Karyo dengan air mata yang terus mengucur deras.
"Mbak Aini ternyata sakit jantung ning, dan kemungkinan sudah lama.." balas pak Karyo dengan menatap iba pada Laila yang masih terlihat syok.
"Lantas, bagaimana dengan Aida pak? Apa dia baik-baik saja? Bisakah bapak membangunkan nya, kami ingin menemui Aida pak?" Pinta gus Umar dengan bibir yang bergetar menahan tangis, netra nya pun telah berembun.. tapi sekuat hati, pemuda tampan itu menahan agar air mata nya tidak tumpah.
Pak Karyo menggeleng, dan semakin terlihat sendu. "Nak Aida tadi sore diajak pulang suami nya," balas pak Karyo.
"Su,, suami?!" Gus Umar menatap pak Karyo menuntut penjelasan lebih.
"Benar gus, kami tetangga disini juga tidak ada yang tahu.. kenapa tiba-tiba nak Aida menikah dengan putra nya bu Retno yang duda tanpa anak itu,,,"
"Duda?" Potong Laila, seraya menatap pak Karyo yang seperti tertuduh.. karena di cecar dengan pertanyaan-pertanyaan dari putra putri kyai Abdullah
__ADS_1
"Iya ning, mas Ryan adalah duda tanpa anak. Dan kami, warga di sini menduga nak Aida menikah karena membayar hutang ibu nya.. sebab bu Retno adalah seorang rentenir..."
"Membayar hutang?" Lagi, penjelasan pak Karyo di sela dan kali ini oleh gus Umar.
"Ini hanya dugaan tetangga disini gus, untuk lebih jelas nya.. gus Umar dan ning Laila bisa tanyakan langsung pada mbak Ning, karena dia juga hadir saat akad nikah nak Aida di rumah sakit," pungkas pak Karyo, mengakhiri penjelasan nya.
Laki-laki paruh baya itu kemudian berdiri, "maaf, bapak tadi niat nya mau bersih-bersih warung karena besok mbak Ning mau mulai jualan lagi." Pamit pak Karyo.
Gus Umar hanya bisa mengangguk, dan membiarkan pak Karyo berlalu meninggalkan diri nya dan Laila yang masih tersedu.
Cukup lama gus Umar membiarkan sang adik menangis, dan tak ingin mengganggu nya. Karena gus Umar sendiri tengah sibuk menata hati dan perasaan nya.. "dik Aida, maaf kan aku,,," hanya kata-kata itu yang terus terucap dari bibir nya, kata-kata penyesalan yang teramat dalam.
Setelah merasa sedikit tenang, gus Umar memapah adik nya untuk menuju mobil. Dan mereka berdua kemudian pulang dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, penyesalan dan hanya penyesalan yang mereka berdua rasakan saat ini.
Selama kurang lebih lima belas menit, mereka berkendara di atas jalan raya beraspal.. tak ada satupun yang mengeluarkan suara nya, dan masing-masing larut dalam penyesalan yang mendalam.
Setelah berbelok menuju gerbang komplek pesantren, gus Umar segera memarkir mobil nya di halaman. Dan ketika kakak beradik itu turun dan memasuki rumah, kedua nya sudah di sambut oleh kyai Abdullah dan istri nya di ruang tamu.
"Gus, darimana kalian? Tadi pamit nya mau istirahat, tapi malah keluar dan tidak pamit pada abah ataupun umi!" Suara kyai Abdullah terdengar tegas dan begitu dingin, Kyai Abdullah tidak suka jika anak-anak nya tidak jujur apalagi keluar rumah tanpa pamit dan seenak nya sendiri.
Jika biasa nya gus Umar dan Laila akan langsung takut jika sang abah sudah berbicara seperti itu.. tapi untuk kali ini, rasa takut itu terkalahkan oleh perasaan menyesal yang masih menyelimuti hati kedua nya.
__ADS_1
Kedua putra putri kyai Abdullah itu terdiam, tak ada satupun yang sanggup membuka mulut nya. Apalagi Laila, gadis itu tak sanggup mengatakan apa yang tadi di dengar nya dari pak Karyo.. karena sudah pasti sebelum berbicara, suara tangis nya yang akan pecah duluan.
Sedangkan gus Umar pun merasa tidak sanggup, mengetahui kepergian bibi Aini yang mendadak saja hati nya sangat sedih. Di tambah dengan kabar bahwa Aida menikah, dan karena demi membayarkan hutang ibu nya,, dan hal itu membuat hati gus Umar semakin hancur.
"Kenapa kalian diam?" Tanya kyai Abdullah memelankan suara nya, tatkala mendapati kedua anak nya masih berdiri mematung dan seperti baru saja melihat kejadian yang mengerikan.
Dan setelah memperhatikan dengan seksama, kyai Abdullah juga bisa melihat wajah ayu putri nya yang sembab seperti habis menangis lama.
Nyai Robi'ah yang juga dapat menangkap kesedihan di wajah putra putri nya segera mendekat, dan kemudian memeluk Laila, "ada apa ning? Katakan lah,,," titah sang umi dengan lembut di telinga putri nya, dan seketika tangis Laila kembali pecah.. dan kali ini terdengar lebih memilukan dan menyayat hati.
Gus Umar yang mendengar nya, tak sanggup berlama-lama berada di sana.. "abah, umi,, maaf... Umar mau ke kamar dulu," dan gus Umar segera berlalu dari ruang tamu menuju kamar nya dengan air mata yang mulai berjatuhan, pemuda itu melewati ruang keluarga dan tak memperdulikan tatapan penuh tanya dari keluarga besar nya yang masih berada di sana.
Kyai Abdullah dan sang istri dibuat bingung menghadapi situasi seperti ini, dan beliau berdua hanya bisa menunggu hingga putri nya menjadi tenang.
Nyai Robi'ah mengajak Laila untuk duduk, dan dengan penuh kasih ibu dua anak itu mengusap punggung putri bungsu nya,,,mencoba memberikan ketenangan pada Laila.
Setelah cukup lama menunggu, akhir nya Laila berhenti menangis dan mulai bisa bercerita meski dengan terbata-bata.
Dan mendengar cerita dari sang putri, nyai Robi'ah pun langsung menangis.. bagi istri kyai Abdullah tersebut, bibi Aini sudah seperti saudara perempuan nya dan Aida seperti putri kandung nya. "Ya Allah,, kasihan sekali nasib Aida," lirih nya terbata, dengan air mata yang terus mengalir.
Kyai Abdullah memeluk pundak sang istri, hati kyai kharismatik itu tak hanya sedih seperti sang istri.. namun hati beliau tak kalah hancur seperti hal nya sang putra, "Dahlan,,, maaf kan aku, aku tak bisa menjaga amanah dari mu. Aku tak bisa menjaga istri mu dan juga tak bisa melindungi anak mu. Aku bukan sahabat yang baik,,," sesal beliau dalam hati.
__ADS_1
bersambung,,,