
Usai sarapan nasi goreng spesial buatan sang istri, Ryan akhir nya mengantarkan istri nya ke rumah sakit dan menunda kembali keinginan nya untuk menggauli Aida.. pasal nya sang ibu mengabarkan, bahwa jam sepuluh nanti dokter akan melakukan tindakan angioplasti atau prosedur pemasangan ring jantung pada ibu mertua nya.
"Yah, tertunda lagi deh. Sabar Ryan, sabar... akan indah pada waktu nya." Lirih Ryan, sambil berjalan menuju garasi mobil.
Ryan kemudian menghidupkan mesin mobil nya, sambil menunggu sang istri yang masih bersiap. Ryan duduk termenung di kursi kemudi, laki-laki matang itu tersenyum kecut saat ingatan nya tiba-tiba tertuju pada kejadian tadi malam di kamar nya.
#Flashback on...
Aida yang baru keluar dari kamar mandi, langsung merebahkan diri nya di atas kasur yang empuk. Aida mengambil tempat di tepi ranjang, dia mengambil jarak yang jauh dari suami nya.
Melihat istri nya berbaring di tepi, Ryan kemudian bangun dan mengganti lampu utama dengan lampu tidur yang temaram. "Dik, tidur nya geser ke tengah sini.. nanti kamu jatuh lho," pinta Ryan dengan lembut, setelah dia duduk di tepi ranjang.
Aida tak menjawab, tapi menuruti permintaan suami nya itu.
"Nah, gini kan enak kalau mau peluk," ucap Ryan yang sudah menggeser duduk nya ke tengah seraya menatap istri nya.
Hening sejenak menyapa kamar utama tersebut.
"Dik, apa kamu sudah siap?" Tanya Ryan, memecah keheningan. Laki-laki matang itu sudah sangat berhasrat sama sang istri, sejak melihat istri nya keluar dari kamar mandi dengan memakai gaun tidur yang transparan dan memperlihatkan dalaman istri nya yang nampak seksi.
Aida menelan saliva nya, mendengar pertanyaan sang suami Aida tak mampu mengeluarkan kata-kata... tenggorokan nya terasa tercekat, dan Aida hanya bisa mengangguk pasrah.
Merasa mendapatkan lampu hijau, Ryan semakin bersemangat.. suami Aida itu langsung mendekatkan wajah nya dan tanpa aba-aba Ryan mencium bibir istri nya.
Aida yang terkejut, tubuh nya langsung menegang.. dan tak lama kemudian, sekujur tubuh nya nampak gemetaran.
Awal nya Ryan tak menyadari nya, karena fokus Ryan tertuju pada bibir lembut milik sang istri. Ryan terus melu*mat nya dan mencoba menerobos masuk kedalam rongga mulut Aida, namun bibir Aida terkunci rapat.
Hingga setelah beberapa saat mencoba, namun Aida tetap tak merespon nya.. barulah Ryan tersadar, bahwa istri nya yang masih belia itu ternyata ketakutan. Ryan segera melepas kan ciuman nya dan menatap sang istri dengan penuh kekhawatiran.
Wajah Aida terlihat pucat, dan keringat dingin keluar dari pori-pori tubuh nya hingga membasahi gaun tidur tipis yang dia kenakan.
"Dik, maaf kan mas ya.. mas tidak bermaksud membuat mu takut," lirih Ryan, sambil mengusap lembut bibir Aida.
__ADS_1
"Maaf kan Aida mas, Aida cuma belum terbiasa," ucap Aida dengan suara bergetar, Aida menggigit bibir bawah nya.
Ryan tersenyum, "ya dik, tak mengapa. Mas mengerti kok, nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa," balas Ryan seraya mengusap lembut puncak kepala sang istri, "dah, sekarang tidur lah," titah Ryan.
Sejenak Aida dapat bernafas dengan lega, dan dia langsung mencoba memejamkan mata nya.
Ryan pun ikut berbaring di samping sang istri, "dik, kalau mas peluk kamu,, boleh kan?" Dan tanpa menunggu jawaban, suami matang Aida itu langsung memeluk istri nya dengan erat.
#Flashback off...
"Mas, ayo kita jalan," ucap Aida seraya menepuk pelan lengan sang suami.
"Oh, iya dik.. kamu sudah siap?" Tanya Ryan yang tidak memerlukan jawaban, karena sang istri memang telah siap.
"Mas Ryan tadi melamun ya?" Aida bertanya balik, dan mengabaikan pertanyaan suami nya.
Ryan tersenyum dan menatap istri nya dengan intens, "mas, ngelamunin kamu," balas Ryan mulai merayu.
Aida tersipu malu, "dah, jalan yuk.. udah jam delapan lewat nih," pinta Aida, yang terdengar manja di telinga Ryan.
Aida mengernyit, "Aida cium mas?" Tanya Aida seraya menunjuk diri nya sendiri, "Aida malu mas," tolak Aida dengan halus dan langsung menunduk.
"Kalau gitu, mas yang cium kamu ya?" Dan Ryan langsung mencium bibir Aida dengan penuh perasaan, mula nya Aida masih mengunci bibir nya.. tapi perlahan istri Ryan itu mulai membuka sedikit bibir nya dan memberikan akses kepada sang suami untuk menjelajah kedalam rongga mulut nya.
Ryan tersenyum dalam hati, dan semakin bersemangat memainkan lidah nya.. hingga getaran ponsel Ryan, membuyarkan segala nya. "Sial, siapa sih yang telpon? Mengganggu kesenangan saja!" Gerutu Ryan.
Aida menarik nafas lega, dan tersenyum tipis. Jantung Aida masih berdebar kencang, dan hangat nya ciuman sang suami masih terasa di bibir nya.
Sementara itu, Ryan yang sedang menerima panggilan telpon terlihat menekuk wajah nya. Laki-laki matang itu terdengar berbicara perihal pekerjaan dengan sangat serius, "ya, kamu handle dulu. Seminggu lagi aku ke sana," ucap Ryan dan segera menutup telpon nya.
"Ada apa mas? Apa ada masalah dengan pekerjaan mas Ryan?" Tanya Aida, mencoba memberi sedikit perhatian pada sang suami.
Ryan menggeleng pelan, "tidak dik, yang barusan telpon itu orang kepercayaan mas. Dia memberitahu kalau proyek mas yang di luar kota, akan dimulai minggu depan." Balas Ryan dengan menatap istri nya, "minggu depan kita pindah sementara ke sana ya? Mudah-mudahan ibu sudah sehat, jadi kita bisa pergi ke sana dengan tenang," lanjut Ryan.
__ADS_1
Aida mengangguk,
Ryan segera melajukan kendaraan nya menuju rumah sakit.
Setelah kurang lebih setengah jam, kendaraan Ryan melaju dan berjibaku dengan kendaraan lain di jalanan yang padat.. tibalah mereka berdua di area parkir rumah sakit, tempat ibu nya Aida di rawat.
Ryan mengedarkan pandangan, mencari
tempat yang kosong untuk memarkir kendaraan nya. Setelah memarkir kendaraan, Ryan dan istri nya segera turun, mereka berdua kemudian berjalan bergandengan tangan menuju ruangan bibi Aini.
Sepanjang koridor, Aida sudah merasa sedikit enjoy di gandeng oleh sang suami.. tak seperti kemarin malam, yang masih takut dan grogi.
Kedua nya kini telah sampai di ruang perawatan sang ibu, dan tepat di saat yang sama dokter yang menangani ibu nya Aida selesai memeriksa bibi Aini.
"Dok, bagaimana kondisi ibu saya?" Tanya Aida.
"Kondisi pasien stabil, dan siap untuk dilakukan tindakan angioplasti." Balas dokter tersebut, "kami permisi dulu mbak, mas.. mari," pamit bu dokter dengan ramah.
"Silahkan dok, terimakasih," balas Aida tak kalah ramah.
Setelah kepergian dokter dan perawat nya, Aida mendekati sang ibu. Mereka berdua nampak berbincang dengan hangat. Ryan pun ikut bergabung bersama istri dan ibu mertua nya.
Sementara bu Retno dan mbak Ning memilih keluar, dan memberikan kesempatan pada mereka bertiga untuk ngobrol.
Tepat pukul sepuluh, bibi Aini dibawa ke ruang bedah.
Dengan sigap Ryan memberikan dukungan nya pada sang istri, yang nampak cemas menanti di ruang tunggu. Ryan terus memeluk pundak istri nya dan menyediakan bahunya untuk Aida bersandar.
Bu Retno dan mbak Ning yang melihat pemandangan indah tersebut, tersenyum bahagia.
"Mas, ini sudah hampir dua jam.. kenapa belum selesai juga?" Aida nampak gelisah, dan netra nya terus tertuju pada pintu ruang bedah bercat putih dimana sang ibu berada.
"Sabar dik, menurut yang mas dengar tadi.. proses nya bisa sampai tiga jam," balas Ryan dengan lembut, mencoba menenangkan istri nya.
__ADS_1
"Sini mas peluk,, biar kamu bisa lebih tenang," Ryan membawa sang istri dalam dekapan dada nya yang bidang, senyum simpul terbit di sudut bibir nya.
bersambung,,,