Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 93 : Tugas Ibu, Cukup Doakan Kami


__ADS_3

Setelah jenazah putra nya siap untuk di bawa pulang, Aida sendiri yang membawa putra kecil nya itu. Awal nya, dokter belum mengizinkan Aida untuk pulang, karena kondisi nya masih belum stabil.. tapi Aida memaksa, dan berjanji akan rutin kontrol hingga akhirnya dokter mengijinkan nya.


Aida duduk di atas kursi roda dengan memangku bayi mungil yang wajah nya terlihat sangat tenang. Laila yang mendorong kursi roda Aida, dengan didampingi oleh bu Dibyo dan nyai Robi'ah di sisi kanan dan kiri nya.


Dan Ryan berjalan paling belakang, dengan kepala yang terus menunduk untuk menyembunyikan air mata nya yang masih saja menetes.


Sedangkan mbak Ning pulang ke ruko terlebih dahulu karena harus menjemput putra nya yang dititipkan di rumah pak Dibyo. Dan bu Dibyo tadi berpesan, agar mbak Ning mengajak serta pak Dibyo untuk ke pesantren beserta Bunga, untuk melayat putra nya Aida.


Kyai Abdullah juga langsung pulang tadi, guna mempersiapkan pemakaman untuk cucu dari sahabat nya itu... ketika akhirnya Aida menyetujui untuk memakamkan putra nya di kompleks pemakaman pesantren.


Hanya gus Umar yang tak ikut pulang, karena harus menunggui istri nya yang masih di rawat di rumah sakit ini.


Awal nya Aida ingin agar putra nya di makamkan di kampung halaman nya, di pemakaman umum di samping makam kedua orang tua nya.


Namun atas berbagai pertimbangan, diantara nya karena orang-orang di kampung Aida terlanjur percaya pada fitnah yang dibawa oleh bu Retno kala itu, bahwa Aida hamil dengan selingkuhan nya hingga kemudian di usir oleh Ryan dan di ceraikan.. sampai saat ini, menurut informasi pak Karyo barusan ketika dihubungi oleh mbak Ning, berita tersebut belum di klarifikasi oleh pihak bu Retno.


Juga karena kondisi kesehatan Aida yang belum pulih pasca operasi cesar dan sempat mengalami pendarahan sebelum operasi dilakukan.. hingga nyai Robi'ah menyarankan, agar Aida pulang saja ke pesantren agar umi nya Laila itu bisa ikut merawat Aida. Dan di pesantren, juga ada banyak santri ndalem, yang bisa dimintai tolong jika Aida membutuhkan bantuan.


Karena jika Aida pulang ke rumah orang tua nya, kasihan mbak Ning yang pasti nya akan kerepotan jika harus mengurus Aida seorang diri.. lagipula mbak Ning juga memiliki anak yang masih kecil, yang butuh perhatian ekstra.


Dan bu Dibyo pun menyetujui usulan nyai Robi'ah, dan ikut menyarankan agar Aida sebaiknya pulang ke pesantren.


Terlebih Laila, yang begitu antusias mendukung saran sang umi, "kebetulan aku juga lagi libur semester Da, aku bisa dua puluh empat jam menemani kamu," ucap Laila tadi, dengan penuh harap. Hingga akhirnya, Aida pun mengikuti saran nyai Robi'ah untuk memakamkan putra di kompleks pesantren dan ikut pulang bersama sahabat nya.


Di lobi rumah sakit, ternyata bu Retno sudah menanti bersama suami nya. Ya, Ryan tadi mengabarkan pada ibu nya.. bahwa putra nya, tak dapat bertahan hidup. Dan bu Retno bersama sang suami, langsung menuju rumah sakit tersebut dengan diantarkan sopir pribadi nya.


Bu Retno langsung menghampiri Aida dan menghadang kursi roda Aida dengan berlutut. Reflek, Laila menghentikan laju kursi roda yang membawa Aida.

__ADS_1


"Nak, maafkan ibu,,, ibu menyesal," pinta bu Retno seraya menangis, entah menangis karena benar-benar tulus menyesal dan meminta maaf pada Aida atas kesalahan nya,,, ataukah menangis karena menyesal cucu yang diharapkan nya tak dapat di selamat kan?


Aida bergeming, dan mengeratkan dekapan nya pada sang putra.


"Nak, ibu mohon.. kembali lah pada anak ibu nak, kembali lah pada Ryan. Ryan sangat mencintai mu nak, Ryan sungguh-sungguh menyayangi mu,," lanjut bu Retno, dengan penuh permohonan seraya memeluk kaki Aida.


Ryan terdiam di tempat nya, dia tak tahu harus bersikap bagaimana? Di satu sisi, Ryan membenarkan ucapan ibu nya.. bahwa diri nya memang sangat mencintai Aida, dan tulus menyayangi nya.


Namun di sisi yang lain, Ryan mengerti bahwa pastilah sulit bagi Aida untuk menerima diri nya kembali setelah apa yang di perbuat nya sembilan bulan yang lalu.


Perbuatan bodoh dan terburu-buru yang hanya menyisakan penyesalan yang teramat dalam, keputusan yang di ambil karena terbawa emosi sesaat yang kini baru di sadari Ryan,,, telah melenyapkan ketentraman dah kebahagiaan rumah tangga nya, hanya dalam sekejap mata.


Memang benar adanya, bahwa saat sedang marah, otomatis kepala dan hati menjadi panas. Tak bisa berpikir dengan jernih dan yang dikedepankan tak lebih hanya lah emosi semata.


Oleh sebab itu, keputusan yang di ambil pada saat sedang marah, sering kali adalah keputusan yang tidak tepat. Terlampau tergesa-gesa, hingga sering nya menimbulkan penyesalan di akhir.


"Ibu tidak akan menyesal memberikan semua nya pada mu nak, karena ibu tahu bahwa kamu sangat berharga bagi Ryan," lanjut bu Retno, dengan menjanjikan sesuatu yang berharga milik nya untuk Aida.


Aida menatap bu Retno, "berdiri lah bu, ibu tak seharusnya berlutut seperti ini. Aida sudah memaafkan semua nya, tapi maaf... Aida tak bisa kembali pada masa lalu yang suram," tegas Aida.


Nyai Robi'ah mengelus lembut lengan Aida, memberi isyarat agar Aida tetap tenang dan tidak terbawa emosi.


"Nak,,, ibu janji, semua harta milik ibu akan menjadi milikmu nak," ulang bu Retno, dengan memohon.


"Jika harta ibu bisa mengembalikan kehidupan putra Aida, dengan senang hati.. Aida bersedia kembali pada mas Ryan bu," pungkas Aida, yang tak ingin lagi mendengar apapun dari bu Retno.


"Ayo La, kita jalan lagi," pinta nya, pada Laila.

__ADS_1


Dan bu Retno langsung terduduk dengan lemas, karena wanita tua itu tahu pasti.. harta yang dimiliki nya takkan mungkin bisa mengembalikan nyawa, yang sudah di cabut dari raga.


Laila segera mendorong kembali kursi roda Aida, meninggalkan lobi rumah sakit untuk menuju ambulans yang akan membawa bayi Aida pulang ke pesantren.


Sementara Ryan akhirnya menghampiri sang ibu, dan membawa Ibu nya menuju bangku panjang di lobi rumah sakit tersebut. Ryan menyodorkan air mineral yang diberikan sang ayah kepada ibu nya.


"Minum dulu bu, biar ibu lebih tenang," ucap Ryan.


Bu Retno menerima nya dan kemudian meminum air mineral tersebut hingga habis separuh, dan memberikan botol yang masih tersisa setengah itu kembali pada putra nya.


Ryan kemudian mendudukkan diri di samping ibu nya, "bu, Ryan tahu bahwa ibu sangat menyayangi Ryan. Ryan tahu, ibu ingin memberikan yang terbaik untuk Ryan. Tapi ibu perlu tahu satu hal bu, Ryan sudah dewasa.. Ryan bisa tahu, mana yang baik dan mana yang tidak baik," sejenak Ryan menghentikan ucapan nya, tatapan nya menerawang jauh.. dan kembali teringat, akan kebodohan nya yang telah mengusir Aida kala itu.


"Terlebih setelah Ryan berlaku tak adil pada dik Aida, Ryan jadi mengerti bagaimana seharusnya bersikap." Ryan menatap netra abu-abu ibu nya, "jangan pernah lagi campuri urusan Ryan bu, jangan..." suara Ryan terdengar memohon dengan sangat.


"Ibu ingat kan, karena ucapan ibu.. Aida pendarahan dan pingsan, hingga berimbas pada cucu mu bu. Dan pada akhirnya, karena ucapan ibu itu.. ibu harus kehilangan cucu ibu sendiri bukan?" Lirih Ryan, dengan suara tercekat di tenggorokan.


Mendengar perkataan sang putra yang memang lah sangat benar ada nya, membuat bu Retno berlinang air mata. "Ibu hanya ingin yang terbaik untuk mu Ryan,,," lirih bu Retno terbata.


"Tapi cara ibu salah,,," balas Ryan dengan menatap dalam netra sang ibu, berharap agar kedepannya sang ibu tak perlu lagi mencampuri urusan anak nya.


"Tugas ibu, cukup doakan kami bu,,, anak-anak ibu. Dan selebihnya, biarkan kami sendiri yang memikirkan dan memutuskan," pungkas Ryan, yang kemudian segera berdiri untuk menyusul putra nya.


bersambung,,,


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Ali bin Abi Thalib berkata โ€œJangan membuat keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji sewaktu sedang gembiraโ€

__ADS_1


__ADS_2