
Di salah satu ruang perawatan di rumah sakit yang sama dimana Aida di rawat, gus Umar terdengar tengah menenangkan ning Zahra yang masih terisak sedari tersadar dari pengaruh obat bius pasca operasi histerektomi radikal yang di lakukan semalam.
Operasi pengangkatan rahim dan organ reproduksi lain yang sudah lama disarankan oleh dokter, dan baru kemarin di setujui oleh istri gus Umar tersebut.
"Ning, bagi ku kamu masih tetap seperti dulu ning... kamu masih istri ku yang aku sayangi," rayu gus Umar dengan tulus, untuk membesarkan hati sang istri yang tengah bersedih.
"Zahra sekarang bukan lagi wanita yang sempurna gus, Zahra tak bisa memberi jenengan keturunan," ning Zahra masih terisak.
"Silahkan jenengan cari istri lagi gus, agar bisa memiliki keturunan. Zahra tak masalah di madu," lirih ning Zahra, di sela isak tangis nya.
Gus Umar menarik nafas dalam, dan menghembus nya perlahan, "tidak ada makhluk yang sempurna di muka bumi ini ning, karena kesempurnaan itu mutlak milik Allah SWT," gus Umar menatap dalam netra ning Zahra yang masih berkaca-kaca.
"Dan bagi ku, memiliki mu itu sudah cukup... aku tidak masalah jika memang kita tidak memiliki keturunan," tutur gus Umar penuh penekanan, dan tak ingin membahas lebih jauh tentang mencari istri seperti yang ditawarkan ning Zahra.
"Zahra rela gus, Zahra ridho.. jenengan bisa pilih salah satu dari santri abah," lanjut ning Zahra, tanpa memperdulikan ucapan gus Umar barusan.
Gus Umar menggeleng,
"Poligami itu sunnah kan gus, dan akan mendatangkan pahala jika istri ikhlas? Zahra benar-benar ikhlas gus, Zahra ingin dapat pahala," pinta ning Zahra sungguh-sungguh.
Lagi, gus Umar menggeleng.. kali ini sambil menghembus kasar nafas nya.
"Bukan kah hukum asal menikah adalah poligami, adapun monogami itu bilamana seseorang tak mampu melakukannya? Sebagaimana dalam firman Nya, "Nikahilah wanita yang baik-baik bagi kalian dua, tiga, dan empat, namun bilamana kalian tak mampu berlaku adil maka cukupkan dengan satu saja”. (QS ; an-Nisa: 3)
"Dan Zahra yakin, jenengan mampu untuk berlaku adil gus," ning Zahra setengah memaksa.
__ADS_1
"Ning,, pada dasarnya hukum menikah adalah mubah atau sesuatu yang dibolehkan. Namun, hukum tersebut bisa berubah menjadi wajib, sunah, mubah, makruh, bahkan haram... jika dilihat dari situasi dan kondisi serta niat seseorang yang akan menikah."
"Sama hal nya dengan poligami, hukum asal nya itu bukan sunnah,,, tapi sama dengan hukum asal menikah yaitu mubah atau boleh. Memang bisa kemudian menjadi sunnah, tapi bisa juga menjadi haram. Dan hati manusia itu mudah goyah ning, mudah berpaling dan condong.."
"Jika aku menikah lagi, dan kemudian hatiku lebih condong pada salah satu nya.. bukan kah itu sama saja aku telah menciptakan neraka bagi salah satu istri ku? Bukan kah itu sama saja, aku telah menjerumuskan diri ku sendiri ke dalam api neraka karena aku tak dapat berlaku adil pada istri-istri ku?" Gus Umar kembali menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Jadi, jenengan menentang ada nya praktik poligami? Padahal dalam firman Allah tersebut, Allah menganjurkan bagi laki-laki untuk menikahi hingga empat wanita?" Ning Zahra menatap heran pada suami nya.
"Aku tidak menentang ada nya poligami ning, tidak. Tapi aku pribadi yang tak mau dan tak bisa mempraktikkan nya dalam kehidupan rumah tangga kita, aku menyayangi mu ning dan itu cukup." Gus Umar membalas tatapan istri nya, untuk meyakinkan bahwa diri nya tak bisa mendua.
"Ning, kita harus memahami kenapa sebuah ayat diturunkan. Kita harus cari tahu asbabun nuzul nya, dan bukan nya menelan mentah-mentah terjemahan ayat tersebut?!"
"Dan dalam kandungan Surat An-Nisa ayat 3 yang kamu sebutkan tadi, dipahami oleh sebagian ulama bukan sebagai perintah untuk poligami tetapi sekadar membolehkannya. Dengan diturunkan nya ayat tersebut, justru untuk membatasi jumlah istri masyarakat Arab dan masyarakat lainnya yang ketika itu tidak ada batasan nya." Terang gus Umar.
"Surat An-Nisa ayat 3 membatasi jumlah maksimal istri hanya empat dari jumlah tak terhingga sebelumnya, bukan menganjurkan menambah istri dari satu hingga empat perempuan... bukan!" Kembali gus Umar menegaskan, seraya menatap istri nya dengan intens.
@@@@@
Sementara di ruang rawat Aida, calon ibu muda itu sangat terkejut begitu melihat kehadiran mbak Ning bersama Laila.
"Laila,,," ucapan Aida menggantung di udara, karena Laila keburu menubruk nya. Dan menangis dalam pelukan Aida, yang sedang duduk bersandar pada head board ranjang pasien. Cukup lama adik dari gus Umar itu menangis, begitu pun juga dengan Aida yang mencoba menahan sesak di dada.
Selama ini, Aida bukan nya tidak rindu dengan sahabat nya itu,,, tapi Aida butuh waktu untuk sejenak menjauh, agar hati nya tenang.
"Kamu jahat Da, kamu jahat.. kenapa kamu menghilang dan sama sekali tak pernah menghubungi aku? Apa salah ku Da,,, apa? Aku terus mencari dan menanyakan mu pada mbak Ning, pada pak Karyo.. tapi jawaban mereka sama," protes Laila setelah puas menangis, seraya memukul-mukul pelan lengan Aida.
__ADS_1
Aida tersenyum dan mencubit pipi sahabat nya itu, "ih,, pipi kamu makin chabi deh La, dan kamu tambah cantik sekarang." Puji Aida dengan tulus, "pasti perawatan mahal nih,, mau dong di ajak perawatan dan gretongan," canda Aida, dan mengabaikan protes yang dilontarkan Laila.
"Apaan sih, jangan mengalihkan pembicaraan deh,," sungut Laila.
Mbak Ning yang duduk di salah satu kursi sambil menata makanan yang dia bawa tadi di atas meja, hanya tersenyum dan ikut merasa lega melihat pertemuan kedua sahabat itu.
"Oh ya La, kok kamu bisa berada di sini? Siapa yang sakit?" Tanya Aida, benar-benar sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Aku enggak mau jawab," Laila terlihat kesal.
Aida tersenyum, mengerti dengan kemarahan sahabat nya.
"Kan semua alasan kenapa aku belum menghubungi kamu, sudah aku sampaikan lewat surat? Kenapa masih ngambek? Oke deh,, aku minta maaf.." Aida meraih tangan Laila dan menggenggam nya erat, "maaf ya bestie,,," ucap Aida dengan mimik yang lucu, hingga membuat Laila tersenyum.
"Nah, gitu dong senyum... jadi makin manis, karena lobang di pipi nya kelihatan," goda Aida, seraya menunjuk lesung pipit Laila.
Laila semakin lebar mengembangkan senyum nya, "oh ya Da, selamat ya.. tadi mbak Ning bilang kamu udah hamil, moga sehat-sehat semua," Laila mengusap perut sahabat nya, yang sudah mulai terlihat membuncit itu.
"Hai sayang,, baik-baik yah di dalam perut bunda, jangan buat bunda bersedih. Bulek janji, bulek akan bantu bunda untuk merawat mu." Laila berbisik di perut Aida, dengan menahan sesak di dada. Teringat akan cerita mbak Ning tentang apa yang telah di alamai oleh Aida, tadi sewaktu mereka berdua berjalan menuju ruang perawatan Aida.
"You are not alone Da,,," bisik nya dalam hati, "aku janji, aku takkan membiarkan mu menghilang lagi dari sisi kami."
bersambung,,,
✍️ Pemahaman tentang poligami di atas adalah murni pendapat penulis yang mengacu pada pendapat sebagian ulama,,, dan kalian juga bebas memiliki pemahaman masing-masing.
__ADS_1
So, no debat... 😊🙏
Aku ucapkan terimakasih untuk semua yang sudah kasih dukungan di karya yang menguras energi ini, love you 🤗😘