Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 78 : Segera Raih Bahagiamu


__ADS_3

Semenjak penolakan Aida secara terang-terangan, ning Zahra terus mengurung diri nya di dalam kamar. Istri gus Umar itu sering kedapatan menangis di tengah malam, entah apa yang dia risaukan.. gus Umar pun tak bisa memahami nya, hingga berimbas buruk pada kesehatan diri ning Zahra sendiri.


Gus Umar tak tahu jalan pikiran istri nya, karena seringkali jika gus Umar menanyakan,,, ning Zahra hanya akan diam seribu bahasa atau kadang hanya menjawab dengan singkat bahwa semua nya baik-baik saja.


Pada hal, jika ning Zahra mengkhawatirkan tentang semua yang menyangkut bahwa mereka tak bisa memiliki keturunan.. gus Umar sudah berkali-kali mengatakan dan menegaskan, jika itu bukan lah hal yang utama tujuan nya menikah.


Pun jika sang istri khawatir, gus Umar akan menikah lagi.. atau lebih parah nya, meninggalkan ning Zahra dengan kondisi nya yang seperti sekarang, jelas gus Umar bukan tipe suami seperti itu.


Berulang kali gus Umar mengatakan, bahwa dia tidak sanggup berpoligami dan itu arti nya,, gus Umar tidak akan menikah lagi bukan?


Gus Umar juga sering mengatakan, bahwa memiliki ning Zahra seorang meski tanpa keturunan.. sudah cukup bagi nya, namun kenapa sang istri masih saja khawatir?


"Ning,,," panggil gus Umar lembut, seraya mendekati sang istri yang masih bersimpuh dengan punggung bergetar menahan isak.


Namun ning Zahra bergeming, seolah tak mendengar panggilan sang suami.


Setelah beberapa saat menunggu namun belum juga ada respon, gus Umar kemudian duduk di samping sang istri dan merengkuh tubuh yang terlihat lebih ramping beberapa minggu terakhir ini ke dalam dekapan nya.


Dan tangis ning Zahra pun semakin pecah di sana, terdengar suara nya yang sesenggukan seolah ingin menuangkan semua kegelisahan hati nya selama ini.

__ADS_1


Gus Umar membiarkan istri nya menangis, tangan kekar itu mengusap lembut punggung sang istri dan mulut nya menggumamkan ayat-ayat Allah dengan suara nya yang terdengar sangat merdu... hingga lambat laun, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang di perdengarkan oleh gus Umar mampu membuat ning Zahra menjadi tenang.


Setelah cukup lama menangis hingga mata nya memerah dan kantung nya terlihat sedikit membengkak, ning Zahra mendongak dan menatap suami nya.


Sejenak, netra kedua nya saling terpaut.. cukup lama dan tak ada yang memulai untuk bersuara, seolah mereka tengah bercengkrama dalam diam dan hanya melalui tatapan mata.


"Gus, masa depan jenengan masih panjang.. menikahlah lagi gus," ucap ning Zahra tiba-tiba, yang membuat kening gus Umar berkerut dalam.


"Tadi nya, Zahra berharap bisa membujuk dik Aida,,," ning Zahra menghentikan sejenak ucapan nya, "tapi ternyata dik Aida tidak bersedia," lanjut nya dengan netra yang kembali berkaca-kaca.


"Bagaimana kalau kita minta tolong sama umi dan dik Laila, untuk membujuk dik Aida. Mereka kan sangat dekat gus, mereka pasti bisa membujuk..." ucapan ning Zahra menggantung di udara.


"Awakmu ki ngomong opo tho ning? Bukan kah sudah berkali-kali aku mengatakan, kalau aku tak sanggup memiliki dua istri? Tapi kenapa, kamu selalu mengungkit hal itu ning?!" Suara gus Umar terdengar sedikit meninggi, rupa nya putra pertama kyai Abdullah itu merasa lelah juga karena setiap waktu di hadapkan pada obrolan dan tuntutan konyol yang sama.


"Hufff,,," gus Umar membuang kasar nafas nya, "maaf ning, aku tak bermaksud membentak mu," sesal gus Umar, yang memang tak pernah berbicara kasar pada istri nya itu.


"Aku benar-benar tak tahu jalan pikiran mu ning?" Gumam nya, seraya menatap ning Zahra dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tapi jenengan butuh keturunan gus, abah dan umi pasti ingin memiliki cucu bukan?" Ning Zahra menatap dalam netra hazel milik gus Umar, dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Gus Umar menarik nafas dalam-dalam, dan kemudian menghembus nya perlahan-lahan. "Laila Insyaallah bisa memberi abah dan umi cucu ning, santri-santri pondok juga pasti memberi cucu yang banyak kan untuk kyai nya?"


"Jadi, tolong ning.. tolong berhenti membicarakan hal ini. Cukup sampai di sini, dan mari kita fokus kembali dengan tujuan berumah tangga kita dari awal meski tanpa keturunan.. mari kita saling menyempurnakan ning," gus Umar menatap istri nya dalam-dalam.


"Kamu dukung aku untuk memaksimalkan kemampuan dan ilmu yang telah aku dapat, demi kemajuan pesantren. Begitupun dengan diri mu ning, ajarkan ilmu yang kamu miliki kepada para santri putri.. dan mari kita sama-sama mengabdikan diri untuk agama kita, kita habis kan sisa usia dengan beramal sholih." Gus Umar menggenggam erat tangan istri nya.


"Tak perlu larut dalam penyesalan masalah dunia yang tak bisa kita genggam, dengan tak memiliki anak bukan berarti hidup kita juga harus berakhir dan pesimis.. jika do'a anak yang sholih adalah termasuk dari tiga amalan yang akan terus mengalir meski kita telah meninggal, toh kita masih memiliki dua kesempatan untuk memiliki amalan lain nya." *)


"Dengan harta yang kita miliki, kita sedekahkan kepada yang membutuhkan... kita biayai anak-anak yatim dan kurang mampu untuk bersekolah. Dan dengan ilmu yang telah kita dapat, kita ajarkan kepada para santri di pesantren dan murid-murid di sekolah yayasan." Tegas gus Umar, masih dengan tatapan nya yang dalam kepada ning Zahra dan genggaman tangan nya yang semakin erat.


"Insyaallah,, jika kita melakukan nya dengan tulus dan ikhlas, itu akan menjadi amal jariah untuk kita ning." Gus Umar kembali mendekap istri nya, mencoba memberi kan kekuatan pada wanita ringkih yang akhir-akhir ini sering menangis. Gus Umar semakin mendekap nya erat, karena sejujur nya.. gus Umar pun membutuhkan orang lain untuk menguatkan nya, dan itu adalah istri nya.


"Aku pun bersedih ning, tapi kita harus belajar untuk ikhlas bukan? Jika menuruti ego, tentu aku sudah mencari wanita lain dan menikahi nya ning.. tapi aku tak mau menyakiti siapa pun. Bukan hanya kamu, tapi abi dan umi mu juga pasti akan sangat kecewa kalau aku menikah lagi. Eyang dan kakek, beliau berdua juga pasti akan sangat bersedih... " gumam gus Umar dalam hati.


Gus Umar melerai pelukan nya, dan kembali menatap istri nya dalam-dalam. Di rangkum nya bahu dengan tulang yang menonjol itu dengan lembut, "aku memang enggak berani berjanji ning, tapi semampuku.. aku akan menjaga pernikahan kita ini tetap utuh, hanya kita berdua hingga maut memisahkan," lirih gus Umar dengan suara nya yang tercekat, menahan gemuruh di dada.


Ning Zahra sejenak terpaku, dan sedetik kemudian bibir nya menyunggingkan sebuah senyuman. "Dan Zahra ikhlas, jika saat itu tiba gus.. segera lah raih bahagia mu," bisik nya dalam hati, dengan perasaan lega.


bersambung,,,

__ADS_1


*) "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh." (HR Muslim).


__ADS_2