Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 85 : Harus di Operasi


__ADS_3

Gus Umar langsung melesat untuk turun ke bawah, sebelum nya putra kyai Abdullah itu sempat melirik sang istri yang masih terlelap.


Setiba nya di bawah, gus Umar mendapati pemuda dewasa yang tadi berbicara dengan Aida tersebut telah membopong tubuh lemah Aida seraya berteriak-teriak. "Dokter,, suster,, tolong istri saya! Tolong dok, cepat!"


Gus Umar tertegun di tempat nya, "istri? Apa dia, yang bernama Ryan? Kenapa bisa tiba-tiba dia muncul, dan membuat dik Aida seperti itu?" Gumam gus Umar yang masih terpaku di tempat nya.


Laila terlihat mendekati sang kakak sambil menangis, "ayo kak, ayo kita ikuti Aida,," pinta Laila seraya menyeret lengan sang kakak, yang tidak cepat merespon ajakan nya karena masih syok dengan apa yang baru saja dilihat.


Gus Umar yang baru tersadar, segera mempercepat langkahnya,,, mengikuti langkah Ryan yang berjalan cepat membawa Aida menuju ke ruang operasi sesuai perintah dokter, yang tadi melintas di sana dan melihat sekilas keadaan Aida.


"Kejadian nya tadi gimana dik, kok tiba-tiba dik Aida bisa pingsan setelah menjerit?" Tanya gus Umar, sambil terus berjalan.


Laila menoleh kearah sang kakak sekilas, "dia mas Ryan, mantan suami nya Aida. Dan wanita tua yang bersama mas Ryan, adalah ibu nya." Terang Laila.


"Mas Ryan kelihatan nya seneng banget bisa menemukan Aida, dan tadi dia sempat menanyakan gimana kabar nya Aida. Dia terlihat sangat menyesal, dan sikap nya tadi juga sangat baik." Lanjut Laila.


"Tapi, ibunya..." sejenak Laila menghentikan ucapan nya, karena mereka telah sampai di depan ruang operasi.


"Kak, telpon abah dan umi dulu," Laila mengingat kan sang kakak.


"Oh iya," gus Umar pun segera mengambil ponsel nya dan kemudian melakukan panggilan pada nomor sang abah, untuk mengabarkan keadaan Aida saat ini.


Setelah menutup panggilan nya, gus Umar mengikuti langkah sang adik yang hendak duduk di bangku panjang ruang tunggu. Mereka kemudian duduk bersisihan, dengan wajah yang terlihat sangat cemas.


"Harus nya, ibu enggak perlu bicara seperti itu tadi bu?!" Seru Ryan kepada ibu nya, sambil berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Sesekali, laki-laki dewasa itu mengusap kasar wajah nya. Terlihat dengan jelas, wajah kokoh itu diliputi kecemasan yang luar biasa.


"Ibu hanya ingin memperjuangkan hak kamu nak?" Balas sang ibu.

__ADS_1


"Tapi bukan begitu cara nya bu,,, apalagi ibu sampai mengancam dik Aida segala tadi!" Ryan kini terlihat sangat emosi.


"Bayi yang ada dalam kandungan Aida itu anak mu Ryan, dan ibu ingin dia mendapatkan hak perwalian mu?!" Bu Retno juga terdengar kekeuh, mempertahankan pendapat nya.


"Hufff,,,," Ryan membuang kasar nafas nya, "Setelah apa yang Ryan lakukan pada dik Aida, Ryan tak berani berharap banyak bu," lirih Ryan yang mulai bisa mengendalikan diri, laki-laki dewasa itu kemudian mendudukkan diri di bangku panjang yang agak jauh dari tempat gus Umar dan Laila.


"Jika pun dik Aida tak bisa memaafkan Ryan, Ryan pun mengerti,,," Ryan menunduk dalam, "cukup melihat dik Aida dari jauh dan dia baik-baik saja, Ryan sudah sangat bahagia bu," lanjut nya bergumam.


"Tapi bayi itu anak mu Ryan??" Tatapan bu Retno penuh harap, menatap putra nya yang kini memejam kan mata sambil bersidekap. Rahang laki-laki dewasa itu mengeras, seperti menahan kemarahan, kekesalan serta rasa bersalah yang begitu besar.


"Harus nya, tadi Ryan tak membiarkan ibu untuk mendekati dik Aida. Harusnya Ryan segera membawa ibu pergi, jauh dari dik Aida.. agar hal buruk tak terjadi pada dik Aida." Gumam Ryan yang kini telah membuka mata nya kembali, dari ucapan nya terdengar penuh penyesalan.


"Jika hal buruk terjadi pada dik Aida atau bayi kami, Ryan takkan pernah bisa memaafkan ibu," lirih Ryan namun penuh penekanan, serta menatap ibu nya dengan tatapan tajam.


Bu Retno terdiam, wanita tua itu kini menyadari kesalahannya karena tadi sempat mengancam Aida.. hingga membuat Aida merasa tidak nyaman dan ketakutan.


"Jadi, dik Aida di ancam sama ibu mertua nya?" Bisik gus Umar yang mendengar percakapan ibu dan anak itu, di telinga sang adik.


Laila mengangguk, "benar kak, bu Retno mengatakan takkan membiarkan Aida membesarkan bayi nya sendiri dan akan memisahkan bayi itu dari Aida, jika Aida tak mau kembali pada mas Ryan," terang Laila.


"Padahal, mas Ryan tadi sudah menyuruh ibu nya untuk diam.. tapi bu Retno masih saja bicara kasar sama Aida, dan ngancam mau bawa masalah tentang anak tersebut ke pengadilan segala," lanjut Laila.


Gus Umar mengangguk-angguk.


"Gus, ning, gimana kabar nak Aida?" Tanya nyai Robi'ah dan bu Dibyo yang berjalan setengah berlari menghampiri keduanya, secara bersamaan. Kyai Abdullah nampak menyusul di belakang, dengan wajah yang nampak sangat khawatir.


"Bagaimana bisa tiba-tiba nak Aida pingsan gus?" Tanya kyai Abdullah, yang kemudian mendudukkan dirinya di samping sang putra.

__ADS_1


Nyai Robi'ah dan bu Dibyo pun kemudian duduk di samping Laila, dan tatapan nya tertuju pada gadis yang masih saja menitikkan air mata itu.


Laila kemudian menceritakan kejadian nya pada kedua orang tua nya dan juga bu Dibyo, sambil sesekali menyeka air mata nya, "jadi, terpaksa Aida harus di operasi," lirih Laila.


"Semoga ibu dan bayi nya selamat," gumam kyai Abdullah, yang diamini oleh mereka semua.


Hening, sejenak menyapa ruang tunggu tersebut. Baik kyai Abdullah dan keluarga nya beserta bu Dibyo, maupun Ryan dan ibu nya.. mereka semua diam dan larut dengan pikiran masing-masing.


Pandangan mata mereka terus tertuju pada pintu ruang operasi yang tertutup rapat, dengan lampu yang menyala di atas pintu tersebut.. yang menandakan, bahwa di dalam sana dokter sedang melakukan tindakan kepada pasien nya.


"Gus, sebaik nya sampean kembali ke ruangan ning Zahra. Khawatir, jika dia membutuhkan sesuatu," titah sang abah, seraya menoleh ke arah sang putra.


Gus Umar mengangguk, "nggih abah," dan sebelum beranjak, gus Umar sempat membisikkan sesuatu pada sang adik.


"Tolong, kabari kakak segera begitu dokter keluar dari ruang tindakan," pinta gus Umar.


"Iya kak, pasti Laila akan kabari kakak," balas Laila, dengan berbisik pula.


"Umar ke ruangan ning Zahra dulu, assalamu'alaikum,," pamit gus Umar, seraya mengucap salam. Dan pemuda tampan nan kharismatik itu segera berlalu, meninggalkan ruang tunggu operasi untuk kembali ke kamar sang istri.


Setiba nya di lantai ruang rawat istrinya, gus Umar di buat terkejut.. tatkala mendapati dokter yang menangani sang istri beserta para suster, berlarian menuju ke ruang perawatan ning Zahra. "Apa yang terjadi? Ada apa dengan ning Zahra?" Batin gus Umar dengan perasaan tak karuan, dan suami ning Zahra itu berlari dengan secepat kilat menuju ruang perawatan istri nya.


bersambung,,,


*) Reaksi tubuh terhadap stres bisa memengaruhi tekanan darah. Tubuh menghasilkan gelombang hormon ketika kita berada dalam situasi stres. Hormon-hormon itu untuk sementara meningkatkan tekanan darah dengan menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit.


Solusio Plasenta merupakan kondisi di mana plasenta terlepas sebelum proses melahirkan terjadi, dan bisa menyebabkan pendarahan. Tindakan pembedahan pun perlu segera dilakukan apabila pendarahan hebat terjadi. Kondisi ini juga dapat mengurangi nutrisi dan asupan oksigen sehingga bisa menyebabkan kematian pada janin.  (sumber, Hallodoc.)

__ADS_1


__ADS_2