Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 101 : Setuju Menikah Dengan Ning Zahwa kan?


__ADS_3

"Ups, maaf La,, aku enggak ada maksud..." ning Zahwa langsung menutup mulut nya, dan tak jadi melanjutkan berbicara karena keburu di potong oleh Laila.


"Ndak apa-apa Zahwa, katakan saja?" Pinta Laila.


Sejenak ning Zahwa terdiam, dan kemudian melihat ke arah kakak nya.


Ning Najwa mengangguk,


"Sebenarnya dulu, mbak Zahra sudah menyukai seseorang La,,, tapi karena takut sama eyang dan juga abi, mbak Zahra nurut saja dijodohkan sama kak Umar. Iya kan mbak?" Ning Zahwa menatap kakak sulung nya kembali, meminta dukungan atas apa yang baru saja dia sampaikan.


Ning Najwa mengangguk, "tapi meskipun dik Zahra ndak berjodoh sama kang santri, dik Zahra juga sangat beruntung menjadi istri nya gus Umar. Gus Umar itu sabar banget menghadapi dik Zahra yang cenderung manja dan ndak bisa ngapa-ngapain."


"Gus Umar juga telaten merawat dik Zahra ketika dia sakit keras dan tak bisa memiliki keturunan.. bahkan hingga saat ajal menjemput, gus Umar tetap setia di sisi nya. Laki-laki mana coba, yang bisa sesetia gus Umar? Seribu satu, mungkin ya dik?" Ning Najwa menatap adik nya dan juga Laila bergantian.


Laila dan ning Zahwa mengangguk-angguk.


"Ternyata mbak Zahra dan kak Umar senasib ya, sama-sama punya seseorang yang sudah mengisi hati nya ketika di jodoh kan," gumam Laila.


Ning Zahwa yang duduk tepat di samping Laila mengernyit, "maksud kamu, kak Umar juga sudah punya kekasih sebelum nya?" Tanya ning Zahwa, yang masih bisa mendengar gumaman Laila.


Laila mengangguk.


"Terus,, sekarang gadis itu dimana? Sudah menikah apa belum? Dia pasti sedih ya, di tinggal nikah sama orang yang dicintai?" Cecar ning Zahwa, "ah... kalau aku yang ditinggal nikah, pasti sudah nangis bombay," lanjut ning Zahwa, dengan menggerak-gerakkan kedua tangan nya yang terkepal berputar-putar di depan mata nya.


"Ih,,, lebay kamu dik," ucap ning Najwa sambil melempar sang adik dengan daun pisang, yang berada di samping nya.


Ning Zahwa menjulurkan lidah nya kearah sang kakak, karena lemparan kakak nya berhasil dia hindari.


Laila tersenyum, melihat kedekatan kakak beradik itu. Kedekatan yang tak pernah dilihat nya antara ning Najwa dengan almarhumah kakak ipar nya tatkala mereka bertemu di rumah gus Umar ataupun ketika Laila dan keluarga nya yang berkunjung ke kediaman kyai Hasanuddin.


Begitupun antara ning Zahwa dan almarhumah ning Zahra, ning Zahwa seperti nya begitu menjaga perasaan sang kakak saat berbicara.. tak seperti candaan ning Zahwa kepada kakak pertama nya yang begitu lepas.


"Iya dik, siapa dia? Apa gadis itu sudah menikah? Kalau belum, di jodoh kan saja sama kakak kamu?" Tanya ning Najwa, yang ikut-ikutan penasaran.

__ADS_1


"Emmm, dia sahabat ku sih mbak dan,,,"


"Ning, disuruh umi ke ruang keluarga," ucap mbak santri, yang menghentikan obrolan ketiga wanita tersebut.


"Baik mbak," balas Laila seraya tersenyum, dan mereka bertiga kemudian segera beranjak untuk menuju ruang keluarga dimana keluarga besar dari kedua belah pihak telah menunggu.


"Mau di ajak makan bareng, malah pada ngilang... dari mana saja ning?" Tanya nyai Robi'ah.


"Dari dapur saja kok mi, ngobrol,,," balas Laila, seraya mendudukkan diri di samping sang umi.


"Biasalah mbak nyai, anak wanita kalau sudah ngumpul... pasti ada saja yang di obrolkan," timpal nyai Rahma seraya tersenyum, sambil melambaikan tangan ke arah putri bungsu nya.


Ning Najwa duduk di samping suami nya, sedangkan ning Zahwa kemudian duduk di sebelah umi nya.


"Pasti ndak jauh-jauh dari kaum adam kan ning?" Bisik nyai Rahma sesaat setelah putri nya duduk, nyai Rahma memang mengetahui kedekatan putri nya dengan seorang laki-laki di kampus ning Zahwa itu.


"Mmm,, enggak kok mi," elak ning Zahwa.


"Jangan bohong sama umi," balas nyai Rahma sambil menoel hidung putri nya, "nanti kayak Pinokio loh,,, mancung nya kebangetan," lanjut nyai Rahma, yang bisa menjadi sahabat bagi putri nya itu seraya terkekeh pelan.


Dan bisik-bisik kedua wanita berbeda generasi itu terhenti, tatkala terdengar suara kyai sepuh yang mulai angkat bicara.


"Sudah pada ngumpul, kita mulai saja makan ala kadarnya nya ini ya... semua nya, sudah dapat jatah kan?" Tanya kyai sepuh memastikan


"Sudah kek, tadi sudah pada ngambil sendiri-sendiri kok lauk nya," balas nyai Rahma, pada ayah besan nya itu.


"Ini ning, sudah umi ambilkan. Kalau mau nambah lauk, ambil sendiri ya?" Nyai Rahma, mendekatkan piring yang berisi sedikit nasi dan lauk pada putri bungsu nya.


"Makasih umi," balas ning Zahwa.


"Nanti kalau ada yang kurang lauk nya, biar saja nambah sendiri kang yai," imbuh kyai Hasyim.


Ning Najwa juga sudah mendapatkan jatah makan, yang diambilkan oleh suami nya yang pendiam.

__ADS_1


Begitu pun dengan Laila, yang juga sudah di ambilkan oleh nyai Robi'ah tadi.


Kyai sepuh mengangguk-angguk, dan setelah memastikan semua nya menghadap makanan masing-masing.. kyai sepuh kemudian mulai memimpin do'a.


Dan mereka semua mulai makan malam dengan khidmat, tanpa ada yang berbicara sepatah kata pun. Begitulah kebiasaan makan, di keluarga kedua kyai sepuh tersebut.


Usai makan malam, mereka kemudian melanjutkan


mengobrol dan sepertinya kedua kyai sepuh tersebut masih betah untuk berlama-lama.


Berbeda dengan para wanita, yang sudah terlihat mulai mengantuk.


"Kang yai, bagaimana kalau hubungan yang sudah terjalin ini kita lanjutkan saja?" Tanya kyai Hasyim, pada sahabat nya yaitu kyai Zarkasyi.


Kyai sepuh mengernyit, begitu pun semua orang yang mendengar nya. Termasuk para wanita, yang kemudian membuka mata nya lebar-lebar. Rasa kantuk yang sempat mendera, hilang seketika dan menguap entah kemana?


"Maksud ku, bagaimana kalau kita menjodohkan gus Umar dan ning Zahwa?" Usul kyai Hasyim, seraya melirik sang cucu.


"Uhuk,, uhuk,,," Ning Zahwa tersedak air liur nya sendiri, mendengar penuturan eyang nya.


"Eyang, Zahwa kan baru semester empat...Zahwa masih ingin melanjutkan kuliah Zahwa dulu eyang, mungkin paling cepat dua tahun atau tiga tahun lagi baru lulus. Kasihan kak Umar kan, kalau lama menunggu Zahwa?!" Tolak ning Zahwa dengan halus, seraya memberikan alasan yang masuk akal. Ning Zahwa kemudian melirik sang kakak, meminta bantuan.


"Saya sependapat sama ning Zahwa abah, biar kan ning Zahwa mengejar cita-cita nya dahulu." Tutur kyai Abdullah yang memanggil kyai Hasyim dengan panggilan abah, yang mendukung keputusan ning Zahwa. Karena beliau memang sudah memiliki rencana untuk masa depan putra nya, yang sudah di bahas nya tadi bersama gus Umar.


"Benar apa yang abah yai sampai kan eyang, lagipula tanah kubur dik Zahra juga belum kering betul. Masak iya, kita malah sudah membicarakan perjodohan gus Umar?" Imbuh ning Najwa, yang juga tak menyetujui perjodohan adik bungsu nya dengan gus Umar.


Apalagi ning Najwa telah mengetahui, bahwa sang adik juga sudah memiliki seseorang yang berhasil menarik perhatian ning Zahwa di kampus nya. Sedangkan gus Umar sendiri, juga ternyata pernah memiliki seseorang yang berarti sebelum di jodohkan dengan adik kandung nya itu.


"Ning, kuliah kamu kan bisa lanjut di sini tho? Dan eyang pikir, ndak masalah kalau kamu menikah dan tetap melanjutkan kuliah. Bukan kah begitu gus Umar?" Kekeuh kyai Hasyim yang tak memperdulikan penolakan dari kedua cucu nya juga dari kyai Abdullah, dan langsung bertanya pada gus Umar. Hingga membuat putra sulung kyai Abdullah itu gelagapan.


Gus Umar sama sekali tak menyangka, bahwa obrolan tentang pernikahan diri nya justru di bahas sendiri oleh keluarga ning Zahra, bahkan di saat ning Zahra belum genap tujuh hari meninggalkan mereka semua.


Dan dari balik pintu kamar Laila yang sedikit terbuka, dimana kamar tersebut berada tak jauh dengan ruang keluarga.. Aida yang masih belum bisa memejamkan mata, mendengar dengan jelas semua obrolan tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana gus?" Desak kyai Hasyim, yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari gus Umar. "Sampean setuju menikah dengan ning Zahwa kan?"


bersambung,,,


__ADS_2