Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 81 ; Tiba-tiba Sakit Perut


__ADS_3

Di ruko,,, sepeninggal Laila, Aida yang masih berada di dapur tiba-tiba merasakan perut nya begitu sakit. "Aw,,," Aida meringis, seraya memegangi perut nya yang terasa sangat nyeri. Tangan kanan nya mencengkeram meja dapur dengan begitu kuat, sedangkan tangan kiri Aida memegang bagian perutnya.


"Neng Aida kenapa?" Tanya mbak Ning panik, yang baru saja masuk ke dapur setelah mengantar Laila ke depan sambil menunggu taksi online yang dipesan Laila datang.


"Perut Aida tiba-tiba sakit mbak, seperti ada yang mau keluar,,," terang Aida, dengan suara tercekat menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Apa memang sudah waktu nya neng?" Tanya mbak Ning, seraya menuntun Aida untuk duduk di kursi plastik yang berada di sudut dapur yang cukup sempit itu.


Aida menggeleng, "Aida tidak tahu mbak, kalau HPL nya sih masih minggu depan mbak," lirih Aida, yang masih terlihat sangat kesakitan.


"Assalamu'alaikum,,, mbak Ning, nak Aida, sudah jam segini kok belum buka warung?" Suara bu Dibyo terdengar memasuki ruko.


"Bu, kami di dapur," jawab mbak Ning dengan sedikit mengeraskan suara nya, mbak Ning masih membantu Aida untuk duduk dengan nyaman di kursi.


"Ya Allah,,, nak Aida kenapa mbak Ning?" Tanya bu Dibyo, begitu beliau sampai di dapur dan melihat mbak Ning tengah memegangi bahu Aida.. sedangkan Aida terlihat meringis menahan rasa sakit.


"Apa sudah mau melahirkan nak?" Lanjut bu Dibyo seraya mendekati Aida.


Mbak Ning pun sedikit mundur, memberikan ruang pada bu Dibyo agar bisa lebih dekat dengan Aida.


Aida menggeleng, "ndak tahu bu, HPL nya masih minggu depan," balas Aida, "dan rasa sakit nya tiba-tiba saja datang dan rasa nya sangat sakit bu, tidak seperti apa yang dikatakan bu Bidan.. yang kata nya seperti mules dan datang nya juga bertahap," keluh Aida, masih dengan menahan rasa sakit, hingga kening nya yang licin di penuhi oleh keringat dingin.


"Kita ke Bidan sekarang ya nak, sebentar ibu akan mencari bantuan," tanpa menunggu jawaban dari Aida, bu Dibyo langsung berjalan dengan cepat keluar dari ruko untuk meminta pertolongan.


Tak berapa lama, bu Dibyo telah kembali bersama mbak Ambar dan suami nya.


"Di bawa ke rumah sakit langsung bu?" Tanya mbak Ambar, seraya menatap prihatin wajah Aida yang mulai memucat.


"Ke tempat bu Bidan dulu mbak Ambar.. karena sejak awal beliau yang tahu perkembangan kehamilan nak Aida, lagi pula jarak nya sangat dekat dari sini... jadi nak Aida bisa cepat di tangani," balas bu Dibyo yang sering mengantar Aida memeriksakan kehamilan nya, karena sebelum nya Aida memang berencana ingin melahirkan di tempat bu Bidan tersebut.


"Oh, ya sudah. Ayo cepat mas, di bopong saja dik Aida nya," mbak Ambar menatap suami nya.


Mas Bari nampak telah bersiap di samping Aida.

__ADS_1


"Mbak Ning, tolong tas yang sudah disiapkan nak Aida di dalam kamar bawa ke mobil nya mas Bari," titah bu Dibyo kepada mbak Ning.


Mbak Ning mengangguk, "ya bu," balas mbak Ning.


"Mbak, tolong sama tas cangklong Aida," pinta Aida.


"Iya neng," mbak Ning pun bergegas menuju kamar Aida.


"Bisa jalan ndak nak, kalau tidak kuat biar dibopong sama mas Bari," bu Dibyo menatap khawatir pada Aida.


"Bisa kok bu, Aida jalan saja," tolak Aida, dan langsung beranjak dari tempat duduk nya. "Aida jalan saja mas, masih kuat kok," tegas Aida, karena mas Bari masih berdiri di samping nya.


"Ya udah, biar mbak papah," tawar mbak Ambar, "mas, sampean tunggu di mobil saja," pinta mbak Ambar pada sang suami.


Mas Bari pun segera keluar untuk membukakan pintu mobil.


Aida kemudian di papah sama mbak Ambar dan bu Dibyo untuk segera menuju mobil milik mbak Ambar, yang sudah terparkir di depan ruko.


"Mbak Ning di rumah saja ya, titip Bunga," titah bu Dibyo, setelah beliau dan Aida duduk di bangku belakang.


"Mbak Ning bawa ponsel Aida saja, nanti kalau ibu mau kasih kabar biar bisa langsung ke mbak Ning," Aida langsung mengambil ponsel nya dari dalam tas cangklong dan menyodorkan pada mbak Ning.


"Ini enggak apa-apa neng?" Tanya mbak Ning mengernyit.


"Enggak apa-apa mbak, toh ibu juga udah bawa ponsel," balas Aida.


Mbak Ning mengangguk, dan mobil yang dikendarai oleh mas Bari segera melesat meninggalkan area ruko untuk menuju rumah bu Bidan.


Di dalam mobil, Aida nampak duduk dengan tidak nyaman. Rasa sakit di perut nya terasa semakin hebat, hingga membuat calon ibu muda itu mendesis menahan rasa sakit agar diri nya tak sampai berteriak mengaduh.


Aida meletakkan tangan kanan nya pada perut bagian bawah yangΒ terasa sakitΒ dan kemudian membaca Bismillah tiga kali, kemudian berdo'a, β€œA'uudzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru." *)


"Sakit banget nak? Sabar ya, bentar lagi kita sampai," bu Dibyo mencoba menenangkan Aida seraya ikut mengelus dengan lembut perut Aida.

__ADS_1


Tak berapa lama, mereka pun tiba di kediaman bu Bidan yang memang jarak nya tak terlalu jauh dari ruko.


"Loh bu, itu pagar rumah bu Bidan kok di tutup nggih?" Mas Bari yang baru menghentikan mobil nya tepat di depan pintu gerbang yang terbuat dari besi teralis setinggi dada orang dewasa itu menoleh ke arah bu Dibyo, "kayak nya di gembok bu pagar nya," lanjut mas Bari.


"Mosok tho mas?" Bu Dibyo mencoba ikut melongok keluar, melalui jendela kaca di sebelah nya. "Iya ya mas," gumam bu Dibyo.


"Coba saya tak turun bu, saya cek langsung siapa tahu hanya gembok yang terpasang tapi tak di kunci," mas Bari bergegas turun untuk mengecek pintu pagar kediaman bu Bidan.


Sedetik kemudian mas Bari telah kembali seraya menggelengkan kepala nya, "bu Bidan seperti nya tindak bu, di pintu rumah sudah di pasang pemberitahuan kalau beliau tutup selama tiga hari," ucap mas Bari begitu memasuki mobil, dan mendudukkan diri di kursi pengemudi.


"Terus, ini mau kemana bu?" Tanya mas Bari, seraya melirik Aida yang menahan rasa sakit.


"Klinik bersalin terdekat, mau kan nak Aida?" Tanya bu Dibyo memastikan.


Aida hanya mengangguk, dia sama sekali tak dapat memikirkan harus bagaimana? Dan harus kemana?


"Apa tidak sebaik nya, di rumah sakit besar saja bu? Fasilitas nya kan lebih lengkap? Apa lagi dik Aida pernah ada riwayat pendarahan akibat jatuh beberapa bulan yang lalu kan?" Saran mas Bari, seraya melirik Aida yang masih saja meringis kesakitan.


"Bagaimana baik nya saja mas," balas Aida lirih.


"Kalau begitu, ayo cepat mas Bari. Kasihan nak Aida, sudah kesakitan sejak tadi," titah bu Dibyo.


"Nggih bu," balas mas Bari sopan, dan langsung melajukan kembali mobil nya melandas di jalan raya ibukota propinsi untuk menuju rumah sakit Teresa yang jarak nya tak terlalu jauh dari tempat mereka saat ini.


bersambung,,,


*) artinya : "Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang sedang aku rasakan dan yang aku khawatirkan" (HR. Muslim)


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Mohon maaf atas ketidak nyamanan nya menunggu novel ini kembali up, karena keterbatasan fisik yang mengharuskan ku untuk rehat sejenak.


Dan aku pun berharap banyak, semoga setelah ini bisa rutin up kembali.

__ADS_1


Makasih bestie, karena kalian masih setia menanti... πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2