
Begitu memasuki ruang observasi intensif, nyai Robi'ah langsung memeluk Aida yang sedang menangis. "Umi... kenapa semua ini harus terjadi pada Aida umi," lirih Aida terbata.
"Sabar ya nak, InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Putra mu pasti kuat nak, putra mu pasti bisa melalui semua ini. Dia akan segera sehat, dan kalian akan bisa segera bertemu dan berkumpul bersama," hibur nyai Robi'ah, seraya melerai pelukan nya.
"Kamu harus tenang nak, harus tetap semangat... agar bisa segera keluar dari ruangan ini, dan menemui putra mu nak. Semangat ya? Harus kuat, harus optimis. Bismillah,, nak Aida pasti bisa," nyai Robi'ah terus memberikan support, untuk sahabat dari putri nya itu.
Aida mengangguk, "InsyaAllah umi, Aida akan berusaha," balas Aida, mulai agak tenang.
"Ibu, makasih untuk semua nya ya bu," ucap Aida, pada bu Dibyo yang berdiri di sisi ranjang yang lain.
"Iya nak, jangan terlalu dipikirkan." Balas bu Dibyo seraya mengelus lengan Aida dengan lembut, "kamu juga anak ibu, kami semua menyayangi mu nak.. bukan kah begitu bu nyai," bu Dibyo menatap nyai Robi'ah.
"Benar bu Dibyo," nyai Robi'ah mengangguk, membenarkan ucapan bu Dibyo.
"Aida seneng banget, di kelilingi oleh orang-orang yang sayang sama Aida.. seperti umi dan juga ibu," lirih Aida, dengan netra yang kembali berkaca-kaca.
"Umi, apa umi sudah melihat bayi Aida?" Tanya Aida.
"Belum nak, abah yang sudah melihat putra mu dan mengadzani nya tadi." Balas nyai Robi'ah.
Aida mengangguk, "sampaikan terimakasih Aida pada abah umi," ucap Aida.
Nyai Robi'ah menggeleng, "ndak perlu berterima kasih nak, abah adalah orang tua mu.. kakek dari putra mu. Sudah seharusnya abah melakukan hal yang baik untuk cucu nya bukan?" Balas nyai Robi'ah, yang tak setuju Aida merasa sungkan dengan keluarga nya.
Aida tersenyum dengan air mata yang menetes di pipi nya, dan kemudian menggenggam tangan hangat nyai Robi'ah. Perhatian dan kasih sayang yang tulus yang diberikan keluarga dari sahabat nya, membuat Aida merasa terharu.
Bu Dibyo ikut meneteskan air mata, "seandainya nak Aida adalah istri nya gus Umar, alangkah bahagia nya nak Aida. Yang laki-laki santun, penuh perhatian dan kasih sayang.. yang perempuan lembut, ramah dan baik hati nya. Ya Allah, mungkinkah mereka bisa bersama suatu hari nanti?" Bu Dibyo bermonolog dalam diam.
"Nak, umi sama bu Dibyo keluar dulu ya.. gantian sama abah, dan juga Laila. Dia sudah ndak sabar ingin bertemu sama kamu tadi," pamit nyai Robi'ah.
"Nggih umi, terimakasih," balas Aida.
"Tapi ingat, jangan ada nangis-nangis lagi. Pikiran dah hati nak Aida harus tenang, biar bisa segera keluar dari sini." Nyai Robi'ah kembali mengingatkan sebelum melangkah pergi.
Aida mengangguk, dan tersenyum.
"Nak, ibu keluar dulu ya. Janji, harus kuat dan cepet sembuh," imbuh bu Retno.
"Makasih bu, InsyaAllah,,," balas Aida, seraya tersenyum.
__ADS_1
Dan kedua wanita paruh baya yang memiliki kelembutan hati itupun keluar, meninggalkan ruang perawatan khusus dimana saat ini Aida di rawat.
"Umi,,, bagaimana kondisi Aida?!" Tanya Laila, yang sudah tidak sabar ingin tahu keadaan sahabat nya.
"Alhamdulillah, sahabat mu sudah membaik." Balas nyai Robi'ah dengan perasaan lega, dan Laila yang mendengar nya pun ikut merasa kan kelegaan yang luar biasa.
"Sana masuk, tapi ingat.. jangan bikin dia nangis, hibur dia," titah nyai Robi'ah pada putri nya.
Laila pun segera masuk ke ruang observasi intensif tersebut, yang diiringi oleh kyai Abdullah.
"Aida,,," Laila langsung menghambur memeluk sahabat nya itu. Cukup lama Laila memeluk Aida, hingga membuat Aida protes karena merasa engap.
"Kamu tuh berat, tau gak sih?!" Aida mendorong pelan tubuh sahabat nya.
Laila terkekeh pelan, dan sedetik kemudian Laila cemberut. "Aku takut banget tau Da, pas di taman tadi."
"Ehmmm,,," kyai Abdullah berdeham, untuk mengingat kan putri nya agar tak membuat Aida kembali bersedih dan mengingat kejadian yang tak diharapkan seperti tadi.
"Eh abah," Aida mengangguk, menyapa kyai Abdullah. "Abah, makasih ya.. sudah mengadzani bayi Aida," ucap Aida dengan tulus.
"Tidak perlu sungkan seperti itu nak, sudah menjadi tugas abah sebagai orang tua mu," balas kyai Abdullah, yang memang telah menganggap putri nya paman Dahlan dan bibi Aini itu sebagai putri nya sendiri.
Sejenak kyai Abdullah terdiam, dan sesaat kemudian tersenyum. "Jika ibu nya sudah sehat, dan bisa menjenguk nya.. dia pasti akan segera sehat," balas kyai Abdullah diplomatis, "bayi mu, butuh kamu nak,, kamu harus segera pulih," lanjut kyai Abdullah menyemangati.
"Iya abah, mohon do'a nya untuk kami ya abah," pinta Aida dengan sungguh-sungguh.
"InsyaAllah nak,,, abah, umi, ning Laila dan juga gus Umar, kami semua akan selalu mendo'kan kalian berdua. Karena kalian bagian dari keluarga kami, dan kami sangat menyayangi kalian berdua nak," balas kyai Abdullah, seraya menepuk lembut punggung tangan Aida.
"Benar Da,, aku sayang banget sama kamu, cepet sehat ya," Laila kembali memeluk sahabat nya itu, "dan janji sama aku, nanti kamu harus pulang ke pesantren," Pinta Laila, dengan mengeratkan pelukan nya.
"Mana bisa begitu?" Protes Aida, berusaha melepaskan pelukan sahabat nya.
"Bisa, pokok nya harus bisa,,, oke?" Laila melepaskan pelukan nya dan kemudian mengacungkan jari kelingking nya, untuk dikaitkan dengan jadi kelingking Aida.. sebagai tanda kesepakatan.
"Enggak,, enggak! Pemaksaan itu nama nya," Aida pura-pura cemberut.
Sedangkan Laila mencibir, "Biarin..."
Kyai Abdullah tersenyum, melihat interaksi putri dan sahabat nya itu.
__ADS_1
Seorang suster, nampak mendekat.. "maaf, waktu kunjungan habis. Pasien harus banyak istirahat, agar cepat pulih," ucap suster tersebut, memperingatkan.
"Maaf sus, kapan Aida bisa di pindahkan kembali ke ruang perawatan nya semula?" Tanya Laila pada suster jaga tersebut.
"Kalau melihat kondisi mbak Aida yang sudah agak segar seperti ini, kemungkinan nanti sore sudah bisa pindah. Tapi harus nunggu diagnosa dari dokter nya dulu,,, dua jam lagi beliau visit, mohon bersabar ya?" Balas suster tersebut dengan tersenyum ramah.
Kyai Abdullah dan Laila mengangguk, "iya Sus, makasih," ucap Laila.
"Sebentar sus, masih ada yang mau saya sampaikan sedikit pada nak Aida," pinta kyai Abdullah, memohon kelonggaran waktu.
"Baik pak, silahkan.. tapi hanya sebentar ya?" Balas suster tersebut, memberi syarat.
Kyai Abdullah mengangguk, "iya sus, terimakasih."
"Ada apa bah?" Tanya Laila, yang penasaran dengan apa yang akan disampaikan sang abah pada sahabat nya.
Kyai Abdullah tersenyum, tapi tak menjawab pertanyaan putri nya.
"Nak, tadi sebelum abah masuk kemari.. nak Ryan berpesan pada abah," kyai Abdullah menyampaikan nya dengan hati-hati, netra teduh nya menatap Aida dengan tatapan hangat dan menenangkan.
"Nak Ryan minta sama abah, agar abah menyampaikan sama kamu,,, untuk memberi nya waktu bertemu kamu nak, sebentar saja," lanjut kyai Abdullah.
Aida diam, tak memberikan jawaban apapun.
"Nak Ryan, hanya ingin minta maaf nak.. seperti nya, dia sangat menyesali perbuatan nya di masa lalu." Imbuh kyai Abdullah.
Aida masih terdiam,,,
"Semua keputusan, ada di tangan kamu nak. Kamu yang menjalani, kamu yang merasakan.." kyai Abdullah kembali menatap Aida.
"Abah hanya bisa berpesan, bersihkan hati mu dengan memberikan maaf kepada orang yang telah berbuat salah kepada mu,,, karena itu akan membuat hati menjadi lebih tenang dan hidup menjadi damai."
"Allah telah berjanji akan memuliakan orang yang mau memaafkan, serta akan mengangkat derajat orang tersebut," pungkas kyai Abdullah.
Aida sejenak termenung, dan sesaat kemudian mengangguk, "nggih abah, Aida mau menemui mas Ryan," ucap Aida, sebelum kyai Abdullah dan Laila meninggalkan nya.
bersambung,,,
"Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah SWT akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya."Ā Ā (HR.Muslim)
__ADS_1