
"Ikut aja ya Da, please..." Laila menangkup kedua tangan di depan dada nya, penuh permohonan. Adik dari gus Umar itu sangat berharap, Aida mau ikut dengan umi nya untuk pulang ke pesantren karena Laila mengkhawatirkan keselamatan sahabat nya itu.
Aida menggeleng, "maaf La, aku di sini saja. Toh kamu bisa sering main kesini dan menemani aku kan? Kamu bisa menjadi malaikat tak bersayap ku, yang akan terus melindungi ku bukan?," Aida menaikkan kedua alis nya, seraya menatap Laila dengan senyuman jahil.. mencoba mengajak Laila bercanda.
Tapi lagi-lagi, Laila cemberut. "Garing tau!" Sungut nya kesal, tapi Aida malah semakin terkekeh.
Nyai Robi'ah dan bu Dibyo tersenyum, melihat kedekatan mereka berdua. Begitu juga dengan mbak Ning, yang ikut terkekeh pelan seraya menutup mulut nya.
"Jangan di paksa ning, toh kita bisa sering ke sini. Lagi pula, sudah ada keluarga bu Dibyo dan mbak Ning yang jagain Aida." Nyai Robi'ah menatap putri nya, mencoba memberikan pengertian.
Aida mengangguk, "terimakasih atas pengertian nya umi, untuk sementara Aida akan tetap tinggal di ruko." Pungkas Aida.
@@@@@
Di rumah sakit, ning Zahra terlihat sangat bersemangat dan keinginan nya untuk cepat sehat kembali naik berkali-kali lipat di banding kan sebelum-sebelum nya yang bahkan bisa di bilang pasrah saja dan cenderung menyerah dengan penyakit kanker yang menggerogoti tubuh nya.
Dan hal itu ning Zahra rasakan, setelah pertemuan nya dengan Aida. Sikap Aida yang santun, pembawaan nya yang selalu tersenyum.. membuat ning Zahra tak ragu lagi memilih Aida untuk menjadi madu nya.
Gus Umar yang baru saja kembali dari luar dan mendapati istri nya itu senyum-senyum sendiri pun bertanya, "ada apa ning?" Gus Umar mendudukkan diri di kursi, yang berada di samping ranjang pasien seperti biasa nya.
"Gus, tadi kan dokter mengatakan... kalau perkembangan kesehatan ku sangat bagus, dan beberapa hari lagi sudah boleh pulang. Kita akan tetap pulang ke kontrakan, apa pulang ke pesantren?" Tanya ning Zahra.
"Tergantung apa kata dokter nanti ning, jika kamu masih harus terapi atau sering kontrol.. sebaik nya kita balik ke kontrakan, biar enggak terlalu jauh," balas gus Umar, "enggak apa-apa kan, jika untuk sementara kita masih di kontrakan?" Lanjut gus Umar bertanya.
__ADS_1
Ning Zahra mengangguk, "enggak apa-apa gus," balas ning Zahra, masih dengan senyum nya yang mengembang.
Hening menyapa ruang rawat yang serba putih itu, masing-masing terdiam dan tak ada yang memulai untuk berbicara. Keheningan itu tercipta cukup lama, karena masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Gus, gimana Aida menurut jenengan?" Tanya ning Zahra mengurai keheningan, setelah cukup lama mereka saling terdiam.
Gus Umar bergeming, sama sekali tak tertarik untuk menjawab pertanyaan sang istri.
"Dia masih sangat muda ya gus, seusia Laila kan? Seusia Najwa juga berarti ya? Tapi di usia semuda itu Aida sudah harus berjuang sendiri untuk hidup nya, mana lagi hamil pula? Dia wanita yang tangguh ya gus? Hafalan Aida juga sangat bagus loh gus, dia salah satu santri putri terbaik."
Ning Zahra terus saja berbicara, mengulik semua kelebihan yang Aida miliki.. berharap, sang suami tertarik untuk menimpali perkataan nya dan terciptalah obrolan yang akan mengarah pada perjodohan yang ning Zahra cetus kan untuk gus Umar dan Aida.
Tapi ternyata dugaan ning Zahra salah, karena gus Umar sama sekali tak menanggapi ucapan nya yang panjang lebar menceritakan semua hal tentang Aida. Suami nya itu tetap terdiam, tanpa ada keinginan untuk membuka suara.
Setelah memastikan, bahwa ning Zahra benar-benar telah terlelap,, gus Umar membetulkan selimut dan menutupi tubuh sang istri hingga sebatas perut, setelah itu gus Umar menuju sofa dan mendudukkan diri nya di sana.
Gus Umar memandangi tubuh lemah sang istri dari tempat nya duduk, dan sedetik kemudian pemuda kharismatik itu menghembuskan nafas nya kuat-kuat. "Kamu sekarang berubah ning, bukan seperti Zahra yang pertama kali ku kenal. Zahra yang tak banyak bicara, Zahra yang hanya bisa pasrah dan penurut."
"Sekarang kamu jadi suka banyak bicara, banyak mau nya,,, bahkan terkadang, sangat sulit untuk ku mengerti," keluh gus Umar, seraya memijat kening nya.
Entahlah, akhir-akhir ini, gus Umar merasa sering pusing, dan kepala nya berdenyut-denyut tak karuan.
Apa lagi jika ning Zahra sudah membicarakan tentang Aida, kepala gus Umar rasa nya seperti mau pecah!
__ADS_1
Memiliki satu istri, yang sakit-sakitan saja sudah membuat pikiran nya tak tenang. Lantas bagaimana jika dia menuruti keinginan konyol sang istri untuk menikah lagi? Bukan nya menyelesaikan masalah, tapi justru akan semakin memperunyam keadaan bukan?
Terlebih, jika yang akan dinikahi adalah seseorang yang sangat istimewa di masa lalu nya. "huh..." gus Umar, mendesah kasar dan kemudian membaringkan tubuh lelah nya di atas sofa.
Lelah fisik dan juga lelah psikis, membuat gus Umar begitu cepat terlelap.
@@@@@
Di kediaman Ryan, putra bungsu bu Retno itu masih disibukkan dengan pencarian nya terhadap Aida. Sempat terbersit untuk melapor dan meminta bantuan pada pihak yang berwajib, karena pencarian nya selama berhari-hari ini belum juga membuahkan hasil. Namun Ryan segera menepis niat nya tersebut.
"Aku yang salah karena tidak mempercayai nya, aku yang salah karena telah mengusir nya dari rumah. Dan jika aku lapor polisi, bukan kah itu sama saja dengan aku bunuh diri?! Bagaimana jika dia menuntut? Menuntut atas perlakuan ku yang tak adil pada nya? Perlakuan ku yang telah dengan sengaja menyia-nyiakan nya?" Ryan meremas rambut nya kuat-kuat, buntu... dia sama sekali tak dapat berpikir.
Mau minta tolong sama kakak-kakak nya, mbak Ira bahkan terus menyalahkan nya dan menceritakan pada kakak nya yang lain tentang kebodohan nya.. hingga ketiga kakak nya yang lain pun ikut menghakimi nya.
Mbak Ira bahkan malam itu juga, langsung mengusir Mirna dari kediaman nya di ibukota, "Serigala berbulu domba kok di piara! Kamu sendiri kan yang rugi!" Teriak mbak Ira, yang kala itu seperti orang kesetanan.
Dan setelah nya mbak Ira mengomel panjang pendek tiada henti,, "kamu itu sudah beruntung punya istri masih muda, cantik, sholehah, enggak banyak nuntut.. pandai melayani kamu lagi, apa kurang nya istri kecil mu Ryan?!"
Saat itu, omelan mbak Ira Ryan anggap sebagai angin lalu.. tapi sekarang? Sungguh apa yang dikatakan oleh mbak Ira, semua nya benar ada nya. "Apa kurang nya Aida? Tidak ada,, sama sekali tak ada cela dan kurang nya. Tapi kalau kelebihan nya? Banyak, banyak sekali." Gumam Ryan.
"Aku rindu senyum nya, aku rindu tutur lembut nya, aku rindu masakan nya, aku rindu suara merdu nya saat mengaji, dan aku juga rindu kecerewetan nya saat mengajakku untuk sholat,,," sejenak Ryan terdiam.
"Sholat?? Apa kah aku harus sholat, agar aku bisa menemukan Aida?"
__ADS_1
bersambung,,,