
"Nduk, kamu harus segera mengambil keputusan.. demi keselamatan ibu mu nduk," desak bu Retno, menatap Aida yang tengah gundah menimbang-nimbang
Akhir nya Aida membulat kan tekad nya, "tak mengapa, kami kehilangan rumah peninggalan ayah satu-satu nya.. yang penting nyawa ibu terselamatkan," gumam Aida dalam hati.
"Bagaiman nduk?" Tanya bu Retno.
Aida mengangguk, "ya bu, saya setuju jika memang itu satu-satu nya jalan agar ibu saya bisa diselamatkan," balas Aida.
Bu Retno tersenyum lebar, "bagus, ibu akan menghubungi anak ibu yang tinggal di sini agar membawa kan uang nya," ucap bu Retno dan kemudian wanita paruh baya itu menelpon putra nya.
Dan siang itu, Aida mengatakan persetujuan nya pada dokter agar segera di ambil tindakan untuk sang ibu.
@@@@@
Keesokan hari nya, mbak Ning datang bersama sopir nya bu Retno membawa kan sertifikat rumah milik keluarga Aida.
"Bu, sertifikat nya saya beri kan nanti, setelah uang nya saya terima nggih," ucap Aida sopan.
"Iya nduk, ndak apa-apa. Kamu pegang saja, ibu cuma pengin lihat untuk memastikan luas tanah nya," balas bu Retno seraya tersenyum hangat.
"Oh ya nduk, ibu mau keluar dulu ya.. mau cari makan," pamit bu Retno pada Aida, seraya mengajak sopir nya.
Tinggal lah di ruang tunggu ruang rawat inap bibi Aini, Aida dan mbak Ning berdua saja.
"Oh ya neng, tadi ada yang nganterin undangan ke rumah." Ucap mbak Ning yang teringat pada undangan yang dibawa nya dari rumah, mbak Ning segera mengambil nya dari dalam tas.
"Dari siapa mbak?" Tanya Aida penasaran.
"Ndak tahu neng, yang nganterin pakai sarung kayak kang santri gitu,,," balas mbak Ning yang memang tidak bisa membaca itu.
__ADS_1
Aida kemudian menerima undangan yang disodorkan mbak Ning kepada nya, dan dengan hati berdebar-debar Aida segera membuka undangan tersebut. Deg.. jantung Aida seolah berhenti berdetak, tatkala netra bening nya menangkap nama gus Umar dan ning Zahra di dalam undangan tersebut.
"Sebentar lagi sampean akan menikah gus,,, sanggupkah aku melanjutkan ngajiku di pesantren, jika nanti nya setiap hari aku harus melihat sampean bersanding dengan wanita lain?"
Aida menatap nanar undangan di tangan nya yang gemetaran.
"Dari siapa neng?" Tanya mbak Ning penuh selidik, karena melihat perubahan wajah Aida.
"Bukan siapa-siapa mbak, anak teman nya ayah mau nikah," balas Aida yang memang tidak berbohong, karena benar gus Umar adalah putra dari teman ayah nya.
Aida kemudian buru-buru memasukkan undangan tersebut ke dalam tas milik nya.
Tak berapa lama, bu Retno datang bersama sopir nya. Dan kemudian mengajak mbak Ning untuk pulang, karena jam besuk sudah berakhir.
Setelah kepergian mbak Ning dan sopir bu Retno, seorang dokter dan petugas bagian administrasi datang untuk menemui keluarga pasien. Mereka hendak menjelaskan tindakan apa saja yang akan di ambil untuk pasien, serta rincian biaya yang harus di tanggung.
Aida dengan ditemani bu Retno mendengarkan penjelasan dari dokter dan petugas administrasi rumah sakit tersebut.
Bu Retno segera menerima nya, "duduk lah," titah nya dengan berbisik kepada sang putra agar ikut duduk bersama mereka.
Laki-laki muda itu pun menurut, dan ikut duduk di samping ibu nya. Tatapan mata laki-laki muda itu terus tertuju pada Aida, "Aida,, sudah besar dia rupa nya," gumam nya dalam hati, senyum simpul terbit di sudut bibir nya.
"Jadi karena ada dua sumbatan pada arteri, maka harus di pasang dua ring.. dan biaya nya sekitar seratus sembilan puluh juta, itu belum termasuk biaya lain-lain. Dan mbak Aida bisa membayar nya separo dulu dan tanda tangani berkas ini," jelas petugas administrasi tersebut setelah dokter memberikan penjelasan secara rinci tindakan yang akan di ambil untuk bibi Aini, seraya menyodorkan formulir kepada Aida.
Aida tak langsung menerima nya, hanya air mata yang terus menetes yang mewakili perasaan nya saat ini, "bahkan uang hasil jual rumah pun tak cukup untuk membayar biaya pasang ring? Belum lagi biaya untuk perawatan lanjutan? Aku harus bagaimana ini?"
"Maaf dok, mas,, bisa beri kami waktu sampai besok pagi?" Pinta bu Retno, mewakili Aida yang tak mampu berkata-kata.
"Baiklah bu, kami tunggu keputusan dari pihak keluarga secepat nya. Karena kalau tidak segera di ambil tindakan, kami khawatir nyawa bu Aini tidak dapat diselamatkan," ucap dokter tersebut dengan prihatin.
__ADS_1
"Baik dok, kami akan segera memberi kabar," balas bu Retno.
Dokter dan petugas administrasi tersebut kemudian meninggalkan ruang tunggu ruang rawat bibi Aini, dan tangis Aida langsung pecah di sana.
Dengan lembut, bu Retno mengelus punggung Aida. Sejati nya wanita paruh baya itu pun menaruh rasa iba pada Aida, namun di sisi yang lain sifat tamak nya mengalahkan rasa belas kasih nya.
Terlihat putra bu Retno berbisik pada ibu nya, dan bu Retno kemudian pamit pada Aida untuk bicara empat mata dengan putra nya.
Entah apa yang di bicara kan ibu dan anak di luar ruang perawatan bu Aini tersebut, Aida tak hendak mengetahui nya. Yang dipikirkan Aida saat ini hanya lah bagaimana cara nya sang ibu bisa segera mendapatkan penanganan agar nyawa nya bisa di selamatkan?
Aida bahkan tak sempat memegang ponsel yang sering bergetar sedari kemarin di dalam tas milik nya, hingga getaran tersebut akhir nya berhenti sendiri karena ponsel Aida kehabisan daya.
Bu Retno dan putra nya masuk ke dalam ruang tunggu tersebut, dan menyadarkan Aida dari lamunan nya.
"Nduk, bisa kita bicara?" Lirih bu Retno seraya menjatuhkan tubuh nya di samping Aida.
Aida menoleh pada bu Retno dan mengangguk.
"Kamu masih ingat anak ibu ini kan? Mas Ryan?" Tanya bu Retno menatap Aida.
Aida mengernyit, dan kemudian mengangguk. "Ya bu, yang istri nya mantan model majalah itu kan?" Tanya Aida memastikan.
Bu Retno mengangguk, "ya, tapi mereka sudah pisah." Balas bu Retno dengan tatapan sendu, "istri nya Ryan tidak bisa menerima, karena suaminya di vonis dokter tidak bisa memiliki anak. Dan dia minggat dari rumah," lanjut bu Retno.
Aida mengernyit, belum tahu arah pembicaraan bu Retno.
"Mas Ryan akan menanggung semua biaya pengobatan ibu mu selama di rawat di rumah sakit, asalkan kamu mau menerima lamaran mas Ryan untuk menjadi istri nya," ucap bu Retno dengan lugas. "Ibu berharap kamu mau menerima lamaran anak ibu Aida, karena anak ibu butuh istri yang mau mendampingi dan menerima kekurangan nya. Dan dengan merasa memiliki hutang budi, kamu pasti akan setia pada Ryan," gumam bu Retno dalam hati.
Aida seakan tak percaya mendengar perkataan bu Retno, gadis belia itu menatap bu Retno untuk meminta penjelasan.
__ADS_1
"Ya, dik Aida.. menikah lah dengan ku, dan aku yang akan menanggung semua biaya perawatan ibumu. Sehingga kamu tidak perlu menjual rumah orang tua mu," ucap Ryan dengan sungguh-sungguh.
bersambung,,,