
Waktu terus berlalu, ning Zahra pun telah di perbolehkan pulang karena kondisi nya sudah sangat baik. Dan karena jadwal kontrol nya cukup dua minggu sekali, maka gus Umar memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka di lingkungan pesantren.
Selain itu, gus Umar juga harus segera kembali mengajar,, sebab sudah terlalu lama putra pertama kyai Abdullah itu meninggalkan tugas nya mengajar, baik di pesantren maupun di sekolah yayasan milik keluarga nya tersebut.
Laila pun ikut pulang, karena kebetulan weekend dan libur dua hari.
Namun sebelum pulang ke pesantren, ning Zahra ngotot ingin mampir dulu ke ruko nya Aida. Akhir nya, dengan sangat terpaksa,,, gus Umar mengikuti kemauan istri nya, yang akhir-akhir ini sering merajuk.
Sesampainya di ruko, warung makan milik Aida terlihat sangat ramai.. namun Aida tak terlihat melayani pembeli. Hanya ada mbak Ning dan seorang ibu-ibu yang membantu mbak Ning di sana.
Laila yang mengiringi langkah ning Zahra masuk ke ruko dengan mengucap salam, "assalamu'alaikum,,,"
"Wa'alaikumsalam,,," balas mbak Ning, sejenak menoleh kearah sumber suara dan tersenyum ramah. "Silahkan langsung masuk saja ning Laila," pinta mbak Ning, sambil membungkus nasi.
"Siap mbak Ning," balas Laila, "lagi rame ya mbak?" Tanya Laila dengan senyum nya yang mengembang.
"Alhamdulillah ning," balas mbak Ning penuh rasa syukur.
Laila langsung menuntun ning Zahra untuk masuk ke bagian dalam ruko, dan menemukan Aida tengah ngobrol bersama bu Dibyo.
"Da,,," sapa Laila.
"Eh La,," Aida yang sedang menghadap televisi langsung menoleh, "oh, sama mbak Zahra tho? Kapan keluar dari rumah sakit mbak? Sudah sehat?" Tanya Aida, seraya beranjak dan kemudian menyalami mbak Ning.
"Ini baru keluar dan langsung ke sini," balas Laila, mewakili sang kakak ipar.
Ning Zahra tersenyum dan mengangguk, "Alhamdulillah mbak sudah sehat dik," imbuh ning Zahra.
Setelah bersalaman dengan Aida dan bu Dibyo, Laila dan ning Zahra kemudian duduk di lantai yang beralaskan matras tipis.
__ADS_1
"Da, yang di depan sedang bantuin mbak Ning siapa?" Tanya Laila, sesaat setelah diri nya duduk di samping Laila.
"Oh,, itu tetangga nya ibu, memang bantu-bantu di depan karena aku kan sekarang gak di bolehin bantu-bantu di warung." Balas Aida seraya melirik bu Dibyo, "mbak Ning masih khawatir aja, takut anak buah nya mas Ryan balik lagi ke sini dan mereka menemukan aku," lanjut Aida.
Laila mengangguk, "iyalah, bener itu apa kata mbak Ning. Kamu jangan sering keluar dulu, dan kalau terpaksa harus keluar,, jangan lupa pakai pelindung wajah," ucap Laila.
"Mas Ryan itu siapa? Kenapa anak buah nya mencari dik Aida?" Tanya ning Zahra, mulai kepo.
Mbak Ning datang, dengan membawa minuman dalam botol serta kue kering,, dan menguapkan pertanyaan ning Zahra. Mbak Ning kemudian meletakkan minuman dan kue kering tersebut di hadapan tamu nya Aida, "silahkan ning Laila, teh dingin," ucap mbak Ning dengan ramah.
"Iya mbak Ning, pakai repot-repot segala. Kalau haus, Laila kan bisa ambil sendiri mbak," ucap Laila.
"Enggak repot kok ning,," mbak Ning tersenyum, "oh ya, itu gus Umar nya kok enggak di ajak masuk sekalian?" Tanya mbak Ning, seraya menunjuk arah luar.
"Gus Umar itu kakak nya nak Laila?" Tanya bu Dibyo, yang memang belum pernah bertemu gus Umar.. tapi sempat beberapa kali dengar nama nya di sebut, saat mengobrol dengan nyai Robi'ah beberapa waktu yang lalu.
"Benar bu, dan ini istri kak Umar," Laila menepuk paha sang kakak ipar.
"Oh,, ya, ya. Kalau gitu, biar ibu saja yang menyuruh masuk." Tawar bu Dibyo, "silahkan diminum nak Laila, mbak.. saya sekalian mau bantu-bantu mbak Ning di depan, seperti nya warung lagi rame," bu Dibyo segera beranjak, dan mengikuti langkah mbak Ning.
Bu Dibyo segera mempersilahkan gus Umar untuk masuk ke dalam, dan menunjuk kan jalan nya.
"Assalamu'laikum,," ucap salam gus Umar, dengan suara nya yang berat.
"Wa'alaikumsalam,," balas mereka kompak.
"Silahkan duduk gus, maaf.. tempat nya seadanya," ucap Aida dengan ramah, mencoba bersikap setenang mungkin. "The story is over Da,, santuy..." bisik Aida dalam hati.
Gus Umar pun duduk, mengambil tempat yang paling jauh dari Aida.
__ADS_1
"Tinggal di sini betah dik?" Tanya ning Zahra dengan rasa penasaran.
Aida mengangguk, "Alhamdulillah mbak, tetangga di sini ramah-ramah," balas Aida dengan jujur, tapi ada rasa tidak nyaman saat bersitatap dengan ning Zahra.
Aida kembali mengingat percakapan nya dengan ning Zahra saat di rumah sakit, dan tatapan ning Zahra yang terus di tujukan pada diri nya dan gus Umar bergantian.. membuat Aida sedikit berpikiran negatif.
"Cukup Da,,, don't think too far," hibur Aida pada diri nya sendiri. "Everything is gonna be okay, Da... kamu pasti bisa jadi single parent, kamu enggak butuh orang lain," lanjut nya bergumam dalam hati.
Dan obrolan selanjut nya pun terlihat canggung, ning Zahra yang mendominasi dan Aida yang terus menjaga jarak dan membentengi diri.. mencoba menghindar dari segala kemungkinan yang dia simpulkan setelah pertemuan pertama nya dengan ning Zahra saat mereka berdua sama-sama di rawat di rumah sakit.
Kesimpulan yang membuat ingatan Aida tentang kisah masa lalu nya, yang sudah dia simpan rapat-rapat di kedalaman hati,, harus kembali menyeruak dan memenuhi benak nya.
Berkali-kali Aida terdengar manarik nafas panjang, dan menghembus nya dengan kasar. Seakan hendak membuang beban berat yang memenuhi banak nya, menghempas energi negatif yang mencoba meracuni hati nya. "Jangan terpengaruh dengan apapun Da, enjoy your life,,," lagi, Aida bergumam dalam hati.
Gus Umar hanya bisa diam, dan menatap Aida dengan perasaan tak enak hati.
Pun dengan Laila, yang juga memilih untuk diam. Pada hal sesungguh nya sahabat Aida itu pun merasa jengah dengan sikap kakak ipar nya yang terkesan sedikit arogan.
"Kok, mbak Zahra sekarang jadi pemaksa gini ya kak?" Keluh Laila, dengan berbisik pada sang kakak.
Gus Umar mengedikkan bahu nya, "ajak mbak mu pulang sekarang dik," titah gus Umar kemudian, seraya hendak beranjak.
"Mbak, kita pulang yu." Ajak Laila, "dokter bilang, mbak Zahra kan masih harus banyak istirahat." Laila mengingat kan sang kakak ipar.
"Iya dik, bentar lagi yah,,, lagi seru nih ngobrol nya," tolak ning Zahra.
Aida mendesah pelan, "seru dimana nya? Yang ada, kepala ku rasa nya berputar-putar mbak... mendengar kan pembicaraan sampean yang enggak ada habis nya," keluh Aida, bergumam dalam hati.
"Sabar Da,, sabar,,, perbanyak stok sabar mu. Jangan menghakimi sikap mbak Zahra yang seperti ini, bisa jadi ini karena akumulasi dari berbagai macam kejadian yang menimpa nya. Think positive, Da,,," Aida kembali membesarkan hati nya sendiri, dan mencoba untuk bersikap bijak.. dengan menjadi pendengar setia, karena ning Zahra masih saja melanjutkan obrolan yang di dominasi nya itu.
__ADS_1
bersambung,,,