
Setelah menikah, Aida kemudian melanjutkan cita-cita nya untuk melanyahkan hafalan Al-Qur'an yang sudah dirampungkan nya dibawah bimbingan ustadzah Zulaikhah sewaktu diri nya masih tinggal di ibukota bersama Ryan.
Dan gus Umar menyambut baik serta memberikan dukungan penuh kepada sang istri, dan Aida kemudian mendapatkan jadwal khusus dari umi nyai sehingga Aida muroja'ah dibawah bimbingan nyai Robi'ah langsung.
Di bulan kedua, gus Umar pun kemudian mendaftar kuliah kembali untuk mengambil S2 demi melanjutkan cita-cita yang sempat tertunda karena menikah dengan ning Zahra dan setelah itu diri nya juga harus fokus merawat istrinya yang sakit-sakitan itu.
Aida tentu sangat mendukung keputusan suami nya tersebut, apalagi mereka telah sepakat untuk menunda kehamilan Aida sampai beberapa tahun ke depan atas saran dari dokter. Sehingga saat ini, mereka berdua bisa fokus terlebih dahulu dalam mengejar cita-cita.
Gus Umar lebih memilih mengambil kelas weekend, karena putra sulung kyai Abdullah itu telah memiliki tanggung jawab di pesantren dan juga di yayasan pendidikan. Pun gus Umar tidak mau berpisah lama-lama dengan sang istri, yang selalu bisa membuat nya tersenyum itu.
Ya, dibalik sikap pemalu Aida di luar sana.. ternyata istri gus Umar itu pandai merayu suami dan berani menggoda terlebih dahulu, hal itu diketahui oleh gus Umar setelah beberapa hari pernikahan nya.
Dan gus Umar dibuat geleng-geleng kepala mengetahui hal tersebut, gus Umar bahkan tak henti tersenyum sepanjang malam seraya menciumi puncak kepala sang istri setelah penyatuan yang membuat gus Umar selalu ketagihan dan ingin mengulang nya lagi dan lagi.
"Belajar dari mana kamu hem?" Bisik gus Umar, setelah dirinya puas dicumbui oleh sang istri dan mereka berdua telah selesai mencapai pelepasan bersama.
"Dari pengajian yang di ampu umi," balas Aida, yang tangan nya masih saja nakal menelusuri bagian sensitif tubuh kekar sang suami. Hingga membuat gai*rah gus Umar kembali bangkit.
Ya, selain mengajar mengaji Al-Qur'an khusus santri putri, nyai Robi'ah juga mengampu pengajian kitab kuning khusus untuk para santri putri yang sudah dewasa.
Nyai Robi'ah mengampu Kitab Qurrotul Uyun, yang disusun oleh Syekh Muhammad at-Tahami Ibnu Madani. Kitab yangย merupakan salah satu kajian ilmu fikih, dan dalam kitab tersebut membahas tentang konsep hubungan seksual antara suami dan istri sesuai syariatย Islam.
Gus Umar masih ingat betul malam pertama nya kala itu, dimana sang istri masih sangat malu-malu bahkan tubuh wanita cantik itu sampai bergetar saking grogi nya saat gus Umar pertama kali menyentuh dan menyatukan wajah. Gus Umar sendiri juga grogi, hingga bibir nya bergetar.
"Sayang, apa kamu sudah siap untuk menjadi istri ku yang seutuhnya?" Bisik gus Umar tepat di telinga sang istri, tangan gus Umar yang menangkup kedua sisi pundak sang istri pun nampak bergetar.
Wajah Aida langsung merona merah, dan dengan gugup wanita yang sudah sangat lama menghuni hati gus Umar itu mengangguk perlahan. "Nggih kak, monggo," balas Aida sangat lirih, sesaat setelah kedua nya selesai menjalankan sholat sunat di malam pertama mereka.
__ADS_1
Gus Umar langsung memeluk Aida dengan erat, gus Umar dapat merasakan debaran jantung sang istri yang begitu kencang, begitu pula dengan Aida yang dapat merasakan debaran jantung gus Umar.
Gus Umar tersenyum tipis, "aku belum berbuat apa-apa, baru ciuman bibir sekilas tadi sebelum sholat,,, tapi jantung kami sudah seperti ini? Seperti habis mengikuti lomba lari marathon saja," gumam gus Umar dalam hati.
Gus Umar melerai pelukan nya, menangkup kedua sisi pipi Aida dan menatap netra indah sang istri dalam keremangan cahaya kamar.
"Ana uhibbuka fillah, sayang,,," bisik gus Umar lembut, "aku menyayangimu dengan sepenuh hatiku dik, dan aku ingin bisa membuatmu bahagia dan selalu tersenyum," lanjut gus Umar, yang membuat jantung Aida semakin berdebar kencang.
Perasaan Aida membuncah bahagia dan kebahagiaan nya kini, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. "Aida juga mencintai kak Umar, dan Aida sangat bahagia bisa menjadi istri kak Umar," balas Aida dengan netra berkaca-kaca.
Gus Umar kemudian dengan perlahan mencium kening sang istri, mencium kedua kelopak mata nya, bibir gus Umar menyusuri hidung bangir Aida dan berhenti tepat di bibir tipis sang istri. Dan dengan gerakan lembut, gus Umar melu*mat bibir sang istri dengan penuh cinta.
Debaran jantung kedua nya semakin kencang, disertai dengan hembusan nafas yang mulai memburu. Gus Umar kemudian membimbing sang istri, yang terkesan masih malu-malu itu menuju ranjang pengantin milik mereka berdua.
Gus Umar memang bukan laki-laki pertama yang menyentuh Aida, Begitu pun sebaliknya. Namun karena perasaan cinta tulus yang datang dari dalam hati, membuat jantung kedua nya berdebar kencang ketika mereka berdekatan apalagi sampai bersentuhan.
Hal itulah yang membuat gus Umar tidak betah berlama-lama meninggalkan sang istri, bahkan gus Umar setiap selesai mengaji akan langsung pulang ke kediaman nya. Dan jika ada santri yang ingin berdiskusi dengan diri nya, gus Umar memberikan waktu di siang hari.
Meski usia pernikahan mereka sudah hampir mencapai satu tahun, namun setiap kali berdekatan,,, mereka berdua masih saja berdebar-debar, layak nya pasangan remaja yang sedang jatuh cinta.
"Kak, jangan seperti ini,,, geli ah," rajuk Aida, kala dia sedang memasak di dapur dan gus Umar tiba-tiba memeluk nya dari belakang.
"Sayang, kamu enggak ada agenda sama umi kan hari ini?" Tanya gus Umar dengan berbisik.
Aida menggeleng, "belum tahu kak, kadang umi dadakan ngajak nya," balas Aida jujur. "Memang nya kenapa kak?" Tanya Aida seraya membalikkan badan, memandang wajah putih bersih milik sang suami yang baru pulang dari masjid usai mengajar mengkaji kitab suci Al-Qur'an.
"Aku ingin menghabiskan weekend ini hanya berdua bersamamu, selagi kuliah ku weekend ini libur. Dan aku enggak mau ada yang mengganggu kita," balas gus Umar.
__ADS_1
"Kalau di rumah gini, mana bisa kak? Pasti ada aja yang nyari kak Umar kan? Ya santri, ya tamu.. kadang juga umi," balas Aida.
"Ya, kamu benar dik. Bagaimana kalau kita honeymoon?" Bibir gus Umar menyunggingkan senyum lebar.
Aida mengernyit, "kayak pengantin baru aja kak, honeymoon segala? Kita kan pengantin lawas kak, udah hampir setahun lho kita menikah," balas Aida seraya terkekeh pelan, sambil meneruskan menumis bumbu untuk menggoreng nasi. Karena gus Umar pagi ini, minta di masakin nasi goreng ayam kampung.
"Tapi bagi ku, kamu tetap pengantin baru ku sayang.. rasa nya tuh masih sama, legit dan menggigit," bisik gus Umar seraya mulai mencumbui tengkuk sang istri, hingga membuat Aida merinding karena kegelian.
"Kak, ini nanti gosong bumbu nya?" Protes Aida.
"Tak mengapa gosong, pasti tetap enak.. karena kamu memasak nya dengan bumbu cinta," balas gus Umar, yang masih tetap mencumbui sang istri.
๐น๐น๐น๐น๐น
Hemmm,,, dunia, serasa milik berdua ya gus ๐ฅฐ๐ฅฐ
Dan berikut pemenang give away pulsa senilai @25rb bagi pendukung novel ini yang mendapat kan julukan FANS, seperti yang telah aku janjikan.
Aku tunggu konfirmasi nya via chat atau bisa langsung ke wasslap ku ya...
Give away ini berlaku juga untuk novel ku yang masih on going ya.. BERTAHAN ATAU LEPASKAN_ yang menuju ending.
Yuk, dapatkan voucher pulsa dengan menjadi pendukung yang mendapat julukan FANS ๐๐๐
Makasih untuk semua nya, i love you all ๐ค๐๐
__ADS_1