Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 6 : Tatapan Mata yang Penuh Luka


__ADS_3

Dahulu gus Umar sebelum kuliah di Madinah juga sering berkunjung ke rumah bibi Aini, dan orang tua nya Aida itu pasti akan langsung mengajak makan bila gus Umar dan Laila datang.. dan mereka kemudian akan menghabiskan waktu dengan mengobrol hangat di meja makan, untuk itulah gus Umar tak merasa canggung menyusul adik nya ke ruang makan.


Dan saat melihat Aida yang tanpa memakai hijab dan kemudian berlari kembali ke kamar karena malu pada diri nya, membuat gus Umar memalingkan wajah nya seraya tersenyum simpul. "Cantik dan menarik, rambut nya panjang dan bagus," bisik gus Umar dalam hati, mengagumi kecantikan Aida.


Gus Umar masih berdiri terpaku di belakang Laila, dan tak menyadari kehadiran Aida yang telah kembali dari kamar dan sudah menutup aurat nya dengan hijab simpel.


"Gus, silahkan duduk," ucap Aida dengan lembut, namun mampu membuyarkan lamunan gus Umar.


"Astaghfirullaahaal'adziim..." gus Umar segera mengucap istighfar dengan berbisik, tatkala menyadari bahwa diri nya telah membayangkan wajah ayu Aida. Gus Umar kemudian duduk di samping sang adik, dan tidak berani menatap Aida.


Hening menyapa ruang makan tersebut, ketiga nya terdiam dan tak satupun yang bersuara.


"Da, bibi kemana?" Tanya Laila memecah keheningan, setelah beberapa saat mereka bertiga terdiam.


"Tadi sih mau sholat di kamar, coba aku lihat dulu.. barangkali ibu udah selesai sholat nya," Aida segera beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan menuju kamar sang ibu.


Tak lama kemudian Aida telah kembali bersama wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun, yang mengekor di belakang nya.


"Oh, ada ning Laila sama gus Umar tho?" Sapa bibi Aini seraya menyalami putra putri kyai Abdullah, "kapan kundur gus?" Tanya bibi Aini dengan ramah.


"Tadi sebelum dhuhur sudah nyampai rumah bi," balas gus Umar dengan sopan.


Bibi Aini kemudian duduk di samping putri semata wayang nya.


"Bibi gimana keadaan nya? Tadi Aida bilang, bibi masuk angin?" Tanya Laila yang nampak khawatir, melihat wajah ibu dari sahabat nya yang masih terlihat pucat.

__ADS_1


"Alhamdulillah, bibi sudah agak baikan ning. Tadi pagi bibi langsung berobat ke dokter," jelas bibi Aini, sambil tersenyum hangat.


"Bi, kata dokter bibi sakit apa?" Tanya gus Umar penasaran, karena menurut penglihatan gus Umar bibi Aini terlihat sangat lemah.


Bibi Aini tersenyum, "hanya masuk angin biasa gus, kecapekan mungkin," balas Bibi Aini, seperti menyembunyikan sesuatu di balik senyum nya yang sedikit dipaksakan itu.


Gus Umar mengangguk-angguk pura-pura percaya dengan apa yang di sampaikan bibi Aini, padahal dalam hati gus Umar meragukan kebenaran informasi ibu dari gadis yang telah mencuri hati nya itu. Gus Umar menjadi khawatir, jika apa yang dia pikirkan tentang penyakit bibi Aini benar ada nya.


Mengetahui Kondisi bibi Aini yang masih lemah, gus Umar melirik sang adik dan mengisyaratkan agar Laila tidak usah memberitahukan perihal pesan umi nya pada bibi Aini. Dan Laila yang mengerti isyarat dari sang kakak mengangguk, dia pun berpikiran sama seperti gus Umar. Laila juga tidak ingin menambah beban Aida, jika mereka memberitahukan rencana sang kakek yang akan melamar ning Zahra untuk gus Umar besok malam.


Mereka pun kemudian mengobrol dengan hangat, meski berbicara dengan lemah.. bibi Aini nampak mendominasi obrolan, dengan menanyakan banyak hal pada gus Umar mengenai pendidikan nya. "Oh, jadi sampean sudah tidak balik ke Madinah lagi gus? Lantas, sampean mau melanjut kan S2 di kota ini apa di luar kota?" Tanya bibi Aini.


"Belum tahu bi, belum Umar pikirkan," balas gus Umar dengan lirih, seperti tidak lagi ada semangat dalam diri nya untuk melanjutkan studi setelah gus Umar tahu bahwa dia harus segera menikah.


Bibi Aini mengangguk-angguk, "nanti belajar nya bisa sambil jalan gus, yang penting ilmu yang sudah sampean dapat dari Madinah bisa sampean manfaatkan dulu untuk membantu membesarkan yayasan pendidikan yang sudah di bangun kyai Abdullah." Nasehat bibi Aini pada gus Umar.


Hening kembali menyapa ruang makan keluarga Aida, masing-masing tenggelam dengan pikirkan nya sendiri.


"Dik, yuk kita pulang.. udah mau maghrib," ajak gus Umar pada Laila, memecah keheningan di ruangan yang tak terlalu luas tersebut.


Laila mengangguk, menyetujui ajakan sang kakak.


"Lho,, lha kok buru-buru tho gus, ning? Mbok ya sesekali menginap di sini, bibi kan masih kangen sama sampean gus?" Pinta bibi Aini sungguh-sungguh, bagi ibu nya Aida itu.. gus Umar dan Laila sudah beliau anggap seperti putra putri nya sendiri.


"Maaf bi, Insyaallah lain kali nggih.. Umar juga belum sempat ngobrol banyak sama abah dan umi," tolak gus Umar dengan halus. "Andai saja aku tidak dijodohkan dengan gadis lain, pasti dengan senang hati aku akan menerima tawaran bibi untuk menginap," gumam gus Umar dalam hati, seraya melirik Aida yang selalu membuang pandangan nya kearah lain.. tatkala kedua nya tanpa sengaja beradu pandang.

__ADS_1


Aida yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia, memaklumi penolakan gus Umar atas permintaan sang ibu. "Aku tahu pasti alasan sampean menolak permintaan ibu ku gus, karena di hati sampean ternyata tidak pernah ada nama ku. Aku baru sadar, bahwa ternyata aku telah salah mengartikan perhatian sampean selama ini," lirih Aida dalam hati.


"Da, aku pulang ya,," pamit Laila, seraya mencubit pelan lengan Aida yang tengah melamun.


Sontak Aida tersadar dari lamunan nya, "eh iya La, ada apa?" Tanya Aida, yang tadi tak mendengar ucapan Laila.


"Masyaallah Da,, masih sore udah melamun aja, ngelamunin pangeran berkuda putih ya?" Goda Laila, berusaha untuk membuat sahabat nya tertawa.


Aida pun tersenyum tersipu malu, karena kedapatan tengah melamun. Apalagi kini gus Umar tengah menatap nya dengan tatapan yang sulit diartikan, tatapan yang tak biasa Aida dapat kan.. "tatapan mata nya, kenapa seperti tatapan mata yang penuh luka? Dan seperti memendam kesedihan yang mendalam? Ada apa dengan sampean gus?" Aida menyimpan tanya dalam hati.


Buru-buru Aida mengalihkan pandangan mata nya, untuk menghindari tatapan gus Umar.


"Bi, kami pamit dulu ya," gus Umar mewakili sang adik, dan segera berdiri untuk berpamitan pada bibi Aini. Gus Umar kemudian mencium punggung tangan bibi Aini dengan takdzim.


"Makasih ya kalian sudah mau main ke sini, kirim salam buat umi dan sampaikan terimakasih bibi untuk kolak pisang nya," bibi Aini kemudian memeluk Laila, setelah sahabat Aida itu menyalami dan mencium punggung tangan nya.


"Dik Aida, kami pamit," lirih gus Umar berpamitan pada Aida yang masih duduk di tempat nya, seraya tersenyum getir. Gus Umar masih menatap Aida untuk beberapa saat lama nya dan tak beranjak dari tempat nya berdiri, seperti ada yang hendak gus Umar sampaikan tapi lidah nya seolah terasa kelu.


"Aku harus memberanikan diri untuk mengatakan semua nya pada Aida, tentang perasaan ku pada nya juga tentang perjodohan yang tak mungkin aku tolak. Aku enggak mau hubungan kami menjadi jauh dan tak lagi baik seperti semula, jika diantara kami berdua masih belum selesai." Gus Umar bermonolog dalam diam.


"Gus, ada apa?" Tegur bibi Aini, yang melihat gus Umar masih terdiam di tempat nya dan tatapan nya terus tertuju pada Aida.


"Eh, tidak bi.. tidak ada apa-apa," gus Umar yang tersadar menjadi salah tingkah, dan mengusap-usap tengkuk nya seraya tersenyum kecut.


"Kakak mau bicara sama Aida sekarang?" Bisik Laila yang bisa menebak, apa yang tengah di pikirkan oleh sang kakak.

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2