
Sementara di ruang rawat Aida, dua sahabat yang sudah lama tak saling bertemu itu melepas rindu dengan bercerita dan bercanda ria. Mereka bebas mencurahkan segala isi hati, karena tak ada orang lain lagi di ruangan serba putih itu selain mereka berdua.
Ya, mereka kini hanya tinggal berdua, sebab mbak Ning disuruh pulang sama Laila begitu mendengar kabar bahwa putra nya mbak Ning juga masih demam dan saat ini dijaga sama bu Dibyo.. orang baik yang telah banyak membantu Aida. Mbak Ning pulang, tak lama setelah kyai Abdullah dan sang istri meninggalkan ruang rawat Aida.
Laila banyak menceritakan tentang kesibukan nya di kampus, tentang teman-teman di kos dan juga di organisasi kampus yang dia ikuti. Sedangkan Aida hanya menjadi pendengar setia, "seneng dong,, sekarang kamu sudah punya banyak teman," ucap Aida ikut bahagia.
"Iya sih,, tapi kalau ingat pas awal-awal dulu, rasa nya pengin nangis." Laila cemberut, "semua nya masih asing, udah gitu.. enggak ada kamu? Dan kamu juga enggak bisa di hubungi untuk diajak curhat, hufff,,, menyebalkan!" Sungut Laila, yang membuat Aida merasa begitu berarti bagi sahabat nya itu.
"Janji ya Da,, jangan kabur lagi dari kami, abah sama umi sampai nangis tau?! Apalagi kak umar..." Laila langsung menutup mulut nya sendiri, khawatir Aida tidak nyaman mendengar nama kakak nya di sebut.
"Maaf, aku tidak bermaksud,,,"
"Enggak apa-apa kali La, kan aku juga adik nya kak Umar.. aku udah enggak apa-apa meski kamu menyebut nama nya ribuan kali di depanku," potong Aida cepat, yang mengerti kemana arah pembicaraan sahabat nya.
"Beneran?" Tanya Laila seraya mengernyitkan kening, dan menatap bola mata indah milik Aida dengan intens.. mencoba mencari kejujuran dari ucapan sahabat nya.
"Hmm,," Aida mengangguk, "kenapa? Enggak percaya?" Aida membulatkan mata nya lebar-lebar, "silahkan di cari nona Laila,, apakah Aida sahabat kamu yang cantik, baik dan bersahaja ini berbohong atau jujur?" Aida terkekeh sendiri dengan kenarsisan nya yang tingkat dewa.
Laila pun ikut tertawa, "ya,, ya,, aku percaya." Balas Laila, "benarkah kamu sudah bisa move on dari kak Umar Da?" Bisik Laila dalam hati.
"Kakak mu memang sangat istimewa La, dan karena dia istimewa.. aku sudah membungkus nya rapat-rapat di kedalaman hatiku, bahkan aku juga tidak tahu apakah aku bisa membuka nya lagi atau tidak. Tapi yang jelas, fokus ku saat ini hanya ada pada janin yang saat ini tumbuh di rahimku. Dan aku sudah bertekad, untuk membesarkan nya dengan tangan ku sendiri.. tak perlu campur tangan orang lain," gumam Aida dalam hati.
"Sekarang, gantian kamu dong Da,,, perasaan dari tadi, aku melulu yang cerita!" Protes Laila.
__ADS_1
"Aku kan lagi sakit La, enggak boleh banyak ngomong.. kata dokter, sembuh nya bisa lama," balas Aida asal, seraya mengulum senyum.
"Dokter apaan yang bilang orang sakit enggak boleh ngomong?!" Protes Laila, "lagian, kamu kan udah sehat. Udah ceria gitu wajah nya." Sungut Laila dengan bibir mengerucut.
Aida terkekeh pelan seraya mencubit gemas hidung mancung Laila, yang mirip hidung sang kakak. "Aku cepet sehat gini, karena dokter nya saat ini ada di hadapan ku," ucap Aida, yang membuat senyum Laila mengembang. Laila merasa senang, karena kehadiran nya bisa menjadi pengobat hati bagi sahabat nya yang berkali-kali ditimpa ujian yang tak mudah.
Bahkan Laila sendiri sangat meragukan diri nya jika berada di posisi Aida, akan kah dia bisa bertahan seperti Aida yang tetap bisa survive dan ceria seperti tak pernah ada masalah yang menderanya? "Aku tak setangguh Aida," gumam Laila dengan diri nya sendiri.
"Tadi kan aku udah cerita... kalau mantan suami ku enggak mau sholat? Terus ya udah, kami pisah.." lanjut Aida, "enggak ada yang menarik kan? Jadi mending kita cerita yang menarik-menarik aja."
Sengaja, Aida tak menceritakan secara detail apa apa saja yang sudah dialami nya selama ini pada sahabat nya itu. Karena Aida tak mau dikasihani, juga karena Aida tak mau membuat orang lain ikut merasa kan kepahitan hidup nya kala itu. Cukup dia yang tahu dan merasa kan semua nya, "case close,," bisik nya dalam hati.
Hening, sejenak menyapa ruangan serba putih tersebut.
"Iya, salam ya buat tadzah Zahra," balas Aida seraya tersenyum.
Laila bergegas keluar dari ruangan Aida dengan menyimpan tanya dalam hati, "ada apa ya? Kenapa kak Umar menyuruh ku cepat-cepat kembali ke ruangan mbak Zahra? Semoga semua baik-baik saja,," Laila merasa cemas, dan berpikir sesuatu hal yang buruk terjadi pada kakak ipar nya.
Sementara sepeninggal Laila, Aida merebahkan tubuh lelah nya dengan nyaman di kasur busa yang empuk. Aida mulai memejamkan mata nya, mencoba untuk tidur.
@@@@@
Di ruang rawat ning Zahra, istri gus Umar itu terus merajuk ingin berkunjung ke kamar Aida. "Ayo lah gus, antar Zahra ke ruangan Aida?"
__ADS_1
"Ning, aku kan enggak tahu Aida di rawat di ruang mana? Lagi pula kondisi mu masih lemah ning, kamu belum boleh banyak bergerak.. bahaya untuk luka bekas operasi mu?" Gus Umar mencoba memberi pengertian.
"Ndak apa-apa kok gus, Zahra kuat. Kan Zahra cuma duduk di kursi roda, ndak perlu jalan kaki tho? Pasti dokter juga mengijinkan nya gus,, mau ya? Antar Zahra?" Ning Zahra terus merajuk.
Gus Umar membuang kasar nafas nya, menghadapi istri nya yang kini berubah menjadi keras kepala.. benar-benar menghabiskan energi nya, dan menguji kesabaran nya, "ini seperti bukan diri mu ning.." gumam gus Umar dalam hati.
"Tunggu sebentar, aku suruh Laila kembali kesini. Kamu bisa minta tolong sama Laila saja, dia kan yang tahu ruangan Aida," balas gus Umar, akhir nya menyerah.
Setelah beberapa saat menunggu, terdengar pintu kamar di buka dari luar. Nampak Laila buru-buru memasuki ruangan dengan wajah cemas, "ada apa kak? Mbak Zahra baik-baik saja kan?" Tanya Laila seraya mendekat ke ranjang pasien.
"Mbak mu baik-baik saja," balas gus Umar, "tapi kakak yang enggak baik-baik saja," bisik gus Umar dalam hati.
"Terus, kenapa manggil Laila?" Laila mengernyitkan dahi nya.
"Tuh, tanya sama mbak mu... mau nya apa?" Balas gus Umar dengan malas, dan kemudian beranjak pindah ke sofa. Memberi kesempatan pada adik dan istri nya, untuk berbicara berdua.
"Dik, tolong antar mbak ke ruangan Aida ya?" Pinta ning Zahra, dengan tatapan memohon.
Laila mengernyit, "kenapa mbak??" Laila beralih menatap kakak nya, yang kini sudah tiduran di sofa. Tapi gus Umar tak menanggapi tatapan keingintahuan adik nya itu.
"Mbak mau bicara dari hati ke hati sama Aida, semoga nanti nya Aida mau jadi madu nya mbak," jawab ning Zahra dengan lugas.
"Apa? Madu? Kak Umar mau poligami?!" Tuduh Laila seraya melotot kearah kakak nya.
__ADS_1
bersambung,,,