Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 104 : Tidak Sabar Menanti Saat Itu Tiba


__ADS_3

"Bukan kak,,, maksud Aida, bahwa Aida tak bisa menerima nya itu,,, Aida tak bisa menerima secepat ini kak? Bukan tak bisa menerima karena menolak kak Umar..." sanggah Aida buru-buru, untuk meluruskan kesalahpahaman gus Umar.


"Alhamdulillah,,," gus Umar terlihat sangat lega, begitu pun dengan kyai Abdullah dan nyai Robi'ah yang ikut tersenyum bahagia.


Sedangkan Laila, langsung memeluk sahabat nya itu.


"Jadi, kamu bersedia menerima ku dik? Beneran mau menikah dengan ku?" Cecar gus Umar, untuk meyakinkan diri nya.


Aida mengangguk pasti, dan kemudian menunduk malu. Wajah cantik dan putih itu, merona merah.


"Iya kak, tapi nunggu surat cerai Aida turun dulu. Karena kemarin, mas Ryan bilang baru mau mengurus nya," terang Aida.


"Iya dik, tak mengapa." Balas gus Umar, yang langsung mendudukkan diri nya di sofa di samping sang umi dengan wajah yang memancar kan kebahagiaan.


"Bagaimana, jika kalian menikah dahulu secara agama. Dan nanti setelah surat cerai nak Aida turun, barulah kalian meresmikan pernikahan kalian itu." Titah kyai sepuh, seraya menatap kyai Abdullah dan gus Umar bergantian. "Bukan kah niat baik harus di segera kan?" Lanjut nya.


"Ya, begitu... abah rasa juga baik gus," kyai Abdullah menatap putra nya, agar secepatnya mengambil keputusan.


"Umar, ikut saja bagaimana baik nya menurut dik Aida abah." Balas gus Umar penuh pengertian, seraya melirik wanita yang senantiasa dia sebut nama nya dalam do'a.


Kyai Abdullah mengangguk-angguk, "bagaimana, nak Aida?" Tanya kyai Abdullah.


Aida terlihat bingung,


Nyai sepuh menepuk-nepuk punggung tangan sahabat cucu nya itu, "apa yang kamu ragukan nak? Katakan lah pada nenek," lirih nyai sepuh, yang bisa memahami kebingungan dan keraguan Aida.


"Maaf nek.. anak Aida, dan istri kak Umar baru seminggu meninggalkan kita semua. Lagi pula Aida saat ini masih dalam masa nifas, jadi menurut Aida sebaiknya nanti saja kalau Aida sudah suci," balas Aida yang juga berbisik.


Nyai sepuh tersenyum, dan mengangguk-angguk.


"Bagaimana nak Aida? Kapan nak Aida siap?" Kyai sepuh menegaskan kembali.


"Sebaik nya, kita tunggu sampai acara empat puluh hari ning Zahra dan juga putra nya nak Aida selesai dulu pak," balas nyai sepuh, yang mewakili Aida.

__ADS_1


"Jadi kan, pas malam pengantin.. mempelai wanita nya sudah suci dari nifas, bukan kah begitu nak Aida?" Nyai sepuh mengusap lengan Aida dengan lembut, seraya tersenyum.


Mendengar nyai sepuh menjelaskan nya dengan gamblang, membuat Aida menundukkan kepala karena malu... sedangkan gus Umar tersenyum bahagia.


Kyai sepuh dan kyai Abdullah mengangguk-angguk, mengerti maksud penundaan Aida.


@@@@@


Keesokan hari nya, keluarga kyai Abdullah hendak mengantarkan Aida kembali ke ruko di kota... sekaligus untuk meng-khitbah Aida.


Tapi sebelumnya, pagi-pagi sekali.. gus Umar memaksa Laila untuk menemani nya mencari hantaran untuk wanita, yang nama nya senantiasa tersimpan rapi di hati nya itu.


"Memang nya, kakak mau membelikan Aida apa aja?" Tanya Laila, ketika kedua nya sudah berada di dalam mobil.


"Emmm,, tadi sih, umi pesan.. agar di belikan satu set perhiasan, sama baju gitu dik," ucap gus Umar, mengingat-ingat pesan sang umi. "Oh ya, sama skincare," lanjut gus Umar, yang ingat sesuatu.


Laila mengangguk-angguk, "sama mukena juga enggak kak?" Tanya Laila.


"Kalau untuk peralatan ibadah, kata umi nanti saja.. waktu akad nikah sebagai mas kawin sama Al-Qur'an," balas gus Umar.


"Tadi sih umi bilang, di pasar udah banyak yang buka dik,,, dan di toko deretan depan, bajunya juga bagus-bagus menurut umi," jawab gus Umar, yang juga mulai ragu.


"Tapi kalau belum pada buka gimana ya dik?" Kini wajah gus Umar nampak cemas.


"Cie,, yang mau ngelamar? Udah enggak sabar banget kayak nya??" Goda Laila.


"Ah kamu dik, kakak nya lagi panik malah di ledekin!" Gerutu gus Umar, seraya mengacak puncak kepala Laila.


"Kakak!! Hijab Laila berantakan nih?!" Protes Laila, dengan wajah cemberut.


Tapi gus Umar tak menanggapi, karena kini mobil yang dikendarai nya sudah berbelok ke tempat tujuan dan gus Umar sedang sibuk mencari tempat yang masih kosong untuk memikirkan mobil nya.. karena meskipun hari masih sangat pagi, ternyata pasar di kota kecil itu sudah sangat ramai dan toko sudah banyak yang buka.


Setelah memarkirkan mobil nya, gus Umar dan Laila segera keluar dan berjalan bersisihan untuk menuju toko perhiasan terlebih dahulu.. yang kebetulan letaknya tak jauh dari tempat gus Umar memarkir mobil nya.

__ADS_1


"Dik, tolong kamu yang pilih kan ya? Kamu kan tahu selera dik Aida seperti apa?" Pinta gus Umar, ketika kedua nya memasuki toko perhiasan tersebut.


"Enggak mau, untuk calon istri nya kakak.. kenapa harus Laila yang memilih kan? Kakak sendiri dong... biar spesial," tolak Laila.


"Kalau dik Aida nya enggak suka gimana?" Gus Umar terlihat khawatir.


"Pasti suka,,, percaya sama Laila." Balas Laila, meyakinkan sang kakak. "Karena gini ya kak, perempuan itu selalu suka apapun yang diberikan oleh laki-laki yang tulus menyayangi nya... tanpa melihat bentuk, rupa, atau pun harga barang tersebut. Yang penting ketulusan,,," terang Laila seraya tersenyum lebar, membayangkan jika diri nya yang mendapat kan hadiah dari seseorang yang spesial itu.


"Eh, malah senyum-senyum..." gus Umar menoel hidung sang adik.


"Aw,, sakit kak," protes Laila.


"Cari apa mas, mbak?" Dan suara sapaan penjaga toko mas tersebut, menghentikan obrolan kedua kakak beradik tersebut.


Gus Umar kemudian mendekat dan mengatakan keinginan nya, "satu set perhiasan yang sederhana saja, tapi cantik dan elegan mbak," balas gus Umar.


Dari toko mas, mereka menuju toko busana. Dan Laila selalu menolak untuk memilih kan barang, yang akan diberikan gus Umar untuk sahabat Laila itu. Kecuali untuk ukuran, Laila yang memilih, dan selebihnya semua adalah hasil pilihan gus Umar sendiri.


Termasuk ketika mereka memasuki toko kosmetik, untuk membelikan skincare buat Aida,,, meski gus Umar buta akan hal itu, Laila juga tetap kekeuh menolak untuk memilih kan.


Tapi diam-diam Laila tersenyum bangga pada sang kakak, karena semua yang dipilih oleh gus Umar.. mewakili kepribadian Aida, yang sederhana, lembut dan anggun.


"Kak Umar ternyata diam-diam memperhatikan Aida ya? Sampai paham banget, apa yang Aida suka?" Tuduh Laila, begitu kedua nya sudah sampai di dalam mobil.


"Tadi, barang-barang yang kakak beli itu kesukaan nya Aida semua lho kak. Dari model baju dan tas, sampai warna nya... itu warna kesukaan nya dia kak," lanjut Laila.


"Masak sih dik?" Tanya gus Umar, ingin meyakinkan.


"Beneran kak,," Laila menatap sang kakak, untuk meyakinkan bahwa dia tidak sedang berbohong.


"Chemistry nya udah dapet berarti ya dik," balas gus Umar, seraya tersenyum lebar. Ada rasa bangga dan bahagia di hati nya, ketika gus Umar bisa memberikan sesuatu yang disukai oleh wanita yang spesial di hati nya itu.


Dan dengan kecepatan tinggi, gus Umar segera melajukan kendaran nya membelah jalanan beraspal agar bisa segera sampai di pesantren dan kemudian mengantarkan Aida pulang.. sekaligus untuk menyampaikan maksud hati nya.

__ADS_1


"Rasa nya, aku sudah tidak sabar menanti saat itu tiba dik,,," bisik gus Umar dalam hati, senyum lebar menghiasi wajah kharismatik nan tampan itu sepanjang perjalanan menuju pesantren.


bersambung,


__ADS_2