Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 92 : Dia Bagian dari Keluarga Pesantren


__ADS_3

"Dik, anak kita dik.. anak kita drop, dia butuh kamu," lirih Ryan seraya menghampiri Aida, dan tanpa menunggu persetujuan dari Aida.. Ryan langsung mendorong kursi roda Aida untuk menuju ruang NICU dimana sang putra berada.


Semua yang berada di sana, mengikuti langkah Ryan yang berjalan dengan tergesa-gesa.. termasuk gus Umar, yang mendorong kursi roda istri nya.


Setiba nya di ruang NICU, hanya Aida yang diperbolehkan masuk ke dalam ruangan yang steril tersebut. Aida mendekati bayi nya, yang tengah di tangani oleh beberapa orang dokter ahli sekaligus.


Air mata Aida luruh, melihat kondisi sang putra yang membiru.. tubuh mungil itu benar-benar tak berdaya.


Dalam hati Aida berdo'a, memasrahkan semua nya pada yang maha pemberi hidup.. jika bayi mungil itu masih di percayakan kepada nya, kira nya Allah segera angkat penyakit nya dan baby boy bisa segera sehat.


Namun jika memang Allah menghendaki bayi mungil, yang baru hitungan hari dilahirkan nya itu untuk kembali kepada Nya.. mau tak mau, rela tak rela, Aida harus mengikhlaskan nya. Daripada Aida harus menyaksikan putra kecil nya itu menderita, yang hidup bergantung pada alat-alat medis yang menancap pada tubuh lemah itu.


"Pergilah nak, jika memang Allah telah menunggu mu. Terimakasih, telah hadir dalam hidup ibu. Karena keberadaan mu, ibu menjadi optimis menjalani hidup," lirih Aida, seraya mengusap lembut kepala bayi nya.


"Allahumma ahyihi ma kanatil hayatu khairan lahu, wa tawaffahu idza kanatil wafatu khairan lahu." Lirih Aida berdo'a.


Do'a yang artinya: Ya Allah, panjangkan lah hidupnya jika itu lebih baik baginya, dan ambillah dia jika itu lebih baik baginya.


"Dok, lepas kan saja alat-alat nya.. dan biarkan saya memeluk anak saya," pinta Aida.


Para dokter nampak sedikit ragu, karena meskipun sangat lemah.. tapi baby boy masih bernafas.


Aida mengangguk, meyakinkan para dokter tersebut.


Satu-persatu, alat-alat medis yang menempel dan menancap di tubuh mungil itu mulai di lepaskan. Kini tak terdengar lagi, alat monitor yang berisik.. hanya keheningan yang tercipta, yang menambah suasana hati Aida semakin mencekam.


Dengan tangan bergetar, Aida menerima bayi nya dari tangan dokter anak yang sejak awal menangani baby boy.


Aida menciumi pipi kebiruan putra nya kiri dan kanan bergantian, kemudian mencium kening nya dengan sangat lama.


Ryan, yang barusan diijinkan masuk.. berlutut di depan kaki Aida, dan menyaksikan pemandangan tersebut dengan berurai air mata.


Tak ada kata, yang mampu Ryan ucapkan. Hanya penyesalan dan penyesalan yang terus menyeruak kedalam hati laki-laki dewasa itu.

__ADS_1


Aida lantas mencium ubun-ubun sang putra dengan sangat hati-hati, dan sedetik kemudian Aida menyadari.. bahwa sang putra telah kembali pada pencipta Nya.


Aida kemudian mendekap putra nya dengan penuh kasih, seolah ingin mengutarakan pada sang putra betapa diri nya sangat menyayangi bayi mungil itu. "Ibu sayang kamu nak, sayang banget," lirih Aida bergumam.


Punggung Ryan semakin bergetar hebat, tatkala Ryan mendengar Aida mengucapkan kata-kata sayang itu kepada putra nya. Dia bahkan tak pernah mengatakan itu sebelum nya, hanya tiga hari terakhir.. itupun di luar tabung inkubator.


"Dik, boleh aku menggendong nya?" Pinta Ryan dengan terbata, pipi ayah baby boy itu telah basah oleh air mata.


Aida mengangguk, "tapi dia sudah kembali tidur mas, tidur yang panjang," lirih Aida dengan menahan sesak di dada.


Ryan sejenak termangu, mendengar perkataan Aida. Dan laki-laki dewasa itu menatap Aida, "anak kita sudah meninggal dik?" Lirih Ryan bertanya.


Kembali Aida mengangguk.


"Innalillaahi wainna ilaihi raaji'uun,,," Ryan mengambil baby boy dari tangan Aida dengan perasaan yang tak karuan,,, menyesal, sedih, merasa tak berguna, semua bercampur menjadi satu.


Ryan memandangi bayi mungil yang wajah nya mirip dengan diri nya itu dengan tatapan yang penuh penyesalan, "maaf kan ayah nak.. maaf." lirih Ryan terbata, dan kemudian mendekap bayi itu dengan erat seolah takut kehilangan baby boy. Air mata Ryan tak mau berhenti mengalir, menganak sungai hingga membasahi seluruh wajah nya.


"Jangan di sesali, Wildan tak lagi merasakan kesakitan kini. Wildan sudah tenang,,," lirih Aida, yang tak ingin melihat Ryan menangisi putra nya.


Sementara di luar ruangan, mereka semua yang menyaksikan dari jendela kaca ikut larut dalam keharuan.. termasuk gus Umar, yang ikut menitikkan air mata.


"Sampai bertemu nanti boy, bibi yang akan merawat mu.. tunggu bibi ya," gumam ning Zahra, yang tak dapat di dengar oleh siapapun.


Bayi itu kemudian di ambil alih oleh perawat untuk di sucikan, ingin rasa nya Aida ikut mensucikan bayi nya.. tapi kondisi nya tak memungkinkan. Ryan lah yang mengikuti perawat tersebut, dan ikut memandikan sang putra untuk yang pertama dan terakhir kali nya.


Sedangkan Aida, di temani oleh Laila dan yang lain kembali ke kamar perawatan nya untuk menanti sang putra.


Gus Umar beserta kyai Abdullah yang baru saja hadir, langsung menyusul Ryan untuk ikut men-sholatkan bayi nya Aida.


"Ning, sampean kembali ke kamar saja ya.. sampean masih harus banyak istirahat," titah nyai Robi'ah pada menantu nya.


Ning Zahra mengangguk, "nggih umi," balas ning Zahra patuh.

__ADS_1


"Ning, tolong antar mbak mu ke kamar nya. Biar umi yang ikut menemani nak Aida," titah sang umi, yang di sanggupi oleh Laila.


Dan Laila segera membawa kakak ipar nya itu, untuk kembali ke ruang perawatan nya. Ruang perawatan VIP yang cukup luas, dengan sofa empuk di sisi ranjang pasien. Ruangan yang sudah beberapa hari ini di tempati oleh ning Zahra, karena penyakit kanker hati yang menggerogoti tubuh rapuh istri gus Umar tersebut.


Laila membantu ning Zahra untuk berbaring di atas ranjang pasien, "dik, kamu kembali saja ke ruangan dik Aida. Mbak ndak apa-apa kok sendiri, lagipula mbak mau tidur." Titah ning Zahra pada adik ipar nya.


"Beneran? Mbak Zahra enggak apa-apa, Laila tinggal sendirian?" Laila memastikan.


Ning Zahra mengangguk,


"Baiklah, nanti Laila bilang sama kak Umar agar segera kembali kesini kalau udah selesai mensholatkan baby boy," ucap Laila, dan kemudian segera bergegas meninggalkan ruangan kakak ipar nya.


Laila berjalan dengan sangat cepat untuk segera menuju ruangan Aida, Laila tak ingin sedetik pun jauh dari sahabat nya itu. Laila bisa merasakan, apa yang Aida rasakan saat ini. Kehilangan,,, entah untuk yang kali ke berapa?


Hati Laila mencelos dan lutut nya terasa lemas, tatkala membuka ruang perawatan Aida dan menyaksikan sahabat nya itu menangis dalam pelukan umi nya.


"Ternyata sesakit ini kehilangan seorang anak umi... anak yang bahkan belum sempat Aida susui,, anak yang belum sempat Aida mandikan,," ucap Aida di sela isak tangis nya yang terdengar memilukan.


Bu Dibyo dan mbak Ning, yang duduk di kursi plastik ikut menangis sesenggukan.


"Aida bisa kuat saat kehilangan bapak, Aida juga masih bisa bersabar,, saat ibu meninggal. Aida bahkan masih bisa bertahan ketika diceraikan dan di usir, tapi sekarang..." Punggung Aida semakin berguncang, dan nyai Robi'ah terus mengusap punggung yang kini terlihat lebih kurus itu dengan penuh kasih.


Mendengar kalimat terakhir Aida, yang selama ini belum pernah Aida ceritakan pada orang lain kecuali mbak Ning dan meski nyai Robi'ah sudah mendengar kisah Aida dan Ryan dari mbak Ning, namun mendengar sendiri perkataan Aida di tengah kondisi nya yang seperti ini... membuat nyai Robi'ah ikut menangis. "Kamu pandai menyembunyikan kesedihan dan rasa sakit mu nak," gumam nyai Robi'ah dalam hati.


"Kamu yang sabar ya nak, umi yakin.. kamu pasti bisa, kamu pasti kuat. Hanya wanita hebat, yang dipilih Allah untuk diberikan ujian seperti ini. Allah tahu kemampuan mu nak, semua ini terjadi karena Allah menyayangi mu," lirih nyai Robi'ah mencoba menyemangati sahabat putri nya itu.


Di saat semua nya larut dalam keharuan, suara kyai Abdullah mengagetkan semuanya.. termasuk Laila yang masih berdiri terpaku di ambang pintu.


"Nak Aida, putra nya mau dimakamkan dimana?" Tanya kyai Abdullah seraya mendekati Aida, yang diikuti oleh Laila yang langsung ikut duduk di tepi ranjang di samping sahabat nya.


Laila menoleh kearah mbak Ning, untuk meminta pendapat.


"Bagaimana kalau di kompleks pemakaman pesantren nak? Kamu anak abah dan umi, dan itu artinya nya... putra mu adalah cucu abah dan umi, dia bagian dari keluarga pesantren. Kamu tidak keberatan kan?"

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2