Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 39 : Aku Masih Istihadhoh


__ADS_3

Seminggu berlalu, hubungan gus Umar dan ning Zahra masih terlihat canggung.. meski gus Umar sudah mencoba untuk membuat istri nya itu merasa nyaman di samping nya, dengan berulangkali mengatakan, 'anggap saja, saat ini kita sedang pacaran ning' tapi karena sifat ning Zahra yang memang pendiam dan pemalu, maka sulit bagi istri dari gus Umar itu untuk membuka diri menerima kehadiran gus Umar dalam kehidupan nya.


Dan gus Umar tidak menyerah begitu saja, sebagai laki-laki yang telah mengambil alih tanggung jawab ning Zahra dari tangan kyai Hasanuddin.. gus Umar terus berusaha agar istri nya itu bisa menerima keberadaan nya, meski pemuda kharismatik itu harus lebih bersabar dalam menghadapi sikap tertutup ning Zahra.


Hari ini, gus Umar memboyong istri nya ke kediaman nya yang masih berada satu komplek dengan pesantren kyai Abdullah.. tepat nya, di samping kediaman orang tua nya. Rumah baru yang telah di persiapkan oleh orang tua gus Umar, setelah sang kakek menyampaikan keinginan nya menjodohkan gus Umar dengan ning Zahra.


Mereka berdua diantarkan oleh keluarga besar ning Zahra, yang sekaligus untuk bersilaturrahim ke keluarga besan. Tidak ada acara unduh mantu di sana, kyai Abdullah hanya mengundang tetangga sekitar dan keluarga besar nya untuk menyambut besan nya itu.


Usai acara ramah ramah, dan keluarga besar nya telah kembali pulang ke daerah asal.. gus Umar segera mengajak sang istri untuk ke rumah baru mereka berdua.


Rumah yang cukup minimalis, terdiri dari ruang tamu berukuran tiga kali tiga meter, ruang keluarga yang sedikit lebih luas dari ruang tamu, satu kamar tidur utama yang sama luas nya dengan ruang keluarga dengan kamar mandi di dalam dan dua kamar berukuran sedang.


Rumah sederhana tersebut dilengkapi pula dengan dapur kecil yang menjadi satu dengan ruang makan dan terdapat satu kamar mandi yang berada di samping dapur.


Gus Umar mengajak istri nya untuk melihat-lihat rumah mereka yang telah dilengkapi dengan berbagai perabotan rumah tangga itu, termasuk satu set sofa di ruang tamu, almari pakaian dan meja rias di dalam kamar, satu set meja makan dan peralatan dapur modern.


"Ning, kalau menurut mu ada yang masih kurang.. bilang saja, nanti lain waktu kita bisa belanja bareng," ucap gus Umar, ketika mereka sedang berada di dapur.


"Ini sudah cukup gus," balas ning Zahra, seraya mengedarkan pandangan melihat-lihat isi dapur nya.


"Ya sudah, tapi nanti kalau kamu merasa memerlukan sesuatu.. katakan saja, atau mungkin ada yang ingin kamu rubah posisi nya?" Gus Umar menatap istri nya.


Ning Zahra menggeleng,,


Gus Umar mendesah pelan, sudah seminggu mereka menikah tapi istri nya tidak akan berbicara jika tidak gus Umar duluan yang memulai.. pun jika mau mengeluarkan suara, ning Zahra hanya akan bicara seperlunya saja.


"Seperti nya masih ada yang mengganjal di hati istri ku, aku harus menanyakan pada nya nanti," gumam gus Umar, seraya melirik sang istri.


"Sudah sore ning, ayo kita mandi," ajak gus Umar, dengan menggandeng pergelangan tangan sang istri untuk menuju kamar utama.

__ADS_1


Ning Zahra hanya menurut, seperti kerbau yang di cocok hidung nya.


Setibanya di dalam kamar, "ning, aku duluan atau kamu duluan yang mandi?" Tanya gus Umar.


"Jenengan duluan saja nggih gus, Zahra mau menata pakaian dulu," balas ning Zahra seraya menuju ke koper nya yang tergeletak di samping pintu.


"Baiklah," balas gus Umar, dan segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ning Zahra langsung menata pakaian nya ke dalam almari pakaian, bersebelahan dengan pakaian suami nya.


Usai merapikan pakaian nya, ning Zahra kemudian menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami. Ning Zahra mengambil kan kaos oblong berwarna putih, baju koko dan juga sarung. Dan kemudian meletakkan nya di atas tempat tidur.


Ning Zahra juga mengambil pakaian ganti untuk diri nya sendiri, longdress berbahan katun yang adem dan bergo berbahan kaos yang simple untuk menutupi kepala nya.


Ning Zahra kemudian duduk di kursi meja rias, menunggu sang suami menyelesaikan mandi nya.


Ning Zahra segera menundukkan kepala nya, dan wajah nya nampak memerah. Wanita muda itu terlihat sangat malu, melihat aurat lawan jenis nya.


Gus Umar tersenyum, "kenapa ning? Kenapa harus malu? Bukan kah seluruh tubuh ku, halal untuk mu? Dan begitu pun sebalik nya bukan? Aku pun halal jika ingin melihat tubuh mu bukan?" Tanya gus Umar mulai menyelidik, gus Umar mulai khawatir masih ada yang disembunyikan oleh istri nya itu.. hingga membuat istri nya masih saja menganggap nya orang lain, padahal selama seminggu ini mereka telah tidur sekamar.


Ini bukan semata-mata karena gus Umar tak bisa menahan hasrat, sama sekali bukan. Bahkan gus Umar sendiri, sampai detik ini belum merasakan ada getaran di hati nya saat berdekatan dengan sang istri ataupun tatkala kulit tangan kedua nya bersentuhan.. tapi ini lebih ke rasa tanggung jawab gus Umar, untuk membuat istri nya merasa nyaman dan bahagia bersama nya.


Mendapat cecaran pertanyaan semacam itu, ning Zahra bergeming dan kepala nya semakin tertunduk dalam.


Gus Umar mendesah pelan, dan kemudian segera mengambil pakaian yang telah di persiapkan sang istri. "Mandi dulu ning, aku tunggu di ruang tengah," titah gus Umar, sambil mengenakan kaos oblong.


Ning Zahra segera beranjak menuju kamar mandi tanpa bersuara, sedangkan gus Umar masih meneruskan memakai sarung.


Gus Umar kemudian menaruh handuk di gantungan handuk yang terdapat di depan kamar mandi, dan setelah nya segera bergegas keluar dari kamar.

__ADS_1


Pemuda kharismatik itu duduk di atas sofa bed yang terdapat di ruang keluarga, menyalakan televisi untuk menemani nya menunggu sang istri yang sedang mandi.


Tatapan nya tertuju pada layar kaca di hadapan nya, namun tidak dengan pikiran nya. Gus Umar masih memikirkan tentang sikap sang istri, "bagaimana cara nya agar ning Zahra mau terbuka?" Gumam nya dalam hati.


Lima menit kemudian, ning Zahra muncul dari balik pintu kamar.


"Duduk lah ning," titah gus Umar seraya menepuk tempat kosong di sebelah nya.


"Nggih gus," balas ning Zahra, dan kemudian duduk di samping nya.


"Ning, aku ingin mendengar pendapat mu tentang pernikahan kita," ucap gus Umar, tanpa melihat kearah istri nya.


Ning Zahra mengernyitkan dahi, seraya menoleh kearah suami nya. "Maksud jenengan apa gus?" Tanya ning Zahra tak mengerti.


Gus Umar menoleh, dan netra kedua nya saling bertemu. Sesaat kedua nya terdiam, seolah hendak berbicara melalui tatapan mata.


"Apa kah pernikahan ini menurut kamu adalah penjara? Hingga kamu merasa terkekang dan tidak nyaman menjalani nya?" Tanya gus Umar masih dengan menatap dalam netra istri nya, pemuda kharismatik itu ingin tahu yang sebenar-benar nya.. karena gus Umar tidak mau semakin salah dalam melangkah.


Ning Zahra menggeleng, "tidak gus, bukan begitu.. Zahra tidak merasa terkekang dengan pernikahan ini, Zahra hanya.. hanya belum siap untuk melakukan itu," balas ning Zahra seraya tertunduk malu.


"Jadi, bukan karena kamu masih mengharapkan laki-laki yang kamu sukai?" Tanya Gus Umar memastikan, karena jika benar dugaan nya... gus Umar akan memilih untuk mundur, dari pada terus maju tapi pernikahan nya hanya akan membuat seorang wanita terpenjara hati nya dan terbelenggu jiwa nya.


Ning Zahra menggeleng cepat, "bukan gus," balas ning Zahra pelan seraya melirik sang suami sekilas.


Gus Umar pun tersenyum lega.


"Bukan karena itu gus, tapi karena seminggu ini aku masih istihadhoh," lanjut ning Zahra bergumam dalam hati.


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2