Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 76 : Rela Berbagi Suami


__ADS_3

Hari terus berganti, Aida kembali menjalani hari dengan ketenangan. Dan sengaja jarang keluar dari rumah untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, pun jika harus keluar rumah... Aida selalu memakai masker, agar diri nya tidak dikenali.


Kehadiran ning Zahra setiap dua minggu sekali, juga tidak di ambil pusing oleh Aida. Sebab, berdasarkan cerita dari Laila, ning Zahra memang sedang mengalami delirium.. dan saat ini masih menjalani terapi dengan seorang dokter ahli. Jadi, apapun yang disampaikan ning Zahra kepada nya, tak ditanggapi serius oleh Aida.


Pun Aida sangat bersyukur, sebab yang menemani ning Zahra berkunjung ke ruko nya bukan lah gus Umar.. namun nyai Robi'ah, hingga membuat suasana hati Aida, yang semakin membesar kehamilan nya itu menjadi tenang.


Laila setiap akhir pekan, juga rutin mengunjungi sahabat nya itu,,, bahkan Laila sering menginap di ruko hingga dua malam. Hanya pekan di akhir bulan, Laila tidak menginap karena harus pulang ke rumah.


Kehadiran mbak Ning, dan keluarga bu Dibyo yang selalu ada untuk Aida.. juga semakin membuat kehamilan Aida meski dijalani seorang diri tanpa hadir nya sosok seorang suami, tidak mengalami kendala apapun.


Dan jabang bayi yang masih bersemayam dalam kandungan pun seolah mengerti kondisi sang ibu yang sejak awal telah berjuang seorang sendiri, hingga Aida tak merasakan kehamilan yang sulit dan rewel. Atas ijin Allah, semua nya terasa lebih mudah dan ringan.


Dan hari ini, kembali Aida dikunjungi oleh ning Zahra yang kali ini datang bersama gus Umar. Aida sempat sejenak tertegun, ketika mendapati gus Umar yang berdiri di belakang ning Zahra.


Setelah menjawab salam dari kedua nya, dengan sedikit grogi.. Aida mempersilahkan tamu nya itu untuk duduk, "silahkan duduk mbak Zahra, kak Umar," ucap nya ramah seperti biasa nya.


"Wah mbak, ini hampir sebulan ya.. mbak Zahra enggak main ke sini, dan Alhamdulillah Aida lihat wajah mbak Zahra udah kelihatan seger banget," lanjut Aida dengan jujur mengatakan yang sebenar nya, yang di iyakan oleh bu Dibyo yang menemani Aida menemui tamu nya.


"Iya, betul ning Zahra.. tambah segar dan cantik," puji bu Dibyo, sungguh-sungguh.


"Ah, ibu.. makasih pujian nya," balas ning Zahra dengan pipi bersemu merah, tutur kata ning Zahra kini terdengar kembali lembut dan halus.


Ya, minggu lalu Laila bilang bahwa, kondisi psikis ning Zahra sudah dinyatakan pulih. Dan karena kesehatan ning Zahra yang terus membaik secara signifikan, maka terapi yang di rumah sakit ibukota propinsi pun kini menjadi sebulan sekali... itu sebab nya, hampir sebulan ini ning Zahra baru kembali mengunjungi Aida.

__ADS_1


Seperti biasa nya, mereka pun membicarakan banyak hal. Dari hal remeh-temeh seputar perdapuran, persumuran dan juga tentang hal-hal yang berhubungan dengan wanita dan seputar nya. Dan kali ini, obrolan nya tak lagi timpang.. ning Zahra tak lagi mendominasi, semua nya berjalan dengan normal dan menyenangkan.


Gus Umar tetap setia duduk di sisi sang istri, sambil sesekali ikut tersenyum tanpa menimpali obrolan tiga wanita tersebut. Namun fokus nya lebih banyak ke layar kaca yang menayangkan siaran langsung Moto GP, yang tengah berlangsung di sirkuit Sepang, Selangor Malaysia.


"Dik, itu udah berapa bulan sekarang?" Tanya ning Zahra, yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, seraya menunjuk perut Aida yang semakin membuncit.


"Alhamdulillah, sudah masuk delapan bulan mbak," balas Aida, seraya mengusap perut nya. Tak menyadari, bahwa ternyata gus Umar tengah memperhatikan gerakan nya dengan ekor mata nya dan tersenyum tipis.


"Alhamdulillah,, semoga dimudahkan dan sehat-sehat semua nya ya," do'a ning Zahra dengan tulus, untuk Aida dan si jabang bayi.


"Makasih mbak Zahra," balas Aida dengan tersenyum lebar.


"Dik, mbak mau bicara serius sama kamu.. bisa?" Pinta ning Zahra, yang membuat hati Aida berdebar.


"Ada apa ini? Jangan sampai firasat ku ini benar,,, dan ada kaitan nya dengan obrolan mbak Zahra yang sudah-sudah meski belum pernah dinyatakan secara langsung," gumam Aida dalam hati.


Ning Zahra hanya tersenyum, menanggapi tatapan gus Umar.


"Kalau begitu, ibu ke depan dulu," pamit bu Dibyo, yang mengerti bahwa ning Zahra butuh privasi.


"Nggih bu, makasih," balas ning Zahra dengan sopan.


"Ada apa tho mbak?" Tanya Aida menatap ning Zahra dengan perasan tak karuan, penasaran dan cemas menjadi satu.

__ADS_1


"Dik, kamu tahu kan kalau mbak enggak bisa memiliki keturunan," lirih ning Zahra dengan wajah yang mulai terlihat sendu, hingga membuat hati Aida ikut trenyuh.


Reflek, Aida menggenggam tangan ning Zahra sebagai wujud rasa empati nya sebagai sesama wanita.


"Dik, mau ya kamu menikah dengan gus Umar?" Pinta ning Zahra sungguh-sungguh dengan mengeratkan genggaman tangan nya, bahkan kedua mata bening itu kini telah berkabut. Dan dalam sekejap, siap memuntahkan titik-titik air yang akan mengucur deras membasahi wajah ayu nya.


Lidah Aida seakan kelu, calon ibu muda itu tak dapat berkata-kata.


"Jika kemarin-kemarin, mungkin mbak hanya meminta nya dengan tersirat.. maka kali ini, mbak meminta nya dengan kesadaran penuh dan sungguh-sungguh dik," lanjut ning Zahra.


Aida masih terdiam, bingung harus bagaimana bersikap.


Sedangkan gus Umar terlihat syok, tak menyangka sang istri akan benar-benar mengutarakan niat nya kala itu.. meminta Aida untuk menjadi madu nya, bahkan tepat di hadapan gus Umar. Gus Umar menelan saliva berkali-kali.


"Boleh ya, jika nanti anak mu lahir... biar mbak yang merawat nya? Dan dik Aida bisa fokus mengurus gus Umar," Pinta ning Zahra kembali dengan tatapan yang sangat dalam, hingga dirasakan Aida menembus ke jantung nya.


"What? Bagaimana mungkin, seorang istri meminta secara langsung kepada wanita lain untuk mengurus suami nya? Dan merelakan diri nya sendiri untuk mengasuh anak dari wanita lain tersebut?! Tidak,, aku tak sanggup melakukan nya!" Gumam Aida dalam hati.


Aida masih terdiam, hingga beberapa saat lama nya. Mendengar secara langsung permintaan ning Zahra, yang di ucapkan secara sadar dan secara gamblang.. membuat Aida benar-benar merasa pusing tujuh keliling.


Melihat Aida masih juga terdiam, kembali ning Zahra berbicara. "Tolong mbak ya dik, mbak ingin bisa menimang anak. Mbak rela di madu, asalkan itu kamu dik? Sungguh, mbak rela..." ucap ning Zahra seraya menatap Aida lekat-lekat, jelas terlihat kesungguhan di mata ning Zahra yang kini mulai meneteskan bulir bening.


Aida sejenak menunduk, "Ya Allah,, baru beberapa waktu aku merasakan ketenangan, kenapa kini ujian ini kembali datang? Sungguh, aku tak sanggup menolak permintaan mbak Zahra yang ingin ikut merawat anak ku kelak. Tapi, aku pun tak sanggup jika harus menjadi madu." Bisik Aida dalam hati yang kini terasa nyeri, seakan ikut merasakan apa yang di rasa oleh ning Zahra.

__ADS_1


"Demi agar bisa menimang buah hati, mbak Zahra harus merelakan untuk berbagi suami? Sungguh, Aku tak sanggup membayangkan jika berada di posisi mu mbak..." lanjut Aida bergumam.


bersambung,,,


__ADS_2