Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 82 : Yang Pasti, Keturunan


__ADS_3

Sementara gus Umar dan Laila, masih khusyuk menikmati sarapan pagi hasil olahan tangan Aida. "Mau nambah kak?" Tawar Laila, yang siap melayani sang kakak.


"Cukup dik, kakak sudah kenyang," balas gus Umar, dan kemudian memasukkan sesendok nasi terakhir kedalam mulut nya.


Laila pun melanjutkan makan nya, yang juga sudah hampir habis.


Gus Umar yang sudah menghabiskan makanan nya terlebih dahulu, kemudian menyulut rokok dan menghisap nya dalam-dalam,,, dan dalam waktu sekejap, area balkon telah dipenuhi dengan asap putih yang mengepul.


"Kakak,,, bau asep ih,,,?!" Protes Laila dengan sebal, sesaat setelah adik gus Umar itu menyelesaikan sarapan nya.


Gus Umar bergeming, tak menanggapi protes sang adik.


Laila pun kemudian sibuk merapikan kembali bekas sarapan mereka berdua, nasi dan lauk yang masih banyak dirapikan kembali dalam wadah kedap udara dan menutup nya dengan rapat. Sedangkan piring bekas mereka pakai untuk sarapan, Laila taruh di dalam sebuah ember kecil yang nanti akan di cuci nya.


"Kak, Laila mau telpon Aida. Ada yang mau di sampaikan?" Tanya Laila, setelah merapikan semua nya.


Gus Umar mengernyitkan dahi.


"Ya kali, kakak mau nitip ucapan makasih gitu?? Secara kan udah di buatin makanan spesial?" Laila memainkan kedua alis nya naik turun.


Gus Umar mendesah pelan, "makasih," balas gus Umar singkat dan terdengar ambigu.


Gantian Laila yang mengernyitkan dahi, "maksud kak Umar?"


Gus Umar menatap adik nya, "tolong bilangin ke dia, makasih," jelas gus Umar.


"Nah, gitu dong.. yang lengkap," Laila kemudian mengambil ponsel nya dan mendial nomor Aida.


Sedangkan gus Umar menggeleng-gelengkan kepala nya, dan kemudian melanjutkan kembali menghisap rokok nya dalam-dalam.


"Hallo,, assalamu'alaikum,,," ucap salam Laila, begitu panggilan telpon nya di terima oleh seseorang di seberang sana.


"Lho, kok mbak Ning?" Laila nampak heran, karena tak biasa nya ponsel Aida ada di tangan orang lain. Dan lagi pula, mbak Ning tak suka menggunakan ponsel sebab dia buta huruf.


"Aida nya dimana mbak?" Tanya Laila kemudian.


Aida nampak mendengar kan suara di seberang sana, dan sedetik kemudian wajah Laila terlihat panik.


"Terus sekarang Aida nya di mana mbak? Di bawa ke rumah sakit mana?" Kejar Laila pada mbak Ning.


Laila nampak tidak puas dengan jawaban dari mbak Ning.


Mendengar nama Aida dan rumah sakit, gus Umar segera menggerus rokok nya yang masih cukup panjang ke dalam asbak, dan kemudian menatap sang adik dengan intens untuk meminta penjelasan... dan tepat di saat yang sama, Laila juga tengah menatap nya.


"Mbak, tolong kirimi Laila nomor nya bu Dibyo ya?" Pinta Laila.

__ADS_1


Wajah Laila tiba-tiba nampak kesal mendengar jawaban dari mbak Ning, "duh, terus sekarang gimana dong mbak? Masak harus nunggu sampai bu Dibyo yang kasih kabar?" Gerutu Laila.


"Ya, udah mbak.. nanti kalau udah ada kabar, tolong mbak Ning segera hubungi Laila ya? Assalamu'alaikum," pesan Laila, sebelum kemudian mengakhiri panggilan nya dengan mengucap salam.


Laila meletakkan ponsel nya di atas meja dengan kasar, bibir nya mengerucut menandakan bahwa diri nya benar-benar sedang merasa kesal.


"Kenapa dik? Dik Aida kenapa? Kenapa dia di bawa ke rumah sakit? Rumah sakit mana?" Cecar gus Umar dengan banyak pertanyaan, yang membuat Laila semakin pusing.


"Kakak, ih,,, kalau nanya satu-satu dong?!" Protes Laila.


"Iya, Aida di bawa ke rumah sakit. Kemungkinan mau lahiran, tapi mbak Ning enggak tahu Aida di bawa ke rumah sakit mana?" Balas Laila masih dengan bibir yang mengerucut.


"Yang mendampingi? Bu Dibyo?" Tegas gus Umar, yang tadi sempat mendengar pembicaraan sang adik.


Laila mengangguk, "sayang nya, mbak Ning kan enggak bisa baca,,, jadi dia enggak bisa telpon bu Dibyo untuk menanyakan kabar tentang Aida," Laila nampak semakin khawatir.


"Ya udah, kamu ke ruko aja sekarang dik. Cari info sama tetangga nya," titah gus Umar, yang juga merasa khawatir.


"Semoga dik Aida dan bayi nya sehat selamat," gumam gus Umar, yang masih bisa di dengar oleh Laila.


"Aamiin,,," Laila mengaminkan, dan sedetik kemudian segera beranjak.


"Laila mau ke ruko sekarang kak," dan adik gus Umar itu segera berlalu meninggalkan sang kakak, yang masih duduk terpekur memikirkan Aida.


Sepeninggal Laila, gus Umar kembali menyulut sebatang rokok. Menghisap nya dalam-dalam, untuk mengusir gundah yang tiba-tiba menyergap hati nya.


"Gus,,"


"Nggih umi," balas gus Umar, seraya menoleh kearah sumber suara.


"Abi dan umi nya ning Zahra mau pamit, sampean antar beliau sampai di bawah gih," titah sang umi.


"Oh, nggih umi," gus Umar segera beranjak meninggalkan balkon, kembali ke ruang perawatan sang istri.


"Abi, umi, badhe kundur?" Tanya gus Umar seraya menghampiri ranjang pasien, dimana kyai Hasanuddin dan sang istri tengah berada di sana.


"Iya gus, abi ada acara di kabupaten sore nanti," balas nyai Rahma memberikan alasan.


Gus Umar mengangguk mengerti, ayah mertua nya itu memang merupakan salah satu tokoh ulama yang menjadi penasehat spiritual bupati.


Setelah berpamitan dengan putri nya, kyai Hasanuddin dan nyai Rahma kemudian berpamitan pada besan nya.


"Mbak nyai, titip putri ku ya?" Pinta nyai Rahma, seraya memeluk nyai Robi'ah.


"Ya jeng, sampean do'akan terus ning Zahra ya... semoga segera mendapatkan kesembuhan," tutur nyai Robi'ah, dan kemudian melerai pelukan nya.

__ADS_1


Kyai Abdullah dan nyai Robi'ah mengantarkan besan nya, hingga ke depan pintu ruang rawat ning Zahra.


"Ning, aku antar abi sama umi ke bawah ya,,," pamit gus Umar, seraya mencium kening istri nya. Begitulah kebiasaan gus Umar, meski hanya keluar sebentar.. putra kyai Abdullah itu selalu berpamitan dengan sang istri, dan mencium kening istri nya seolah hendak bepergian jauh.


Sungguh, ning Zahra sebenarnya merasa sangat beruntung menikah dengan gus Umar.. meski awal nya karena perjodohan dan tanpa cinta. Bagaimana tidak beruntung? Gus Umar adalah sosok suami yang penyayang, pengertian... dan kesabaran nya, sudah teruji sangat lah luas.


Meski ning Zahra tak bisa memasak, gus Umar tak pernah komplain dan tetap memakan dengan lahap setiap makanan yang disuguhkan meski rasa nya ora ngalor ora ngidul.. yang entah lah? Rasa masakan ning Zahra, tak dapat di definisikan dengan kata-kata.


Gus Umar juga tak pernah mengeluh, ketika ning Zahra selalu pasif dan malu setengah mati tatkala sang suami meminta hak nya. Hingga seringkali, gus Umar harus rela menunda nya... demi kenyamanan ning Zahra.


Hanya saja, takdir kebahagiaan nyata nya belum berpihak pada ning Zahra. Meski memiliki suami yang sempurna, namun diri nya tak dapat memiliki keturunan.. bahkan ujian sakit, bertubi-tubi datang menyapa nya.


"Andai aku sehat dan sempurna seperti wanita lain, betapa beruntung nya diri ku?" Bisik ning Zahra dalam hati.


"Ning, kok malah bengong?" Gus Umar mengernyit, karena ning Zahra tak merespon ucapan nya.


"Eh, nggih gus... monggo," ning Zahra tersadar dari lamunan nya, dan kemudian tersenyum, "hati-hati," lanjut nya lirih.


Gus Umar mengangguk, dan kemudian segera berlalu meninggalkan ruang perawatan sang istri.


"Ayo bi, tuh gus Umar sudah datang," ajak nyai Rahma, tatkala melihat sang menantu berjalan keluar dari kamar.


"Mari mbak, kami permisi dulu. Assalamu'alaikum," pamit nyai Rahma, dan kemudian berjalan beriringan bersama sang suami dan juga menantu nya menyusuri selasar rumah sakit.


"Wa'alaikumsalam,," balas kyai Abdullah dan nyai Robi'ah bersamaan, mengiringi kepergian sang besan. Dan kedua orang tua gus Umar itu kemudian kembali masuk ke dalam ruang perawatan ning Zahra, untuk menemani menantu pertama nya.


Sedangkan gus Umar, sesampainya di area parkir.. pemuda kharismatik itu langsung membukakan pintu mobil untuk mertua nya dan kemudian menyalami orang tua dari ning Zahra, sebelum beliau berdua masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh kang santri.


"Abi sama umi titip Zahra ya gus, sing sabar.. sing sareh.. InsyaAllah, Allah meridhoi setiap perbuatan mu," bisik nyai Rahma dengan netra yang telah berkaca-kaca. Umi ning Zahra itu tahu betul, bagaimana cara gus Umar memperlakukan putri nya.


"InsyaAllah umi, aamiin,,," balas gus Umar seraya mengangguk patuh.


"Terimakasih, sudah menjaga Zahra dengan sangat baik," lanjut nyai Rahma, dengan suara terbata.


"Itu sudah menjadi tanggung jawab Umar, umi ndak perlu berterima kasih," balas gus Umar.


Sedangkan kyai Hasanuddin tak dapat berkata apa-apa, beliau hanya menepuk-nepuk punggung kokok gus Umar dan menatap nya begitu dalam. Seolah hendak menyampaikan berjuta kata terimakasih, karena gus Umar tetap setia mendampingi putri nya meski jelas-jelas ning Zahra tak dapat memberi gus Umar keturunan.


"Assalamu'alaikum gus,," ucap salam kyai Hasanuddin berpamitan, setelah cukup lama menatap sang menantu. Kyai Hasanuddin segera menutup pintu mobil, sebelum kristal bening yang menyeruak dari sudut netra nya meluncur bebas jatuh membasahi wajah nya yang sudah mulai berkeriput.


"Abi rela, jika kau ingin menikah lagi gus,,," bisik kyai Hasanuddin dalam hati. Sebagai orang tua, jelas kyai Hasanuddin tahu pasti apa yang diinginkan oleh seseorang dari sebuah pernikahan... yang pasti, keturunan.


Gus Umar menatap kepergian mobil yang membawa kedua orang tua ning Zahra, dengan perasaan tak menentu. Cukup lama gus Umar terdiam di tempat nya, hingga suara seseorang yang memanggil nama nya... mengagetkan putra kyai Abdullah tersebut.


"Gus, leres gus Umar nggih? Alhamdulillah,, ketemu jenengan di sini gus," ucap wanita paruh baya itu yang berjalan tergopoh-gopoh menghampiri gus Umar, dengan mata berbinar.

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2