
Mobil yang dikendarai sopir pribadi bu Retno itu tiba di bandara tepat menjelang maghrib, sopir tersebut segera mencari tempat parkir yang masih kosong,,, setelah melihat ada tempat kosong, sopir tersebut kemudian memarkir mobil nya di sana.
Pak sopir segera turun, yang diikuti oleh Ryan dan Aida. Ryan bergegas menuju ruang tunggu bandara, seraya menggandeng tangan istri nya.
Dan pak sopir setelah mengambil koper milik Aida di bagasi, segera menyusul langkah putra dari majikan nya itu.
Setelah sampai di ruang tunggu, Ryan mengambil koper milik istri nya dari tangan pak sopir. "Sampai di sini saja pak, bapak pulang lah.. kalau bapak ikut menunggu sampai pesawat kami berangkat, nanti bapak kemalaman," titah Ryan pada sopir ibu nya.
"Baik mas Ryan, kalau begitu saya permisi," pamit sopir tersebut dengan mengangguk sopan, dan kemudian segera meninggalkan Ryan dan Aida.
"Mas, kayak nya udah tiba waktu maghrib. Kita sholat dulu yuk, penerbangan nya kan masih satu jam lagi." Pinta Aida dengan pelan.
"Kita harus segera check in dik, nanti ribet kalau waktu nya mepet. Kamu sholat nanti saja ya, kalau sudah sampai di rumah sana," tolak Ryan.
"Maaf mas, enggak sampai sepuluh menit kok.. lima menit juga bisa," tawar Aida, yang masih mempertahankan prinsip nya.
Meski belum pernah naik pesawat, tapi Aida sudah pernah ikut mengantarkan gus Umar sewaktu hendak berangkat ke Madinah.. jadi sedikit banyak Aida tahu, bahwa mereka masih memiliki waktu yang cukup untuk melaksanakan kewajiban sholat terlebih dahulu sebelum check in dan masuk ke gate untuk menunggu jam penerbangan mereka.
"Ya udah sana, mas tunggu di sini saja," ucap Ryan akhir nya, dengan sedikit terpaksa.
"Makasih mas," balas Aida seraya tersenyum manis, dan kemudian bergegas menuju musholla yang tersedia di ruang tunggu tersebut.
Sedang kan Ryan, duduk di ruang tunggu seraya memainkan ponsel milik nya.
Kurang dari sepuluh menit, nampak Aida berjalan dengan tergesa menghampiri sang suami. "Maaf mas, agak lama.. tadi wudhu nya ngantri," ucap Aida, merasa tak enak hati.
Ryan hanya melirik nya sekilas, dan kemudian bergegas menyeret koper milik sang istri untuk check in tanpa berbicara sepatah katapun dengan Aida.
Aida yang terkejut dengan perubahan sikap Ryan hanya bisa diam, dan bergegas mengekor langkah sang suami.
__ADS_1
Hingga kedua nya tiba di gate, Ryan masih bungkam dan hal itu membuat Aida semakin merasa bersalah sekaligus sedih.
"Mas, mas Ryan marah ya.. sama Aida?" Lirih Aida bertanya, setelah kedua nya duduk.
Ryan mendesah kasar, "tidak," jawab nya datar.
Hening,, kedua nya sama-sama terdiam, dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Bagi Aida kesunyian seperti ini, terasa sangat mencekam.
"Kalau menurut mas Ryan Aida melakukan kesalahan, Aida minta maaf," ucap Aida memecah keheningan, Aida tak ingin suasana mencekam seperti ini berlarut-larut.
"Mas enggak suka, di saat mas ingin berduaan dengan kamu.. kamu malah sibuk beribadah," balas Ryan masih dengan aura nya yang dingin.
Mendengar jawaban suami nya, Aida dibuat terhenyak kaget. "Astaghfirullaahal'adziim..." lirih nya dalam hati. Ingin Aida mengeluarkan semua pendapat dan pengetahuan yang di peroleh nya dari pesantren agar suami yang tak lagi mengenal Tuhan nya itu mengerti.. namun untuk saat ini, nampak nya hal itu akan sia-sia belaka.
Aida hanya bisa mendesah pelan, "maaf, Aida pikir waktu untuk beribadah itu hanya sebentar saja.. masih banyak waktu yang kita punya, untuk terus bersama-sama." Ucap Aida dengan menunduk, menyembunyikan bulir bening yang mulai berjatuhan.
Buru-buru Aida menyeka air mata nya dengan kasar, agar sang suami tak mengetahui bahwa diri nya menangis.
Tiba-tiba saja, bayangan gus Umar melintas begitu saja di benak nya. Lagi, gus Umar seolah memberi nya senyuman manis. "Gus,,," bisik Aida dalam hati.
"Kenapa aku merasa kalau saat ini, gus Umar berada di dekat ku ya?" Aida mengedarkan pandangan, menyapu area di sekitar nya.. namun bayangan yang di cari, tidak dia temukan.
"Ah, tidak mungkin. Mereka kan masih di tanah suci? Tapi.. tunggu,, tunggu,, bukan nya ini sudah hari ke empat belas? Dan itu artinya, hari ini adalah hari kepulangan mereka?" Aida bermonolog dalam hati, dan sedetik kemudian Aida mengedarkan pandangan nya kembali. Namun tetap nihil, yang dia harapkan tak kan menjadi kenyataan karena mereka berada di sisi yang berbeda.
Memang benar, tepat bakda maghrib pesawat yang ditumpangi keluarga kyai Abdullah mendarat di bandara yang sama.. dimana Aida dan suami nya akan berangkat lima belas menit lagi.
Namun rombongan keluarga kyai Abdullah, keluar melalui pintu yang berbeda dengan Aida dan Ryan yang hendak melakukan penerbangan.
Gus Umar nampak menyeret dua koper, milik nya dan milik sang umi. Sedang kan Laila yang berjalan di samping nya, membawa koper nya sendiri. Mereka berdua melangkah keluar dari bandara, mengikuti langkah kyai Abdullah dan nyai Robi'ah yang berjalan dengan pelan.
__ADS_1
Tepat di pintu keluar, gus Umar menghentikan langkah nya. Gus Umar menengok ke belakang, karena seakan ada yang memanggil-manggil nama nya.
"Kenapa kak?" Tanya Laila, yang ikut berhenti.
Gus Umar menggeleng, "enggak ada apa-apa dik, ayo jalan lagi," ajak gus Umar pada adik nya.
Meski kaki nya terus melangkah keluar, namun gus Umar masih sesekali menengok ke belakang. "Dik Aida,, kenapa tiba-tiba aku teringat pada diri mu?" Gumam gus Umar dalam hati.
"Aku merasa, dia berada di sekitar sini sekarang? Tapi, apa mungkin? Apa dia ikut menjemput kedatangan kami? Dia kan tahu jadwal kepulangan kami?" Gus Umar bermonolog dengan diri nya sendiri, seraya terus melangkah keluar dari bandara mengikuti langkah kedua orang tua nya.
Gus Umar nampak tak sabar menghampiri mobil yang menjemput keluarga nya, dan berharap Aida ada di dalam sana dan ikut menjemput ke bandara.
"Kang, apa ada santri lain yang ikut menjemput?" Tanya gus Umar dengan tidak sabar, pada kang santri yang menjemput.
"Maaf gus, maksud gus Umar?" Kang santri bukan nya menjawab, tapi malah balik bertanya pada putra kyai nya tersebut.
Merasa bahwa tak ada orang lain di dalam mobil, selain kang santri yang menyetir mobil milik sang abah.. gus Umar pun menggeleng, "tidak apa-apa kang, lupakan," balas gus Umar dengan perasaan kecewa.
Kyai Abdullah dan nyai Robi'ah saling pandang, tak mengerti dengan sikap putra nya.
"Kakak pasti mengira kalau Aida ikut menjemput kita kan?" Bisik Laila di telinga sang kakak.
Gus Umar menatap adik nya, "pasti Aida kecewa sama kakak dik, karena kakak enggak bisa memperjuangkan nya. Dan saat ini, dia pasti sedang marah.. karena menerima undangan pernikahan kakak dan ning Zahra," lirih gus Umar yang hanya bisa di dengar oleh adik nya.
"Apa? Undangan kakak sudah di sebar?" Laila sangat terkejut mendengar perkataan kakak nya, "bukan hanya dia yang kecewa tapi aku juga," lanjut Laila menatap sang kakak dengan netra berkaca-kaca.
"Sst,,, tenanglah dik, nanti kakak ceritakan di rumah. Ayo kita segera naik," gus Umar menepuk lembut punggung adik nya, dan menyuruh Laila untuk segera masuk kedalam mobil.
bersambung,,,
__ADS_1