Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 51 : Gara-gara Nenek Lampir


__ADS_3

Aida segera menyelesaikan tadarus nya, tatkala matahari telah muncul di ufuk timur. Bergegas merapikan mukena dan mushaf nya, dan kemudian memasukkan ke dalam tas cangklong.


Aida hendak meninggalkan musholla, ketika seorang pria paruh baya yang sedari tadi mengamati Aida dari kejauhan.. memanggil nya.


"Mbak, maaf.. boleh saya tahu mbak ini mau kemana? Kita semalam satu armada, dan kebetulan.. kemarin ketika di terminal Jakarta, saya juga melihat mbak di Musholla. Oh ya, perkenalkan mbak.. saya pak Dibyo, saya habis jenguk cucu saya di Jakarta," terang laki-laki paruh baya yang bernama pak Dibyo tersebut, panjang lebar.


Aida mengangguk hormat, "oh nggih,, maaf, saya malah enggak memperhatikan. Saya Aida pak, pak Dibyo bisa panggil nama saya saja.. Aida," balas Aida seraya tersenyum ramah.


"Pak Dibyo sendirian?" Tanya Aida, mengabaikan pertanyaan pak Dibyo yang menanyakan tujuan nya.


Pak Dibyo mengangguk, "iya nak, bapak sendirian. Maaf, bapak panggil nak saja ya? Seperti nya usia nak Aida seusia dengan anak saya yang bungsu," balas dan pinta pak Dibyo.


"Bapak mau ke kota bagian timur, daerah terminal angkot. Kalau nak Aida tidak keberatan, silahkan ikut bapak. Maaf, bukan nya bapak lancang.. tapi bapak lihat sejak kemarin, seperti nya nak Aida sedang kebingungan?" Pak Dibyo menatap dengan teduh pada Aida.


Aida menunduk, "iya pak, sebenar nya tujuan saya juga kearah sana. Tapi saya belum punya tempat yang di tuju, saya bermaksud mencari kontrakan di daerah terminal angkot itu pak," balas Aida dengan jujur, mencoba meyakinkan diri bahwa laki-laki paruh baya di depan nya adalah orang baik.


Pak Dibyo mengangguk-angguk, "kalau begitu, kita bisa sama-sama nak. Singgah lah dulu di rumah bapak, nanti biar di antar istri sama anak bapak untuk keliling mencari kontrakan," pinta pak Dibyo penuh harap, terselip rasa iba di hati laki-laki paruh baya tersebut melihat seorang gadis bepergian seorang diri dan belum memiliki tujuan yang jelas.


Sejenak Aida bergeming,,, banyak sekali PR yang harus dilakukan nya sekarang. Secepat nya mencari kontrakan, agar hidup nya tidak menggelandang. Mencari atau membuat usaha sendiri, agar dia bisa memiliki penghasilan sehingga bisa terus bertahan hidup dengan layak bersama sang calon buah hati. Hingga suara dehaman pak Dibyo membuyarkan lamunan nya.


"Eh maaf pak, ehmm.. terimakasih tawaran nya, tapi Aida sendiri saja. Enggak enak ngrepoti bapak," balas Aida dengan sungkan, Aida tak mau kehadiran nya membebani keluarga pak Dibyo dan membuat laki-laki paruh baya yang sudah ramah pada nya itu menjadi repot karena nya.


Pak Dibyo menggeleng, "ayolah nak, ikut bapak ya? Bapak tidak tega melihat anak ragil bapak yang seperti mu, harus lontang-lantung sendirian di jalanan. Kalau kamu sungkan, anggap saja bapak adalah ayah mu.. atau pekdhe mu, atau embah mu juga boleh," ajak pak Dibyo dengan serius.

__ADS_1


Akhirnya Aida mengangguk setuju, "baiklah pak, Aida ikut pak Dibyo. Terimakasih banyak sebelum nya," ucap Aida dengan tulus, yang di balas anggukan oleh pak Dibyo.


Keduanya kemudian berjalan bersisihan menuju jalur bis kota, yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.


Sepanjang perjalanan pak Dibyo banyak bercerita tentang keluarga nya, satu tujuan nya.. agar gadis yang bersama nya, tidak merasa asing dengan diri nya maupun keluarga nya nanti. Karena pak Dibyo memang tulus menolong, dan bukan karena pamrih.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, sampai lah kedua nya di terminal angkot bagian timur ibu kota propinsi.


"Nak Aida masih kuat untuk jalan kaki? Rumah bapak agak jauh dari terminal, tapi kalau naik ojek tanggung juga." Tanya pak Dibyo, yang melihat Aida nampak kelelahan. "Kalau jalan kaki sekitar sepuluh menit," lanjut nya seraya menatap Aida.


Aida mengangguk, "ndak masalah pak, Aida masih sanggup," balas Aida.


Mereka berjalan perlahan menyusuri jalan kampung, yang mulai ramai orang berlalu-lalang hendak berangkat beraktifitas. Dan sepuluh menit kemudian, kedua nya tiba di rumah yang cukup bagus di antara rumah-rumah yang lain di kiri dan kanan nya.


"Hollee,, bapak puyang, ibu.. yihat, bapak udah puyang," teriak gadis remaja tersebut seperti anak kecil.


Pak Dibyo tersenyum bahagia, dan kemudian menciumi puncak kepala putri nya yang menderita keterbelakangan mental itu dengan penuh kasih.


Aida yang melihat secara langsung putri orang yang telah berbaik hati mengajak nya pulang, merasa sangat terharu.. hingga tanpa di sadari nya, bulir bening menetes membasahi pipi nya.


Terngiang kembali cerita pak Dibyo di sepenjang perjalanan tadi, yang menceritakan berbagai hal tentang sang putri dengan penuh kebanggaan. Putri nya yang ceria, putri nya yang rajin, putri nya yang senang membantu orang lain... dan masih banyak yang lain, yang membuat senyum laki-laki paruh baya itu terus tersungging, mengingat putri nya.


Kini Aida semakin menyadari, betapa berharga nya seorang anak di mata orang tua nya,, meski bagaimanapun keadaan anak tersebut. Dan hal ini juga yang membuat Aida semakin menguatkan tekad, untuk melahirkan dan membesarkan sang calon buah hati,,, meski nyawa sebagai taruhan nya.

__ADS_1


@@@@@


Sementara Ryan yang baru terbangun tatkala sang surya telah memancarkan terik nya, langsung mendapat kan tatapan tajam dari ibu dan juga kakak nya.


"Bangun! Dan buruan mandi!" Seru sang kakak sambil menyeret kaki Ryan.


"Mbak Ira ini, apa-apaan sih?! Aku masih ngantuk mbak, kepala ku juga masih pusing?!" Balas Ryan yang kembali meringkuk di tempat tidur nya yang empuk, di kamar utama milik nya.


"Maka nya biar pusing nya cepet ilang, buruan mandi! Terus makan! Kata ibu perut mu belum terisi sejak kemarin siang, dan semalam kami mendapati kamu pulang dalam keadaan mabuk! Mau jadi apa kamu Ryan?!" Ira masih mengomeli adik nya, dan kembali menarik kaki Ryan.


"Umur sudah hampir kepala tiga, tapi kelakuan masih kayak abege labil!" Lanjut Ira, seraya berusaha membantu sang adik untuk bangkit. Ira memang keras, tapi sebagai kakak pertama.. dia sangat menyayangi Ryan.


Kemarin sore, begitu ibu nya datang dengan diantar sopir Ryan dan kemudian bu Retno menceritakan semua nya pada Ira.. kakak perempuan Ryan itu langsung mengajak sang ibu untuk kembali ke rumah Ryan, karena Ira khawatir adik laki-laki nya itu akan melakukan hal-hal yang bodoh jika tidak di dampingi.


Dan benar saja, sang adik yang pulang dalam keadaan mabuk.. hampir saja dimanfaatkan oleh Mirna, jika Ira dan ibu nya tidak segera datang.


Semalam, Mirna dengan pakaian seksi dan transparan sedang memapah Ryan yang setengah sadar dan terus ngelantur menyebut nama Aida sambil menciumi pembantu genit itu. Mirna yang sudah lama menyimpan hasrat pada Ryan, dengan senang hati menikmati setiap sentuhan majikan nya itu.. dan Mirna hendak membawa Ryan menuju ruang tamu, yang telah Mirna tata sedemikian rupa untuk merayakan malam pertama nya.


Namun, baru saja sampai di ambang pintu.. Ira dan bu Retno yang buru-buru masuk ke dalam rumah dan melihat nya, langsung menyuruh suami Ira yang saat itu juga ikut ke rumah Ryan untuk membawa Ryan menuju kamar utama milik Ryan.


Bu Retno dan Ira mengekor di belakang suami Ira yang memapah Ryan, dan meninggalkan Mirna yang termangu seorang diri,,, dengan menyimpan kemarahan dan hasrat yang telah membumbung tinggi.


"Sialan! Gagal lagi rencana yang telah gue susun! Gara-gara nenek lampir itu yang malah balik lagi ke sini, dan mengajak mbak Ira!" Rutuk Mirna, yang terlihat sangat kesal.. karena hasrat nya yang telah memuncak, tak bisa tersalurkan.

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2