Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab 56 : Ternyata Aku Belum Bisa Melupakannya?


__ADS_3

Malam ini, setelah hampir setengah hari tadi Aida, mbak Ning dan dengan di bantu oleh bu Dibyo berbenah serta menata ruang depan untuk dijadikan warung.. Aida bisa bernafas dengan lega, semua yang di angankan mulai terealisasi satu demi satu.


Aida mulai merasa tenang kini, karena selain bertemu dengan pak Dibyo dan keluarga nya yang sangat baik.. Aida juga telah berkumpul kembali dengan mbak Ning, orang yang telah di anggap sebagai kakak nya sendiri.


Aida yang baru keluar dari kamar nya setelah sholat isya' dan merebahkan diri sebentar, kini berjalan mendekati mbak Ning yang sedang mengupas bawang merah sambil nonton televisi yang menayangkan sinetron favorit nya. "Tio udah bobok mbak?" Tanya Aida, seraya mendudukkan diri tepat di samping mbak Ning.


Mbak Ning mengangguk, "sudah neng, kecapekan bermain sama Bunga kayak nya.. jadi tidur nya cepat," balas mbak Ning, seraya menoleh ke arah Aida.


"Mbak, ada yang mau Aida ceritakan sama mbak Ning,,," sejenak Aida menghentikan ucapan nya, dan mendesah pelan.


Mbak Ning menghentikan mengupas bawang, dan menatap netra indah milik Aida. "Apa ini ada kaitan nya dengan putra nya bu Retno neng, suami mu itu?" Tebak mbak Ning, "sebab kemarin, sopir pribadi bu Retno wara-wiri ke rumah menanyakan apakah neng Aida pulang ke rumah atau tidak?" Terang mbak Ning.


Aida mengangguk, "iya mbak,, tentang hubungan Aida dengan mas Ryan," jawab Aida.


"Kenapa neng? Ada masalah?" Tanya mbak Ning menyelidik.


Aida kemudian menceritakan semua nya yang terjadi pada diri nya kepada mbak Ning, tanpa ada air mata sedikit pun yang menetes. Entah karena air mata nya yang telah mengering, atau kah karena Aida sudah bisa berdamai dengan takdir hidup yang menimpa nya.


Yang jelas, bayangan Ryan pun tak pernah muncul dalam ingatan nya selama dua hari ini,, setelah diri nya resmi berpisah dengan Ryan. Justru yang muncul adalah perasaan lega, meski Aida tak tahu pasti apa sebab nya.


Sedangkan mbak Ning yang mendengar kan dengan khusyuk cerita Aida, justru berlinang air mata, "jadi, neng Aida hamil?" Tanya mbak Ning, seraya mengusap perut Aida yang masih sangat rata.


Dari tatapan mata mbak Ning, jelas terlihat bahwa ibu dari Tio itu nampak bahagia karena mendengar kabar kehamilan Aida,, sekaligus juga terlihat sedih mendengar nasib Aida, yang di tuduh hamil karena berselingkuh dan di jatuhi talak oleh suami nya.

__ADS_1


"Dah, mbak Ning jangan nangis. Aida udah enggak apa-apa kok, Aida malah merasa tenang sekarang. Aida yakin, melalui kejadian ini.. Allah ingin menunjukkan pada Aida, bahwa mas Ryan memang bukan lah sosok imam yang tepat untuk Aida dan anak ini," ucap Aida mencoba menenangkan mbak Ning, seraya mengusap-usap kan tangan mbak Ning yang masih berada di perut nya.


Mbak Ning mencoba untuk tersenyum, senyum yang terlihat sangat dipaksakan, "semoga diberikan kemudahan dan kelancaran ya neng, selamat dan sehat ibu dan bayi nya," do'a mbak Ning dengan tulus, dan kemudian memeluk Aida dengan erat.


"Makasih mbak," ucap Aida seraya melerai pelukan nya, dan kemudian menyusut air mata mbak Ning yang masih saja menetes membasahi pipi ibu satu putra itu.


Hening tercipta diantara kedua nya, tak ada yang mengeluarkan suara hingga beberapa saat lama nya.


"Oh ya neng, apa neng Aida sudah pernah menghubungi ning Laila?" Tanya mbak Ning tiba-tiba, memecah keheningan.


Aida menggeleng, "belum mbak," jawab nya datar.


"Hampir tiap bulan, tiap kali ning Laila pulang dari kota.. dia pasti ke rumah, untuk menanyakan kabar neng Aida? Ning Laila seperti nya sangat kehilangan sekali neng,,," mbak Ning menatap Aida dengan dalam.


"Bahkan saat itu, saat mbak Ning memberi kan surat dan kado neng Aida kepada ning Laila... mereka semua menangis membaca surat neng Aida," terang mbak Ning.


"Mereka?" Tanya Aida, dengan mengernyitkan dahi nya.


Mbak Ning mengangguk, "iya, ning Laila dan keluarga nya. Pak kyai, bu nyai dan gus Umar," balas mbak Ning.


"Apa?! Jadi surat ku untuk Laila, dibaca di depan abah dan umi? Juga kakak nya?!" Tanya Aida, memastikan.


Lagi, mbak Ning mengangguk,

__ADS_1


"Duh,," Aida menepuk jidat nya sendiri, Aida merasa malu karena perasaan nya terhadap gus Umar akhir nya telah diketahui oleh abah yai Abdullah dan juga umi.


"Apa lagi gus Umar neng, beliau sampai tergugu sambil memeluk kado dari neng Aida," lanjut mbak Ning, yang kala itu melihat adegan mengharu biru keluarga kyai Abdullah dari kejauhan.


Aida membuang kasar nafas nya, bayangan gus Umar yang sudah lama di kubur dalam-dalam di sudut hati nya kini muncul kembali. Tapi Aida buru-buru menepis nya, karena kini gus Umar telah menjadi milik wanita lain.


Aida menggeleng-geleng kan kepala nya, sesekali terdengar nafas nya mendesah kasar. "Mbak, Aida istirahat dulu ya," pamit nya pada mbak Ning, yang kembali sibuk mengupas bawang merah.


Mbak Ning mengangguk, "iya neng, istirahat lah.. neng Aida enggak boleh capek-capek, harus banyak istirahat," nasehat mbak Ning mengiringi langkah Aida menuju kamar, yang berhadapan dengan kamar mbak Ning dan putra nya.


Aida segera masuk kedalam kamar dan menutup pintu nya perlahan, bergegas menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan untuk bersih-bersih. Dan setelah itu, Aida membaringkan tubuh nya yang kini gampang lelah, di atas kasur lantai berukuran sedang yang pagi tadi di beli nya di pasar.


Ingin rasa nya Aida bisa segera tertidur, tapi nyata nya apa yang dikatakan mbak Ning tadi terus terngiang-ngiang di telinga nya. "Apa lagi gus Umar neng, beliau sampai tergugu sambil memeluk kado dari neng Aida."


Berkali-kali Aida membuang kasar nafas nya, dan berharap bisa menerbangkan semua pikiran nya yang kini terus tertuju pada gus Umar. "Dia hanya bagian dari masa lalu yang tak bisa ku genggam, tidak.. tidak.. aku tak boleh mengingat nya." Lirih nya bergumam.


"Maaf kan aku La,, tadi nya, aku sempat berpikir untuk memberitahukan mu tentang kabar bahagia kehamilan ku.Tadi nya aku berpikir aku sudah siap jika suatu saat bertemu dengan mu, juga abah, umi dan kakak mu,, karena aku sudah bahagia dengan keluarga kecil ku, tapi kini..." Aida menghembus nafas nya panjang, seolah ingin mengeluarkan beban berat yang kembali menghimpit dada nya.


Tidak La, maaf.. aku belum bisa memberi mu kabar sekarang, karena aku tak mau kamu mengetahui keadaan ku yang sekarang. Tidak La, abah dan umi tak boleh tahu tentang hal ini." Aida bermonolog dalam diam, dan air mata telah memenuhi sudut netra nya.


"Ah,, kenapa aku jadi melo begini? Tadi seharian aku udah baik-baik aja, tapi begitu mbak Ning menceritakan tentang gus Umar.. kenapa aku jadi sedih dan merasa bersalah?" Tanya Aida pada diri nya sendiri.


"Apa karena,,, bahwa ternyata, aku belum bisa melupakan nya?"

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2