
Semenjak malam itu, Ryan menjadi sering keluar malam dan mabuk-mabukan. Bu Retno dan suami nya sampai di buat pusing, dengan kelakuan putra bungsu nya tersebut.
"Ryan,, ada bapak dan ibu di sini, masak kamu tetap mau keluar malam juga?!" Tegur bu Retno yang baru tiba di kediaman Ryan sore tadi, tatkala melihat sang putra sudah berpakaian rapi dan kemudian menyambar kunci mobil yang tersimpan di tempat biasa.
"Maaf bu, Ryan sudah ada janji sama teman," balas Ryan, dengan tetap melangkah meninggalkan ruang keluarga dimana bapak dan ibu nya tengah duduk sambil nonton televisi.
"Teman siapa? Laki-laki atau perempuan?" Selidik bu Retno, yang langsung mengekor langkah sang putra.
Ryan menghentikan langkah nya, dan menoleh kearah sang ibu yang sudah berhasil menyusul nya. "Laki-laki bu, yang kemarin menang tender besar di ibukota. Dan dia minta sama Ryan untuk bergabung mengerjakan sebagian proyek nya," terang Ryan.
"Benar laki-laki?" Tatapan bu Retno masih menyelidik.
Ryan terkekeh mendapati kecurigaan sang ibu yang ditujukan pada diri nya, "laki-laki bu, kalau perempuan pasti sudah Ryan bawa pulang dan Ryan kenalkan pada ibu," jawab Ryan dengan mimik serius.
Ya, meskipun sering mabuk-mabukan tapi Ryan bukan tipe petualang wanita. Sebisa nya dia masih menjaga agar tidak terjebak dan tidur dengan wanita penjaja s**k, yang banyak bertebaran di diskotik yang biasa dia kunjungi.
"Ryan pergi dulu bu, ibu langsung istirahat saja. tidak perlu menunggu sampai Ryan pulang," pamit Ryan, dan bergegas melanjutkan langkah nya meninggalkan sang ibu yang masih terpaku menatap punggung nya yang kokoh yang semakin menjauh.
Dengan kecepatan tinggi, Ryan melajukan kuda besi nya membelah jalanan raya beraspal yang cukup padat menuju sebuah kafe di pusat kota sesuai yang di janjikan oleh teman nya tadi via telepon.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, Ryan mengarahkan mobil nya menuju lokasi yang area parkir nya cukup luas. Ryan segera memarkir mobil nya di tempat yang telah tersedia.
Ryan yang baru saja turun dari mobil di buat terkejut, tatkala di kejauhan melihat mantan istri nya sedang berjalan bergandengan mesra dengan salah satu pejabat publik yang wajah nya sering dilihat Ryan waktu masih di ibukota.
Laki-laki tambun berusia sekitar setengah abad, yang lebih layak menjadi ayah bagi Angel, mantan istri pertama nya yang kabur dengan berondong.. tapi apa yang dilihat nya kini, jauh berbeda.
__ADS_1
Naluri keingintahuan Ryan menuntun langkah nya untuk mengikuti sang mantan istri dan laki-laki tua parlente gandengan Angel.
Terlihat mereka menuju ke sebuah meja di bagian ujung, yang terlihat paling sepi. Ryan dengan gerakan hati-hati mengikuti kedua nya, dan mengambil posisi aman untuk menguping pembicaraan mereka.
Mereka berdua masih terdengar tertawa, dan sesekali saling memuji. Dan Angel tanpa merasa malu, sering melakukan kontak fisik dengan laki-laki paruh baya tersebut meskipun ini di tempat umum.
Bergelayut manja di lengan gandengan nya, sesekali memeluk leher laki-laki tambun tersebut, dan di lain waktu memberikan kecupan hangat di bibir tebal dan kehitaman ibu dengan durasi yang cukup lama. Yang membuat Ryan harus menahan nafas nya, melihat kelakuan Angel saat ini.
"Jujur, saya puas dengan permainan ranjang kamu tadi sayang," ucap laki-laki itu, di sela-sela kecupan yang diberikan oleh Angel, "aku jadi tidak sabar, untuk melakukan ronde yang kedua," lanjut laki-laki itu dengan kerlingan mata nya yang menggoda Angel.
"Sabar dong pi, kita isi amunisi dulu sebentar,,, baru kita gas pool sampai pagi," rayu Angel, seraya menciumi pipi bandot tua itu, begitu Ryan menyebut nya.
"Kamu kalau main memang lebih suka yang totally gitu ya, tanpa pengaman?" Tanya laki-laki paruh baya tersebut, menatap intnes manik Angel yang memakai soflense.
"Tidak takut hamil?" Selidik gandengan Angel.
"Hahaha,,,," Angel tertawa lepas, "hamil???" Angel semakin tergelak, "aku bahkan tak memiliki rahim sejak aku belum menikah pi,," lirih Angel kemudian.
Laki-laki paruh baya tersebut mengernyit,, sedangkan Ryan masih belum bisa mencerna perkataan Angel yang bisa di dengar nya dengan jelas barusan.
"Ya, rahim ku di angkat tiga bulan sebelum aku menikah, dan calon suamiku saat itu sama sekali tidak mengetahui nya. Bahkan hingga saat aku memutuskan untuk pergi meninggalkan nya, sebelum kebohongan ku terbongkar oleh Ryan dan kemudian mengusirku," terang Angel dengan begitu gamblang, yang membuat dada Ryan terasa sesak.
"Jadi, dokter obgyn yang direkomendasikan Angel itu... dokter gadungan? Apa ini arti nya, aku tidak mandul?? Dan anak yang di kandung Aida.... ah....!!" Ryan menggebrak meja dengan sangat keras, namun sebelum Ryan bertindak lebih jauh untuk menghampiri Angel dan bandot tua itu.. teman Ryan telah terlebih dulu memanggil nya.
"Bro,, aku cari-cari dari tadi, di sini rupa nya?"
__ADS_1
@@@@@
Sedari tengah malam tadi, Aida di rawat di Rumah Sakit terbesar di ibukota propinsi atas saran bidan langganan Aida. Karena pendarahan yang Aida alami akibat terjatuh di dapur tidak juga berhenti, dan mengucur dengan deras meski saat itu bidan langsung memberikan pertolongan.
Dan semalam yang menemani Aida di rumah sakit adalah bu Dibyo, karena Tio masih demam. "Kamu sudah bangun nak?" Bu Dibyo yang baru saja selesai menunaikan sholat shubuh terlihat sangat lega, melihat Aida akhir nya membuka mata nya. Setelah semalaman tadi mata Aida terus terpejam, dengan wajah pucat menahan rasa sakit.
"Bu, tolong bantu Aida ke kamar mandi nggih.. Aida mau ambil air wudhu," pinta Aida.
Dengan sigap, bu Dibyo membantu memapah tubuh lemah Aida menuju kamar mandi sambil membawakan botol infus dan pembalut untuk ganti. Tak berapa lama, Aida keluar dengan wajah yang masih basah oleh air wudhu,,, hingga membuat wajah calon ibu muda itu, nampak lebih segar.
Setelah kembali ke bed, dan memakai mukena.. Aida kemudian segera melaksanakan sholat shubuh dengan duduk menghadap kiblat, karena tangan nya masih di infus.
Beberapa saat kemudian, "nak Aida jangan mandi dulu ya,, biar ibu bantu bersihkan tubuh nak Aida pakai waslap dan air hangat saja, pakaian nak Aida harus ganti biar lebih segar?" Tutur bu Dibyo, meskipun semalam begitu bidan datang ke ruko pakaian Aida sudah di ganti sama mbak Ning dengan di bantu bidan tersebut... karena dress yang dikenakan Aida kotor dan penuh darah.
"Ndak perlu bu, biar nanti sama suster saja. Maaf, sebaik nya ibu kundur saja nggih,, ini sudah hampir jam enam, dan sebentar lagi bapak tindak kantor. Kasihan dik Bunga kalau ndak ada ibu," pinta Aida.
"Beneran, nak Aida ndak apa-apa ibu tinggal." Tanya bu Dibyo dengan tatapan cemas.
Aida mengangguk pasti, "ada banyak suster di sini bu."
"Kalau begitu, ibu pulang dulu ya.. biar nanti gantian mbak Ning yang ke sini dan membawakan makanan," bu Dibyo segera berkemas, dan kemudian meninggalkan ruang rawat Aida.
"Ya Allah, rasa nya masih nyeri.. semoga anakku baik-baik saja. Beri kami kekuatan untuk melalui semua ini Ya Allah, Ya Qowiyyu Ya Matiin,,," lirih nya penuh harap seraya meraba perut nya yang mulai membuncit di trimester kedua, begitu pintu ruang rawat nya tertutup sempurna.
bersambung,,
__ADS_1