Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 94 : Aida Pingsan


__ADS_3

Mobil ambulans yang membawa jenazah Aida, telah tiba di halaman kediaman kyai Abdullah. Dan kyai Abdullah itu segera mengambil alih bayi mungil yang sudah tak bernyawa itu dari tangan ibu nya, untuk di sholat kan kembali oleh kyai Abdullah beserta para santri, yang telah bersiap di masjid pesantren.


Para santri putri juga telah berkumpul di aula, beserta tetangga kiri kanan pesantren yang mengetahui kabar duka dari salah seorang alumni pesantren tersebut. Mereka membacakan tahlil dan surat Yasin untuk bayi mungil yang masih suci itu.


Pak Karyo dan bu Karyo, beserta beberapa orang tetangga Aida yang tak percaya dengan rumor yang beredar mengenai perselingkuhan Aida.. juga sudah berada di sana, untuk melayat.


Bu Karyo langsung menghampiri Aida yang baru saja turun dari mobil, dan kemudian di dudukkan oleh Laila di kursi roda sebelum di bawa ke aula untuk bergabung bersama santri putri yang mendoakan baby Wildan.


"Nak Aida,,," lirih istri pak Karyo, sembari memeluk anak dari orang yang telah banyak berjasa pada keluarga nya, "yang sabar ya nak, Allah pasti akan mengganti nya dengan kebahagiaan yang berlipat-lipat," lanjut wanita berusia empat puluhan tahun itu, seraya mengusap air mata nya yang hampir jatuh.


"Makasih mbok Nah, makasih sudah ikut hadir di sini." Ucap Aida dengan tulus.


"Maafkan mbok Nah ya nak, mbok Nah ndak pernah menjenguk mu di kota,,, karena kami ndak tahu, naik Aida tinggal dimana selama ini sama mbak Ning? Pake setiap kali mboke suruh untuk menghubungi nomor nak Aida, selalu saja bilang kalau ndak tahu nomor ponsel nak Aida," sesal mbok Nah, yang tak bisa ikut mendampingi Aida di masa sulit nya.


"Lha wong, pake memang ndak tahu kok mbok,,," balas pak Karyo, yang berdiri di belakang istri nya.


"Ndak apa-apa mbok Nah, toh sudah ada mbak Ning yang menemani Aida. Dan ada bu Dibyo juga,,," Aida menoleh ke arah bu Dibyo, yang berdiri di samping nya.


"Mbok Nah, pak Karyo,, kenalkan, beliau ini bu Dibyo, orang yang telah menolong dan membantu Aida selama ini," Aida memperkenalkan bu Dibyo pada pak Karyo dan istri nya.


"Bu, beliau ini pak Karyo dan mbok Nah, yang mengurus warung dan rumah Aida di kampung. Rumah beliau tepat di sebelah rumah Aida," terang Aida, yang mengenalkan juga pasangan pak Karyo pada bu Dibyo.


Bu Dibyo dan mbok Nah saling berjabat tangan, dan sama-sama tersenyum. "Orang baik, pasti akan di kelilingi oleh orang-orang yang baik," ucap mbok Nah dengan netra berkaca-kaca, "maturnuwun nggih bu Dibyo, sudah mau membantu nak Aida." Lanjut mbok Nah, dengan menatap hangat bu Dibyo.


Bu Dibyo mengangguk, "kami menyayangi nak Aida, seperti putri kami sendiri." Ucap Dibyo.


Pak Karyo pun mengangguk-angguk.


"Ayo, kita ke aula sekarang.." titah nyai Robi'ah, menyudahi obrolan mereka semua.

__ADS_1


Laila segera mendorong kursi roda Aida, menuju aula yang terletak di samping masjid.


Di serambi asjid, nampak telah dipenuhi oleh santri putra yang hendak ikut men-sholatkan jenazah baby Wildan. Pak Karyo bersama beberapa tetangga nya yang ikut melayat pun, turut bergabung di serambi masjid.


Ryan, yang baru saja datang bersama kedua orang tua nya juga sopir pribadi keluarga nya.. langsung bergabung dengan yang lain di serambi masjid, sedangkan bu Retno mengikuti mbak Ning dan putra nya beserta Bunga yang baru saja datang untuk menuju aula.


Pak Dibyo pun langsung ikut bergabung dengan para lelaki di serambi masjid, karena sholat jenazah akan segera di mulai.


Bu Retno mengambil tempat duduk, yang paling dekat dengan Aida. Wanita tua itu menatap Aida yang terus menunduk sambil bibir nya komat-kamit membaca ayat-ayat Allah untuk mendo'akan sang putra, dengan tatapan yang penuh penyesalan.


Kali ini, seperti nya bu Retno benar-benar menyesal. Terngiang kembali ucapan putra nya tadi, sewaktu mereka berada di lobi rumah sakit. Karena ucapan nya yang pedas, Ryan dan Aida harus kehilangan putra nya. Dan dia juga kehilangan seorang cucu, cucu dari putra bungsu yang telah lama dinantikan nya.


Bu Retno menunduk, air mata mulai luruh membasahi pipi nya. "Apakah nak Aida, masih mau memaafkan ku? Gara-gara ucapan ku, mereka berdua harus kehilangan bayi nya,,, apakah kira-kira masih ada kesempatan bagi Ryan, untuk kembali bersama dengan nak Aida?" Gumam bu Retno dalam hati, seraya melirik Aida yang masih saja menunduk.


Tak berapa lama, sholat jenazah itu pun selesai dilaksanakan. Dan Ryan, yang sebelumnya nya sudah meminta ijin pada Aida.. langsung membopong tubu mungil yang sudah di bungkus kain kafan itu, untuk menuju ke tempat peristirahatan baby Wildan yang terakhir.


"Bawa aku ke sana ya, aku ingin ikut mengantarkan putra ku untuk yang terakhir kali," pinta Aida.


Laila mengangguk, dan kemudian segera mendorong kursi roda Aida meninggalkan aula.. yang diikuti oleh bu Retno, mbak Ning dan bu Dibyo.


Sedangkan nyai Robi'ah tetap tinggal di aula, hendak memimpin tahlil para santri putri. Untuk mendoakan baby Wildan, yang kini telah damai dalam istirahat panjang nya.. tak lagi merasakan kesulitan bernafas, dan tak lagi menahan nyeri karena kulit tipis nya tertusuk jarum.


Ryan yang membopong tubuh mungil putra nya, nampak menunggu Aida di depan masjid.. dan mereka kemudian berjalan berdampingan menuju ke tempat pemakaman yang masih berada di kompleks pesantren tersebut.


Seorang santri, nampak membawa payung besar untuk memayungi Ryan dan bayi nya. Dan para santri putra beserta para pelayat yang lain, yang berjalan di belakang mereka mengucap kalimat kalimah thayyibah.


'La ilaaha illallah Muhammadur Rosulullah'... kalimat yang dianjurkan untuk diucapkan oleh para pelayat, karena mengingatkan keimanan kepada Allah dan rasul-Nya.


Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit, sampailah rombongan tersebut di kompleks pemakaman pesantren,, tepat nya, di halaman paling belakang kompleks pesantren, yang di kelilingi oleh kebun sayur dan buah-buahan.

__ADS_1


Tempat yang sangat asri dan bersih, jauh dari kesan mistis dan serem. Karena di tempat ini, banyak santri yang memilih menepi mencari kesunyian untuk memudahkan mereka fokus menghafal Al-Qur'an.


Liang untuk pemakaman telah disiapkan, dan kyai Abdullah yang tadi berjalan di samping Ryan langsung memberikan instruksi kepada beberapa santri nya untuk bersiap di bawah.


Aida sempet menghentikan langkah Ryan, "aku ingin mencium nya untuk yang terakhir kali," pinta Aida, dengan suara yang sangat lirih.


Ryan, yang tadinya berusaha untuk tegar.. tak kuasa menahan bulir bening yang jatuh, kala mendengar permintaan ibu dari almarhum anak nya.


Ryan segera mendekatkan jenazah baby Wildan, dan dengan penuh kasih Aida mencium pipi yang sudah dingin itu cukup lama.


Laila menepuk-nepuk punggung sahabat nya dan kemudian berbisik, "ikhlaskan,, dia akan menjadi penghuni syurga, dan kelak di akhirat dia akan menjadi penolong dan syafaat bagi orang tua nya agar dapat masuk ke surga Nya." *)


Aida kemudian melepaskan bayi nya, dan sebelum Ryan membawa bayinya ke liang lahat.. laki-laki dewasa itu menatap Aida dengan tatapan penuh penyesalan.


Aida yang dapat mengerti arti tatapan mantan suami nya tersenyum tipis, "aku sudah memaafkan dan mengikhlaskan semua nya, tolong segera makam kan dia," lirih nya.


Setegar-tegar nya Aida, akhirnya wanita muda yang masih menahan sakit di bagian perut nya akibat operasi cesar beberapa hari yang lalu itu pun tumbang juga.


Aida tak bisa mendengar dan mengetahui apa-apa lagi ketika kyai Abdullah selesai mengucap do'a, yaitu ketika Ryan sendiri yang memasukkan putra nya ke liang lahat.


"Bismillah wa 'ala millati sunnati rasulillah. Allahummaftah abwabas sama'I li ruhihi, wa akrim nuzulahu, wa wassi' madkhalahu, wa wassi' lahu fi qabrihi."


Yang artinya: Dengan nama Allah dan atas agama rasul-Nya. Ya Allah, bukalah pintu-pintu langit untuk roh jenazah, muliakan lah tempatnya, luaskan lah tempat masuknya, dan lapangkan lah alam kuburnya.


Aida pingsan di tempat duduk nya, di atas kursi roda.


bersambung,,,


*) "Masuklah kalian ke surga.” Lalu anak-anak itu membalas, “(Kami tidak masuk) Sebelum orang tua kami masuk.” Maka Rasulullah SAW pun berkata, “Masuklah kalian ke surga, kalian dan orang tua kalian.” (HR Nasai). 

__ADS_1


__ADS_2