
Bakda shubuh, Aida membantu mbak Ning memasak di dapur sempit yang terletak di bagian belakang ruko tersebut. Mereka sepakat untuk membuka warung dari pagi hingga sore, dengan menu utama nasi rames.
Tapi setiap pagi akan menyediakan nasi pecel, dan siang nya nasi soto. Di lengkapi aneka minuman dingin dan kopi.
Setelah sebagian masakan matang, Aida mulai membawa nya ke depan dan menata nya di etalase. Tak berapa lama kemudian, mbak Ning menyusul dengan membawa masakan lain yang juga sudah matang.
"Mbak, hampir jam enam, Aida mau mandi bentar ya,, selesai mandi biar Aida yang buka warung nya, dan mbak Ning bisa urus Tio," pinta Aida, seraya bergegas kembali ke kamar nya.
Mbak Ning hanya mengangguk, yang tak dapat dilihat oleh Aida karena putri bibi Aini itu sudah berlalu menuju kamar nya.
Usai mandi, dengan membaca basmallah dan sholawat nabi,,, Aida mulai membuka warung nya. Tak muluk-muluk harapan Aida, dia hanya ingin bisa terus melanjutkan hidup dan membiayai anak nya serta Tio untuk menuntut ilmu setinggi-tinggi nya.
Dan Alhamdulillah,, Aida tak henti berucap syukur, karena meski baru saja di buka langsung ada beberapa pembeli yang singgah di warung sederhana milik nya.
Karena sudah terbiasa membantu sang ibu jika liburan sekolah kala itu, Aida sama sekali tak mengalami kesulitan dalam melayani pembeli nya. Baik yang makan di tempat, maupun yang meminta untuk di bungkus.
"Mbak, nasi rames sama teh panas dua," pinta seorang pembeli yang baru saja masuk bersama seorang teman nya.
"Nggih mas, tunggu sebentar nggih," balas Aida dengan sopan, karena masih melayani pembeli lain yang minta di bungkus kan nasi pecel lima.
"Mbak, kalau tambah pecel nya saja dua.. boleh?" Tanya salah seorang pembeli wanita, yang masih menunggu nasi pecel yang baru di bungkus Aida.
"Iya, boleh mbak.. masak ada orang membeli kok ndak boleh," balas Aida ramah, seraya tersenyum.
"Soal nya kalau beli di tempat lain, kadang enggak boleh mbak," terang wanita yang satu nya.
Aida hanya mengangguk-angguk, tak ingin menanggapi curhatan pembeli nya tersebut.
__ADS_1
Mbak Ning yang sudah selesai memandikan putra nya, menyusul ke depan. "Yang belum di layani mana neng?" Tanya mbak Ning.
"Itu mbak, mas-mas yang duduk di ujung. Nasi rames sama teh panas dua, mbak Ning buat kan teh panas nya saja nanti nasi nya Aida yang buat kan. Ini dah mau selesai kok," titah Aida.
Separuh dari meja kursi yang tersedia di warung Aida telah terisi, mereka adalah karyawan pabrik yang ngekos di seputar daerah tersebut. Beruntung Aida mendapatkan tempat yang cukup strategis itu, hingga Aida tak perlu bersusah payah mempromosikan warung nya.
Mbak Ning pun segera membuat kan teh panas, pesanan dua pengunjung warung yang terakhir datang.
"Berapa semua nya mbak?" Tanya salah seorang wanita yang membeli nasi pecel tadi.
"Nasi pecel lima pakai telor dadar, sama pecel nya saja dua ya mbak?" Aida memastikan, "jadi semua empat puluh ribu." Aida menatap dua pembeli wanita tersebut dengan senyuman yang ramah.
Salah seorang wanita tersebut mengangsurkan uang pecahan lima puluh ribu, Aida kemudian mengambil uang pecahan sepuluh ribu dari laci dan mengangsurkan nya kembali pada pembeli tersebut. "Ini kembalian nya mbak, terimakasih banyak ya mbak.. moga suka dengan masakan kami," ucap Aida tulus.
"Iya mbak, kayak nya enak.. aroma masakan nya harum, dan harga nya juga pas di kantong kami para buruh yang ngekos... ya kan Rum?" Balas salah seorang pembeli tadi, seraya terkekeh. Yang di setujui oleh teman nya dengan menganggukkan kepala.
"Pasti mbak, kebetulan tempat kos kami dekat kok dari sini." Balas salah seorang dari mereka berdua.
"Mari mbak," pamit teman nya yang lain.
"Nggih mbak, makasih," balas Aida dengan ramah.
Aida kemudian membuatkan dua nasi rames, pesanan dua pengunjung tadi. Dan kemudian menyimpan dua piring nasi rames ke meja mas-mas yang memesan nya, "monggo mas," ucap Aida dengan sopan.
"Neng, neng Aida istirahat dulu saja.. biar mbak Ning yang melayani pembeli," saran mbak Ning, "neng Aida kan juga belum sarapan kan? Sudah jam tujuh lebih lho?" Mbak Ning memperingatkan.
Aida mengangguk, "iya mbak," balas Aida, dan kemudian segera mengambil nasi dengan lauk pecel untuk sarapan nya.
__ADS_1
"Mbak, Aida kedalam dulu ya?" Pamit nya pada mbak Ning, dan bergegas masuk ke dalam.
Tepat di saat Aida selesai sarapan, bu Dibyo dan putri nya datang memenuhi janji nya untuk sering berkunjung ke warung. Selain untuk menemani Aida dan mbak Ning sesuai perintah pak Dibyo, agar Aida dan mbak Ning tidak mendapatkan gunjingan dari tetangga sekitar karena status kedua nya yang sama-sama janda,,, bu Dibyo juga hendak sekalian belanja kebutuhan dapur di toko nya mbak Ambar, yang berdampingan persis dengan warung milik Aida.
"Assalamu'alaikum,,," ucap salam bu Dibyo, dan langsung mengajak putri nya untuk masuk karena di warung masih ada tiga orang yang makan di tempat. Sedangkan mbak Ning, masih terlihat sibuk mencuci gelas dan piring bekas pengunjung warung.
"Wa'alaikumsalam,,," balas Aida dan Tio bersamaan, putra nya mbak Ning itu terlihat sangat senang melihat kehadiran Bunga.
"Sarapan nggih bu, biar Aida ambilkan," tawar Aida, setelah bu Dibyo duduk lesehan di depan televisi yang masih menyala dan menayangkan film kartun kesukaan Tio.
"Ndak perlu repot nak, kami sudah sarapan tadi sebelum bapak berangkat ke kantor," tolak bu Dibyo dengan halus.
Aida dan bu Dibyo kemudian ngobrol ringan seputar kehamilan Aida, diantara celoteh Bunga dan gelak tawa Tio karena di goda oleh Bunga.
"Di dekat sini ada bidan, buka praktek sampai jam depan malam. Nanti kalau nak Aida mau memeriksakan kandungan, biar ibu yang menemani," tawar bu Dibyo dengan tulus.
"Nggih bu, Insyaallah nanti kalau vitamin Aida sudah habis." Balas Aida, "makasih banyak lho bu, Aida selalu merepotkan ibu," lanjut nya merasa sungkan.
"Ndak perlu ewuh pakewuh gitu tho nak, nak Aida kan sudah kami anggap seperti anak sendiri. Lagi pula, bukan kah kita hidup ini harus saling membantu? Saling tolong menolong?" Bu Dibyo menatap manik indah milik Aida, dengan tatapan hangat.
"Nggih,, jenengan leres bu," Aida mengangguk-angguk, "tapi sayang nya, orang yang berpikiran seperti ibu dan bapak di jaman sekarang ini sudah sangat langka. Kebanyakan orang lebih memikirkan, apa keuntungan yang bisa di dapat jika mereka membantu orang lain." Lanjut Aida sendu, teringat kembali bagaiman dulu diri nya terjebak pada hutang budi yang di tawar kan bu Retno dan putra nya.. hingga Aida akhir nya harus menikah dengan Ryan.
"Hufff,,," Aida membuang kasar nafas nya, "Aida mau simpan piring kotor dulu di belakang bu," pamit Aida, yang tak ingin bu Dibyo melihat perubahan pada air muka nya.
"Move on Da,, come on... kamu pasti bisa!"
bersambung,,,
__ADS_1