Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 33 : Diantara Dua Pilihan


__ADS_3

Kyai Abdullah menyuruh istri nya untuk menemani putri mereka tidur, sebab Laila masih terlihat syok dan sangat sedih. Sedangkan beliau sendiri di dalam kamar nya, sedari tadi pun tak juga dapat memejamkan mata.


Kyai Abdullah bangkit dan kemudian bergegas keluar dari kamar, abah dari dua orang anak itu terlihat berjalan menuju kamar sang putra.


Tok,, tok,, tok,,,


Kyai Abdullah mengetuk pintu kamar putra nya perlahan, dan tak berapa lama pintu kamar tersebut dibuka dari dalam. "Abah?" Gus Umar yang masih memegang tasbih di tangan nya mengernyit, tak biasa nya sang abah mengunjungi kamar nya malam-malam.


"Gus, apa sampean baik-baik saja?" Tanya kyai Abdullah seraya menatap putra nya yang masih mengenakan sarung, baju koko lengkap dengan peci di kepala nya. Tapi kyai Abdullah masih dapat melihat dengan jelas, sisa air mata di pipi sang putra.


Mendengar pertanyaan sang abah, gus Umar menggeleng dan air mata nya kembali mengalir. "Silahkan masuk abah," pinta gus Umar dengan suara tercekat, seraya membuka pintu kamar nya dengan lebar.


Kyai Abdullah segera masuk ke dalam kamar sang putra, yang diikuti oleh gus Umar. Ayah dan anak itu kemudian duduk di sofa panjang yang terdapat di sudut ruangan.


Kyai Abdullah mengedarkan pandangan memindai ruang kamar gus Umar, dan kyai sepuh Itu merasa lega tatkala melihat sajadah yang masih terhampar di sisi ruangan.. dan Itu arti nya, semalaman ini sang putra menghabiskan waktu dengan berdzikir dan bukan hanya sekedar meratapi penyesalan.


"Bah, bibi Aini meninggal.. dan dik Aida,,," gus Umar mengawali percakapan tapi kemudian menghentikan ucapan nya, karena tenggorokan nya serasa tercekat.


"Ya gus, ning Laila sudah bercerita pada abah dan umi tadi." Balas kyai Abdullah cepat, tak ingin sang putra melanjutkan cerita yang hanya akan menyesakkan dada. Kyai Abdullah menghembus kasar nafas nya dan menerawang ke atas, ke langit-langit kamar putra nya.


Hening menyapa ruang kamar tersebut, kedua laki-laki beda generasi itu sibuk dengan pikiran nya sendiri.


"Gus,," panggil sang abah, yang memecah keheningan dan membuyarkan gus Umar dari lamunan nya.


"Nggih bah," balas gus Umar menatap abah nya.

__ADS_1


"Kita semua telah kehilangan bibi kalian, dan kita juga tidak tahu apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa terhadap apa yang terjadi pada nak Aida... karena saat itu kita sedang tidak berada di rumah." Kyai Abdullah menghentikan ucapan nya dan menatap putra nya.


"Ini semua terjadi di luar kehendak kita gus, ini semua terjadi karena sudah menjadi kehendak Nya. Kita memang merasa kehilangan dan sangat menyesali kejadian ini, tapi kita tidak boleh larut dalam penyesalan dan kesedihan ini terus menerus gus..." Kyai Abdullah mendesah pelan, perkataan nya barusan juga beliau tujukan untuk diri nya sendiri.


"Jika semua yang kita rencanakan dapat terwujud, jika semua yang kita ingin kan dapat terpenuhi dan jika semua berjalan sesuai harapan kita,, niscaya kita tak kan pernah tahu arti dari ikhlas, dan kita tak kan pernah belajar untuk bersabar."


"Besok, kita ke makam bibi kalian.. dan kita cari tahu tentang kabar nak Aida bersama-sama. Sekarang tidurlah gus, ini sudah hampir jam satu dan abah tahu sampean pasti belum tidur," titah kyai Abdullah seraya beranjak dan kemudian segera keluar dari kamar sang putra, meninggalkan gus Umar seorang diri yang masih terdiam di tempat nya.


@@@@@


Di kamar utama kediaman Ryan, Aida terbangun karena merasa ada beban berat di atas perut nya. Ternyata seperti biasa, tangan suami nya lah yang berada di sana.. yang selama dua minggu ini selalu tidur sambil memeluk nya.


Perlahan Aida menyingkirkan tangan kekar Itu dan segera beringsut, Aida hendak beranjak namun dia terkejut tatkala mendapati tubuh nya yang polos.


Aida kemudian segera meneruskan niat nya, untuk menjalankan sholat malam. Istri Ryan Itu memunguti pakaian nya di lantai dan memakai nya asal, setelah Itu dengan sedikit tertatih Aida berjalan menuju kamar mandi untuk mandi besar.


"Aku harus cepat, nanti keburu subuh," gumam Aida, dan dengan segera Aida mengguyur tubuh nya dengan air shower yang mengucur deras.


Tak berapa lama, Aida telah menyelesaikan ritual mandi nya dan bergegas keluar dengan memakai handuk kimono dan menggulung rambut panjang nya yang basah dengan handuk kecil.


Tepat di saat Aida keluar dari kamar mandi, sang suami ternyata telah terbangun. "Dik, kamu sudah mandi?" Tanya Ryan yang masih berbaring dengan nyaman di bawah selimut tebal.


"Iya mas, Aida mau sholat malam," jawab Aida.


"Memang nya jam berapa ini dik?" Tanya Ryan, yang nampak malas membuka mata dengan sempurna.

__ADS_1


"Hampir jam tiga mas," balas Aida.


"Ah,, ini masih dini hari dik, belum waktu nya kamu bangun. Ayolah sini, peluk mas.. mas kedinginan dik," pinta Ryan sambil merentangkan kedua tangan nya.


"Maaf mas, tapi Aida mau sholat dulu... lagi pula, Aida juga sudah mandi mas dan rambut Aida juga masih basah," balas Aida dengan lembut, yang memohon pengertian dari sang suami.


"Ayolah dik, gak baik lho nolak keinginan suami. Mas mau lagi dik,,, ayo, kemari lah," kekeuh Ryan yang tak mau mengerti.


Aida terdiam, bingung bagaimana menghadapi sikap suami nya. Tapi Aida kemudian teringat dengan perjanjian nya semalam, "mas, bukan kah mas Ryan memberikan Aida kebebasan untuk beribadah?" Tagih Aida, yang mengingatkan Ryan akan janji nya semalam.


"Ya, kamu benar dik, tapi ibadah wajib... dan bukan kah melayani suami adalah kewajiban istri?!" Ryan tetap teguh dengan pendirian nya, dan laki-laki matang Itu kemudian beranjak dan mendekati istri nya dengan tubuh yang masih polos.


Aida terbelalak melihat pemandangan asing di hadapan nya, dan istri Ryan itu segera mengalihkan pandangan nya.


"Kenapa dik? Bukan kah kamu sudah melihat nya semalam?" Tanya Ryan dengan tersenyum seringai.


"Tidak mas, Aida tidak melihat nya," balas Aida dengan masih memalingkan muka, dan hal itu membuat Ryan semakin senang menggoda istri nya yang masih lugu itu.


Ryan teringat, sepanjang permainan semalam.. istri kecil nya itu terus saja memejamkan mata dan malu untuk menatap mata nya. Ketika Ryan meminta sang istri untuk memegang milik nya yang sudah berdiri tegak, Aida menjerit kecil saking terkejut nya. Dan hal itu membuat Ryan semakin gemas dan semakin bergairah bermain-main dengan istri kecil nya, hingga berkali-kali duda yang haus belaian Itu menegang dan memuntahkan lahar nya di rahim istri kecil nya.


Dan mengingat kejadian semalam, membuat milik nya yang sedari tadi sudah terbangun karena merindukan kehangatan lembah yang semalam memanjakan nya.. semakin berdiri tegak dan menuntut hak nya kembali, "dik, sholat malam itu tidak wajib kan? Sedangkan melayani suami adalah kewajiban? Apa kamu tetap mau melanjutkan niat mu untuk sholat malam dan mengabaikan mas?!!" Tuntut Ryan dengan tatapan nya yang tajam, menghujam menusuk ke jantung Aida.


Aida tertegun mendengar nya, tak menyangka sang suami akan memberi nya pilihan. Aida benar-benar merasa berada diantara dua pilihan yang sulit...


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2