
Mbak Ning yang gelisah menanti kedatangan Aida, berjalan mondar-mandir keluar masuk ruko. Bu Dibyo yang menyaksikan polah mbak Ning, geleng-geleng kepala dan ikut pusing sendiri.
"Mbak Ning, duduk lah.. nanti kamu malah jadi ikutan sakit kalau bolak-balik tidak jelas seperti itu?" Titah bu Dibyo, seraya menepuk bangku kosong di sebelah nya. Saat ini, bu Dibyo duduk di meja warung yang pintu rolling nya sudah di tutup dan menyisakan pintu utama yang terbuat dari kayu jati.
"Saya duduk sini saja bu, biar kalau mobil nya umi nyai datang.. saya bisa melihat nya dan langsung keluar," mbak Ning mengambil kursi dan meletakkan nya di samping pintu, dan mbak Ning kemudian menduduki kursi tersebut seraya menatap keluar halaman ruko.
Bu Dibyo terus saja mengajak nya mengobrol, mencoba untuk mengurangi kecemasan mbak Ning. Mbak Ning memang menanggapi percakapan bu Dibyo dengan baik, namun fokus nya tetap di halaman ruko yang ramai kendaraan keluar masuk area ruko tersebut.
Sementara di bagian dalam ruko, terdengar suara televisi yang menayangkan film kartun kesukaan anak-anak.. dan sesekali terdengar celoteh riang Tio yang menyaksikan kartun tersebut, yang di temani oleh Bunga.
Setelah cukup lama menanti, akhir nya mobil milik keluarga kyai Abdullah yang membawa Aida memasuki halaman ruko. Dan mbak Ning yang masih dapat mengenali kendaraan roda empat tersebut, bergegas beranjak untuk menyambut Aida dan Nyai Robi'ah.
"Bu, itu mobil nya sudah datang," ucap mbak Ning, dan segera melesat keluar untuk menghampiri mobil keluarga kyai Abdullah tersebut. Bu Dibyo pun mengekor langkah mbak Ning, keluar dari ruko dengan sedikit tergesa.
Begitu pintu mobil bagian belakang di buka, mbak Ning langsung melongok kedalam.. "neng, pakai masker ini sebelum turun," pinta mbak Ning, dengan raut wajah khawatir.
Aida mengernyit, begitu pula dengan Laila yang duduk di sebelah Aida. Laila sampai mengurungkan niat nya, untuk turun dari mobil.
"Memang nya, ada apa tho mbak?" Tanya Aida tak mengerti.
"Neng Aida pakai saja, nanti mbak Ning cerita kan di dalam," titah mbak Ning, sambil menoleh kearah luar halaman ruko dan mengedarkan pandangan nya.
Aida yang masih keheranan pun akhir nya menurut, dan segera memakai masker kesehatan yang diberikan oleh mbak Ning. Dan Aida kemudian turun dari mobil, yang diikuti oleh Laila yang turun dari sisi yang lain.
__ADS_1
Mbak Ning mengedarkan pandangan nya kearah jalan raya, khawatir orang-orang sangar yang tadi dilihay nya di warung akan kembali dan melihat Aida. Mbak Ning menyeret tangan Aida, dan menuntun langkah Aida dengan sedikit cepat.
"Kita harus buru-buru masuk neng," titah mbak Ning, masih dengan menyeret tangan Aida, hingga calon ibu muda itu sedikit kewalahan.
"Mbak, pelan-pelan saja," protes Aida, tapi mbak Ning tak menggubris nya, bahkan mbak Ning tak sempat menyapa nyai Robi'ah seperti biasa yang dia lakukan ketika bertemu dengan istri dari kyai Abdullah itu.
Bu Dibyo lah yang kemudian menyapa nyai Robi'ah, memperkenalkan diri nya dan mengajak nyai Robi'ah untuk masuk ke ruko,,, mengikuti langkah mbak Ning dan Aida. Sedangkan Laila, berjalan paling belakang. "Ayo kang, ikut masuk saja," seru Laila, sebelum diri nya benar-benar menjauh dari mobil.
Kang santri yang mengemudi hanya bisa mengangguk, mengiyakan.. dan kemudian bergegas mengikuti yang lain nya yang sudah tak lagi terlihat, untuk masuk ke dalam ruko.
Di dalam ruko, mbak Ning kemudian menyalami nyai Robi'ah dan mencium punggung tangan wanita yang bersahaja itu dengan takdzim sesaat setelah nyai Robi'ah duduk di kursi warung. "Maaf umi nyai, saya tadi gugup.. jadi tidak sempat menyapa umi nyai," ucap mbak Ning, yang merasa tak enak hati.
Nyai Robi'ah mengangguk, "ndak apa-apa mbak Ning," balas ibu nyai itu dengan lembut.
Mbak Ning kemudian ikut duduk, mengambil tempat terpisah dengan meja nyai Robi'ah, Aida dan Laila yang duduk satu meja. Mbak Ning duduk satu meja dengan bu Dibyo, sedangkan kang santri duduk di meja yang lain lagi.
Setelah duduk dan mengatur nafas nya, mbak Ning kemudian menceritakan semua yang dia lihat dan di dengar nya beberapa saat yang lalu dengan suara yang masih terdengar panik.
Aida sangat terkejut tak menyangka Ryan akan mencari nya, dan tentu saja dia juga sangat khawatir. Tapi wanita muda itu mencoba untuk menyembunyikan ketakutan nya, tak ingin me nambah kecemasan mbak Ning dan orang-orang baik yang saat ini berada di sekeliling nya. "Apa mau mu mas? Apa kamu sudah tahu kebenaran nya?" Gumam Aida dalam hati.
Bu Dibyo beranjak, untuk membuatkan minuman bagi tamu-tamu nya Aida.
Tak berapa lama, bu Dibyo muncul dengan membawa baki yang berisi beberapa gelas teh hangat dan dua piring jajanan, kemudian menyimpan nya di atas meja di hadapan nyai Robi'ah, Laila dan Aida, "silahkan di unjuk nyai," ucap bu Dibyo dengan sopan.
__ADS_1
"Ibu, kok malah ibu yang repot.. harus nya kan,,," ucapan mbak Ning menggantung di udara.
"Sudah, ndak apa-apa. Mbak Ning kan masih syok dan lemes, duduk saja dan ini minum teh nya," potong bu Dibyo, seraya menyimpan dua gelas teh hangat di atas meja untuk mbak Ning dan untuk diri nya sendiri.
"Monggo silahkan kang, ngunjuk teh nya mumpung masih hangat," ucap bu Dibyo dengan ramah pada kang santri, seraya menyimpan gelas terakhir dan sepiring jajanan di hadapan santri nya kyai Abdullah tersebut.
"Nggih bu, terimakasih," balas kang santri dengan sopan.
Bu Dibyo kemudian kembali duduk di tempat nya semula di samping mbak Ning.
"Da, kamu ikut umi pulang ya? Aku khawatir kalau kamu di sini Da, mereka pasti akan bisa menemukan mu? Di sini kan tempat umum Da, di pinggir jalan raya pula?" Pinta Laila dengan penuh kekhawatiran.
Aida menggeleng dan tersenyum, "Insyaallah aman La, dan insyaallah aku akan baik-baik saja." Hibur Aida, mencoba menenangkan sahabat nya. "Kalau keluar aku akan pakai masker, kalau perlu pakai topeng Halloween biar enggak bisa dikenali dan justru di takuti," lanjut Aida berkelakar, untuk mengurai ketegangan yang melingkupi mereka semua.
Laila cemberut, "enggak lucu!"
Hening sejenak menyapa ruangan tersebut.
"Sebenarnya umi juga mengkhawatirkan mu nak, tapi umi dukung apapun keputusan kamu." Nyai Robi'ah menatap Aida dengan tatapan teduh.
"Jika kamu bersedia ikut dengan umi, tentu kami akan dengan senang hati membawamu serta untuk pulang bersama kami ke pesantren. Tapi jika kamu tetap ingin tinggal di sini, umi tak dapat berbuat apa-apa.. umi hanya bisa mendo'akan semoga Allah senantiasa melindungi mu," tutur nyai Robi'ah dengan bijak, seraya memeluk pundak Aida.
bersambung,,,
__ADS_1