
"Benar bapak, Aida terpaksa menikah dengan pemuda itu karena demi untuk biaya pengobatan ibu nya yang kena serangan jantung dan harus di pasang ring," terang nyai Robi'ah pada ayah mertua nya.
"Nak Aini, istri nya nak Dahlan kena serangan jantung? Lantas, bagaimana kondisi nya saat ini? Apa dia bisa sehat dan beraktivitas seperti sedia kala?" Tanya nyai sepuh, yang memang jarang keluar dari rumah itu.
Tempat tinggal kyai Zarkasyi dengan kyai Abdullah memang cukup jauh, dan di kediaman kyai sepuh tersebut,, kyai Zarkasyi juga disibukkan dengan pengajian jama'ah thoriqoh yang beliau asuh sendiri.
"Istri nya kang Dahlan itu, akhirnya tak dapat di selamat kan bu," balas nyai Robi'ah yang kembali terlihat sendu, mengingat bagaimana dulu Aida menghadapi segala ujian itu seorang diri.
"Inna lillahi wa inna ilahi rajiun, wa inna ila rabbina la munqolibunn. Allahummaktubhu 'indaka fil muhsinin. Waj'al kitabahu fi 'illiyin, wakhlufhu fi ahlihi fil ghabirin wa la tuharrimna ajrahu wa la taftinna ba'dahu." Nyai sepuh nampak berkaca-kaca.
Yang artinya; "Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah SWT, kepada-Nya kita kembali. Sesungguhnya hanya Allah-lah tempat semua kembali. Ya Allah, catatlah (orang yang meninggal itu) di sisi-Mu sebagai bagian dari golongan orang-orang yang baik, dan letakkan lah catatan itu di tempat yang paling tinggi. Gantikan Lah kebaikan itu bagi keluarga yang ditinggalkan. Jangan Engkau haramkan pahalanya, dan jangan Engkau berikan kami fitnah setelah ditinggalkannya."
Nyai Robi'ah kemudian menceritakan sejak awal hingga akhir nya Aida di usir oleh suami nya, seperti yang beliau dengar dari mbak Ning kala itu.
Dan nyai sepuh semakin tersedu mendengar nya, "ya Allah, dia kan yang dulu sering main sama ning Laila kan nduk?" Tanya nyai sepuh memastikan ingatan nya.
Kyai Abdullah mengangguk, "benar bu, dia yang suka ngejar-ngejar kambing sama ning Laila.. kalau saya ajak main ke rumah ibu," balas kyai Abdullah, mewakili sang istri.
"MasyaAllah,,, semuda itu, tapi sudah melalui ujian hidup yang sangat berat? Dia pasti lah wanita pilihan, karena Allah tak akan pernah memberi kan ujian pada hamba Nya melebihi kemampuan hamba tersebut. Dan dari cerita mu itu tadi nduk, sungguh dia adalah wanita luar biasa... karena dia tetap bisa ikhlas dan sabar menjalani semua nya," tutur nyai sepuh, yang sangat kagum dengan keluasan hati Aida.
"Jadi, bayi yang kabar nya di makam kan di pemakaman pesantren itu.. cucu nya nak Dahlan?" Tanya kyai sepuh, seraya menatap putra nya.
"Nggih bapak, karena kasihan... di kampung nya, kabar yang beredar adalah bahwa bayi itu dari hasil perselingkuhan. Maka nya dari pada nanti masyarakat di sana memandang sebelah mata sama nak Aida, yang akan menambah beban nya dia.. kemudian kami menyarankan agar di makam kan di sini saja," terang kyai Abdullah.
Kyai sepuh mengangguk-angguk, "ya gus, keputusan yang tepat. Kasihan anak itu," kyai sepuh masih mengangguk-anggukkan kepala nya hingga cukup lama.
"Dia masih di sini kan? Bisa panggilkan dia, ning?" Titah kyai sepuh pada nyai Robi'ah.
"Nggih bapak, sebentar.. kalau nak Aida belum tidur nggih, sebab kalau sudah tidur kasihan jika harus di bangunkan. Luka bekas operasi nya, belum sembuh benar," balas nyai Robi'ah seraya beranjak.
__ADS_1
"Hmmm," balas kyai sepuh hanya dengan gumaman.
Nyai Robi'ah kemudian segera masuk, di ruang keluarga beliau mendapati kedua putra putri nya sedang bercengkrama seraya ngeteh.
"Ning, bisa tolong panggil kan nak Aida... tapi kalau dia belum tidur," titah nyai Robi'ah pada putri nya.
"Ada apa umi?" Tanya Laila penasaran, begitu pula dengan gus Umar yang mengernyitkan kening.
"Di panggil sama kakek," balas nyai Robi'ah, "buruan gih," nyai Robi'ah mendorong pelan tubuh putri nya yang sudah berdiri, tapi belum juga mau bergerak.
Laila kemudian segera menuju ke kamar nya, untuk memanggil Aida.
"Ada apa tho mi?" Tanya gus Umar akhirnya, yang tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Umi juga belum tahu gus," balas nyai Robi'ah.
"Sebentar lagi, sampean juga bakalan tahu gus," ujar kyai Abdullah yang baru saja masuk, mengiringi langkah bapak dan ibu nya yang pindah ke ruang keluarga.
"Kakek, abah,, mau ngopi? Biar Umar buatkan?" Tawar gus Umar, seraya menatap sang kakek dan abah nya bergantian.
"Boleh gus," balas kyai Abdullah, "abah pahit saja gus, umi mu suka marah kalau abah kebanyakan mengkonsumsi gula. Kata nya, dia sudah manis.. jadi abah ndak boleh makan dan minum yang manis-manis lagi," lanjut nya, seraya merayu sang istri. Kebiasaan kyai Abdullah, yang tak mengenal tempat.. meski di depan orang tua nya sekalipun.
Tapi karena kyai sepuh dan istri nya, juga gus Umar sudah hafal dengan sikap kyai Abdullah tersebut.. mereka hanya tersenyum, berbeda dengan nyai Robi'ah yang tertunduk malu.
"Siap abah, nanti kalau abah butuh yang manis-manis.. berarti tinggal minta saja sama umi nggih," balas gus Umar seraya terkekeh, dan kemudian segera berlalu menuju dapur.
"Abah ki ngendiko nopo tho?" Gerutu nyai Robi'ah dengan pipi yang merona merah, seraya mencubit perut sang suami yang sudah mulai sedikit membuncit.
"Hahaha,,, perut ku sudah mulai buncit ya mi, tapi masih seksi kan?" Kyai Abdullah terkekeh, dan semakin menjadi menggoda istri nya.
__ADS_1
"Sudah,, sudah,, kalian ini, makin tua makin menjadi saja," kyai sepuh geleng-geleng kepala menyaksikan sikap putra nya, namun dalam hati beliau tersenyum.. "dia benar-benar mirip dengan ku," gumam kyai sepuh dalam hati.
Sedangkan nyai sepuh melirik suami yang sudah menikahi nya lima puluh tahun lebih itu, dengan tersenyum.
Tak berapa lama, Laila dan Aida muncul. Aida berjalan dengan perlahan menghampiri nyai sepuh, dan kemudian mencium punggung tangan wanita berusia senja itu dengan takdzim. "Nenek, sehat nek?" Tanya Aida dengan sopan.
Nyai sepuh langsung memeluk Aida dan merasa terharu melihat wanita muda yang seusia dengan cucu nya itu, beliau teringat cerita dari menantu nya tadi. "Alhamdulillah, nenek sehat nak. Kamu, sehat kan?" Nyai sepuh melerai pelukan nya.
"Alhamdulillah, Aida sehat nek," balas Aida seraya mengangguk.
"Sini nak, duduk di sebelah nenek," pinta nyai sepuh, seraya menepuk ruang kosong di sebelah nya.
Aida pun menurut dan kemudian duduk di samping nyai sepuh, diikuti oleh Laila yang duduk di samping sahabat nya itu.
"Nak, kakek sudah mendengar kisah mu barusan." Kyai sepuh membuka suara nya, setelah beberapa saat Aida dan Laila duduk. "Arti nya, masa iddah mu sudah selesai kan?" Kyai sepuh menatap Aida, dan berkata secara gamblang.
Aida mengernyit, belum mengerti arah pembicaraan kakek dari sahabat nya itu.
"Nak, maksud kakek.. kami ingin mengkhitbah mu untuk putra kami, gus Umar." Tutur kyai Abdullah, yang menjelaskan maksud perkataan kyai sepuh.
"Uhuk, uhuk,," Aida terbatuk kecil, tak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini.
"Bukan hanya mengkhitbah, tapi langsung menikah kan mereka saja. Toh, masa iddah nak Aida sudah selesai lama kan? Tak baik menunda-nunda, bagaimana nak? Kamu mau menerima cucu kakek kan?" Tanya kyai sepuh, seraya menatap dalam wajah Aida yang semakin nampak kebingungan.
Aida baru saja akan terpejam tadi, tatkala Laila masuk dan mengangetkan nya. Dan benar saja, ternyata dia benar-benar di buat kaget sekarang. "Menikah? Secepat ini?" Gumam nya dalam hati.
"Maaf kek, Aida tak bisa menerima nya," balas Aida seraya menunduk.
Dan tepat di saat yang sama, gus Umar muncul sambil membawa baki yang berisi dua cangkir kopi, dua gelas teh manis dan segelas susu untuk Aida.
__ADS_1
"Apa dik? Apa aku tak salah dengar? Kamu menolak ku??" Wajah gus Umar langsung terlihat pias, dan kaki nya seolah terasa lemas. Gus Umar langsung berlutut, untuk menghindari agar tak terjatuh.
bersambung,,,