
"Mas, Aida punya bukti test pack nya.. sebentar Aida ambilkan," Aida hendak beranjak, untuk mengambil hasil test pack yang dilakukan nya tadi pagi di rumah bidan Cristina. .
"Tidak perlu!" Sergah Ryan cepat, dan langsung menghentikan tawa nya.
Aida mengkerut, mendapati netra sang suami yang kembali diliputi amarah.
"Berapa kali kamu tidur dengan laki-laki itu, sampai kamu bisa hamil?!" Teriak Ryan, dengan emosi yang meledak. Ryan bahkan menunjuk wajah Aida, dengan jari telunjuk nya.. dan tatapan nya tajam, menghunus tepat ke netra Aida.
"Apa,, apa maksud mu mas? Aku tidak pernah melakukan apa pun mas? Anak ini, anak nya mas Ryan? Benih dari mas Ryan? Anak kita mas? Anak yang kita nantikan?" Sanggah Aida, dengan suara nya yang bergetar.
"Cih,,! Kamu pikir, aku laki-laki bodoh!" Ryan berdecih, "mana ada orang mandul punya anak?!!" Ryan terlihat semakin geram, tangan nya menangkup kedua sisi pipi Aida dan menekan nya dengan kasar,, hingga membuat Aida meringis kesakitan.
"Sa,, sakit mas,," lirih Aida, mulai berlinang air mata.
"Sakit kata mu! Aku lebih sakit! Kamu pikir di khianati istri itu tidak sakit,, hah?!!" Pekik Ryan, tepat di depan wajah Aida.
"Mas, percayalah mas.. mas Ryan hanya salah paham?" Aida masih berusaha untuk menyadarkan sang suami, dan mencoba meraih tangan suami dewasa nya itu.
Tapi Ryan buru-buru menepis nya, "jangan menyentuhku dengan tangan kotor mu itu!" Bentak Ryan, yang membuat air mata Aida kembali menetes. Aida sama sekali tak pernah membayangkan, akan seperti ini akhir nya.
Aida terisak, pikiran nya buntu.. Aida tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan pada suami nya.
Mirna datang seraya membawakan teh hangat untuk majikan dan ibu nya. "Silahkan diminum teh nya nyonya besar," ucap Mirna dengan sopan seraya membungkuk hormat pada bu Retno, terlihat jelas senyum nya yang menjilat.
"Iya Mir, makasih," balas bu Retno datar.
"Mir,, kemana saja kamu tadi?!" Tanya Ryan, seraya menatap Mirna dengan tajam.
__ADS_1
"Tadi, Mirna lagi beres-beres di dapur mas," balas Mirna.
"Apa kamu lihat, laki-laki itu masuk ke dalam rumah?" Lanjut Ryan, bertanya dengan menyelidik.
Aida menatap suami nya, hendak menjelaskan.. tapi Ryan memberikan kode, agar Aida diam.
"Iya mas, Mirna tadi lihat pak RW keluar dari kamar utama.. dan setelah itu, sempat makan siang sebelum kemudian pamit," balas Mirna dengan lancar.
Aida terkejut mendengarkan fitnah yang Mirna lontarkan pada nya, tapi Aida tak bisa membela diri sebab Ryan senantiasa mencegah jika Aida ingin bersuara.
Mirna tersenyum smirk kearah Aida, "untung sprei di kamar utama tadi, udah sempat gue acak-acak. Dan makanan di meja makan, juga sempat gue cicipi.. dan piring kotor nya sengaja gue biarkan di sana." Gumam Mirna seraya tertawa dalam hati.
"Apa laki-laki itu sering datang kemari?!"
"Iya mas, seminggu dua sampai tiga kali pak RW berkunjung kemari. Maaf mas, jika Mirna tidak bercerita," balas Mirna seolah merasa bersalah, seraya melirik Aida.
Aida mengangguk, "benar mas, semua aku lakukan untuk mas Ryan," balas Aida lirih.
"Bulshitt!! Kamu bahkan sudah berani membawa laki-laki itu masuk kedalam kamar ku!" Suara Ryan kembali meninggi, sedangkan Aida hanya bisa manarik nafas dalam.. seraya mengucap istighfar dalam hati.
"Benahi barang-barang mu sekarang juga! Dan angkat kaki dari rumah ku! Aku ceraikan kamu!" Teriak Ryan seraya menuding wajah Aida, "pela*cur seperti mu, tak pantas tinggal di istanaku," lanjut Ryan dengan sumpah serapah nya kepada Aida.
Aida hanya bisa menangis dalam diam, sejenak istri kecil Ryan itu masih terpaku di tempat nya.
"Cepat! Tunggu apa lagi?!!" Ryan menyeret Aida menuju kamar utama, mengambil koper milik Aida dan melempar nya tepat di bawah kaki Aida.
Mirna tertawa dalam hati, demi mendengar dan melihat drama live tersebut. Sedangkan bu Retno, terdiam di tempat nya.. ibu kandung Ryan itu dapat merasakan, betapa hancur nya perasaan sang putra saat ini.
__ADS_1
Dengan tangan gemetaran, Aida memasukkan pakaian yang dulu dibawa nya saat pertama kali datang. Tak lupa, Aida juga memasukkan kotak perhiasan yang sudah menjadi hak nya.. berikut celengan tempat Aida menabung selama ini.
Setelah semua nya masuk kedalam koper lusuh itu, Aida segera beranjak,, "Aku beri mas Ryan kesempatan untuk melakukan test DNA tiga bulan dari sekarang, yaitu ketika usia kehamilan ku mencapai empat bulan. Lewat dari itu, jangan pernah berharap,,, mas Ryan akan mendapatkan hak sebagai wali nya," Aida mengatakan semua nya itu dengan setenang mungkin, berbanding terbalik dengan perasaan dan juga pikiran nya, yang saat ini jungkir balik tak karuan.
"Tidak perlu, seratus persen itu bukan anak ku!" Ketus Ryan.
Aida memejamkan mata nya sejenak, dan kemudian melangkah dengan pasti keluar dari kamar Ryan, calon mantan suami nya dengan tanpa sepatah kata pun. Dan saat melintasi ruang tamu, Aida menyalami ibu mertua nya dan mencium punggung tangan wanita tua itu dengan takdzim, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelum nya.
"Bu, Aida pamit.. Aida datang ke rumah ini dengan cara yang baik, dan Aida juga ingin keluar dari rumah ini dengan cara yang baik pula," ucap Aida pelan.
Bu Retno bergeming,
Aida menarik nafas dalam-dalam dan menghembus nya perlahan... "bismillaahirrohmaanirrohiim,,, mungkin ini adalah jalan terbaik yang Allah tunjukkan pada ku," gumam Aida, seraya melangkah keluar meninggalkan rumah yang selama setahun ini dia tempati bersama Ryan.
Aida berusaha sekuat mungkin untuk tidak lagi mengeluarkan air mata, meski saat ini hati nya terasa bagai tersayat sembilu.. pedih, perih, namun tak berdarah.
Di saat Aida sudah mulai merasa nyaman hidup bersama dengan suami dewasa nya itu, kini dia harus terhempas sedalam-dalam nya ke dasar palung yang teramat dalam.
Tuduhan selingkuh, dan kata-kata kasar yang Ryan ucap kan.. yang menuduh nya sebagai pela*cur murahan, meninggalkan goresan luka yang menganga dan teramat dalam di hati nya.
Sepanjang jalan menuju jalan utama, tak henti Aida mengucap kalimat hauqalah, "Laa haula walaa quwwata illaa billaah.." untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Terik mentari yang begitu menyengat dan membakar kulit, serta peluh yang mulai bercucuran membasahi pakaian yang dikenakan nya.. sama sekali tak Aida hiraukan. Kaki nya terus melangkah dengan pasti, dan bibir nya tak henti menyebut asma Allah.. memuji kebesaran Nya, dan memohon pertolongan hanya kepada Nya.
Tepat di saat Aida sampai di jalan utama, ada taksi yang melintas.. dan Aida buru-buru memanggil taksi tersebut.
"Pak, tolong antar saya ke terminal," pinta Aida, sesaat setelah dia duduk di bangku penumpang.
__ADS_1
bersambung,,,