
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kendaraan yang membawa keluarga kyai Abdullah memasuki pintu gerbang pesantren.
Kang santri yang mengemudikan kendaraan milik kyai nya tersebut, segera memarkir mobil di halaman kediaman kyai pengasuh pondok pesantren yang cukup besar itu.
Para santri langsung berdatangan dan berjajar rapi di halaman, menyambut kedatangan kyai Abdullah dan keluarga.
Kyai Abdullah segera turun dari mobil, yang diikuti oleh nyai Robi'ah dan kedua putra putri nya. Dengan perlahan kyai Abdullah berjalan melewati para santri putra yang hendak menyalami nya, dan kyai Abdullah pun menyambut uluran tangan para santri serta mendo'akan kebaikan untuk mereka semua.
Gus Umar yang berjalan mengekor di belakang sang abah pun ikut menyalami santri di pesantren abah nya itu, sementara nyai Robi'ah dan Laila,, menangkup kedua tangan di depan dada seraya tersenyum hangat menerima sambutan para santri.
Nampak kyai sepuh dan istri nya, serta beberapa keluarga kyai Abdullah dan nyai Robi'ah yang lain sudah menunggu di ruang keluarga. Dan keluarga besar kyai Abdullah itu kemudian saling memeluk, untuk melepaskan rindu.
Mereka semua kemudian kembali duduk dengan tertib di ruang keluarga, kecuali Laila dan gus Umar yang meminta ijin untuk langsung menuju kamar nya hendak beristirahat.
Di ruang keluarga, setelah kyai Abdullah dan nyai Robi'ah banyak bercerita mengenai perjalanan nya ke tanah suci... kyai sepuh kemudian mulai membahas rencana pernikahan antara gus Umar dan ning Zahra, yang akan dilaksanakan seminggu lagi.
"Maaf pak, apa itu ndak terlalu cepat?" Tanya kyai Abdullah terkejut, tak menyangka bahwa tanggal pernikahan putra nya yang telah ditentukan oleh dua kyai sepuh itu ternyata secepat ini.
"Apa kamu bisa seperti ku, yang sanggup menjalani pernikahan tanpa cinta dan membuat istri mu bahagia gus? Apa kamu bisa menyimpan cinta mu tanpa melukai hati istri mu, seperti abah masih menyimpan nama Aini di kedalaman hati ini?" Gumam kyai Abdullah dalam hati.
"Aini, maaf kan aku.. aku tak bisa memperjuangkan cinta ku. Dan maaf kan aku, karena aku pun tak bisa membuat putra ku menjaga anak mu," kembali penyesalan menyelimuti hati kyai Abdullah, hingga netra teduh itu nampak berembun.
Kyai Abdullah manarik nafas panjang, untuk mengambil oksigen sebanyak-banyak nya.. mengusir rasa sesak yang menghimpit dada nya.
"Bukankah lebih cepat lebih baik gus Ab, lagi pula gus Umar sudah dewasa.. begitu juga dengan cucu nya Hasyim, gadis itu sudah cukup dewasa dan hafalan Al-Qur'an nya juga sudah lama selesai. Bahkan bapak dengar, ning Zahra setahun terakhir membantu istri mu mengajar santri putri." Balas kyai sepuh, seraya menatap putra nya.
Kyai Abdullah hanya bisa mengangguk, pasrah dengan keputusan sang ayah.. seperti dua puluh lima tahun yang lalu, ketika diri nya dijodohkan dengan ning Biah yang sekarang menjadi istri yang sangat beliau sayangi.
Sementara itu di dalam kamar nya, gus Umar nampak tengah bersiap. Pemuda tampan nan kharismatik itu memutuskan untuk mengunjungi kediaman bibi Aini, karena masih penasaran dengan kabar Aida yang selama dua minggu ini tak dapat dihubungi.
__ADS_1
Setelah memakai minyak wangi dan menyisir rambut ikal nya yang panjang, gus Umar segera menuju pintu kamar nya,, dan di saat yang sama, pintu tersebut nampak dibuka dari luar.
Laila muncul dari balik pintu dengan wajah nya yang cemberut, "ada apa dik? Bukan nya kamu tadi bilang, mau istirahat di kamar?" Tanya gus Umar pada adik nya, yang bersandar di pintu yang telah terbuka lebar.
"Kakak mau kemana? Bukan nya tadi kakak juga bilang, kalau mau istirahat dan tidur?" Laila balik bertanya, dan mengabaikan pertanyaan sang kakak.
"Kakak enggak bisa tidur dik, kakak kepikiran sama bibi Aini terus," balas gus Umar jujur, karena memang benar,, semenjak mimpi itu mendatangi nya, putra sulung kyai Abdullah itu selalu memikirkan bibi Aini yang sedang sakit dan tak bisa dia ketahui kondisi nya hingga saat ini.
"Mikirin bibi apa putri nya?" Goda Laila pada kakak nya, seraya tersenyum jahil.
Gus Umar mendesah pelan, "dua-dua nya dik," balas gus Umar dengan tatapan sendu.
"Lah ini, kakak mau kemana? Kok udah rapi? Kalau ke tempat Aida, Laila ikut ya?" Tanya Laila tanpa menunggu jawaban sang kakak, dan langsung menyeret pelan tangan sang kakak untuk segera berangkat...seolah Laila tahu tujuan kakak nya, hendak pergi kemana.
Gus Umar hanya bisa nurut, dan mengekor langkah kaki sang adik.
"Dik, kita enggak pamit dulu sama umi dan abah?" Tanya gus Umar, seraya menghentikan langkah nya.
"Di sana masih ada kakek, nanti malah ribet ditanyain macam-macam kak... kita ijin nanti kalau sudah pulang," balas Laila, kembali menyeret tangan sang kakak.
"Kalau sudah pulang bukan ijin nama nya dik, tapi pemberitahuan," balas gus Umar seraya terkekeh pelan.
Kedua nya kini sudah berada di halaman, dan kakak beradik itu langsung masuk kedalam mobil yang memang tak pernah di kunci itu.
Gus Umar segera menghidupkan mesin mobil, dan melajukan nya pelan meninggalkan komplek pesantren sang abah.
@@@@@
Sementara itu di ibukota, pesawat yang membawa Ryan dan Aida baru saja landing di bandara internasional Soetta.
__ADS_1
Setelah turun dari pesawat, Ryan menuntun sang istri untuk segera keluar dari bandara dan menghampiri anak buah Ryan yang sudah stand by di pintu keluar menunggu bos nya.
"Bos," sapa laki-laki yang seusia dengan Ryan itu sambil mengangguk hormat.
Tanpa berkata-kata, Ryan segera menyerahkan koper milik sang istri kepada anak buah nya tersebut dan Ryan bergegas menuju mobil bersama Aida... yang diikuti oleh laki-laki anak buah Ryan.
Laki-laki dewasa tersebut memasukkan koper yang diberikan Ryan kedalam bagasi, dan setelah nya dia bergegas menuju bangku pengemudi untuk membawa bos dan istri nya pulang ke kediaman Ryan di ibukota.
Sepanjang perjalanan, Ryan terus menggenggam tangan istri kecil nya. Sikap Ryan memang sudah mencair sejak berada dalam pesawat dan tak sedingin seperti waktu di bandara, namun suami Aida itu masih belum mau berbicara.
Dan Aida, tak mau terlalu memikirkan dengan perubahan sikap suami nya tersebut. Sepanjang perjalanan udara tadi, Aida sudah bertekad,,, akan berusaha menjadi istri yang baik, tetapi akan tetap memegang teguh akidah nya apapun yang terjadi.
"Capek dik?" Tanya Ryan yang akhir nya mengeluarkan suara, sambil menyandarkan kepala sang istri ke bahu nya.
Aida tak menjawab, dia hanya nurut dan berusaha menikmati perlakuan sang suami yang kembali lembut.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, mereka tiba di cluster dimana rumah Ryan berada.
Ryan segera mengajak istri nya untuk turun, dan menuntun Aida masuk kedalam rumah nya yang cukup megah.
Ryan membawa istri nya masuk kedalam kamar yang berukuran luas, "selamat datang di rumah kedua kita dik," ucap Ryan seraya tersenyum hangat.
Aida membalas senyum suami nya, dengan tersenyum pula.. senyuman yang sedikit dipaksakan, karena Aida masih belum bisa mengerti karakter suami nya seperti apa?
Segala kemungkinan masih berputar-putar di kepala nya, dan Aida harus menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan tersebut.
"Mas, Aida mau mandi dulu boleh? Setelah mandi, Aida mau sholat 'isya?" Ijin Aida, dengan melembutkan suara nya dan menatap sang suami dengan menghiba. Berharap, sang suami tak keberatan dan memberi nya kebebasan untuk beribadah kapan pun dia mau.
bersambung,,,
__ADS_1