
Sore itu, seperti biasa setiap weekend Laila pasti akan mengunjungi Aida. Laila datang dengan membawakan makanan kesukaan sahabat nya itu, "assalamu'alikum,,," ucap salam Laila dengan riang, tatkala mendapati mbak Ning tengah menutup pintu rolling ruko karena warung memang sudah saat nya tutup.
"Wa'alaikumsalam ning Laila," balas mbak Ning seraya tersenyum lebar, "langsung masuk saja ning, neng Aida nya ada di dalam," mbak Ning mengarahkan jari telunjuk nya kearah dalam.
"Siap mbak," balas Laila dan langsung berjalan cepat masuk ke dalam ruko.
"Da,,, aku bawain lumpia nih," seru Laila, seraya berjalan masuk.. yang langsung disambut Aida dengan mengulurkan tangan nya, meski masih dengan posisi duduk di depan televisi bersama Tio. Karena bu Dibyo baru saja pulang, bersama Bunga dan Endang.. tetangga bu Dibyo yang membantu mbak Ning di warung.
"Mana, mana? Masih hangat kan? Aku pengin banget dari semalam tau La,,," keluh Aida, yang tumben-tumbenan seperti orang ngidam.
"Kamu telat ngidam nya? Perut udah segede mahameru, masih ngidam aja..." ledek Laila, yang membuat kedua sahabat itu tertawa bersama. "Bentar lagi brojol kan?" Tanya Laila, seraya mengelus perut Aida yang terlihat sudah mulai turun.
Aida mengangguk, dan kemudian hendak bangkit.
"Mau kemana?" Tanya Laila.
"Ambil piring," balas Aida.
"Udah, duduk aja.. biar aku yang ambil kan," Laila bergegas menuju dapur untuk mengambil dua piring, karena selain membawa lumpia dia juga membawa serabi.
"Sama buatin teh sekalian dong La?" Pinta Aida berseru, seraya terkekeh.
"Eh, ngelunjak nih anak. Yang tuan rumah kan kamu enak aja nyuruh-nyuruh tamu!" Seru Laila dari arah dapur, pura-pura kesal pada hal tetap membuat kan teh untuk mereka semua.. termasuk untuk mbak Ning dan juga putra nya.
Hubungan mereka benar-benar sudah selayak nya kakak-adik, saling mengerti, saling membantu dan saling melindungi.
Tak berapa lama, Laila muncul dari arah dapur dengan membawa baki besar yang berisi sepiring lumpia, sepiring serabi, teh panas dalam teko serta empat cangkir kecil,,, bertepatan dengan mbak Ning yang baru saja masuk, usai menutup pintu warung dan membereskan meja kursi nya.
"Ealah,, lha kok tamu nya malah bikin minum sendiri." Seru mbak Ning, yang langsung mengambil alih baki dari tangan Laila karena seperti nya putri bungsu kyai Abdullah itu kerepotan membawa baki besar di tangan nya yang kecil dan lembut.
__ADS_1
"Iya nih mbak, di suruh sama tuan putri," balas Laila seraya mencibir kearah Aida yang tengah tersenyum.
"Duduk yuk mbak, aku buat banyak sekalian.. untuk mbak Ning dan Tio juga."
"Kenapa ndak nungguin saya tho ning?" Ucap mbak Ning yang merasa tak enak hati sama Laila, karena ternyata Laila juga membuat kan teh untuk diri nya.
"Santai aja mbak Ning, kayak sama siapa aja..kita kan keluarga, ya mana-mana yang bisa lah," balas Laila seraya tersenyum hangat.
"Ayo, duduk sini." Ajak Laila lagi, karena mbak Ning tak kunjung ikut duduk bersama. "Kita makan kudapan sore, sambil nyantai kayak di pantai," lanjut nya seraya tersenyum, yang ditanggapi Aida dengan tersenyum tipis seraya mencomot satu lumpia hangat yang aroma nya menggoda.
Mbak Ning pun kemudian ikut duduk, di samping sang putra yang sedang fokus menyaksikan kartun kesukaan dan seolah tak terganggu dengan kehadiran Laila yang bikin ramai suasana.
Mereka bertiga kemudian asyik menikmati kudapan dengan ditemani teh hangat yang manis nya pas, sesuai selera mereka.
"Da, mbak Zahra masuk rumah sakit," ucap Laila tiba-tiba, yang membuat Aida sontak menghentikan aktifitas nya mengunyah serabi yang baru masuk ke dalam mulut nya.
"Sakit apa?" Tanya Aida penasaran, karena terakhir bertemu kurang lebih sebulan yang lalu.. kondisi ning Zahra terlihat sangat sehat, lagi pula pasca dilakukan histerektomi radikal ning Zahra telah dinyatakan bebas dari kanker.
"Di rawat di rumah sakit yang sama seperti waktu itu, dan kebetulan dapat ruang perawatan yang sama pula," lanjut Laila menjelaskan.
"Syafahallah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba'dahu saqaman," do'a Aida dengan sepenuh hati, seraya mengangkat kedua tangan nya menghadap langit. *)
"Aamiin.." yang kemudian di amin kan oleh Laila dan juga mbak Ning.
Keheningan sejenak menyapa ruang tamu tersebut, hanya terdengar suara seorang anchor yang membawakan berita di televisi yang lirih karena volume TV telah di kecil kan sejak Tio tertidur barusan.
"So, aku cuma menginap malam ini di sini dan besok pagi-pagi harus sudah kembali ke rumah sakit." Ucap Laila mengurai keheningan yang tercipta.
"Kalau begitu, besok saya bawakan sarapan ya ning.. untuk ning Laila dan gus Umar," tawar mbak Ning dengan penuh semangat.
__ADS_1
Aida mengangguk setuju, "bawain yang banyak sekalian mbak, biar bisa sampai sore." Titah Aida, "Di kulkas masih ada daging segar kan mbak? Di buat rendang aja mbak, Laila dan kakak nya paling suka sama rendang," lanjut Aida, masih dengan pikiran yang menerawang entah kemana?
"Siap neng," balas mbak Ning.
Sementara Laila menatap nya dengan tatapan yang berbeda, namun Aida tak kunjung menyadari tatapan dari sahabat nya itu.
Aida seakan masih asyik dengan dunia nya, bola mata nya jelas tertuju kearah televisi yang masih menyala.. namun tidak dengan hati dan pikiran nya, "apa mbak Zahra kepikiran dengan penolakan ku ya, hingga jatuh sakit?" Mendadak hati nya merasa cemas dan merasa bersalah.
"Kamu masih mengingat makanan kesukaan kak Umar?" Tanya Laila penuh selidik, yang membuyarkan lamunan Aida.
"Lah,,, emm,, kan makanan kesukaan kalian sama La?" Balas Aida sedikit gelagapan.
Laila menggeleng,, "bukan itu!" Tegas Laila.
"Ya, karena kak Umar dan kamu adalah saudara ku.. jadi aku ingat dong?" Aida masih berkilah.
Kembali Laila menggeleng, seraya menatap nya dengan tatapan tajam.
Aida tersenyum, mencoba menetralisir keadaan diri nya yang sempat grogi. "Jujur, sempet terlintas tadi ingatan manis nya saat merenda mimpi ingin bisa bersanding dengan gus Umar.. namun hanya sekilas karena kemudian berganti dengan perasaan bersalah pada ning Zahra yang memohon-mohon pada nya, namun Aida tak dapat memenuhi keinginan istri dari laki-laki di masa lalu nya itu.
"Jangan berpikir kejauhan deh ning, aku kan udah pernah meminta sama kamu,, agar gus Umar mengijinkan aku memanggil nya dengan sebutan kakak seperti kamu." Aida membalas menatap netra sahabat nya.
"Lagian ya ning Laila cantik, kakak kita itu kan udah punya istri... apa iya aku harus jadi pelakor dalam rumah tangga kakak ku sendiri?" Aida mencoba mengajak Laila bercanda, tapi Laila bergeming.
Laila masih berharap, suatu saat kelak.. kakak dan sahabat nya dapat bersatu dan bahagia dalam ikatan pernikahan. "Entah kapan saat itu tiba Da,," bisik Laila dalam hati.
bersambung,,,
*) Artinya: "Semoga Allah menyembuhkan mu secepatnya dengan kesembuhan yang tiada sakit selepasnya."
__ADS_1
Penggunaan kata "Syafahallah" karena sebagai kata ganti orang ketiga (perempuan),,,
#Makasih atas uraian nya mam @Zayyin Arini R š¤š