Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 65 : Sehat dan Bahagia Selalu Idolaku


__ADS_3

Di ruang perawatan ning Zahra, gus Umar segera menyusut air mata nya tatkala terlihat pergerakan ning Zahra di ranjang pasien. Gus Umar segera mendekat ke ranjang, dan mendapati sang istri telah membuka mata nya.


"Gus, yang lain kemana?" Tanya ning Zahra seraya mengedarkan pandangan.


"Apa yang kamu rasakan sekarang ning? Masih terasa nyeri kah? Pegal?" Tanya Gus Umar penuh perhatian seraya mengusap bagian perut ning Zahra dengan lembut, dan membiarkan pertanyaan sang istri menguap begitu saja di udara.


"Nggih gus, rasa nya masih ndak karu-karuan, panas, nyeri, pegel.. semua jadi satu," keluh ning Zahra.


Gus Umar kemudian duduk di kursi tepat di samping ranjang sang istri, tangan kiri nya menggenggam tangan lemah milik sang istri sedangkan tangan kanan nya mengusap lembut puncak kepala ning Zahra sambil menyenandungkan sholawat nabi dengan lirih.


Ning Zahra kembali memejamkan mata nya, merasakan kedamaian mengalir dan menyejukkan hati istri gus Umar tersebut. Meski ujian sakit datang menyapa nya, namun ning Zahra masih bersyukur.. karena diri nya di kelilingi oleh kelurga yang sangat menyayangi nya, bahkan suami yang awal nya tak dicintai nya mencurahkan semua perhatian dan kasih sayang nya yang tulus.


Cukup lama gus Umar bersholawat di dekat kepala ning Zahra, sambil sesekali mencium pipi tirus milik sang istri.. dan ketika ning Zahra sudah sampai di ambang kesadaran nya hendak terlelap, terdengar suara pintu di buka dari luar diiringi ucapan salam dari abah dan umi yang baru kembali dari ruang perawatan Aida.


"Asslamu'alaikum,,"


"Wa'alaikumsalam,,," balas gus Umar dan ning Zahra yang kemudian membuka mata nya kembali.


Umi yang langsung berjalan mendekati ranjang pasien bertanya, "sudah bangun ning?" Nyai Robi'ah tersenyum tulus pada menantu nya itu.


"Nggih umi," balas ning Zahra, "abah sama umi darimana?" Tanya ning Zahra, seraya menatap sang umi penuh selidik.


Gus Umar kemudian berdiri, dan memberikan kursi nya pada nyai Robi'ah. "Silahkan duduk mi," pinta gus Umar.

__ADS_1


Nyai Robi'ah pun mendudukkan diri nya di kursi yang tadi di tempati gus Umar, sedangkan gus Umar lebih memilih berdiri di belakang umi nya sambil menatap sang istri dengan tatapan penuh kasih.


"Umi sama abah tadi besuk Aida," balas nyai Robi'ah, "ning Zahra masih ingat kan sama Aida?" Tanya umi dengan suara nya yang lembut.


"Santri putri, sahabat nya Laila yang ning Zahra bilang hafalan nya bagus," lanjut umi mengingatkan pada ning Zahra, tentang sosok Aida.


Sejenak ning Zahra mengernyit dan kemudian mengangguk, "iya umi, Zahra ingat. Yang anak nya riang dan ramah itu kan?" Ning Zahra memastikan ingatan nya, sebab santri di pondok pesantren kyai Abdullah memang sangat banyak. Dan selama setahun lebih pernikahan nya dengan gus Umar, ning Zahra sama sekali tak pernah mendengar nama itu di sebut.


"Iya ning, benar.. dia Aida, putri almarhum sahabat nya abah," balas nyai Robi'ah dengan mengangguk.


"Aida sakit? Sakit apa umi?" Tanya ning Zahra.


"Dia kemarin terpeleset dan jatuh, terus mengalami pendarahan..." sejenak nyai Robi'ah menghentikan ucapan nya, "tapi Alhamdulillah bayi dalam kandungan nya masih bisa bertahan," lanjut nya yang masih menyimpan kesedihan akan apa yang sudah menimpa Aida.


"Iya, Aida menikah sebelum ibu nya meninggal. Terus diboyong suami nya ke ibukota, dan belum lama ini pisah sama suami nya." Balas nyai Robi'ah, "kasihan Aida,, hamil dan harus hidup sendirian di usia yang masih sangat muda, kedua orang tua nya sudah ndak ada, dan terpaksa mencari nafkah seorang diri," lirih nyai Robi'ah dengan wajah yang tiba-tiba terlihat mendung.


Ning Zahra mengangguk, ikut trenyuh mendengar sekilas kisah Aida. Sedangkan gus Umar terdiam, hanya sesekali terdengar menarik nafas panjang dan menghembus nya dengan sangat perlahan.


"Tapi umi denger cerita ini dari mbak Ning, anak angkat bibi Aini ibu nya Aida. Aida sendiri belum cerita apa-apa sama kami, mungkin Aida ndak ingin Laila dan umi jadi ikut sedih. Atau mungkin, Aida sudah tidak ingin membahas masa lalu nya... entah lah?" Nyai Robi'ah menepuk-nepuk punggung tangan anak menantu nya itu.


"Kita do'akan saja, semoga Aida bisa melewati ini semua," pungkas nyai Robi'ah, dan kemudian bangkit mendekati sang suami. Gus Umar mengaminkan do'a sang umi dalam hati.


"Abah, nanti bakda dhuhur jadi ada acara di balai kota?" Tanya nyai Robi'ah pada sang suami.

__ADS_1


Kyai Abdullah mengangguk, "jadi mi," balas kyai Abdullah, "kita berangkat sekarang saja mi, pak wakil sudah menunggu di kediaman nya. Kita sholat dhuhur di tempat nya pak wakil," Kyai Abdullah kemudian beranjak, dan sepasang suami istri yang penuh kasih itu mendekati ning Zahra.


"Ning, abah sama umi pulang dulu ya. Insyaallah besok kalau ada waktu, abah sama umi kemari lagi,, pamit kyai Abdullah seraya menepuk lembut lengan ning Zahra.


Ning Zahra kemudian menyalami ayah dan ibu mertuanya itu dengan takdzim. " Hati-hati abah, umi,,, terima kasih," ucap ning Zahra seraya tersenyum.


Nyai Robi'ah membalas senyum menantu nya, dan memberikan kecupan hangat di pipi tirus ning Zahra.


Kyai Abdullah kemudian menggandeng tangan sang istri, keluar dari ruang perawatan ning Zahra yang Diikuti oleh gus Umar.


"Abah, umi,, sebaik nya abah dan umi ndak perlu sering ke sini, kan sudah ada Umar dan Laila. Lagian jarak rumah sakit dari rumah jauh, nanti abah sama umi malah kecapekan lagi," pinta gus Umar, ketika mereka sudah berada di luar ruang perawatan ning Zahra.


Kyai Abdullah Mengangguk, "benar gus, lagi pula di rumah juga banyak tamu.. kasihan kalau mereka ndak ketemu abah, padahal. sudah jauh-jauh datang," balas kyai Abdullah, menyetujui usulan sang putra.


"Tapi besok umi mau kesini lagi bah, besok kan Aida sudah boleh pulang? Umi mau ikut nganter Aida ke kontrakan nya, boleh kan bah? Biar umi diantar sama kang santri," pinta nyai Robi'ah pada sang suami.


Kyai Abdullah mengangguk, "iya, boleh.. apa sih yang ndak boleh untuk istri tercinta?" Goda kyai Abdullah seraya tersenyum, dan mencubit mesra pipi sang istri.. yang meski pun sudah mulai mengendor kulit nya, namun kecantikan nyai Robi'ah masih jelas terpancar.


"Abah ah,, ini di rumah sakit abah, masih saja genit," protes nyai Robi'ah seraya mencubit perut sang suami, karena orang-orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka bertiga. Kyai Abdullah yang merasakan sensasi geli di perut nya karena cubitan kecil sang istri, justru terkekeh.


Gus Umar tersenyum dikulum, melihat kemesraan abah dan umi nya itu. "Sehat dan bahagia selalu idolaku."


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2