
Hari ini Aida sudah diperbolehkan pulang. Dan sebelum pulang, Aida menyempatkan diri untuk berpamitan pada ning Zahra, di ruang rawat istri gus Umar tersebut.
Aida di temani oleh Laila dan nyai Robi'ah yang sengaja menjemput nya, sesuai janji nya kemarin.
"Bener ya dik, nanti kalau aku sudah sehat boleh main ke tempat mu?" Ning Zahra kembali menegaskan.
Aida mengangguk dan tersenyum, "boleh kok mbak, silahkan saja. Pintu rumah Aida, terbuka untuk siapa saja," balas Aida, dengan menekan kan kata 'untuk siapa saja'. Karena semalaman Aida memikirkan obrolan nya dengan ning Zahra kemarin, dan perasaan Aida menjadi tidak nyaman.. jika benar, apa yang disimpulkan nya benar ada nya.
Tapi Aida tak mau gegabah bertindak, "wait and see.." gumam nya dalam hati, seraya menjaga jarak aman.
"Kalau ning Zahra mau main ke tempat nak Aida, bisa minta di temani sama Laila saja.. ya? Atau, kalau pas umi ada waktu.. bisa, sama umi," timpal nyai Robi'ah, yang sudah mendengar niat ning Zahra untuk menjadikan Aida madu nya dari Laila. Nyai Robi'ah pun terlihat tidak sependapat dengan ide dari menantu nya itu.
"Ayo Da,, udah ditunggu sama kang santri di mobil, kasihan dia kalau kelamaan nunggu," ajak Laila, agar mereka semua segera berlalu meninggalkan ruang rawat ning Zahra. Karena Laila dapat menangkap isyarat dari sang kakak, yang lagi-lagi menyuruh nya agar segera membawa Aida pergi.
Mereka pun kemudian bersalaman dan segera meninggalkan ruangan serba putih, tempat dimana ning Zahra masih menjalani perawatan pasca operasi.
@@@@@
Sedangkan mbak Ning, yang sejak kemarin pulang d!an tidak kembali lagi ke rumah sakit karena Aida sudah di temani Laila.. menunggu di ruko bersama bu Dibyo.
Mbak Ning yang kemarin disarankan Aida, agar hari ini kembali buka warung,,, memenuhi keinginan Aida tersebut. Bu Dibyo juga datang lebih awal untuk membantu mbak Ning, apa lagi bu Dibyo tahu kalau pagi ini Aida akan pulang.. wanita baik hati itu pun sudah membuat kan jajanan, untuk menyambut kedatangan Aida.
Di saat mbak Ning tengah sibuk melayani pembeli, dari salah satu meja makan yang paling dekat dengan nya,,, terdengar obrolan dari tiga laki-laki sangar yang menyebut nama Aida. Sontak, mbak Ning menajamkan pendengaran nya untuk menguping pembicaraan mereka.
Dan tak salah lagi, Aida yang di maksud orang-orang tersebut adalah Aida adik nya. Sebab, ekor mata mbak Ning dapat menangkap dengan jelas gambar Aida di ponsel salah satu dari mereka yang menunjuk kan foto Aida tersebut kepada kedua teman nya.
__ADS_1
"Ini foto nya, kalau kalian berdua bisa menemukan keberadaan nya.. bos besar akan memberikan hadiah yang setimpal," ucap laki-laki yang paling senior.
"Kalau gadis itu sudah kami temukan, lalu harus kami apakan bos?" Tanya laki-laki yang berkumis tipis.
"Jangan di apa-apain, jangan sampai kalian menyentuh nya atau pun menyakiti nya.. kalau kalian masih ingin hidup!" Sentak laki-laki yang paling senior, kepada anak buah nya yang berkumis tipis. "Dia istri bos, bos hanya ingin bertemu dengan dia," lanjut nya.
"Ya Allah, mas Ryan ternyata menyuruh anak buah nya untuk mencari neng Aida. Aduh... gimana ini? Mana sebentar lagi neng Aida pulang? Aduh, aku harus gimana?" Sembari melayani pembeli yang minta dibungkus kan nasi rames, mbak Ning terus berpikir keras bagaimana cara nya agar Aida tidak bertemu dengan orang-orang tersebut.
"Mana kopi mereka masih banyak lagi, pasti mereka masih lama di sini," lanjut mbak Ning, sambil terus berpikir keras.
Mbak Ning merasa sangat khawatir, pikiran nya benar-benar kalut.. hingga berkali-kali mbak Ning melakukan kesalahan, saat membungkus nasi.
Mbak Ning menjadi semakin grogi, apa lagi ketika pembeli tersebut menegur nya. "Mbak, kok bungkus nya berantakan sih?!"
"Ma,, maaf bu, seperti nya saya masuk angin.. tiba-tiba saja kepala saya pusing," balas mbak Ning jujur, karena kepala nya memang mendadak pusing.
"Kalau sakit ya tutup saja, jangan jualan! Dari pada mengecewakan banyak pembeli!" Ketus pembeli tersebut, "semua berapa?!"
"Sama es teh dan gorengan, jadi nya tiga puluh lima ribu," balas mbak Ning dengan suara nya yang pelan, mbak Ning merasa kan lidah nya mulai kelu.
Setelah pembeli yang memesan nasi bungkus tersebut membayar makanan nya, dan meninggalkan warung dengan wajah masam.. mbak Ning segera berbenah, muncul ide untuk segera menutup warung sesuai anjuran pembeli barusan.
"Mas, maaf.. warung mau saya tutup, nyuwun sewu nggih karena saya tiba-tiba enggak enak badan," ucap mbak Ning dengan suara bergetar karena ketakutan, dan keringat dingin mulai mengucur di kening nya.
Laki-laki paling sangar yang merupakan bos itu melotot kearah mbak Ning, tapi demi melihat wajah mbak Ning yang terlihat pucat dan tangan mbak Ning gemetaran.. laki-laki sangar itu pun tak tega, dan kemudian mengajak anak buah nya untuk segera cabut dari warung mbak Ning.
__ADS_1
"Ayo cabut!" Titah nya, pada kedua anak buah nya.
"Semua nya berapa mbak?" Tanya laki-laki tersebut mendekat kearah mbak Ning yang berdiri gemetaran, dengan suara nya yang berat.
"Ndak usah mas, wong kopi nya masih banyak kok." Tolak mbak Ning, yang merasa tak enak hati telah mengusir pembeli nya secara tidak langsung.
"Ndak mbak, kamu kan jualan,, jadi saya harus tetap bayar," kekeuh laki-laki tersebut, yang dibalik tampang sangar nya tetap memiliki sisi kebaikan.
"Nggih mas, terimakasih. Sama rokok nya tadi, semua nya jadi lima puluh tiga ribu," balas mbak Ning seraya tersenyum ramah.
Setelah laki-laki tersebut membayar dengan uang pas, dan meninggalkan warung... pandangan mbak Ning mengikuti kemana langkah ketiga laki-laki sangar tersebut, dan memastikan mereka benar-benar menjauh dari area ruko.
Setelah punggung mereka tak terlihat lagi, mbak Ning buru-buru menutup warung nya. "Lho, mbak Ning.. kok sudah di tutup? Kan masih pagi? Dagangan nya juga masih banyak tho?" Tanya bu Dibyo, yang baru saja muncul dari arah dapur dengan tatapan penuh selidik.
Mbak Ning sejenak mengabaikan pertanyaan bu Dibyo, dan melanjutkan mengunci rolling dor tersebut. Setelah selesai dan memastikan pintu telah terkunci dengan benar, mbak Ning menarik tangan bu Dibyo dan mengajak nya duduk.
Bu Dibyo yang merasakan tangan mbak Ning begitu dingin pun mengernyitkan dahi, "mbak Ning kenapa? Sakit?"
Ibu dari Tio itu menggeleng, "tidak bu, saya tidak sakit... saya hanya takut," gumam mbak Ning, yang masih nampak cemas.
"Takut kenapa mbak? Cerita sama ibu mbak, jangan di simpan sendiri?" Pinta bu Dibyo, menatap mbak Ning dengan intens.
Mbak Ning kemudian menceritakan tentang tiga laki-laki berwajah sangar dan bertubuh kekar penuh tato yang mencari Aida itu, kepada bu Dibyo.
"Ya Allah, kasihan sekali nak Aida,,, kalau sampai mereka bisa menemukan nya? Lindungi anak kami Aida Ya Allah,,," do'a tulus bu Dibyo, untuk Aida.
__ADS_1
bersambung,,,