
"Hasil nya positif mas," jawab dokter wanita tersebut dengan menatap gus Umar prihatin.
Hasil tes IVA yang positif adalah pertanda adanya kelainan pada serviks. Hasil tes IVA bisa dikatakan positif ketika ditemukan adanya warna putih (acetowhite) pada serviks setelah dioleskan dengan cairan asam asetat atau asam cuka. Kondisi ini bisa menandakan adanya pertumbuhan sel-sel prakanker.
"Astaghfirullaahal'adziim,,," lirih gus Umar, memohon ampunan.
"Tapi untuk lebih jelas nya kita bisa lakukan pemeriksaan lanjutan, yaitu biopsi serviks," jelas dokter tersebut.
Gus Umar mengernyit.
"Biopsi serviks adalah tindakan ginekologi untuk mengambil sampel jaringan dari serviks atau leher rahim. Kemudian, sampel akan diperiksa dengan mikroskop untuk mencari kelainan dan tanda penyakit." Terang bu dokter.
Gus Umar mengangguk-angguk, sedangkan ning Zahra bergeming.
"Setelah di pastikan ada kanker pada serviks, masih harus di lakukan berbagai pemeriksaan.. hal ini untuk mengetahui tingkat penyebaran kanker tersebut, sehingga kami bisa memberikan pengobatan yang tepat." Bu dokter menatap gus Umar dan ning Zahra dengan perasaan getir.
"Lakukan saja yang terbaik untuk istri saya dok," lirih gus Umar, dengan perasaan bagai tersayat sembilu.
Gus Umar sedikit banyak telah mempelajari tentang kanker serviks, dan jika sampai kanker yang di derita istri nya itu tergolong stadium akhir.. bisa jadi histerektomi harus di lakukan. Gus Umar tak bisa membayangkan bagaimana perasaan istri nya jika sampai hal ini terjadi, pemuda kharismatik itu menghembuskan nafas dengan berat.
Histerektomi adalah operasi pengangkatan rahim, dimana rahim akan 'dibuang' dari tubuh.
"Maaf dok, apa tidak bisa di lakukan pengobatan herbal saja," tawar ning Zahra memberanikan diri membuka suara, menatap bu dokter sekilas dan kemudian segera menunduk.
"Ning,," gus Umar menatap istri nya seraya menggeleng kan kepala.
"Maaf gus, bukankah bolak balik melakukan pemeriksaan butuh biaya banyak? Belum lagi dengan pengobatan nya,, pasti lah sangat mahal gus?" bisik ning Zahra yang nampak tidak setuju dengan saran dokter.
__ADS_1
"Ning,, aku kerja ning, aku punya penghasilan. Selain penghasilan tetap itu, aku juga memiliki tambak yang dikelola beberapa teman. Kamu ndak perlu mengkhawatirkan biaya ning, kamu fokus saja dengan kesembuhan mu. Banyak berdo'a, dan tetap ikhtiar.. dan ikhtiar medis aku pikir saat ini adalah pilihan yang tepat," terang gus Umar panjang lebar.
Sejenak hening menyapa ruang pemeriksaan dengan dinding bercat putih bersih itu.
"Bagaimana mas, mbak,, jika setuju mbak Zahra bisa kembali lagi ke sini seminggu sebelum menstruasi, karena itu saat yang tepat untuk di lakukan biopsi." Bu dokter memecah keheningan, seraya menatap ning Zahra meminta kepastian.
Dengan enggan, ning Zahra akhir nya mengangguk.
Gus Umar tersenyum lega, "Alhamdulillah,, semoga Allah memudahkan ikhtiar kami untuk memperoleh kesembuhan bagi istri ku," do'a gus Umar dalam hati.
@@@@@
Sementara di ibukota, hari-hari Aida jalani dengan semakin bersemangat. Karena Ryan yang selalu mengabulkan keinginan nya, seperti keinginan untuk melanjutkan ngaji nya yang disetujui,,, bahkan Ryan sampai rela merogoh kocek dalam jumlah tak sedikit, untuk membayar guru ngaji tersebut datang ke rumah.
Dan kini, Aida juga diijinkan untuk berusaha agar mereka bisa memiliki keturunan dengan cara Aida. Istri kecil Ryan itu setiap hari memberikan sang suami makanan dan minuman yang sehat, di tambah herbal penambah kesuburan yang dia beli secara online.
Ryan pun hanya nurut, meski diri nya sama sekali tak yakin dengan usaha yang Aida lakukan akan membawa hasil. Dalam hati dan pikiran Ryan sudah terdoktrin, bahwa diri nya tak bisa memiliki keturunan. Dan adapun Ryan mengijinkan sang istri untuk berikhtiar, semata-mata demi menyenangkan hati istri kecil nya itu.
Muraja'ah adalah mengulang kembali hafalan yang sudah pernah dihafalkan, untuk menjaga dari lupa dan salah. Sedangkan ziyadah merupakan proses menambah hafalan baru.
Ustadzah Zulaikhah pun pamit pulang, dan Aida mengantar ustadzah nya itu hingga ke teras.. sekalian hendak menyambut kepulangan sang suami.
"Assalamu'alaikum mas," ucap salam Aida menyambut sang suami, seraya meraih tangan Ryan dan mencium punggung tangan kekar itu dengan takdzim.
Ryan segera memeluk mesra pinggang ramping sang istri dan menuntun nya masuk kedalam,,, seperti biasa, Ryan mengabaikan salam dari Aida.
Ryan memang tak pernah menjawab salam dari Aida, pun demikian Aida tak pernah bosan selalu mengucapkan nya.. baik ketika sang suami hendak berangkat kerja, maupun ketika suami nya pulang seperti saat ini. Aida hanya bisa berharap, suatu ketika nanti sang suami akan mengikuti kebiasaan baik nya tersebut.
__ADS_1
"Aida pikir mas lagi banyak kerjaan dan akan lembur.. sampai tadi enggak sempat pulang untuk makan siang?" Tanya Aida, sambil berjalan memasuki kamar.
"Tadi ada jamuan makan siang di luar bersama temen-temen, dan ponsel mas law batt.. semalam mas lupa ngecharge, maaf ya enggak ngabarin kamu dik," balas Ryan dengan menyesal.
"Tak mengapa mas," Aida tersenyum, dan kemudian mengambilkan baju ganti untuk sang suami.
"Berarti sayur nya, Aida panaskan nanti malam saja ya.. mas kan udah makan?" Aida menatap sang suami untuk memastikan kalau Ryan tak hendak makan lagi.
Ryan mengangguk, "mas mau makan yang lain dik," bisik Ryan di telinga sang istri.
"Mas mau buah?" Tawar Aida, karena sang suami ingin makan yang lain.
Ryan tertawa,, "bukan makan sungguhan dik, tapi mas menginginkan dik Aida yang tersayang..." rayu Ryan setelah menghentikan tawa nya.
Aida melirik jam dinding yang hampir menunjukkan waktu ashar, "kita sholat ashar dulu yuk mas, kita sholat sama-sama.. mau ya?" Pinta Aida, dengan lembut. Meski Aida selalu mendapatkan penolakan, tapi istri kecil Ryan itu tak pernah bosan mengajak sang suami untuk beribadah.
Ryan menggeleng,, "kamu sholat sendiri aja dik, mas belum ingin," tolak Ryan seperti biasa nya, mungkin ini adalah penolakan yang ke ratusan atau bahkan mungkin ribuan kali yang Ryan lontarkan.
Aida mengangguk pasrah, dan segera beranjak untuk mengambil air wudhu,, ketika tiba-tiba Ryan memanggil nya ketika Aida hendak masuk ke dalam kamar mandi, "dik,," panggil Ryan.
"Ya mas, kenapa? Mau sholat bareng?" Tanya Aida dengan mata berbinar, berbaik sangka bahwa mungkin sang suami memanggil nya karena hendak ikut sholat.
Lagi, Ryan menggeleng,, "mas harap, ini adalah ajakan mu yang terakhir. Setelah ini, mas tak mau lagi mendengar kamu mengajak mas untuk sholat. Suatu saat nanti, kalau mas sudah dapat hidayah... mas pasti akan sholat, tak perlu lagi di ajak."
"Bukankah sholat adalah ibadah individu dik? Silahkan kamu melaksanakan nya, tapi kamu tidak dapat memaksakan kehendak," Ryan berbicara dengan lirih, tapi tatapan nya tajam dan menghujam tepat ke jantung Aida.
Aida mematung di tempat nya, mendengar ucapan sang suami yang hati nya telah membatu,,, perasaan Aida terasa hancur berkeping-keping, usaha nya untuk membuat sang suami sadar dan agar mau melaksanakan ibadah selama ini nyata nya sia-sia belaka.
__ADS_1
"Setelah mendapat kan hidayah? Baru mau sholat? Bukan kah hidayah itu harus di cari? Dan bukan hanya ditunggu? Karena hidayah bukan lah kereta api, yang jika kita tunggu pasti akan datang? Kalau tidak mau mengaji, tidak mau mendengar ajakan,, bagaimana mungkin dapat hidayah?" Aida bermonolog dalam diam.
bersambung,,,